
...Kini Julian menyadarinya. Fiona tidak benar-benar mencintainya, sejak dulu maupun sekarang yang dia lakukan hanya memanfaatkan uang yang Julian miliki untuk memenuhi keinginan duniawi perempuan itu—menunggunya adalah hal yang sia-sia, apalagi berharap mereka akan kembali seperti dulu....
...————...
"Ini tidak adil karena hanya aku yang tidak tahu apa yang terjadi"
Julian bergumam sebal sebab Lucas meninggalkannya tiba-tiba tanpa mengatakan sepatah kata apapun setelah dia selesai menelpon seseorang, dari suaranya yang Julian dengar ia menebak Lucas habis menelpon Elise tapi dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena setelah telpon ditutup Lucas langsung pergi begitu saja.
Julian ingin pulang dan menanyakannya pada orang rumah. Jika menyangkut soal Elise biasanya mereka tahu, tapi shif kerjanya belum selesai dan sekarang bahkan hari sudah malam.
Satu jam lagi dia baru boleh pulang. Apa Elise baik-baik saja? Dari ekspresi Lucas tadi siang, dia tampak panik—itu membuatnya khawatir.
"Ugh, aku ingin segera pulang"
Rasanya aneh saat dia yang suka bekerja tiba-tiba saja kebelet pengen pulang. Julian tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya sebagai pelayan di restoran kakaknya, dia bahkan berusaha menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata pedas jika ada perempuan yang menanyakan line atau kontak miliknya—itu menyebalkan, jika dia adalah Julian yang dulu mungkin saja ia akan menjawab ketus dan keluar dari sana.
Tapi dia harus menahan dirinya, demi pekerjaan itu dan uang sakunya yang terus menipis.
"Julian. Apa kau sudah mengantarkan pesanan meja no dua puluh? Makanannya sudah siap!"
Julian tersentak begitu namanya di panggil. Dia berdiri dari duduknya, tiba saatnya untuk dia kembali bekerja.
"Baik! Aku akan segera ke sana"
Tangannya menerima nampan berisi pesanan di meja tersebut. Julian menghela nafas panjang, menenangkan diri untuk tidak memikirkan tentang Elise dan berharap dia baik-baik saja.
'Setelah selesai ini aku akan pulang'
Pegawai di sana sudah cukup dan shif Julian pun sudah hampir berakhir, jadi dia bisa pulang hari ini.
Mata Julian terbelalak saat dia melihat perempuan yang duduk di sana. Perempuan dengan dress putih elegan dan cantik, rambutnya tergerai indah lalu di depannya seorang lelaki dengan pakaian rapi mengobrol santai dan nyaman—siapapun yang melihat itu akan berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih, tapi Julian tahu siapa si perempuan itu.
Dia melangkah menuju meja tersebut, menyajikan makanan yang dia bawa kemudian tersenyum.
"Selamat menikmati hidangannya"
Perempuan itu tersentak saat mendengar suara yang dia kenali. Dia mendongak, menatap sosok tersebut kemudian bergumam sendiri.
"Julian?"
Julian yang mendengar namanya disebut hanya diam. Dia masih mempertahankan senyumannya, lalu pergi dari sana tanpa sepatah katapun—meninggalkan perempuan itu dengan ekspresi terkejut yang dia miliki.
Perempuan itu adalah Fiona. Lama tak memberi kabar dia muncul bersama lelaki lain, Julian pikir perempuan itu hanya sibuk bekerja seperti yang dia ucapkan tapi ternyata Fiona berbohong padanya.
Bahkan sampai menjalin hubungan dengan lelaki lain padahal mereka hubungan mereka pun belum berakhir, tidak, hubungan mereka berakhir hari ini.
Tangannya terulur merogoh gawai dalam tasnya, Julian mengetik pesan singkat pada Fiona sebelum dirinya menghapus semua kontak yang berhubungan dengan sang puan.
["Kita akhiri saja di sini, jangan hubungi aku lagi."]
