
...Nicolas menyukai Elise meskipun Elise bilang mereka tidak memiliki perasaaan suka satu sama lain. Rasanya Oliver seperti orang bodoh karena berniat untuk menyatakan perasaan pada orang yang menyukai perempuan lain, dia sudah kalah bahkan sebelum maju....
...^^^————^^^...
Dua hari berlalu sejak Elise berbicara dengan Oliver. Saat ini dia sedang berada di salah satu restoran yang Julian pesan untuk merayakan ulang tahun sang kekasih, sekaligus memberikan apresiasi pada departemen design.
Elise duduk di bangku tengah. Tidak terlalu depan ataupun berada di belakang, itu adalah tempat yang strategis untuknya—lagipula, tadinya Elise tidak akan hadir namun ia memutuskan untuk datang karena permintaan dari Oliver.
"Apakah penampilan ku sudah rapi?"
Oliver bertanya sambil sesekali memperbaiki letak anak rambutnya kentara gugup yang ia rasakan sejak tadi. Nicolas belum datang, karena itu ia memiliki banyak kekhawatiran dalam dirinya, entah itu tentang penampilannya ataupun hal lain.
Elise mengerti mengapa Oliver merasa demikian, karena itu sebagai teman yang baik ia berusaha untuk menenangkan Oliver dengan memberikan kata-kata dukungan padanya.
"Itu sudah bagus kok. Jangan khawatir"
"Tapi, bagaimana jika Mr Nicolas merasa tidak nyaman denganku?"
"Yakinlah, semuanya akan baik-baik saja. *You're just little uptight" *(Kamu hanya merasa gugup)
"Kamu benar. Mungkin aku hanya merasa gugup, terima kasih Elise karena sudah membantuku"
Diakhiri senyuman tipis Oliver merasa bersyukur karena Elise mau membantunya untuk berbicara dengan Nicolas. Sementara Elise ikut senang sebab bisa jadi dua temannya ini bisa menjadi pasangan baru di kantor, mungkin gosip tentang mereka akan diketahui oleh karyawan lainnya jika itu terjadi karena Nicolas cukup terkenal.
Suara gelas berdenting, membuat atensi orang-orang yang sudah hadir di sana menatap ke depan—tepat ke arah Julian yang memegang gelas di tangannya.
"Terima kasih karena kalian semua bisa hadir di acar ini."
Julian membuka acaranya dengan lancar. Berbicara di depan semua karyawannya, terlihat berwibawa dan percaya diri. Elise menatap kagum sosok Julian yang seperti ini, tidak sering dia melihatnya dengan sisi positif begini.
'Yah, setidaknya dia bersikap baik dan adil pada bawahannya'
Baik dan adil, kecuali pada Elise.
Di akhir ucapannya, Julian tersenyum simpul. Senyuman bisnis namun terasa tulus, sepertinya dia benar-benar senang karena orang-orang banyak yang hadir di acara itu—termasuk Elise.
Sesaat ketika mereka saling bertatapan, Elise bisa melihat ekspresi terkejut Julian yang menatapnya. Tidak terlalu lama, tapi Elise tahu Julian tidak menyangka kalau dia akan hadir di sana.
Mungkin dia pikir karena ini adalah acara pemberian hadiah pada departemen design dan ulang tahun Fiona maka Elise tidak akan hadir, namun nyatanya dia hadir di sana bahkan tidak terlambat.
Kaca yang berjajar menampilkan pemandangan malam New York dengan sangat baik. Meskipun itu di pertengahan musim dingin, tapi pemandangan malam mereka masih sama cantiknya. Di sana Julian memberikan hadiah pada Fiona, juga sebuah ciuman di kening dan pipinya yang membuat orang-orang di sana bersorak gembira.
Elise hanya membantu dengan tepuk tangan kecil. Rasanya ada jarum yang menusuk hatinya saat dia melihat itu.
Beberapa karyawan ada yang memberikan hadiah pada Fiona. Ditambah dengan ucapan selamat ulang tahun, nampaknya Fiona bahagia. Elise masih memperhatikan itu dari bangkunya, ia hanya diam sambil sesekali menjawab ucapan Oliver yang mengajaknya berbicara.
__ADS_1
Nicolas juga di depan sana. Selain teman masa SMA dengan Julian, ternyata dia juga memiliki hubungan pertemanan dengan Fiona karena itu ia pun memberikan hadiah pada perempuan itu—tidak semewah hadiah dari Julian yang berupa tas keluaran terbaru dan kalung berlian mahal, namun tetap saja itu adalah hadiah dari temannya.
Sesudahnya adalah acara santai dan bebas. Mereka yang ingin makan mulai menikmati makanan yang tersedia dan yang lainnya melakukan hal lain seperti berfoto ria ataupun hanya mengobrol ringan.
Julian dan Fiona tampaknya masih sibuk mengobrol dengan karyawan lain di sana. Fiona selalu menggandeng tangan Julian manja dan lelaki itu pun tidak menolaknya. Kata couple goals sangat cocok untuk mereka.
'harus ku akui mereka memang cocok'
Elise tahu itu, karenanya ia berharap hubungan pertunangan mereka segera berakhir jadi Elise tidak akan melihat tingkah mesra mereka lagi nanti.
"Bisakah kita bertukar tempat? Saya ingin duduk bersama teman saya"
Suara Nicolas seolah menyadarkan Elise dari lamunannya. Lelaki berkacamata itu dengan mudah duduk di depan Elise, dengan menampilkan senyuman lembut seperti biasanya.
