Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Loteng yang hangat.


__ADS_3

...-Noise berucap puas dengan tawa di wajahnya. Bukan main, gen keluarga Eldegar menghasilkan bibit unggul dengan ketampanan yang mempesona. Saat Noise tertawa lepas dia terlihat lebih tampan, memang orang tampan kalau sudah tertawa maka tingkat ketampanannya akan berlipat ganda-...


Merebahkan tubuhnya di kasur, Elise merasa hari ini sangat melelahkan baginya.


Tugas yang harus dia selesaikan lebih banyak dari biasanya, karena itu Elise yang belum terbiasa menjadi cepat lelah sebab kebanyakan bekerja. Beruntungnya ada Nicolas yang membantu, kalau tidak dia bisa saja tepar.


“Hari pertama yang melelahkan”


Tangannya mengusap rambut, menyingkirkan helaian yang mengganggu wajahnya. Sedikit berguling kesamping, Elise mengambil gawai yang berada dalam tas, belum ia keluarkan sejak tadi karena itu dia tidak tahu ada notifikasi apa saja yang masuk ke benda persegi tersebut.


Beberapa chat terpampang di layar gawai, kebanyakan dari grup atau temannya sedangkan yang lain adalah pesan dari rekan kerjanya dulu. Elise segera membalas pesan mereka satu-persatu, namun jarinya terhenti di kontak yang memiliki nama ayah.


'Ayah tidak mengirim pesan apapun'


Kecewa adalah hal yang Elise rasakan saat ini. Padahal Elise berharap setidaknya sang ayah mengirim pesan singkat, sekedar menanyakan keadaannya bagaimana atau basa-basi namun nyatanya ayah Elise malah bersikap seakan-akan ia sudah tidak peduli lagi pada sang putri.


Hubungannya dengan Gio baik, meskipun mereka jarang mengobrol hangat seperti minum teh bersama atau pergi berlibur berdua tapi Elise tahu betul Gio cukup mencintainya.


Kehilangan kabar seperti ini membuat Elise berasumsi sesuka hati, ia jadi menyimpulkan bahwa ayahnya sudah tidak peduli lagi padanya sejak dia dijual ke keluarga Eldegar itu.


'Kalau masih sayang seharusnya ayah menghubungi ku,'


Kini Elise tidak peduli lagi. Jika ayahnya bersikap seperti membuang Elise maka ia pun akan melakukan hal yang sama. Tapi tetap saja, dalam hatinya dia merasa sakit sebab diabaikan oleh ayahnya sendiri.


Mata Elise buram karena air mata yang muncul dari rasa sakit hatinya. Dia jadi sering menangis, padahal dulu dia jarang melakukan itu.


“Duh, aku jadi cengeng begini—“


Terdiam. Elise menajamkan indera pendengarannya kala menangkap suara biola dari jauh.


Permainan biola yang lembut seperti dimainkan oleh seorang profesional, Elise merasa tertarik untuk mencari akar suara biola yang seakan menghipnotis dirinya.


“Siapa juga yang main biola pada malam hari?”


Dibelai oleh suara permainan biola yang lembut, Elise berjalan mengikutinya hingga menemukan sumber suara itu. Ternyata asal suaranya dari loteng, tempat yang gelap dan menakutkan. Bagi Elise tempat gelap adalah hal yang ia takuti, karena dalam kegelapan itu dia tidak tahu sesuatu seperti apa yang akan muncul.


“Bagaimana kalau yang bermain biola itu hantu?”


Elise tidak percaya hantu, namun saat memikirkan mahkluk halus itu dia malah bergetar ketakutan.


Menelan ludahnya kasar, Elise berusaha memberanikan diri. Dia sudah sampai sejauh ini, jika ia kembali ke kamar maka dia tidak akan pernah tahu siapa sosok sang *Violinnya. (*Sebutan untuk seseorang yang memainkan biola)


Mau itu hantu atau manusia, Elise sudah memutuskan untuk melihat sang Violin tersebut. Karena itu dia pun melanjutkan langkahnya menuju loteng, membukakan sedikit pintu yang tidak terkunci kemudian mengintipnya dari luar.


