
...Dia sudah tahu, cinta yang tak memiliki kesempatan ini seperti berada dalam kapal berlubang, semakin dia berusaha untuk menerjangnya maka kapalnya akan rusak tersapu ombak....
...————...
...UPDATE SETIAP HARI SENIN, RABU DAN JUM'AT...
Suara bel terdengar begitu pintu dibuka dari luar, menandakan datangnya pelanggan ke cafe tersebut.
"Selamat datang!"
Cafe sederhana itu terletak di tengah bangunan-bangunan, Elise harus masuk ke dalam gang untuk bisa ke cafe itu dan bertemu dengan seseorang di sana.
"Apa ada anak lelaki yang bernama Noise?"
Elise langsung bertanya begitu sang pelayan mendatanginya, pelayan tersebut mengangguk singkat—beberapa hari ini memang ada karyawan sementara baru yang bernama Noise, barangkali perempuan di depannya ini kenalannya, pikir pelayan itu sebelum dia pergi untuk memanggil orang terkait.
Elise diam di kursinya, beristirahat sejenak dari rasa penat karena dia langsung ke cafe itu setelah pulang dari Osaka.
Saat Elise menutup matanya sejenak suara seorang lelaki yang familiar di telinganya terdengar, dia memanggil nama Elise dan berdiri di sebelahnya.
"Kak Elise? Kenapa ada di sini?"
Lelaki itu, Noise, dia menatap Elise terkejut tak menyangka jika perempuan itu langsung datang menemuinya setelah pulang dari negri orang—padahal dia bisa melakukannya nanti.
'Dia pasti lelah'
Alih-alih menjawab pertanyaan Noise, perempuan itu malah berdiri lalu memeluk Noise erat. Adegan pelukan itu menarik perhatian beberapa pengunjung di sana, bahkan teman Noise yang juga bekerja di cafe tersebut menatapnya terkejut.
Yang di peluk lebih terkejut lagi, jantungnya berdegup kencang saat dia merasakan pelukan dari sang pujaan hati.
"Maaf karena aku tidak ada bersama mu saat itu, mau menceritakannya padaku kenapa kamu sampai memutuskan untuk kabur dari rumah?"
Noise terdiam. Dia lupa tentang masalahnya untuk sejenak, karena Elise kembali mengungkitnya ia jadi ingat lagi.
Apalagi kata-kata buruk yang ditujukan untuk Elise dari ibunya saat itu membuat Noise marah, dia tidak ingin menceritakan bagian itu pada Elise saat ini.
"Ayo kita pindah tempat dulu, tidak enak berpelukan di cafe begini kan?"
Elise langsung melepaskan pelukannya begitu dia sadar sudah melakukan hal yang memalukan. Beberapa orang mungkin tidak mempedulikan mereka, namun tetap saja masih ada orang di sana yang memperhatikannya saat dia memeluk Noise tiba-tiba.
Rasanya Elise ingin menghilang saja dari bumi saat ini.
"Baiklah, ayo kita pindah tempat saja."
Noise tersenyum simpul. Rasanya sudah lama dia tidak melihat wajah Elise yang menahan malu, lama tidak bertemu membuatnya semakin cantik di mata lelaki berusia sembilan belas tahun tersebut.
"Aku akan izin dulu, kak Elise bisa tunggu di luar"
Elise mengangguk singkat kemudian dia pun pergi ke luar dan menunggu Noise di salah satu kursi. Noise segera meminta izin pada temannya yang bekerja di sana, shif kerjanya belum selesai tapi dia diperbolehkan untuk istirahat saat ini.
"Semoga lancar dengan kisah cinta mu itu!"
Temannya berbisik tanpa suara namun Noise bisa memahaminya. Noise menggerutu, mengatakan kalau itu tidak seperti yang temannya pikirkan namun temannya tersebut jelas tidak percaya pada ucapan Noise.
__ADS_1
Dari tingkahnya saja sudah terlihat jelas kalau Noise itu remaja yang sedang jatuh cinta, mana percaya dia setelah melihatnya begitu.
Noise mengabaikan temannya, dia berjalan keluar lalu mendapati sosok Elise yang sedang memandangi layar gawai dan duduk di kursi yang tersedia.
Jalannya pelan, dari belakang dia bisa melihat sekilas isi chat Elise dengan seseorang bernama Nicolas. Lelaki lain di kantor, Noise tahu Nicolas itu asisten kakaknya.
'Masalah pekerjaan toh'
"Maaf menunggu lama, kita jalan sekarang?"
Noise membuyarkan pikiran Elise. Perempuan itu mengangguk setuju, setelahnya mereka pun berjalan menjauh dari cafe dan mencari taman terdekat untuk berbicara.
Noise memilih taman yang agak sepi, tidak nyaman rasanya ketika bercerita di antara orang-orang yang berlalu lalang, karenanya dia mengajak Elise duduk di kursi taman dekat pohon-pohon yang sejuk—sekalian menikmati udara di sana untuk membuat rileks pikiran sendiri.
Mereka duduk saling bersebelahan. Elise membenarkan anak rambutnya yang tertiup angin, kemudian ia pun membuka mulutnya untuk berbicara.
"Aku membawa oleh-oleh dari Jepang lho"
Segera dia memberikan sebuah kotak yang terbungkus rapi pada Noise, lalu langsung diterima oleh sang tuan.