__ADS_1
Seharusnya dari dulu dia memutuskan hubungannya dengan Fiona.
Kini Julian menyadarinya. Fiona tidak benar-benar mencintainya, sejak dulu maupun sekarang yang dia lakukan hanya memanfaatkan uang yang Julian miliki untuk memenuhi keinginan duniawi perempuan itu—menunggunya adalah hal yang sia-sia, apalagi berharap mereka akan kembali seperti dulu.
Saat dia memikirkan tentang masalahnya, Julian membaca pesan dari Noise. pesan singkat yang berisi kabar tentang Elise.
"Tidak, Elise—"
Ketika itu juga Julian langsung lari terburu-buru dari ruangan ganti lalu memesan taksi dan pergi ke Boston, tempat rumah Elise berada.
Tadinya dia tidak tahu di mana letak pasti lokasi rumah Elise, tapi Noise mengirimkan pesan sekaligus alamatnya pada lelaki itu—dia harus berterima kasih dengan benar pada adiknya nanti, untuk sekarang Julian hanya berharap semoga Elise baik-baik saja.
...******...
Elise masih ingat dengan jelas saat beberapa jam lalu ketika dia merasakan hangatnya tangan Gio yang menggenggamnya lemah, juga ucapan lembut Gio yang tak dia sangka menjadi wasiat terakhir sebelum dirinya pergi menyusul sang ibu—kini Elise sendirian, menatap foto ayahnya yang diletakkan bersebelahan dengan foto mendiang ibunya.
Matanya bengkak sebab menangis sejak tadi. Ini kali pertamanya ia mengeluarkan air mata selama ini, sejak dirinya menginjak usia dewasa. Kepergian ayahnya begitu tiba-tiba, dia bahkan tak sempat meminta maaf ataupun berterima kasih atas semua hal yang Gio berikan padanya.
"Beri kesempatan pada Julian untuk menemanimu, dulu—dia anak yang baik, ayah percaya saat ini pun dia masih begitu. Ayah—hanya bisa mempercayakan dirimu padanya, hiduplah dengan bahagia. Ayah mencintai—mu—"
Gio tampak kesusahan untuk mengatakan itu pada Elise, tapi akhirnya dia bisa menyampaikan pesan tersebut dengan baik lalu menghembuskan nafas terakhirnya di sana.
Elise tak bisa menahan dirinya untuk memeluk tubuh kaku sang ayah yang sudah tidak ada di dunia ini, dia memeluknya sambil menangis sedangkan orang-orang yang datang bersamanya berusaha untuk menenangkan dia yang diselimuti kesedihan.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu lebih lama—asisten sialan ku itu mengatakan jadwal pemotretan hari ini tidak bisa di tunda lagi, aku akan datang ke sini setelah semuanya selesai"
Hana berucap tak enak sambil memeluk Elise yang mengangguk lemah. Dia tidak tega meninggalkan sahabatnya dalam kondisi begini, tapi masalah pekerjaannya tidak bisa ditunda lagi dan memaksanya untuk hadir di sana.
Sekali lagi Elise menangis di pelukan Hana yang hangat. Dia mengangguk berkali-kali, mengatakan dirinya akan hidupnya dengan baik lalu berterima kasih pada sahabatnya itu.
"Terima kasih Hana"
"Inilah gunanya teman kan? Jangan berpikir untuk mengakhiri hidup mu, kau harus panjang umur dan sehat!"
Terakhir, Hana mencium kening Elise singkat. Tanda dukungan darinya, serta ketulusannya meminta pada Elise untuk tetap kuat. Hana pergi setelahnya, kini Elise tinggal di rumah itu bersama Lucas yang ikut mengantar kepergian Hana.
"Tidak mau masuk?"
Lucas bertanya singkat karena Elise hanya diam setelah Hana pergi dari sana, tampaknya perempuan itu belum mau masuk ke rumahnya yang saat ini diisi oleh beberapa kenalan Gio bersama Benjamin.