"*Here you are, Elise. Aku mencari mu tadi, ku pikir kamu tidak datang" *(Kamu di sini ternyata)
Nicolas berucap singkat sambil menatap Elise yang tersenyum canggung. Sebenarnya Elise sudah mengirim pesan pada Nicolas, namun sepertinya lelaki itu yang lupa atau ia tak membuka ponselnya.
"Aku datang, tentu saja." Elise menjeda ucapannya sejenak, seolah baru mengingat sesuatu ia segera memperkenalkan Oliver yang sejak tadi duduk di sebelahnya—Oliver tidak nyaman menganggu percakapan Elise dan Nicolas, karena itu ia diam saja sejak tadi.
"Oh iya! Dia adalah temanku. Oliver Giroud"
Oliver tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Nama saya Oliver Giroud, senang bertemu dengan anda Mr Nicolas"
Elise ikut senang sebab ia berpendapat bahwa mereka sudah memiliki kecocokan. Karena itu sudah saatnya dia pergi untuk membiarkan kedua temannya berbicara dengan nyaman berdua.
"Aku izin ke toilet sebentar. Nikmati waktu kalian berdua!"
Setelah mengatakan itu Elise langsung pergi, tanpa memperhatikan wajah Nicolas yang agak kecewa karena Elise meninggalkannya dengan Oliver di sana.
Oliver melirik Nicolas. Penampilannya saat ini pun membuatnya terpesona, ia bahkan sampai merasakan panas sebab berada dekat dengan orang yang dia sukai.
Tidak ingin membiarkan kesempatan yang di berikan oleh Elise sia-sia, Oliver pun memulai pembicaraan dengannya.
"Apa yang Mr Nicolas sukai? Terkadang aku merasa penasaran dengan hal itu."
Nicolas terdiam sejenak, memikirkan jawaban untuk pertanyaan Oliver yang sebenarnya tidak perlu waktu lama untuk menjawabnya.
"Film dan buku. Ku rasa dua hal itu adalah yang paling aku sukai"
'Tentu saja jika itu menyangkut seseorang maka Elise adalah jawabannya'
Nicolas tidak mengatakan ucapan terakhir itu dengan gamblang. Dia masih belum mau memperlihatkan perasaannya yang menyukai Elise pada siapapun, apalagi karyawan yang bekerja dengannya.
__ADS_1
Oliver mengangguk paham. Sudah dia duga dari sosok Nicolas yang serius, lelaki itu pasti menyukai buku.
Untungnya Oliver sudah menyiapkan hadiah buku yang bagus. Ia merogoh tasnya untuk mengeluarkan kado yang terbungkus rapi dan cantik, namun tangannya langsung terhenti saat dia melihat ekspresi kecewa Nicolas yang menatap layar gawai-nya.
"Mr Nicolas? Ada apa?"
Ia bertanya karena khawatir. Nicolas menatap Oliver singkat, lalu senyuman tipis terlihat di wajahnya.
"Oh, maaf. Elise bilang kalau dia tidak akan ke sini lagi, sayang sekali padahal aku ingin berbicara sesuatu dengannya"
Elise tidak akan datang lagi ke sana. Dia tahu itu sebab yang dilakukan oleh Elise adalah rencana mereka.
Tadinya Oliver akan mengabaikan pikirannya dan tetap menyatakan perasaannya pada Nicolas. Tapi, melihat ekspresinya barusan membuat hatinya terasa sakit.
Dengan perasaan gugup dan hati tak tenang ia pun bertanya pada lelaki itu.
"Mr Nicolas, apakah kamu menyukai Elise?"
Terdiam. Nicolas tidak langsung menjawabnya.
"Mengapa kamu bertanya begitu?" Tanya Nicolas singkat.
Berhenti! aku tidak boleh mengatakannya. Oliver ingin menghentikan dirinya untuk tidak bertanya lebih lanjut dan menganggap ekspresi Nicolas tadi sebagai angin lalu. Tapi, tampaknya hatinya kalah dengan sang ego dan memaksanya untuk mencari tahu perasaan Nicolas yang sebenarnya.
"Hanya saja, tatapan mu saat melihat Elise sangat berbeda. Kamu seperti sudah menyukainya sejak lama, tapi tidak bisa mengatakan apa yang kamu inginkan padanya karena itu kalian masih berteman" Oliver menjeda ucapannya sejenak "aku benar kan?"
Nicolas ingin menyangkalnya tapi dia sudah tertangkap basah begini, karena itu ia menjawab pertanyaan Oliver dengan anggukan singkat tanpa mengatakan apapun.
"Tolong rahasiakan ini dari Elise, ms Oliver"
Nicolas menyukai Elise meskipun Elise bilang mereka tidak memiliki perasaaan suka satu sama lain. Rasanya Oliver seperti orang bodoh karena berniat untuk menyatakan perasaan pada lelaki yang menyukai perempuan lain, dia sudah kalah bahkan sebelum maju.
Oliver tersenyum simpul. Meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak menangis saat itu juga.
"Saya pasti akan merahasiakannya. Kalian memang terlihat sangat cocok."
"Terima kasih"
Setelahnya obrolan mereka berlanjut. Kebanyakan mereka berbicara tentang Elise dan lelaki itu terlihat sangat menikmati obrolan mereka tentang sang pujaan hati.
Hanya itu yang Oliver lakukan. Dia kembali dengan perasaan sakit hati. Elise Anderson tidak salah, hanya saja dia tidak tahu harus di kemana kan perasaan sakitnya ini supaya tidak membuatnya menderita.
Oliver merasa iri pada Elise. Iri yang berakhir menjadi sebuah kebencian padanya.
"Kamu tidak membantu sama sekali Elise Anderson"
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen nya teman-teman ୧( ˵ ° ~ ° ˵ )୨