Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Seberapa bernilai


__ADS_3

...Senyuman terpatri di wajah tampan Julian. Rasa pening yang dia rasakan seakan hilang hanya karena melihat sosok itu. Sang kekasih tercintanya, Fiona, dia datang dengan wajah cemberut dan kesal....


...———...


Julian mengernyit kala melihat contoh desain untuk produk terbaru yang akan mereka luncurkan bulan ini. Desain hasil karya departemen design itu cukup bagus namun Julian merasa ada yang kurang dari desain mereka sehingga saat ini ia berkutat sendiri sambil memikirkan tentang apa yang kurang dari desain tersebut.


Eldi group adalah perusahaan yang mengelola barang-barang fasion dan kecantikan. Perusahaan ini sudah memiliki nama di dalam maupun luar negeri sebab kualitas dari produk mereka yang bagus.


Julian memegang cabang perusahaan parfum. Desain yang dia lihat sekarang adalah desain untuk wadah parfum eksklusif edisi terbatas mereka yang terbaru, ia ingin desain yang cocok dan elegan namun yang ia lihat kurang sesuai dengan Ekspresinya.


“Aku harus melihat desain lain lagi.”


Tangannya memijat pelipisnya pelan, merasakan sensasi yang ia harap bisa mengurangi rasa pening di kepalanya. Julian sudah terbiasa seperti ini, bekerja hingga larut malam atau bahkan menetap di kantornya. Semua itu dia lakukan demi memajukan perusahaan juga karena ia ingin dilirik oleh direktur utama, ayahnya sendiri.


Ayahnya, Benjamin Eldegar adalah orang yang tegas bila menyangkut masalah bisnis dan perusahaan, tak heran berkat dirinya ia berhasil menghidupkan kembali usaha keluarga yang hampir jatuh bahkan menjadi lebih baik dari dulu.


Julian sangat menghormati ayahnya karena itu ia selalu berusaha keras untuk diakui oleh Benjamin.


Julian adalah pewaris yang akan memegang semua cabang perusahaan Eldi group di masa depan karena kakaknya, Lucas, menolak untuk menjadi pewaris.


Lucas memilih jalannya sendiri. Alih-alih mengurus perusahaan yang sudah dirintis oleh sang ayah sejak dulu, Lucas malah membuat bisnis baru yang jauh berbeda dengan bisnis keluarga mereka.


Dia tidak menikmati jalan raya yang diberikan oleh ayahnya seperti Julian. Lucas membuat jalannya sendiri, dia memilih berjalan di jalan setapak yang penuh batu dan lumpur.


Pintu kantor terbuka saat Julian masih terjebak dalam lamunannya, suara langkah kaki seseorang memaksanya untuk sadar kembali lalu ia menatap sosok yang masuk ke ruangannya itu.


Senyuman terpatri di wajah tampan Julian. Rasa pening yang dia rasakan seakan hilang hanya karena melihat sosok itu. Sang kekasih tercintanya, Fiona, dia datang dengan wajah cemberut dan kesal.


Julian berdiri untuk menyambut Fiona, satu pelukan erat ia terima seperti biasa sambil sesekali menyelipkan ciuman di pipi.


“You late babe! Aku bosan di sini. Ayo pulang”


Julian terkekeh geli mendengar Fiona yang merengek minta pulang. Salahnya juga membuat sang kekasih menunggu, ia harus segera mencari solusi dari masalahnya agar Fiona berhenti merengek dan menampilkan wajah cemberut padanya.


Ia lebih suka melihat wajah Fiona yang memintanya untuk membeli sesuatu daripada wajah cemberutnya seperti sekarang.

__ADS_1


“Maaf, kita akan pulang setelah aku menyelesaikan ini ya”


Fiona menatap dengan ujung matanya ke arah layar laptop yang menampilkan desain untuk produk terbaru.


“Apa yang salah dengan desain itu? Bukannya itu sudah selesai?” tanyanya singkat. Fiona tak paham mengapa Julian harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat desain yang sudah rampung, hingga membuatnya menunggu lama.


“Aku merasa ada yang kurang dari desainnya”


Jawaban singkat dari Julian membuat Fiona semakin kesal. Saat sifat keras kepalanya muncul Julian terasa menyebalkan bagi Fiona, bahkan saat ini dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada Fiona yang sejak tadi sudah menunggu lama.


Fiona menghela nafas jengah, ia berdecak pinggang sambil menatap Julian yang kembali duduk di kursi kerjanya—seperti tak menghiraukan Fiona di sana.


“Itu bagus dan tidak ada yang kurang. Ayolah sayang, kita harus pulang sekarang sebelum malam terlalu larut! Mall tidak buka dua puluh empat jam tahu!”


Julian tak menggubris perkataan Fiona. Dia malah membalik-balikkan proposal, entah mencari apa yang jelas Fiona tidak bisa bersabar, dia ingin segera pulang dan membeli barang yang dia inginkan bersama Julian saat ini juga.