Jendela loteng terbuka, membiarkan cahaya bulan yang redup masuk ke dalamnya. Bermandikan cahaya bulan, sosok lelaki dengan kemeja putih dan celana hitam sedang berdiri.


Tangannya sangat lihai saat memainkan biola yang tampak usang, namun alunan biola itu terdengar merdu hingga membuat Elise terpesona untuk sesaat.


Elise tahu siapa Violin itu. Dia bukan hantu apalagi maling.


Dia adalah anak bungsu keluarga Eldegar. Noise Eldegar.


Suara tepukan singkat terdengar membuat perhatian Noise teralihkan pada sosok Elise yang sedang berdiri diambang pintu, tanpa sadar Elise bertepuk tangan kagum saat Noise selesai memainkan biolanya.


Kini dia tersenyum canggung. Kikuk mencari alasan pada Noise.


“Eum, hai? Permainan biola yang bagus. Kamu sangat berbakat ya”


Meski awalnya berwajah ketus, Noise sedikit merona saat Elise memujinya. Ia menyadari itu, jadi Elise pun masuk ke dalam loteng sambil sesekali mengamati sekitarnya.


Meskipun dari luar tampak menakutkan dan gelap tapi di dalamnya tidak se-menakutkan itu. Cahaya dalam loteng cukup terang sebab ada satu lampu di sana, ditambah jendela yang terbuka membuat cahaya bulan ikut masuk membuat kesan menakutkan berkurang beberapa persen. Di sana terdapat sebuah sofa usang dan beberapa kardus kosong, mungkin loteng ini merangkap menjadi gudang jadi banyak benda-benda di sana.


Yah, intinya Elise bersyukur karena orang yang memainkan biola itu bukan hantu.


“Kamu sering main biola di sini?”


Untuk mencairkan keheningan diantara mereka Elise berusaha memulai pembicaraan. Noise mengangguk singkat, tampaknya dia canggung karena Elise yang tiba-tiba muncul.


“Latihan untuk kompetisi?”


“Bukan, ini hanya hobi”


Elise mengangguk paham. Wajar bagi anak seusia Noise untuk memiliki hobi yang digeluti, tapi menurut Elise kemampuan Noise itu seperti dilatih dengan sangat serius, bukan sekedar hobi saja.


“Kemampuanmu bagus, apa kamu tidak berniat ikut kompetisi?”


“Aku tidak memiliki waktu untuk itu.”


Jawabannya terdengar kasar namun ekspresi wajah Noise mencerminkan seseorang yang kecewa. Apa masalahnya? Elise ingin bertanya begitu, tapi melihat hubungan mereka yang belum terlalu dekat membuat ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Elise cukup peka untuk bisa membaca keadaan dan saat ini dia menyimpulkan bahwa Noise itu memiliki masalah pada hobi bermain biolanya.

__ADS_1


‘Tapi kemampuannya cukup bagus untuk anak seusianya. Keluarga Eldegar tidak terlalu memedulikan ilmu musik dan memprioritaskan bisnis, bisa jadi dia mendapatkan kemampuan bermain biola dari belajar otodidak dan terbatas'


Mungkin, alasannya bermain biola di loteng pada malam hari juga karena ia tidak bisa melakukannya saat siang. Tentu saja, karena waktu siang hari dia habiskan dengan belajar di universitas dan Elise yakin madam Julia tidak tahu tentang hobi Noise ini.


“Boleh aku pinjam biolanya?”


Ada kerutan dan tatapan curiga dari Noise. Tentu saja Elise tampak tidak meyakinkan, dia seperti tidak berbakat dalam bidang musik jadi Noise agak ragu untuk meminjamkan biola kesayangannya pada calon kakak iparnya itu.


Menyadari keraguan yang terlihat jelas, Elise mengembungkan pipinya kesal. Dia pernah belajar musik dulu, meskipun hanya pianika— tapi dia yakin bisa memainkan biola juga.


