Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Kapan mereka dekat?


__ADS_3

...Awalnya Julian berniat untuk melihat keburukan Elise yang dikatakan oleh Fiona beberapa hari lalu. Mengetahui Elise kabur dari kantor padahal dia tak mengizinkannya untuk pulang menjadi sebuah kesempatan, kesempatan untuk memergoki perempuan dengan nama belakang Anderson itu dan mengatakannya pada sang ayah betapa buruknya sifat Elise di belakangnya....


...————...


Zale university adalah tempat Noise kuliah. Universitas yang memiliki banyak peminat dari dalam maupun luar negeri, tempat terbaik untuk menggapai impian.


Elise masuk ke dalam bangunan besar itu. Kini ia berjalan menuju kelas yang sekiranya ada Noise di sana. Mata kehijauan milik Elise menatap seseorang dari jauh, dia tahu siapa sosok itu kemudian melambaikan tangannya guna memberi tanda bahwa ia sudah sampai di tempat tujuan.


"Noise!!"


Noise berbalik. Ia menatap Elise dengan tatapan senang lalu berjalan ke arahnya setelah meminta izin pada temannya yang tadi sedang mengobrol bersama.


"Aku datang lebih awal, tidak apa-apa kan?"


Noise menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia justru senang karena Elise datang lebih awal.


"Tidak apa-apa. Acaranya baru mau di mulai, apakah kak Elise mau jalan-jalan dulu atau langsung menonton?" Tanya Noise. Sebenarnya dia ingin mengajak Elise untuk jalan-jalan dulu, tapi kalau Elise tidak mau maka dia akan menurutinya.


Elise berpikir sejenak sebelum memutuskan.


"Ayo kita jalan-jalan dulu. Sepertinya seru melihat banyak stan yang berjualan di sana, kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu" Katanya singkat yang membuat Noise mengangguk bersemangat. Dengan begitu mereka pun pergi melihat-lihat acara lain di sana, sesekali Elise membeli makanan atau benda yang menurutnya menarik. Melihat event seperti saat ini membuatnya nostalgia. Di Boston, tempat dirinya kuliah pun kadang mengadakan acara seperti ini dan Elise selalu menantikannya.


"Btw, setelah acara hari ini selesai apa kak Elise mau kembali ke kantor lagi?" Tanya Noise. Dia memikirkan tentang pekerjaan Elise yang ditinggalkannya. Setahu Noise sekarang adalah jam istirahat, jadi pikirnya Elise hanya izin untuk melihat penampilannya saja lalu kembali saat acara selesai.


Elise menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia tidak akan kembali ke kantor begitu acara selesai, bukan, maksudku dia tidak memiliki kepentingan lagi di kantor hari ini jadi buat apa dia kembali?


"Aku akan langsung pulang kok. Tapi sebelum itu ku rasa aku ingin jalan-jalan denganmu dulu,"


"Jalan-jalan lagi? kenapa?"


"*Do you mind?" *(Apakah kamu keberatan?)

__ADS_1


Noise segera menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak keberatan, malahan dia senang bisa menghabiskan lebih banyak waktunya dengan Elise.


"Tidak masalah. Terima kasih kak Elise, kamu datang untuk menonton bahkan mengajakku jalan-jalan setelahnya."


Elise terkekeh geli. Memiliki adik ternyata seperti ini, akhirnya dia bisa merasakannya dengan bergaul bersama Noise.


"*As you wish" *(Sesuai keinginanmu) Elise menatap jam tangannya. Sebentar lagi waktu Noise tampil "Ayo kita kembali. Sebentar lagi kamu tampil kan?" Lalu tatapannya beralih menatap Noise yang berjalan di sampingnya.


"*Holding hand?" *(Gandengan tangan?)


Wajah Noise sontak memerah. Saat mereka jalan-jalan tadi jarak antara mereka sudah terpangkas sangat jauh, ditambah orang-orang yang berdesakan membuat Noise kadang harus berhimpitan dengan Elise—ia bahkan sempat bertabrakan dengan dada sang puan yang tentu saja membuat jiwa lelakinya melonjak.


Bergandengan tangan menuju tempat Noise tampil dengan Elise justru akan membuat perasaannya tak karuan, karena itu Noise pun memilih untuk menolak.


"Tidak usah kak. Aku bukan anak kecil lagi" Katanya singkat. Ia berjalan mendahului Elise yang kembali terkekeh dibuatnya.


*'He so cute' *(dia sangat imut)


Reaksi Noise saat dijahili nya tadi sangat lucu. Elise menyukainya.


