
...Memilih pergi bersama Julia adalah keputusan yang tepat karena dia tidak mau lelah bekerja. Fiona pun tak perlu khawatir Julian akan berpaling darinya selama ia dinas ke luar negeri, sebab keyakinan yang dia miliki membuatnya merasa Julian tak mungkin bisa meninggalkan dirinya....
...————...
"Siapa yang telfon?"
Julian menoleh saat mendengar suara yang kelewat familiar di telinganya. Fiona, kekasih tercintanya berjalan pelan mendekati Julian yang duduk di sofa.
Panggilan suara sudah dimatikan dari sang ayah, kini ia hanya duduk bersandar di sofa sambil menutup matanya lelah.
"Ayah. Dia bilang tentang pekerjaan"
Fiona menjawab oh singkat. Berbeda dengan Julia, Fiona tak terlalu dekat dengan ayah Julian—menurutnya, Benjamin itu tipe orang tua yang kaku dan hanya mementingkan pekerjaaan saja, karena itulah ia sulit di dekati.
Meskipun begitu Fiona yakin dia bisa mendapatkan restu dari Benjamin saat dia akan menikah dengan Julian nanti.
Fiona duduk di sebelah Julian. Menyenderkan kepalanya di bahu Julian yang tegap, bersikap manja begini sudah menjadi hal biasa bagi mereka karena itu Julian pun tak merasa keberatan sedikitpun.
"Babe, kamu tahu enggak sih? Si Elise itu nyebelin banget! Masa aku lihat dia deketin Nicolas, apa dia enggak malu nempel terus ke Nicolas?"
Fiona bersungut-sungut kesal, memperlihatkan dengan jelas rasa tidak sukanya pada Elise di depan Julian—sejak ia tahu Elise adalah tunangan yang di siapkan oleh Benjamin untuk Julian ia sudah tidak menyukainya, bahkan mungkin membenci Elise karena hal itu.
Julian memeluk Fiona dengan tangan kirinya. Menenangkan sang kekasih lalu menciumnya singkat.
"Dia memang perempuan murahan. Jangan pedulikan dia oke?"
Fiona tersenyum puas. Dia menyukai reaksi Julian yang ikut membenci Elise saat dia menjelek-jelekkan sang puan, karena baginya itu adalah kekalahan telak untuk Elise.
'Tuh kan. Julian sangat mencintaiku, jadi aku tidak perlu khawatir perempuan murahan itu bakal mengambilnya'
Fiona mengeratkan pelukannya pada Julian. Mumpung tidak ada siapa-siapa, ia suka bermanja-manja dengan kekasihnya begini.
"Make up aku hampir habis lho, sepatu yang aku mau juga sudah keluar. Kita shopping yuk?" Ujar Fiona. Matanya menatap Julian dengan memohon, lebih tepatnya agak menuntut pada kekasihnya itu.
Seperti yang diucapkan oleh ayahnya. Meskipun Julian sangat mencintai Fiona tapi ada kalanya ia pun merasa kesal pada sang kekasih, apalagi saat dia merengek mengajak berbelanja bersama.
Tidak masalah jika Fiona tahu situasi, tapi terkadang ia selalu memaksa Julian untuk ikut bersamanya dan membuat lelaki itu harus menunda pekerjaannya lalu diberikan pada Nicolas yang terlalu banyak bekerja.
Dia merasa tidak enak pada sahabat karibnya itu—selalu mengerjakan bagian Julian sekaligus pekerjaan miliknya sendiri, ia harus memberikan bonus pada Nicolas nanti.
"Maaf sayang. Enggak dulu ya, aku harus dinas ke luar negeri tiga minggu dua hari lagi."
Julian menolak permintaan Fiona dengan lembut. Berusaha untuk tidak menyakiti perasaan Fiona dan menjelaskan dengan singkat tentang situasinya.
"Aku di ajak juga?" Spontan dia bertanya.
Fiona pikir ia pun akan ikut serta di pekerjaan kali ini. Sebagai sekretaris Julian, sudah seharusnya ia ikut dinas keluar negri bersamanya.
__ADS_1
"Sayangnya enggak. Ayah minta aku untuk mengecualikan kamu buat projects ini, jadi kamu enggak ikut. Maaf ya sayang" Jawab Julian lembut.
Takutnya Fiona kecewa karena dia tidak di ajak kali ini, apalagi Benjamin sendiri yang melarangnya untuk ikut serta.
Julian pikir Fiona akan kecewa dan merengek padanya untuk ikut juga, tapi ternyata kekasihnya itu bisa menerima situasinya.
"Tidak apa-apa, bawakan aku oleh-oleh yang banyak!"
Julian agak terkejut dengan jawaban dari Fiona—tidak ada perdebatan kecil lagi dan berujung pada Julian yang mengalah. Ia tersenyum bangga, merasa bersyukur karena sifat keras kepala Fiona agak berkurang.
"Iya, iya. Akan aku bawakan semua oleh-oleh yang kamu mau."
Tanpa menaruh rasa curiga, Julian berpikir Fiona sudah berubah. Sebenarnya Fiona benar-benar tidak mau ikut jika ia harus dinas ke luar negeri, meskipun itu bersama Julian tapi tetap saja dia pasti harus bekerja di sana.
Daripada itu ia lebih memilih pergi liburan bersama Julia.
