
...Dulu, mulutnya berucap tak akan sudi jatuh hati pada lelaki itu, namun sekarang ia malah merasa senang saat melihatnya bahkan selalu ingin berada di sisinya. ...
...————...
Elise tidak tahu sejak kapan perasaannya tumbuh, tapi dia menyadari kalau saat ini rasa bencinya pada Julian sedikit berkurang—atau mungkin itu berubah menjadi perasaan lain.
'Apa alasan aku menyukainya?'
Ia mempertanyakan itu pada dirinya sendiri. Wajah Julian bukan tipenya. Para mantannya dulu memiliki wajah seperti Lucas dengan tubuh tinggi dan agak berotot, sedangkan Julian tidak seperti itu.
Nicolas bahkan lebih tinggi dari Julian. Jika memikirkan tentang sifat, itu juga tidak mungkin. Julian memiliki sifat yang cenderung menusuk ke hati dan dia pun menyebalkan.
Tapi, ada satu waktu itu Elise berpikir dia benar-benar dibuat jatuh hati olehnya.
"Panti asuhan? Saya kira anda tipe orang yang tidak mau ke tempat ini"
Elise berbicara dengan heran saat Julian membawanya ke panti asuhan sambil membawa beberapa barang, meskipun karyawan lain yang datang dengan mereka mengajukan diri untuk membawa barang bawaan Julian tapi ia bersikeras untuk melakukannya sendiri.
"Bukan urusanmu aku datang ke sini atau tidak kan? Cepatlah, jika kau lama aku akan meninggalkan mu di sini."
Julian melengos pergi meninggalkan Elise di belakangnya. Jalan Elise jadi agak lambat sebab ia membawa lebih banyak kotak daripada yang Julian miliki, karena itulah ia merasa kesal pada atasannya itu.
'Mengajak orang sembarangan terus ninggalin, sumpah deh dia itu menyebalkan banget!'
Elise dengan tenaganya yang tidak terlalu kuat itu terus berjalan membawa beberapa kotak berisi baju baru dan makanan menuju tempat untuk penyerahan sumbangan, ia tak memperhatikan jalan hingga menabrak seseorang di depannya.
"Maafkan saya!—"
Ucapannya tertunda saat dia melihat sosok yang ia tabrak, rupanya itu adalah Julian—dia kembali menjemput Elise lalu meringankan beban yang dia bawa.
"Kau lambat sekali, apa kau itu siput? Anak-anak sudah menunggu lama. Ayo."
Julian mengomelinya sambil berjalan, kali ini ia melambatkan langkahnya supaya Elise tidak tertinggal lagi. Karena kotak yang Elise bawa sudah berkurang, ia bisa berjalan cepat lalu meninggalkan Julian di belakang.
Pembalasan untuk yang tadi, katanya.
"Anda yang lambat sekarang."
Ujarnya singkat. Elise tidak memperhatikan wajah Julian yang mengkerut karena ia berjalan cepat untuk menghindari tatapan tajam lelaki itu, hingga akhirnya ia pun berhenti ketika melihat orang lain yang juga memberikan sumbangan pada anak-anak yang ada di sana.
"Paman July!!"
Salah satu anak yang duduk di kursi roda buru-buru mendekat saat melihat Julian di belakang Elise, sementara perempuan berambut kemerahan itu terdiam karena mendengar nama panggilan si anak perempuan untuk Julian.
__ADS_1
'July?'
Aneh rasanya melihat Julian si atasan menyebalkan memiliki panggilan yang imut. Jika tak ada anak-anak di sana, mungkin Elise sudah tertawa karena nama panggilan itu.
"Halo, Cordelia. Maafkan aku karena baru bisa datang sekarang, aku sangat merindukanmu"
Julian mengangkat tubuh anak bernama Cordelia itu di udara, kemudian ia pun memeluknya erat dengan sayang.
Satu lagi pemandangan aneh yang Elise lihat. Julian ternyata sangat dekat dengan anak-anak di panti asuhan itu, bahkan ia pun ikut bermain bersama mereka.
Tidak ada sosok Julian yang tak acuh, yang ada hanyalah sosok Julian ramah dan penyayang anak-anak.
"Kakak suka sama paman July enggak?"
