
...Elise sendiri tidak menyangka dengan perubahan sikap lelaki itu. Dia tiba-tiba saja meminta maaf, apalagi mengajaknya makan malam berdua sebagai tanda permintaan maafnya....
...—————...
Suasana di rumah keluarga Eldegar tidak berubah secara langsung, namun sedikit demi sedikit keberadaan Elise mulai diterima di sana.
Setelah berbicara dengan Noise Julia jadi sadar bahwa selama ini dia hanya mengekang kebebasan putra bungsunya itu dengan selalu mengatur Noise menjadi seperti yang dia inginkan. Saat itu juga Julia meminta maaf pada putranya, berbicara bahwa dia tidak akan pernah melakukannya lagi dan mencoba untuk mendengarkan pendapat Noise.
Julia juga tahu kejadian itu terjadi karena campur tangan Elise. Jika bukan karena dia mungkin Noise akan selalu memendam perasaannya dan menuruti keputusan Julia secara terpaksa, hal itu bisa berdampak buruk bagi Noise di masa depan.
Julia juga berterima kasih pada Elise, selain itu dia pun meminta maaf atas semua perbuatannya yang selalu memperlakukan Elise dengan buruk.
"Aku merasa malu pada diriku sendiri, maafkan aku Elise"
Elise terkejut saat dia melihat Julia yang memiliki ego tinggi itu meminta maaf padanya, namun Elise masih berusaha untuk memaafkan Julia dan mencoba berdamai dengan keadaannya.
Meskipun tidak secara gamblang tapi Julia mulai sering mengajak Elise berbicara, entah itu saat mereka berpapasan ataupun Julia secara sengaja mengajak Elise berbelanja—meskipun jika itu terjadi Elise selalu meminta hal sederhana, dia kurang menyukai barang-barang yang terlalu mewah.
Perlahan-lahan Julia mulai merubah sudut pandangnya pada Elise. Ternyata dia tidak seburuk itu, Elise adalah anak yang baik dan tahu sopan santun.
"Kenapa ibu selalu mengajakmu pergi sekarang?"
Yang bertanya adalah Julian. Elise yang saat itu sedang duduk di taman belakang rumah Eldegar menoleh, menatap lelaki dengan kaos pendek dan celana hitam panjang tersebut.
"Bukannya itu bagus? Apa anda lebih suka saat saya selalu dipermalukan oleh ibu anda?"
Pertanyaan Elise sukses menusuk jantung Julian. Bukan itu maksudnya, Julian hanya tidak memiliki topik untuk dia bicarakan bersama Elise sekarang.
'Tapi ngapain juga aku mau bicara sama dia?'
Julian sendiri tidak tahu mengapa. Tapi, akhir-akhir ini dia merasa iri pada keluarganya yang dekat dengan Elise. Padahal dia tunangannya tapi kenapa hanya dia yang sulit untuk berbicara dengan Elise? Saat ini Julian mempertanyakan statusnya.
"*I don't think so. Aku hanya penasaran saja." *(Aku tidak berpikir begitu)
Kakinya melangkah mendekati Elise. Julian duduk disampingnya, menatap pemandangan taman yang sudah lama tidak dia lakukan. Sejak menjadi CEO di perusahaan ayahnya, Julian tidak memiliki waktu untuk sekedar duduk di taman dan menikmati hari.
Dia hanya akan bekerja, atau jalan-jalan bersama Fiona ke tempat perbelanjaan. Yah, dia cuma menemaninya sih karena sebenarnya Julian merasa tidak nyaman saat berbelanja terus-menerus.
Itu adalah pemborosan tapi dengan bodohnya waktu itu dia langsung membelikan apapun yang Fiona mau, meskipun harganya sangat mahal.
"Ngomong-ngomong, kenapa anda tidak bersama Fiona?"
Elise bertanya singkat. Tidak enak rasanya hanya diam tanpa berbicara, karena itulah dia pun memulai pembicaraan dengan topik yang membahas tentang Fiona—biasanya kan Julian jarang terlihat di rumah karena selalu bersama Fiona, tapi sekarang Elise sering melihatnya hingga membuat dia sedikit penasaran.
"Dia, sulit dihubungi"
Jawabannya singkat. Julian tidak berbohong, Fiona benar-benar tidak bisa dihubungi sejak projects di Jepang berakhir. Ada dua kemungkinan mengapa Fiona menghilang tiba-tiba, pertama adalah dia takut ketahuan bahwa dirinya lah dalang dibalik masalah plagiarisme desain Elise dan masalah hilangnya flashdisk di Jepang. Nicolas yang mengatakan alasan ini.
Dan alasan keduanya adalah Fiona memiliki masalah yang tidak bisa dia ceritakan pada Julian—alasan terakhir hanya harapan lelaki itu, karena Julian tidak mau memikirkan tentang alasan pertama meskipun kemungkinan besar ucapan Nicolas benar adanya.
__ADS_1
"Dia meninggalkan mu?"
"Bukan, mungkin Fiona memiliki masalah yang tidak bisa dia ucapkan padaku"
"Hmm, begitu."
Percakapan mereka berakhir begitu saja dibawa oleh suasana canggung dan sepi.
Kali ini Julian yang inisiatif memulai pembicaraan.
"S—sebagai permintaan maaf dariku, aku ingin mengajakmu makan malam nanti. Apa kamu luang?"
