
...Tapi sekali lagi Elise tegaskan, dia tidak menyukai Nicolas. Baginya lelaki itu hanya rekan kerja, meskipun memang benar dia pun merasa nyaman dengan sifatnya itu tapi hanya begitu saja. Perasaannya hanya sebatas teman....
...————...
Setelah kejadian jari kukunya terluka Elise kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang bisa dia kerjakan. Nicolas menyarankan Elise untuk pulang, tapi perempuan itu menolaknya dengan alasan masih ada pekerjaan lain di kantor yang belum rampung.
Karena Elise yang keras kepala akhirnya Nicolas mengalah dan mengantarkan ia ke kantor lagi.
"Kamu yakin tidak mau pulang sekarang?"
Lelaki itu bertanya lagi untuk memastikan. Wajah khawatir miliknya sangat kentara, ia tak menyembunyikan ekspresinya di depan Elise.
"Aku baik-baik saja Nicolas! Ini tidak terlalu buruk kok."
Elise meyakinkan rekan kerjanya itu untuk berhenti khawatir padanya. Dia berterima kasih karena di khawatirkan begini, apalagi Nicolas adalah orang yang mengantarkannya ke klinik untuk mengobati luka di jarinya. Kebaikannya hari ini cukup banyak, Elise sampai tidak enak hati pada lelaki itu.
"Aku akan membantumu jika kamu butuh bantuan. Jadi, jangan sungkan untuk bicara padaku" Tuturnya seraya tersenyum simpul.
"Aku paham. Terima kasih, kalau begitu aku pergi duluan. Sampai jumpa nanti Nicolas!"
Mengakhiri percakapan itu Elise berjalan terlebih dahulu menuju kantor meninggalkan Nicolas yang masih berdiri di samping mobilnya dan terparkir dalam base.
Sambil berjalan cepat Elise merasakan hawa panas di wajahnya. Padahal suhu di kantor tidak sepanas itu, tapi kenapa saat ini Elise merasa gerah? mantel yang dia gunakan sekarang bahkan tidak terlalu tebal jadi sudah pasti alasannya bukan karena mantel.
'Apakah ini karena perlakuan Nicolas tadi!?'
Elise menyadari pesona rekan kerjanya yang sulit di tolak, apalagi dia seorang perempuan lajang(lupakan tentang tunangannya, Elise bahkan tidak menganggap Julian seperti itu) diperlakukan dengan manis dan ramah seperti tadi sudah pasti membuatnya terbawa suasana.
Biasanya Elise selalu bersikap profesional. Dia tidak boleh mencampurkan hal pribadi dan kerjaannya, dan jika rumor baru tersebar maka dia akan mempersulit posisi Nicolas di kantor.
'Aku tidak percaya karena sempat terbawa perasaan dengan perlakuan Nicolas yang baik begitu, harusnya aku tidak melakukannya'
"Elise!"
Seseorang memanggilnya dari belakang. Elise membalikkan tubuhnya, menatap pemilik suara agak melengking yang tadi menyebut namanya.
Cafetaria cukup sepi saat ini, karena itu Elise dapat langsung menemukan temannya yang melambaikan tangan dengan ekspresi sumringah.
"Oliver!"
Perempuan berambut pirang dengan mata biru itu tersenyum lalu berjalan mendekati Elise. Sudah beberapa bulan Elise bekerja di sana, dia memang tidak memiliki banyak teman sebab jabatan dan status Elise di sana masih abu-abu dan tidak banyak karyawan yang tahu kalau Elise sebenarnya adalah tunangan Julian.
__ADS_1
Oliver Giroud adalah teman Elise yang berada di divisi berbeda. Mereka menjadi dekat karena Elise yang sering membantunya.
"Oh, astaga. Kenapa dengan jari mu?"
Tampaknya jari Elise yang di balut oleh perban sukses merebut perhatian Oliver.
"Hanya kecelakaan kecil saat bekerja."
Elise menjawab seadanya sambil tertawa canggung. Oliver menghela nafas lega. Luka Elise tidak terlalu parah jika di lihat dari perbannya, karena itu dia merasa tidak terlalu khawatir.
"Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu mencari ku?"
Tak mau membahas tentang lukanya lagi Elise mengalihkan pembicaraan. Oliver sedikit tersentak seolah-olah baru menyadari sesuatu, sebenarnya ia malah lupa untuk sesaat dengan tujuannya.
"Aku ingin meminta bantuan mu. Tapi, sebelum itu apa kamu tahu ms Fiona berulang tahun dua hari lagi?"