“Ayolah, aku hanya main sebentar saja. Tidak akan dirusak kok!”


Agak sedikit memaksa, akhirnya Noise memberikan biola miliknya pada Elise yang membuat sang empu tersenyum bahagia.


Elise mulai memposisikan dirinya bak seorang violin profesional. Gayanya menirukan Noise tadi, tentu saja Noise menyadari itu namun dia tidak keberatan.


“Lihat ya, aku juga bisa main biola”


Tangannya menggenggam *bow(*Alat gesek untuk biola) lalu menggeseknya dengan senar biola. Awalnya semua tampak normal, namun saat bow bersentuhan dengan senar biola suara yang muncul malah suara fals dan jelek.


Nggek— adalah suara yang Elise hasilkan dari biola. Tidak bernada ataupun merdu seperti yang Noise lakukan tadi.


“eh? Kok enggak bagus ya?”


Elise bingung sendiri. Padahal dia yakin bisa menyamai kemampuan Noise, atau setidaknya bermain sedikit lebih merdu.


“Pfttt!! Hahaha, katanya tadi bisa kok suaranya jelek?”


Noise berucap puas dengan tawa di wajahnya. Bukan main, gen keluarga Eldegar menghasilkan bibit unggul dengan ketampanan yang mempesona. Saat Noise tertawa lepas dia terlihat lebih tampan, memang orang tampan kalau sudah tertawa maka tingkat ketampanannya akan berlipat ganda.


Elise tidak keberatan dirinya ditertawakan begini. Malahan dia senang sebab akhirnya Noise terlihat lebih santai dari awal pertemuan mereka.


“Ternyata kemampuanku berkarat hehe. Lama tidak diasah, jadi begini”


Noise mendengus tak percaya.


“Alasan. Kak Elise memang tidak bisa main biola kan? Cara memegang biolanya saja salah tuh.”


Komentar yang menusuk bagi Elise dan itu adalah kenyataan. Dia memang tidak bisa main biola, bahkan ini adalah kali pertama dia menyentuh alat musik tersebut.


Dengan malu Elise mengakui ketidakmampuannya.


Mengangguk sebagai jawaban, Noise mengambil kembali biola yang Elise berikan padanya. Sebelum menyimpan biola itu ia memeriksanya terlebih dahulu, takut ada yang lecet sebab disentuh oleh orang amatir macam Elise katanya.


“Enggak lecet kok! Aku kan hati-hati mainnya” Kata Elise. Merasa tersinggung.


Noise terkekeh geli sambil meletakan biola ke dalam tempatnya. Dia berbalik, menatap Elise yang masih berdiri di sana.


“Kak Elise tidak mengantuk? Bukannya kakak baru pulang kerja?”


Elise sedikit terkejut sebab Noise bertanya padanya. Dia pikir akan langsung diusir, tapi ternyata Noise ingin basa-basi dulu.


“Tidak apa-apa. Aku sudah mengerjakan tugasku tadi, jadi besok aku tidak harus berangkat terlalu pagi”


Noise berucap 'oh' singkat kemudian percakapan mereka pun berakhir. Tapi, bukan Elise namanya kalau langsung pergi begitu percakapan berakhir, dia duduk di kursi bersebelahan dengan Noise membuat lelaki berusia sembilan belas itu sedikit menggeser kan tubuhnya memberikan ruang untuk duduk pada Elise.


“Lagipula, harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Kamu enggak mengantuk? Memangnya besok tidak ada kelas?”


Elise yakin Noise itu baru masuk kuliah tahun ini. Bukannya tahun pertama itu masa paling sibuk untuk anak kuliahan? Tapi Noise tampak tidak terganggu dengan jadwal sibuk anak kuliah, malahan dia santai.


“Apa masalahnya kalau bolos satu kali? Toh aku bisa menggunakan uang untuk absen, jadi tidak masalah kan?”