“Kamu mau membuat kekasihmu menunggu lebih lama lagi?”


Julian merasa agak terganggu sebenarnya. Jika saja yang berbicara dengannya ini bukan orang tercintanya mungkin ia sudah memaki dari tadi, tapi sekali lagi dia tidak akan melakukan itu pada Fiona sebab rasa cintanya lebih besar daripada perasaan kesalnya saat ini.


“Sebentar lagi saja sayang. Nanti aku akan membelikan apapun yang kamu mau, oke?”


“Janji?”


“Iya”


Fiona tersenyum senang. Ia mendekati Julian kemudian memeluknya dari belakang dengan erat, dia juga mencium pipi kanan Julian sebagai bentuk kebahagiaannya saat ini.


Julian terkekeh geli. Sifat manis dan manja Fiona yang seperti ini adalah sisi favoritnya, inilah yang membuat Julian mencintai Fiona.


“Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak berikan saja tugas mendesain ini pada Elise Anderson?”


Seolah mendengar kabar buruk setelah menerima keberuntungan, senyuman di wajah Julian langsung luntur. Baginya hanya mendengar nama itu bisa membuatnya merasa tidak nyaman dan kesal.


“Mengapa harus dia?”

__ADS_1


Elise Anderson, seorang perempuan yang tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupnya karena sang ayah. Bagi Julian Elise itu seperti batu yang menghalangi jalannya.


Fiona tersenyum senang saat melihat wajah Julian yang masam karena ia menyinggung tentang Elise. Sudah dia duga, Elise bukanlah individu yang patut ia khawatirkan bisa menghancurkan hubungannya dengan Julian.


Dia amat sangat yakin Julian tak akan pernah berpaling darinya dan menatap Elise.


“Jangan marah begitu, ku dengar waktu di perusahaannya dulu dia menangani bagian desain sebelum menjadi CEO, bukannya itu bisa membantumu sekarang?”


“Aku bisa meminta pada departemen design untuk mendesain ulang” Tolak Julian tegas. Fiona kembali cemberut, kali ini Julian benar-benar keras kepala.


“Itu memakan waktu lama. Mereka juga pasti sulit memutar otak lagi untuk memuaskan apa yang kamu mau.”


Fiona tetap kekeuh dengan pendapatnya sedangkan Julian terlihat tak mau memakai usulan itu.


“Bagaimana kalau begini? Satu desain akan diberikan pada Elise Anderson dan desain lainnya akan ditugaskan ke departemen design, dengan begitu kamu bisa mendapatkan dua desain baru lalu memilih yang sesuai dengan ekspektasi mu”


“Elise Anderson pasti akan mengacaukannya,”


Kata Julian yakin dengan apa yang dia pikirkan. Menurutnya Elise memang cukup memiliki kemampuan namun tetap saja dia tidak mau mengakui itu. Jika Julian memberikan tugas desain ini pada Elise dia khawatir Elise akan mengacaukannya, atau bahkan dia bisa saja memberikan desain yang buruk.


Berbeda dengan Julian yang tak setuju, Fiona justru merasa untung jika Elise benar-benar mengacaukan desainnya.


“Kalau begitu bagus kan? Kamu bisa melaporkan hal ini pada ayah dan ayah akan membatalkan pertunangan.”


Fiona kembali membujuk Julian. Dia ingin Elise saja yang mengerjakan pekerjaan itu sehingga saat ini ia bisa pergi bersama Julian dan bersenang-senang, tapi tampaknya Julian masih belum yakin. Terlihat dari raut wajahnya yang sedang berpikir, menimbang-nimbang pendapat dari Fiona.


“Pikirkanlah babe. Kamu harus bisa memanfaatkan Elise Anderson di perusahaan untuk melihat nilainya.” Kata Fiona dengan nada yang sangat lembut. Julian memperhatikannya sejenak sebelum dirinya menghela nafas panjang dan mengangguk. Tanda ia setuju.


“Haa—baik, aku akan melakukan yang kamu mau”


Mendengar persetujuan itu membuat Fiona senang. Ia duduk di pangkuan Julian, melingkarkan tangannya di leher sang lelaki kemudian memeluknya erat.


“Yay! Thank you honey. Kamu memang yang terbaik”


Julian tersenyum simpul. Lengannya terulur mengusap rambut Fiona yang digerai, ia menyingkirkan anak rambut Fiona sebelum mencium bibirnya.

__ADS_1


“Apapun untukmu”


Satu kata itu membuat Fiona semakin bahagia. Inilah alasan dia sangat menyukai Julian, selain loyal Julian juga sosok yang romantis padanya. Sosoknya yang seperti ini tak akan ia biarkan jatuh pada tangan Elise apalagi dimiliki oleh perempuan itu.


__ADS_2