'Kebetulan sekali ibu juga mengajakku liburan dua hari lagi, jika aku ikut dengan Julian itu hanya akan berisi pekerjaan yang memusingkan kepala saja'
Memilih pergi bersama Julia adalah keputusan yang tepat karena dia tidak mau lelah bekerja. Fiona pun tak perlu khawatir Julian akan berpaling darinya selama ia dinas ke luar negeri, sebab keyakinan yang dia miliki membuatnya merasa Julian tak mungkin bisa meninggalkan dirinya.
"Jangan lihat perempuan lain di sana, aku cemberut nanti!"
Dia berucap dengan wajah marah yang dibuat-buat, di mata Julian itu terlihat menggemaskan dan manis. Supaya sang kekasih tak marah-marah, Julian melakukan aksinya.
Ciuman lembut di pipi dan hidung, setelah itu ia menurunkan ciumannya ke arah bibir. Fiona menutup matanya malu, dengan wajah yang merona ia merasakan hawa panas di sana.
Julian berkata jujur. Fiona memang cantik di matanya. Rambutnya pirang panjang bergelombang yang selalu ia urus ke salon setiap minggu, bentuk matanya bulat dan memiliki bulu mata lentik. Semua hal dalam diri Fiona adalah tipe idealnya.
"*I can't stop thinking about you. Tidak mungkin aku berpaling darimu." *(Aku tidak bisa berhenti memikirkan mu)
...****...
Dua hari setelah itu tibalah saatnya Elise berangkat ke Osaka Jepang untuk menjalankan tugasnya sebagai sekretaris Julian. Sebelum pergi ia sudah mengabari pada Hana kalau Elise akan ke luar negeri, Hana meminta oleh-oleh untuknya dan Elise mengiyakan keinginan sahabatnya itu.
Selain Hana, ia juga mengirimkan pesan pada ayahnya. Meskipun tak mendapat balasan tapi Elise yakin Gio membaca pesannya di sana. Ada lebih banyak orang yang harus ia kabari selain Hana dan ayahnya.
Noise dan Lucas juga termasuk. Ketika Elise mengatakan tentang pekerjaannya ini Noise mengucapkan "Semoga selamat dalam perjalanan, aku akan merindukan kak Elise." Seolah-olah ia pergi dalam waktu yang sangat lama.
Elise berjanji membawakan buah tangan setelah kembali nanti. Selain Noise, Lucas juga mengatakan sesuatu padanya.
"Semoga selamat di perjalanan. Tak perlu membelikan ku oleh-oleh ya, tapi kalau kamu mau aku tak akan menolaknya sih"
Karena Lucas sudah kembali bekerja, ia mengatakan itu lewat telfon pada Elise saat malam hari. Elise menggelengkan kepalanya heran dengan sikap Lucas padanya, meskipun ia bilang tak perlu membelikan buah tangan tapi Elise akan tetap membelikannya untuk Lucas.
Ia ingin membelikan sesuatu untuk berterimakasih kepada lelaki itu setelah Lucas mengajarinya secara pribadi memasak—Elise, tiba-tiba saja menjadi murid eksklusif Lucas beberapa Minggu lalu, mereka belajar memasak saat akhir minggu dengan rajin.
Tentang pekerjaan Elise sekarang, awalnya dia terkejut saat mendengar Julian memintanya untuk menjadi rekan di projects kali ini—Kenapa bukan Fiona seperti biasanya? Ia mempertanyakan itu sebab selama ini Elise hanya berperan sebagai pengganti Fiona dan orang yang mengerjakan semua tugas Fiona saja.
__ADS_1
"Nervous?"
Elise menoleh ke arah Nicolas yang duduk di sebelahnya. Mereka sudah berada dalam pesawat dan sebentar lagi akan lepas landas.
"Mungkin hanya sedikit. Kamu tahu, ini pertama kalinya aku melakukan dinas ke luar negeri"
Selain liburan, Elise tak pernah pergi ke luar negeri untuk bekerja. Perusahaan yang dia urus tidak sebesar itu hingga membuatnya menjalin kerja sama dengan negara lain, paling-paling hanya di luar kota saja.
Karena itu sekarang Elise merasa gugup, ia juga tak bisa menghentikan dirinya untuk berpikir bagaimana jika dia melakukan kesalahan nanti? Itu akan mengusahakan orang lain dan Elise tidak menyukainya.
"Aku akan tidur sebentar. Otakku sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja sekarang,"
Elise segera memakai bantal lehernya, tak selang beberapa menit ia langsung tertidur pulas bak seorang bayi. Nicolas terkejut dengan sisi Elise yang mudah tidur—asal kepalanya menempel ia bisa tidur dengan mudah.
ia menatap Elise dengan tatapan lembut. Wajah tidurnya terlihat manis, rasanya ia kembali jatuh hati pada perempuan itu.
"kamu akan sakit leher jika tidur begitu."
kemudian ia meletakan kepala Elise di pundaknya, membiarkan sang puan tidur sambil bersandar padanya dengan santai.
Julian yang duduk di kursi sebelahnya tak sengaja melihat pemandangan itu. Ia mendecak kesal, merasa risih dengan kedekatan sahabatnya dengan tunangan yang tak ia sukai.
'Memang benar. Elise itu wanita murahan yang dekat dengan lelaki mana saja.'
.
.
.
.
.
Halooo Saya up pagi hehe (´∩。• ᵕ •。∩`)
Selamat menunaikan ibadah puasa!!
Jadi, gimana nih kalian lebih suka couple mana?
1. Julian X Fiona?
2. Nicolas X Elise?
kalau saya sih milih Lucas X Elise(. ❛ ᴗ ❛.)
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (灬º‿º灬)♡ maafkan saya kalau ada kata yang typo!
__ADS_1