Elise menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia merasa ingin diam di luar dan tidak ingin masuk ke dalam rumahnya, kenangannya dengan sang ayah langsung terbayang begitu dia masuk ke sana, jadi untuk saat ini rasanya diam di luar bisa membuat dia agak tenang.
"Mau aku temani?"
"Tidak apa-apa. Aku ingin sendiri, tolong"
Lucas tidak mau meninggalkan Elise sendirian saat ini, kalau bisa dia ingin selalu menemaninya agar perempuan itu tidak merasa kesepian dan kosong—namum kalau dia menolak Lucas pun tak bisa memaksa, jadi akhirnya dia pergi ke dalam rumah, meninggalkan Elise di pekarangan yang dipenuhi rumput pendek dan satu pohon mapel.
Elise menghela nafas panjang. Kakinya berjalan pelan, melangkah keluar menuju jalanan dan menikmati angin malam yang dingin—sampai kemudian dia mendengar suara seseorang dari belakang.
__ADS_1
"Elise"
Namanya disebut, dia berbalik dan melihat sosok Julian yang datang dengan nafas tak beraturan, mungkin dia berlari untuk mengejar Elise tadi.
Elise terkejut melihat Julian di sana, dari mana dia tahu alamat rumahnya? Yang lebih penting, mengapa dia datang ke sana?
"Apa yang kamu—"
Elise tidak sempat melanjutkan ucapannya karena Julian memeluknya begitu saja, sangat erat dan hangat—membuat Elise semakin terkejut dibuatnya.
"Hei!?"
Elise berusaha melepaskan pelukan itu meskipun saat ini jantungnya berdegup sangat kencang karena tindakan Julian yang tiba-tiba ini, namun Julian terlalu kuat, dia tidak bisa mendorongnya.
"Maafkan aku atas semua kesalahan yang aku lakukan padamu selama ini, aku egois dan lelaki yang buruk, maaf karena memperlakukan mu dengan tidak baik."
Serangkaian ucapan maaf Julian berikan pada Elise. Dia terdengar tulus, tidak ada paksaan ataupun rasa enggan dalam ucapannya.
"Aku tidak akan mengatakan hal lain lagi karena itu akan terdengar seperti alasan, tapi Elise, aku ingin mengatakan ini padamu. Aku tahu kalau sekarang bukan waktu yang tepat, namun aku ingin mengatakan padamu bahwa aku sangat mencintaimu."
"A—apa yang kamu katakan!?"
"Ini serius! Aku baru menyadarinya belum lama ini. Kamu tulus dan memiliki pesona mu tersendiri, aku merasa akan ditikung seseorang jika tidak mengatakan hal ini sekarang."
Elise tidak tahu sudah seberapa merah wajahnya saat ini. Ucapan Julian yang tiba-tiba membuatnya malu sekaligus senang, itu artinya perasaan Elise terbalas.
Julian melonggarkan pelukannya. Dia menatap Elise lurus, memperhatikan sorot matanya yang indah.
"Kamu yang tuan Gio titipkan padaku, aku akan membuatmu bahagia dan berusaha untuk mendapatkan hatimu. Tuangkan seluruh keluh kesah yang kamu miliki padaku, aku siap menjadi pendengar mu setiap waktu. Elise, untukmu aku akan melakukan apapun—jadi, tolong berikan aku kesempatan"
.
.
.
.
.
.
Bisa-bisanya Julian nembak Elise pas duka begitu, hadeh༎ຶ‿༎ຶ Karena takut 'ditikung' seseorang, jadinya dia pun nembak pas saat enggak tepat.
Tikungan di tempat tinggal Julian tajam-tajam ya, banyak pula.
kalau kalian jadi Elise, kira-kira kalian mau gak Nerima Julian yang dulu bersikap apatis dan menyebalkan ke kalian terus perasaannya malah berubah jadi cinta?
Terima kasih sudah mampir dan baca, jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen.
__ADS_1
Maaf kalau ada kata yang typo.