Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Perintah ayah.


__ADS_3

...Terjebak bersama Elise bahkan harus kerja sama dengannya. Bagi Julian itu sama saja dengan mimpi buruk—lagipula, ia sudah berniat untuk sekalian mengajak Fiona jalan-jalan di negara itu. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua dengan suasana berbeda, jadi permintaan ayahnya menjadi penghalang untuk rencananya....


...————...


"Kamu harus mengajak Elise sebagai rekan saat mengerjakan projects ini."


Julian terdiam setelah mendengar ucapan sang ayah. Beberapa menit yang lalu ayahnya menelfon, sangat jarang ia menelfon langsung padanya—jika ini masalah pekerjaan, biasanya sang ayah akan menyampaikannya lewat asisten Julian, Nicolas.


"Apa?"


Dia meragukan pendengarannya yang ia yakini baik-baik saja. Ayah Julian, Benjamin Eldegar,  kembali berbicara pada putra keduanya yang tampak tak percaya dengan ucapannya itu.


"Kamu akan mengerjakan projects ini dengan Elise. Ayah tidak akan memberikan hak padamu jika Elise tidak ikut, apa kamu paham?"


Rupanya dia tidak salah dengar. Elise Anderson adalah nama yang tidak pernah terpikirkan oleh Julian, meskipun dia memiliki status sebagai tunangannya tapi lelaki berusia dua puluh delapan tahun itu tidak pernah benar-benar peduli tentangnya.


Tapi tiba-tiba saja sang ayah mengatakan ia harus bekerja sama dengan Elise, bahkan kalau bukan dia maka Benjamin akan membatalkan haknya sebagai penanggung jawab projects besar mereka.


Julian jelas tidak mau! Projects kali ini cukup besar dan lama, apalagi mereka akan kolaborasi dengan perusahaan dari negara lain dan tinggal di sana untuk sementara waktu hingga projects mereka selesai.


Terjebak bersama Elise bahkan harus kerja sama dengannya. Bagi Julian itu sama saja dengan mimpi buruk—lagipula, ia sudah berniat untuk sekalian mengajak Fiona jalan-jalan di negara itu. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua dengan suasana berbeda, jadi permintaan ayahnya menjadi penghalang untuk rencananya.


"Aku tidak mau ayah! Kenapa dengan Fiona? Dia mengerjakan pekerjaannya sebagai sekretaris ku dengan baik kok, jadi tidak masalah jika aku membawa Fiona untuk projects kali ini"


Julian mencoba untuk bernegosiasi. Jika dia keras kepala, mungkin sang ayah akan mempertimbangkan kembali tentang permintaannya itu dan membiarkan Julian dinas bersama Fiona.


"Siapa bilang ini permintaan? Ini adalah perintah. Aku memerintahkan padamu sebagai direktur utama bukan sebagai seorang ayah pada anaknya—jadi, jika kamu menolak maka akan aku anggap kamu tak profesional dan memotong gaji mu"


Lelaki itu tergagap, tak habis pikir dengan ancaman dari ayahnya yang membawa-bawa tentang gaji juga status atasan dan karyawan.


"A—apa? Ayah kok gitu sih!? Aku kan anakmu!"


Julian menaikkan suaranya. Kepalang kesal dengan ucapan sang ayah, sedangkan Benjamin di sebrang sana mengangkat bahu tak acuh.


"Kamu anakku sekaligus karyawan yang bekerja padaku, karena aku bos yang memberikan kamu gaji, jadi aku berhak melakukan ini kan?"


Memperlakukan sama rata antara karyawan dan anaknya adalah hal yang selalu Benjamin lakukan. Dia tak mau membuat anak-anaknya terkesan manja karena mengandalkan status sebagai anak dari pemilik utama perusahaan.


Julian tentu tidak bisa membalas ucapan ayahnya lagi. Sang ayah berbeda dengan ibunya yang selalu menuruti apa yang ia mau, tapi Julian pun tak bisa langsung menerima perintah ayahnya begitu saja.


"Tapi ayah, aku tidak mau—"

__ADS_1


"Salahmu karena tak pernah berusaha mendekati Elise. Sekarang ayah jadi susah untuk bisa menjadikan dia menantu"


Julian baru kepikiran. Apa alasan ayahnya begitu menginginkan Elise menjadi bagian dari keluarga mereka? Padahal Julia tidak menyukai Elise, tapi dia masih bersikeras ingin menjadikan perempuan yang Julian anggap pengganggu itu sebagai bagian dari keluarganya.


"Kenapa ayah sebegitu inginnya menjadikan Elise Anderson sebagai menantu? Dia tidak sebaik itu ayah,"


"Kamu masih belum memanggil Elise dengan nama depannya?"