Ralat tentang Elise yang menilai Noise itu anak penurut. Ternyata masa membangkangnya baru mulai sekarang. Elise berdehem singkat. Ucapan Noise tidak salah sih, dia memang bisa melakukan itu.


“Itu memang hak kamu sih. Tapi aku sarankan untuk masuk kelas saja”


Elise menjeda ucapannya sejenak, ia menatap Noise dari samping yang tampak tak acuh namun masih mendengarkan dia berbicara.


“Uang memang bisa membereskan masalahmu, tapi nanti kemampuan yang kamu miliki tidak akan sama dengan mereka yang bekerja keras untuk kuliah. Lagipula, apa kamu tidak sayang karena menggunakan uang itu untuk menutupi satu hari bolos mu? Padahal kan kamu bisa membeli hal lain menggunakan uang itu”


“Aku—tidak memikirkan itu.”


Noise menundukkan wajahnya yang muram. Terbiasa hidup sebagai orang berpunya membuat Noise menggunakan uang semaunya, bahkan urusan kehadiran kuliah pun dia menggunakan kekuatan uangnya untuk menutupi absen.


Keluarga Elise juga kaya meski tidak sekaya keluarga Eldegar. Mendiang ibunya selalu berpesan jika ia tidak boleh sering menggunakan uang untuk menyelesaikan masalahnya. Ketergantungan pada uang dan kekuasaan keluarga hanya akan membuatnya menjadi tidak mandiri dan nakal, karena itu Elise berusaha untuk mencapai semua yang dia mau.


"Jadi, apa aku harus tetap masuk kuliah meskipun aku tidak menyukainya?”


“Apa yang membuatmu tidak suka?”


Noise agak ragu untuk menjawab pertanyaan Elise. Tapi melihat tatapannya yang menenangkan Noise pikir tidak apa-apa untuk bercerita padanya.

__ADS_1


“Itu—bukan jurusan yang aku inginkan” Noise menjeda ucapannya sejenak sedangkan Elise dengan setia menunggu Noise melanjutkan ucapannya.


“Ibu ingin aku menjadi mahasiswa bisnis untuk meneruskan perusahaan yang akan diwariskan padaku, tapi aku ingin kuliah di bidang musik.”


Ada kesedihan dalam tatapannya. Noise berbicara sambil menatap lantai, menundukkan sedikit wajahnya.


“Seperti yang kak Elise tahu. Aku menyukai biola lebih dari sekedar hobi. Aku ingin terjun ke dunia musik, namun ibu berpendapat bahwa dunia musik tidak menguntungkan seperti bisnis yang kami jalani”


“Kamu sudah membicarakan ini dengan madam Julia?”


Noise menggelengkan kepalanya “Aku tidak bisa melakukan itu” Suaranya sangat rendah, ia bahkan tidak menatap Elise.


“Mengapa?”


Senyuman muram terlihat di wajahnya.


“ibu selalu tegas. Beliau tidak akan menyukai sikap keras kepalaku pada keinginan yang menurutnya tidak berguna, saat aku berbicara tentang keinginanku yang tidak sesuai dengan standarnya beliau akan mengabaikan pendapatku dan berbicara bahwa keputusannya adalah yang terbaik”


Sikap madam Julia yang mengekang Noise membuatnya menjadi sosok tertutup dan sulit mengungkapkan apa yang dia inginkan. Madam Julia selalu mengatakan bahwa keputusannya adalah yang terbaik untuk Noise, tapi dia tidak berusaha memahami masalah yang dialami Noise.


Noise tersenyum simpul. Baru kali ini dia berbicara tentang masalahnya pada orang lain, apalagi Elise adalah anggota baru dari keluarga mereka.


“maafkan aku kak Elise”


Sejenak Elise tidak menjawab. Ia memiringkan kepalanya bingung, kemudian kembali berbicara.


“Kenapa kamu meminta maaf?”


Mata kebiruan milik Noise bertatapan dengan mata hijau Elise. Terlihat penyesalan tersirat di wajahnya, seolah-olah ia adalah orang yang paling bersalah di sana.