"Aku—tahu"
Elise menjawab singkat. Benar. Ulang tahun Fiona, ada perayaan yang di rencanakan oleh Julian nanti dan perayaan itu juga dilakukan bersamaan dengan pemberian hadiah untuk departemen design karena menyelesaikan desainnya dengan bagus.
Untuk yang terakhir seharusnya Elise yang menerimanya, tapi dia malah menerima perlakuan tak adil dan tuduhan.
Kata Elise bertanya. Dia tidak yakin bisa datang ke perayaan itu—jika boleh dia tidak mau datang saja dan diam di rumah, setidaknya itu lebih baik daripada melihat pemandangan Julian dan Fiona yang bermesraan di sana nanti.
'Aku tidak cemburu, hanya saja itu terlihat menjengkelkan'
Seolah ingin memperlihatkan kedekatan mereka, Fiona selalu terang-terangan bermesraan di depan Elise.
"Aku sedikit malu untuk mengatakan ini"
Olivia tersenyum canggung. Seperti remaja yang kasmaran, dari ekspresinya Elise bisa menebak dia ingin meminta bantuan tentang cinta.
Tapi, memangnya Elise bisa melakukan itu? seperti menjadi cupid? Mak comblang? Dia tidak yakin.
"Tidak apa-apa, katakan saja. Kita kan teman"
Elise meyakinkan Olivia supaya mengatakan apa yang dia mau, karena melihat Elise yang meyakinkan akhirnya ia pun berbicara meski agak terbata-bata di awalnya.
"S—sebenarnya aku sudah lama menyukai Mr Nicolas, aku lihat kamu dekat dengan dia. Jadi, bisakah kamu menjadi cupid kami?"
Ah—Ternyata itu. Elise menghela nafas lega karena orang yang ingin di dekati oleh Olivia adalah lelaki kenalannya.
__ADS_1
'Nicolas dan Olivia sepertinya cocok, mereka sama-sama baik dan rajin.'
Elise sudah merasakan kecocokan dari mereka berdua. Menurutnya kedua temannya ini akan menjadi pasangan yang serasi, mungkin mengalahkan Julian dan Fiona yang di juluki sebagai love bird di kantor.
Sebab merasa mampu melakukan permintaan temannya, Elise mengangguk setuju.
"Aku tahu Mr Nicolas memang populer, tapi aku baru tahu kamu menyukainya juga"
Ujar Elise diakhiri dengan tawa kecil sambil menyikut lengan Olivia jahil. Wajah Olivia merona padam, merasa malu karena diperlakukan seperti itu oleh Elise.
"S—sudahlah! aku malu tahu"
Tawa Elise terdengar. Begitu lepas dan bebas.
"Tidak apa-apa. Kalian akan cocok, aku yakin itu"
Elise berucap jujur. Olivia menatapnya, lantas bertanya pada Elise.
"Apa kamu tidak menyukai Mr Nicolas juga?"
Jika Elise sedang minum mungkin dia akan tersedak.
"Hubungan kami tidak seperti itu!"
Elise menjawab tegas. Tangannya sampai membentuk huruf X di depan Olivia, itu bermaksud untuk menyakinkan dia atas jawabannya tadi.
"Benarkah?"
Olivia tampak tak percaya. Yah, memang sulit dipercaya jika Elise tidak menyukai Nicolas setelah kebersamaan mereka sejauh ini. Nicolas pun memiliki paras yang cukup tampan, bahkan Elise mengakuinya.
Selain itu dia memiliki sifat yang membuatnya nyaman, sudah tentu Olivia pasti beranggapan Elise pun menaruh rasa suka pada lelaki berkacamata itu.
Tapi sekali lagi Elise tegaskan, dia tidak menyukai Nicolas. Baginya lelaki itu hanya rekan kerja, meskipun memang benar dia merasa nyaman dengan sifatnya itu tapi hanya begitu saja. Perasaannya hanya sebatas teman. Tidak lebih.
"Kami hanya rekan kerja kok, aku yakin Mr Nicolas juga berpikir begitu"
"Begitu kah? kalau seperti itu syukurlah, aku tidak yakin bisa bersaing denganmu jika kamu juga menyukai Mr Nicolas. Habisnya dia sangat baik padamu, padahal kalian baru kenal beberapa bulan saja"
Elise terkekeh kecil. Perlakuan baik Nicolas padanya pasti menyebabkan kesalahpahaman kecil seperti ini, namun Elise bisa meyakinkan Olivia bahwa hubungan mereka tidak lebih dari rekan kerja.
"Dia hanya memiliki sifat yang baik, tapi kami tidak memiliki perasaan lebih seperti rasa suka kok. Tenang saja"
__ADS_1