Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Sikapnya aneh.


__ADS_3

...Julian mengajak ngobrol Elise duluan saja sudah diluar perkiraan BMKG, tapi sekarang dia malah menawarkan bantuannya? Serius? Julian Eldegar yang arogan dan tak menyukainya itu inisiatif membantu? Dunia ini pasti sedang tidak baik-baik saja!...


...————...


Sudah hampir satu Minggu Elise berada di Osaka. Pekerjaan ini memakan banyak waktu dan tenaga, rasanya dia ingin segera pulang sekarang.


"Ugh. Apakah mataku mulai rabun?"


Elise mengucek matanya pelan, menatap layar laptop yang masih menyala di depannya. File berisi hasil rapat tadi harus dia selesaikan dua hari lagi, tapi Elise ingin menyelesaikannya hari ini jadi ia bisa memiliki waktu luang untuk istirahat.


Matanya terasa perih. Wajar saja begitu. Elise kekurangan tidur di sana,  selain itu dia juga terlalu banyak bekerja hingga larut malam.


"Aku merasa diriku menjadi lima tahun lebih tua."


"Iya. Pantas saja wajahmu terlihat jelek dan kusut"


Tanpa berbalik pun Elise sudah tahu siapa orang yang berucap tanpa filter itu.


"Hahaha, lelucon malam yang sangat lucu Mr Julian."


Elise menjawabnya dengan hambar. Dia heran, kenapa Julian selalu berbicara seperti itu setiap ada kesempatan? Mulutnya itu perlu disumpal sesuatu atau dijahit saja sekalian!


"Apa kamu belum selesai juga?"


Dia berjalan mendekati Elise, menatap layar laptop itu dengan seksama.


"Menurut anda apakah saya akan di sini kalau pekerjaan saya sudah selesai?"


Julian mengabaikan ucapan Elise. Ia mengambil alih laptop milik perempuan itu, membacanya sekilas kemudian berbicara.


"Mau ku bantu?"


Uhuk!


Elise tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap Julian dengan ekspresi terkejut yang kentara, tidak berniat menyembunyikannya sedikitpun.


'Apa dia salah makan?'


Julian mengajak ngobrol Elise duluan saja sudah diluar perkiraan BMKG, tapi sekarang dia malah menawarkan bantuannya? Serius? Julian Eldegar yang arogan dan tak menyukainya itu inisiatif membantu? Dunia ini pasti sedang tidak baik-baik saja!


"Kenapa? Kau tidak mau aku bantu?"


Mata lelaki itu mendelik. Dia pun sebenarnya tak sadar menawarkan bantuannya pada Elise, saat melihat pekerjaannya yang belum selesai juga padahal hari sudah larut membuatnya ingin membantu—bagaimanapun Elise masih karyawan yang bekerja padanya.


"Saya—akan sangat berterimakasih kalau anda mau membantu."


Sebenarnya Elise sudah lelah sekali. Membawa pekerjaannya ke hotel hingga begadang untuk menyelesaikannya membuat tubuh Elise lelah, ia pun ingin tidur meski hanya dua jam.


Bantuan dari Julian sangat membantunya, tapi dia masih tak tahu apa motif dibalik bantuan ini.


'Tidak mungkin seorang Julian Eldegar membantu tanpa mendapatkan keuntungan,'

__ADS_1


Dia ingin bertanya pada Julian, tapi lelaki itu keburu mengambil alih laptopnya, membawa benda elektronik itu menuju sofa tempat Elise biasa tidur dan duduk di sana.


"Untuk hari ini saja, kau tidur di kasur"


Elise mengedipkan matanya beberapa kali. Hah!? Ada apa sih dengan bos nya ini!?


Tingkahnya mencurigakan. Dia melakukan hal-hal yang tidak biasa ia lakukan, Elise lebih baik menerima perlakuan biasa Julian padanya daripada diperlakukan begini. Rasanya sangat aneh.


"Kenapa? Kau tak mau tidur di kasur?"


Segera Elise menggelengkan kepalanya. Tidur di kasur yang empuk memang lebih nyaman daripada sofa sempit itu, ia bisa merilekskan tubuhnya dari segala penat yang ia rasakan.


"Terima kasih Mr Julian. Kalau begitu, saya izin tidur duluan!"


Tanpa menunggu jawaban dari Julian ia langsung pergi ke kasur, tidur berselimut tebal lalu menuju alam mimpi dengan cepat—kebiasaannya saat sudah lelah, sangat mudah sekali tidur ketika kepala menyentuh bantal.


Julian menatap tak percaya Elise yang sudah tidur, padahal baru beberapa menit berlalu sejak ia memberikan izin kepada Elise untuk tidur di kasurnya.


Sambil menyelesaikan tugas milik Elise, otaknya kembali mengingat ke belakang—ingatan tentang ucapan Nicolas padanya saat sore tadi.