Elise tersentak saat mendengar pertanyaan tiba-tiba dari seorang anak perempuan di sebelahnya, karena sibuk memperhatikan Julian yang bermain bersama anak-anak lain ia sampai lupa sedang membuat kerajinan tangan.
"Eh? Kakak enggak suka."
Anak perempuan itu menatapnya kecewa, Elise ingat nama anak itu adalah Cordelia. Dia anak yang menyambut kedatangan Julian dengan antusias tadi.
"Kenapa? Padahal paman July baik, dia juga tampan kan!? Paman July pasti bisa jadi suami yang baik untuk kakak."
Elise tertawa garing, bingung mau menjawab apa pada Cordelia yang kini tampak sangat kecewa.
Tidak mungkin Elise menyukai lelaki itu, dia kan memutuskan untuk tidak mengusik apapun tentang Julian di masa depan nanti—karena itu Elise harus mempertahankan perasaannya supaya tidak berkembang ke arah yang tak dia inginkan.
"Hmm, beberapa orang memiliki tipe mereka masing-masing dan tipe kakak bukan Mr Julian."
"Bagaimana tipe kakak?"
Elise membeku. Dia merasa malu jika harus mengatakan tipe lelakinya adalah yang mirip dengan Lucas—meskipun tidak seluruhnya, tapi Lucas lah yang paling mendekati tipe ideal Elise saat ini.
"Yah, ada sesuatu seperti itu—"
"Apa yang kalian bicarakan?"
Julian tiba-tiba saja muncul dengan wajah berkeringat sebab selesai bermain dengan anak-anak. Cordelia sumringah, senang melihat Julian yang duduk di sebelahnya.
"Hanya perbicangan kecil," Elise menjawab singkat. Rasanya dia tak mau menjelaskan secara detail tentang topik obrolan mereka tadi.
"Hmm, begitu? Apa Cordelia senang?"
Cordelia mengangguk dengan antusias sebagai jawaban.
__ADS_1
"Senang banget! Kak Lise baik, aku menyukainya"
Ucapan itu terucap sangat polos dan tulus, Elise merasa hangat hanya mendengar pernyataan dari Cordelia.
"Begitu ya? Gimana lagi. Kalau Cordelia suka maka paman juga suka"
'Eh?'
Ucapan Julian itu terkesan bercanda, Elise tahu ia tidak serius namun tatapannya yang menatap Elise dengan senyuman lembut terasa menyenangkan bagai bunga di musim semi.
Sejak saat itu Elise merasakan perasaan lain karena dia terus mengingat sosok Julian yang berbeda.
"Aku akan mengadopsi Cordelia saat menikah dengan Fiona nanti."
Namun perasaannya harus terhempas jauh ke tanah. Elise lupa dengan kenyataan bahwa Julian hanya mencintai Fiona, kekasihnya.
'Benar juga. Aku hanya tunangan yang belum resmi, mana bisa aku menggantikan posisi Fiona di hatinya?'
Ia membenci dirinya sendiri yang bersikap plin-plan dengan perasaannya. Padahal sedikit lagi Elise bisa keluar dari keluarga itu, tapi dia malah merasakan perasaan suka pada Julian.
Padahal ia sejak awal tahu. Julian itu menyebalkan, bersikap tak acuh padanya bahkan meremehkannya. Jadi, kenapa dia bisa jatuh sendiri ke dalam kelemahannya?
Dulu, mulutnya berucap tak akan sudi jatuh hati pada lelaki itu, namun sekarang ia malah merasa senang saat melihatnya bahkan selalu ingin berada di sisinya.
Padahal ini bukan kisah novel romansa.
'Bolehkah aku berharap dia menatapku dengan cara yang sama seperti dia menatap Fiona juga?'
Selalu aku lihat belakang punggung mu, disaat kau melihat belakang punggung wanita lain~
Elise, Elise. Makannya kalau enggak suka sama seseorang itu jangan keterlaluan, soalnya kalau jadi cinta kan kita juga yang repot•́ ‿ ,•̀
Pengalaman saya.jpg。:゚(;´∩`;)゚:。
Eps kemarin yang galau Nicolas, sekarang malah Elise. Enaknya Nicolas sama Elise dinikahkan aja ga si? Sah!? SAH!!
Eh tapi, Nicolas mah punya saya
(◡ ω ◡)
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (灬º‿º灬)♡
Terima kasih sudah baca♡(ӦvӦ。)
__ADS_1