"Terima kasih. Padahal kak Elise tidak perlu repot-repot begini,"
"Aku tidak keberatan kok. Lagipula aku juga membelikannya untuk yang lain"
Sejenak hatinya terbang ke awan saat menerima hadiah dari Elise, tapi tak lama kemudian hati itu kembali jatuh ke tanah karena mengetahui fakta bahwa Elise pun memberikan hadiah pada yang lainnya.
'Tentu saja, bukan hanya aku yang menerima beginian'
Noise menundukkan kepalanya menatap tanah, sekarang dia sudah siap untuk menceritakan alasannya kabur dari rumah.
"Aku tidak mau kembali."
Ujarnya. Elise tahu Noise mengatakannya dengan serius, itu bukan sekedar gertakan dari seorang lelaki remaja yang baru memasuki usia dewasa—dari raut wajah Noise terlihat jelas kalau anak itu memang tidak mau kembali ke rumahnya.
"Aku tahu. Aku tidak akan memaksamu"
"Aku pun tahu kak Elise tidak akan memaksaku."
Mereka saling bertatapan. Sejenak Elise melihat senyuman sendu di wajah Noise, kemudian itu berganti menjadi senyuman hangat dan manis.
"Itulah yang membuatku menyukai mu." Ucapnya. Elise tertegun sejenak, namun sedetik kemudian ia kembali memperbaiki ekspresinya.
Senyumannya menular pada Elise, dia pun menampilkan senyuman hangat pada Noise yang masih menatapnya.
"Aku juga menyukaimu"
Jawaban singkat yang membuat senyuman Noise luntur. Arti rasa suka mereka berbeda—Rasa suka pada seseorang yang dia anggap sebagai adik, itu adalah rasa suka milik Elise.
"Bukan, maksudku bukan suka yang itu"
Di akhir ucapannya dia terkekeh kecil. Elise bukan perempuan polos yang tidak tahu maksud ucapannya, dia tahu perasaan anak itu padanya—Elise bodoh jika tidak bisa melihat tatapan mata itu, Noise tidak akan menatap sedalam ini jika Elise bukan orang yang dia cintai.
Tidak ada jawaban apapun dari Elise. dia merasa tidak enak pada Noise karena menolak perasaannya dengan diam tak berbicara.
__ADS_1
Noise tahu dia sudah tertolak, lagipula sejak awal dia memang tidak memiliki kesempatan. Kalau berbicara tentang kesempatan, pemiliknya adalah kakaknya.
"Kak Elise tidak perlu menerima perasaan ku, aku hanya ingin mengatakannya saja."
Noise mengatakan itu dengan santai, seolah-olah hatinya tidak terasa sakit karena penolakan dari Elise.
'Jangan kecewa, ini hal yang wajar'
"Noise, aku—"
"Kalau aku boleh mencium kak Elise aku akan pulang, bagaimana?"
Noise menatapnya jahil. Di saat perasaannya sakit begini dia hanya ingin lari darinya.
Jarinya saling bertaut, terasa basah karena keringat dingin. Dia bahkan menyesali ucapannya tadi, tidak seharusnya Noise meminta untuk mencium Elise lalu pulang ke rumahnya.
'Lagipula dia pasti tidak akan mengizinkannya—'
"Aku mengizinkannya"
Mata Noise terbelalak kaget. Dia tidak berpikir Elise akan mengizinkannya dengan mudah begini.
"Boleh?"
Elise mengangguk singkat. Dia membenarkan posisi duduknya, menatap Noise yang kini memiliki wajah merah bak kepiting rebus.
"Aku akan melakukannya sekarang"
Dia mendekat saat menerima persetujuan dari Elise. Mata kebiruan miliknya menatap kelopak mata Elise yang tertutup, sejenak dia menikmati paras wajah Elise dari dekat kemudian ciuman singkat mendarat di dahi lalu adegan romantis itu berakhir begitu saja.
"Sudah selesai. Terima kasih karena mengizinkan ku mencium mu. Sekarang ayo kita pulang."
"Apa kamu baik-baik saja?" ujar Elise. Dia menatap Noise dengan mata hijaunya yang mempesona.
Tidak mungkin Noise baik-baik saja setelah dia di tolak.
Dia sudah tahu, cinta yang tak memiliki kesempatan ini seperti berada dalam kapal berlubang, semakin dia berusaha untuk menerjangnya maka kapalnya akan rusak tersapu ombak.
Maka hanya ada satu jawaban yang bisa dia berikan untuk pertanyaan Elise. Dia menarik otot di pipinya, membentuk sebuah senyuman yang selalu dia tampilkan di depan perempuan itu.
"Aku baik-baik saja"
Jujur aja saya sebagai author tidak terlalu suka dengan Elise karena itu mungkin saat saya menulis tentang adegan dia dan para pangeran (Lucas, Noise dan Nicolas) saya merasa kesal padanya hahaha.
Julian tidak termasuk ke dalam pangeran karena dia terlalu menyebalkan lol.
karena sekarang masih momen lebaran mari kita saling memaafkan. maafkan saya karena baru up hari ini。:゚(;´∩`;)゚:。
Ayo kita saling memaafkan, karena kalau saling mencintai dia yang saya cinta bahkan tidak tahu saya hidup di dunia ini(╥﹏╥)
minal aidzin semuanya (人 •͈ᴗ•͈)
In sya Allah saya akan up sesuai jadwal seperti biasa, tolong tinggalkan jejak berupa like dan komen terima kasih (◕ᴗ◕✿)
__ADS_1