"Kau harus bisa memilih salah satu dari mereka"


Julian menghentikan langkahnya saat Nicolas tiba-tiba mengatakan itu padanya. Ia menatap Nicolas sejenak, lalu bertanya sambil memasang wajah bingung.


"Apa maksud mu?" Dia bertanya singkat.


Nicolas berbalik menatap Julian. Ia menjawab pertanyaan itu dengan wajah datarnya.


"Elise dan Fiona. Kamu harus bisa memilih salah satu dari mereka."


"Kenapa kamu bertanya begitu? Tentu saja aku akan memilih Fiona"


Ia berujar dengan sangat yakin. Fiona sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun ini, sedangkan Elise hanyalah tunangan palsu yang akan dia tinggalkan nanti—jadi, sudah jelas kalau Julian pasti memilih Fiona.


Namun sepertinya Nicolas tak berpikir begitu. Ia mendengus singkat, tertawa kecil yang terkesan meremehkan.


"Aku tidak yakin kamu bisa mempertahankan pilihan itu."


Jawabannya terkesan mengejek yang membuat Julian kesal mendengarnya. Ia bersedikap dada, menatap sang sahabat lama yang merangkap jadi asistennya itu dengan tatapan datar.


"Dan alasannya?"


Nicolas menunjuk matanya sendiri yang membuat Julian semakin tak paham.


"Itu karena tatapan mu saat melihat Elise sudah berubah."


Nicolas menjawabnya dengan mantap. Ia sempat memperhatikan tatapan Julian saat bekerja bersama Elise, dari sudut pandangnya tatapan Julian saat melihat Elise terlihat jelas seperti orang yang tertarik.


"Omong kosong. Aku masih tidak menyukai Elise Anderson,"


Julian mencemooh jawaban Nicolas. Merasa tak setuju dengan ucapannya itu, menurutnya ia masih memperlakukan Elise sama seperti dulu.

__ADS_1


"Pftt. Ucapan dan tatapan matamu memiliki jawaban yang berbeda"


"Sifat mu itu terlalu melankolis Nicolas. Lagipula, bagaimana tatapanku saat menatap Elise Anderson tadi?"


Nicolas tak bisa menjawabnya dengan pasti. Dia terdiam, mengingat kembali bagaimana cara dia menatap Elise selama ini—sangat lembut dan peduli, ia selalu jatuh cinta lagi dan lagi saat menatap perempuan itu.


"Tatapan mu terlihat sama seperti saat aku menatapnya."


Ia menjawab pelan. Julian tidak sempat mendengar jawaban dari Nicolas sebab di sana jadi agak berisik tadi, karena itu ia pun bertanya lagi pada sahabatnya itu.


"Hah? Kau bilang apa tadi?"


Julian meminta pengulangan, tapi Nicolas malah tersenyum simpul dan berjalan meninggalkannya di belakang.


"Aku tidak mau menjawabnya. Kau cari tahu saja sendiri."


Dia menjawab itu sebelum pergi, membuat Julian merasa sebal sebab tak mendapatkan jawaban yang dia mau.


"Memangnya, bagaimana aku menatapnya?"


Kembali ke masa saat ini, Julian menatap Elise yang tertidur di kasurnya. Ia berdiri, melangkah lebih dekat menuju Elise kemudian menatap wajah sang puan yang tertidur pulas—tidak merasa waspada sedikitpun, padahal mereka hanya berdua saja di kamar itu.


Wajahnya yang tertidur terlihat tenang, sangat berbeda dengan dirinya ketika bangun. Julian pikir, tidak buruk juga melihat wajahnya begini.


Sedetik kemudian ia menampar pipinya sendiri, baru menyadari pikiran apa yang dia miliki sekarang.


'Sadarlah! Dia adalah wanita yang Fiona benci, lagipula aku hanya mencintai Fiona!'


Dia meyakinkan dirinya sendiri, setelah itu Julian pun kembali ke tempat awalnya, mengerjakan lagi tugas yang belum semua rampung.


Pikiran itu memang sebentar. Tapi, saat menatap wajah tidurnya jantung Julian berdegup kencang seperti saat dia memikirkan tentang Fiona—Julian tak boleh merasakan perasaan itu, hatinya milik Fiona dan sampai kapanpun akan seperti itu.


'Aku hanya keliru'


.


.


.


.


.


.


Cinta terakhir yang membuat Elise terjerat cinta berantai mulai kelihatan nih. Julian yang awalnya tidak suka Elise malah jadi kepincut juga, apa dia bakal menjilat ludahnya sendiri dan berpaling dari Fiona yang amat sangat ia cintai?


Kita tunggu di eps nanti! Hehe


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (灬º‿º灬)♡

__ADS_1


Terima kasih sudah baca!!


dan maaf kalau ada typo dan salah kata lainnya.


__ADS_2