Julian merutuki dirinya sendiri karena berbicara dengan gugup di awal, seharusnya dia mengatakannya dengan tegas supaya Elise tahu kalau dirinya serius.
Elise sendiri tidak menyangka dengan perubahan sikap lelaki itu. Dia tiba-tiba saja meminta maaf, apalagi mengajaknya makan malam berdua sebagai tanda permintaan maafnya. Apa kau salah makan? Kalau dulu mungkin itulah jawaban yang akan Elise ucapkan, tapi sekarang dia tidak akan menjawab begitu.
"Saya luang kok."
Dia menerimanya. Malamnya mereka pergi bersama, naik mobil yang sama atas ajakan dari Julian padanya. Hari itu Julian benar-benar seperti orang lain, dia jarang bertindak menyebalkan pada Elise.
"Maaf, aku hanya bisa mentraktir di tempat yang sederhana"
Ucap Julian. Dia menatap Elise yang sedang menyantap makanan malamnya, dengan santai Elise tersenyum simpul.
"Tidak masalah. Tempat ini bagus,"
'Bisa-bisanya aku lupa kalau ATM ku disita oleh ayah!'
Dia melupakan hal penting kalau sekarang kondisi keuangannya tidak sekaya dulu. Julian hanya mengandalkan uang simpanan pribadi miliknya, itupun sudah berkurang setengah karena tagihan dari belanjaan Fiona yang datang padanya.
Uang lainnya tidak bisa dia ambil karena seluruh kekayaannya sudah dibekukan oleh Benjamin. Julian harus mencari pekerjaan lain besok, supaya kehidupannya bisa kembali lagi.
Lagipula—dia tidak tahu apakah ayahnya akan mengembalikan semua uangnya atau tidak, jadi lebih baik memiliki pekerjaan sekarang daripada menganggur.
"Tapi, emangnya kamu enggak keberatan makan ditempat biasa begini? Bukannya kamu menyukai tempat yang mewah?"
Tangannya mengambil tisu untuk membersihkan sudut bibirnya yang kotor. Elise berbicara dengan informal pada Julian sekarang. Permintaan dari lelaki itu, dia bilang tidak apa-apa berbicara santai padanya saat diluar jam kerja.
Lagipula sekarang Julian bukan atasannya lagi.
"Aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Hanya saja, Fiona selalu ingin makan di restoran paling mewah jadi aku hanya menuruti apa maunya saja."
Julian berucap jujur. Sambil memakan makanan yang dia pesan, Elise memperhatikannya.
Lelaki itu tidak masalah dengan tempat makannya, asalkan itu bersih dan higienis dia mau-mau saja meskipun di rumah makan kecil ataupun tidak terkenal.
Selama ini dia menyamakan selera makannya dengan Fiona, karena itulah Julian jarang makan di tempat biasa dan selalu datang ke restoran mewah.
Julian mendongak, tatapannya bertemu dengan mata hijau Elise yang rupanya masih memperhatikan Julian sejak tadi. Elise langsung memalingkan wajahnya ke samping, merasa malu dan kikuk karena ketahuan sedang memperhatikan.
__ADS_1
Reaksinya lucu. Julian terkekeh geli melihatnya.
"Ada noda saus di pipimu"
Ujar Julian sambil menunjuk ke arah Pipinya sendiri.
"Benarkah?"
Elise segera mengambil tisu kemudian mengelap pipinya, namun noda saus tersebut belum hilang karena Elise membersihkan tempat yang salah.
"Bukan itu, di sana."
"Ini?"
Lagi-lagi tangan Elise tidak menyentuh nodanya. Mungkin karena malu jadi Elise makin kikuk dan agak salah tingkah, kalau bukan begitu sudah pasti noda saus di pipinya hilang sejak tadi.
Karena gemas akhirnya Julian yang mengambil alih. Dia menarik selembar tisu, kemudian membersihkan noda saus di pipi Elise sampai bersih.
"Lama banget, padahal cuma di situ lho noda sausnya"
Sontak wajah Elise merona merah. Dia menundukkan kepalanya, menatap tangannya yang gemetar dan tubuhnya yang terasa panas. Padahal malam itu cukup dingin, tapi Elise merasa sedang berada dipertengahan musim panas.
"Terima kasih"
Julian yang baru menyadari tindakannya langsung menarik diri. Dia duduk diam sambil menatap sembarang arah, apapun kecuali menatap wajah Elise di depannya karena saat ini rasanya dia tidak sanggup untuk bertatapan dengan iris kehijauan milik perempuan itu.
Dia masih ragu dengan perasaannya pada Elise. Sementara itu di sisi lain Julian pun sedang menunggu Fiona kembali, jika saja Fiona benar-benar menghilang tanpa memberikan kabar padanya lagi, bisakah dia memilih Elise?
.
.
.
.
.
.
Maafkan saya karena absen selama satu Minggu tanpa kasih kabar(╥﹏╥)
Adegan klise ngelap bibir pasangan yg kena noda entah itu saus atau kecapಡ ͜ ʖ ಡ Tapi saya suka adegan klise itu.·´¯`(>▂<)´¯`·.
Jadwal up sudah diganti karena saya mengambil libur nulis saat hari Senin dan jumat.
Terima kasih sudah mampir dan baca.
Maaf kalau ada kata yang typo.
__ADS_1