Julian diam. Kebiasaannya saat membenci seseorang adalah menyebut nama lengkap orang itu, dia tak akan pernah memanggil nama panggilan orang yang tidak dia sukai.


Keheningan di ruangan kerja Julian cukup lama. Hanya ada suara mobil di luar dan semilir angin dari jendela yang terbuka.


"Jadi kamu pikir Fiona baik untukmu?"


Pertanyaan konyol bagi Julian. Hanya ada satu jawaban untuk itu dan ia menjawabnya dengan percaya diri.


"Tentu saja. Aku berani jamin,"


Di ujung sana Benjamin tersenyum simpul. Kepercayaan yang Julian miliki pada Fiona memang patut diacungi jempol, tapi yang dia lakukan adalah kepercayaan buta dan berlebihan—mendekati bulol sebab ia  melakukan apapun untuk Fiona.


Padahal dia tidak mengetahui semua sifat Fiona.


"Kita tidak bisa mengetahui hati manusia, July. Cinta yang kamu agung-agungkan itu bisa hancur seperti istana pasir dalam semalam, jangan menjadi buta hanya karena cinta"


"Aku tidak suka saat ayah menjelekkan Fiona begini."


"Ayah juga tidak suka saat kamu selalu berprasangka buruk pada Elise"


Dari sekian banyaknya orang yang Julian kenal, hanya ayahnya saja yang selalu bisa membalikkan kata-katanya.


"Haaa—baik, aku akan melakukan apa perintah ayah."


Julian pada akhirnya pasrah, dia lakukan saja apa yang Benjamin mau asalkan ia bisa menjadi penanggung jawab atas projects yang mereka kerjakan sekarang.


Benjamin tersenyum senang. Meskipun dia tahu Julian terpaksa melakukannya, tapi jika tidak dipaksa begini maka perasaan Julian akan sulit untuk berkembang.


Dia sangat yakin Julian akan memiliki perasaan pada Elise.


"Bagus. Aku sudah memesankan hotel untuk kalian, pastikan projects ini berjalan dengan baik dan saat semuanya selesai kita akan berbicara lagi tentang pertunangan mu dengan Elise"


"Ayah akan membatalkannya saat projects ini selesai?" Nada bicaranya berubah menjadi ringan. Julian tak menyembunyikan fakta bahwa ia senang kalau-kalau pertunangannya dengan Elise dibatalkan oleh Benjamin—hanya dia yang bisa melakukan itu, sebab persetujuan kepala keluarga sangat dibutuhkan.

__ADS_1


"Jika perasaan mu tetap tidak berubah, ayah akan membatalkan nya."


Dalam hatinya Julian bersorak kegirangan. Ia bahkan sengaja memainkan kursi yang dia duduki, memutar-mutar kursinya karena merasa senang dengan kemungkinan hubungannya bersama Fiona akan kembali seperti dulu. Tanpa pengganggu macam Elise.


"Jadi ayah menyerah menjadikan Elise Anderson sebagai menantu?"


"Tidak. Belum. Ayah akan memikirkan cara lain untuk itu, mungkin kakak mu mau menggantikan peran mu sebagai tunangannya"


Julian terdiam. Satu-satunya kakak yang dia miliki adalah Lucas dan ia yakin Lucas tak memikirkan tentang percintaan karena terlalu fokus pada pekerjaannya, tapi Benjamin bilang kalau Lucas mungkin mau menjadi tunangan Elise?


'Kak Lucas mau jadi tunangan Elise Anderson?'


"Itu tidak mungkin"


Benjamin terkekeh geli pada keyakinan Julian. Bagaimana bisa putra keduanya ini begitu yakin sang kakak tak menaruh hati pada Elise


"Pfttt—kamu yang tidak terpikat pada daya tarik Elise tak akan tahu. Dia adalah perempuan yang menarik"


Benjamin mengatakan itu dengan tulus. Ia menjadikannya sebagai tunangan Julian bukan semata-mata hanya karena utang ayahnya saja, tapi dia juga menyukai sifat dan kepribadian Elise yang gigih.


Karena itu dia ingin memasukkan Elise ke dalam keluarganya.


Merasa apa yang menjadi kepentingannya sudah selesai Benjamin pun pamit, ia harus menghadiri meeting sebentar lagi jadi percakapannya dengan sang putra tengah harus berhenti di sana.


"Kalau begitu selamat bekerja. Ayah menantikan kabar baik darimu nanti,"


.


.


.


.


.


.


Halooo!!!✨(´∩。• ᵕ •。∩`)


Besok akhirnya puasa yay!!! Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakan ya(。•̀ᴗ-)✧ semoga bisa full dan kalau ada yang bolong enggak terlalu banyak(╥﹏╥)

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir dan baca. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen nya(灬º‿º灬)♡


maaf kalau ada kata yang typo!


__ADS_2