“Waktu kita makan malam aku tidak menghentikan ibu dan kak Julian yang berbicara buruk tentang kakak. Jika aku tahu kak Elise sebaik ini, mungkin aku akan berusaha menghentikan mereka seperti kak Lucas”


‘Jadi kak Lucas waktu itu membelaku?’


Ada perasaan terkejut dalam diri Elise saat Noise mengatakan itu. Namun, dalam hati kecilnya dia merasa senang karena Lucas membelanya saat dia pergi dengan tidak sopan di ruang makan.


Elise menggelengkan kepalanya singkat. Dia pikir tidak seharusnya Noise meminta maaf begini.


“Jangan meminta maaf jika bukan kamu yang salah. Untuk apa meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan orang lain? Itu hanya akan membuat mereka tidak belajar dari kesalahan mereka, kamu paham?”


“Kak Elise mirip dengan kak Lucas ya”


“Benarkah?”


Noise mengangguk dengan semangat, dia tidak berbohong saat mengatakan itu.


“Iya. Kak Elise itu berani, kak Lucas juga begitu. Dia membangun bisnisnya sendiri karena ia menyukai memasak. Kak Lucas tidak terikat dengan aturan ibu yang mengharuskan kami untuk meneruskan perusahaan, dia menciptakan jalannya sendiri. Menurutku itu keren.”


Senyuman jahil Elise mengembang “Jadi aku juga keren nih?”


“I—iya” Ujar Noise singkat. Telinganya terlihat merah sebab malu karena mengatakan itu. Elise terkekeh geli, merasa gemas pada reaksi yang Noise tunjukkan.


“Haduh. Anak ini, bisa saja membuatku malu”


Tangan Elise terulur mengacak-acak rambut Noise sedangkan sang empu malah tertawa karena Elise memperlakukannya dengan akrab. Noise tidak menolak perlakuan Elise padanya. Canggung memang, tapi ia tidak keberatan.


Elise adalah yang pertama menanyakan dengan peduli tentang apa yang dia inginkan, karena itu Noise merasa nyaman berbicara dengannya.


“Sudah malam, aku harus kembali ke kamar. Mau bareng enggak?”


Noise mengangguk singkat sebagai jawaban. Tadinya dia ingin diam saja di loteng sampai pagi, tapi karena ucapan Elise beberapa menit yang lalu membuatnya berubah pikiran. Noise akan masuk kuliah besok, jadi dia harus segera tidur.


Mereka keluar bersamaan, sebelum berpisah karena berbeda jalan Noise menghentikan Elise dengan menarik tangannya.


Elise terkejut atas tindakan Noise yang tiba-tiba itu. Sebelum dia bertanya kenapa, Noise lebih dulu berbicara padanya.


“Kak Elise, apa kakak mau ke loteng lagi besok?”


Perlu keberanian yang besar bagi Noise untuk mengajak Elise bertemu lagi. Dia merasa nyaman saat berbicara dengan Elise hari ini dan Noise ingin mengobrol lagi besok—dan mungkin untuk seterusnya juga begitu.


Elise tersenyum lebar, tentu saja dia mau datang lagi besok.


“of course. Kita bisa mengobrol lagi besok, sekarang kamu harus tidur. Tetap semangat Noise”


Noise mengangguk paham, setelah itu ia melepaskan tangan Elise kemudian pamit ke kamarnya meninggalkan Elise yang masih diam di sana.


Elise segera pergi ke kamarnya juga, dia harus tidur sekarang untuk mencegahnya bangun terlambat nanti. Sebelum tidur, Elise memikirkan kembali pertemuannya dengan Noise.


Tanpa sadar senyuman pun tercipta di wajahnya. Elise senang bisa membantu Noise, dia juga merasa nyaman padanya karena Noise terlihat seperti adiknya sendiri.


Harinya yang melelahkan di kantor langsung hilang begitu saja, kini Elise merasa bersemangat untuk menghadapi hari esok.

__ADS_1


__ADS_2