Sambutan nyaring dari teman Noise membuat sang lelaki berusia delapan belas tahun itu berlari ke arahnya. Sebelum masuk ke ruangan untuk orang yang berpartisipasi Noise berbalik, ia menatap Elise sejenak kemudian melambaikan tangannya.


"*See you later kak Elise" (*Sampai jumpa nanti)


Elise menaruh kedua tangannya di mulut, membentuknya menjadi semacam terompet tangan lalu berseru.


"*Break a leg!" (*Semangat!)


Noise tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi begitupula dengan Elise yang melambai padanya. Setelah Noise benar-benar hilang dari jarak pandang perempuan itu ia pun bergegas menuju tempat menonton. Tak ada kursi di sana sehingga Elise bisa menerobos masuk melewati pagar manusia itu dan berdiri di barisan depan untuk melihat Noise dengan jelas.


Sang pembawa acara masuk kemudian membacakan acara selanjutnya pada para penonton yang hadir.

__ADS_1


"Acara akhir sebelum kita mengakhirinya adalah penampilan dari anggota klub musik kami, dia adalah salah satu anak berbakat yang pandai bermain biola. Saya harap para hadirin semua menikmati acara terakhir ini,"


Noise muncul dari belakang dengan membawa biola. Itu bukan biola yang biasa ia pakai di rumah, mungkin biola itu milik klub musik, pikir Elise.


Sang pembawa acara kembali berbicara. Ia langsung mengenalkan Noise kemudian terdengar suara sorakan dan tepuk tangan dari orang-orang yang menonton.


Tangan Noise menggenggam bow. Wajahnya terlihat agak kaku, sepertinya dia demam panggung.


Mata Noise menerawang ke depan, mencari sosok yang bisa membuatnya tenang dalam situasi saat ini. Elise berdiri di barisan depan sehingga Noise bisa menemukannya dengan cukup mudah. Mereka saling bertatapan, Elise berbicara tanpa suara menyemangati Noise yang tampak gugup.


"*Take my word. Kamu bisa melakukannya Noise!" *(Percaya padaku)


Noise mengangguk singkat setelah itu ia mulai menghela nafasnya. Rasa gugup yang dia rasakan tadi sedikit berkurang berkat Elise, Noise sangat bersyukur kakak iparnya itu ada di sana.


Suara biola yang lembut terdengar membuat semua orang di sana terkagum. Noise melakukannya dengan baik meskipun awalnya dia merasa tak nyaman, syukurlah penampilan bermain biola pertamanya di depan orang-orang berjalan dengan baik.


Elise tampak bangga melihat Noise yang percaya diri. Penampilannya begitu luar biasa dan memukau. Bukan Elise saja yang beranggapan begitu, lelaki jangkung di barisan paling belakang pun berpikir hal yang sama.


"Apakah Noise pernah terlihat sebebas itu sebelumnya?"


Dia bergumam. Julian Eldegar, sosok kakak kedua dari Noise hadir di sana karena ia mengikuti Elise yang kabur dari kantor.


Awalnya Julian berniat untuk melihat keburukan Elise yang dikatakan oleh Fiona beberapa hari yang lalu. Mengetahui Elise kabur dari kantor padahal dia tak mengizinkannya untuk pulang menjadi sebuah kesempatan, kesempatan untuk memergoki perempuan dengan nama belakang Anderson itu dan mengatakannya pada sang ayah betapa buruknya sifat Elise di belakangnya.


'*Too good to miss' *(Sangat sayang untuk dilewatkan) Pikir Julian saat ia mengikuti sang puan.


Namun, bukannya menemukan keburukan Elise seperti yang Fiona katakan ia malah menemukan Elise yang terlihat sangat akrab dengan adik bungsunya.


Sejak kapan mereka dekat? Setahu Julian Elise tak pernah berbicara dengan Noise sebab dirinya selalu sibuk bekerja. Jadi, kapan waktu mereka mendekatkan diri hingga bisa menjadi akrab seperti ini? Julian tak tahu itu, bahkan ia tak tahu Noise bisa menjadi begitu ekspresif hanya karena bermain biola.


"*I didn't even know. Apakah Noise memang sosok yang percaya diri seperti ini?" *(Aku bahkan enggak tahu)

__ADS_1


Julian menonton penampilan Noise dengan tatapan datar. Ada sesuatu dalam hatinya yang terasa tak nyaman, namun ia memilih untuk mengabaikan perasaan itu lalu berbalik dan pergi dari sana.


'Mungkin lain kali aku bisa melihat keburukan Elise dan menjauhkannya dari hidupku'


__ADS_2