Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Hari pertama


__ADS_3

...-Tatapannya sangat lembut ketika ia menggandeng tangan perempuan itu, sangat berbeda dengan tatapan Julian yang selalu tak acuh saat menatap Elise. Tidak, Elise tidak iri ketika melihat pemandangan itu—ia pun tahu pasti siapa sosok yang sedang bersama Julian saat ini-...


Perlahan matahari mulai keluar dari persembunyiannya, berganti tugas dengan sang bulan yang telah usai menemani malam lalu sang pagi datang menyapa setiap manusia yang hidup di bumi.


Segar dan sejuk adalah deskripsi pagi itu, sangat cocok digunakan untuk olahraga, apalagi joging pagi. Jika di daerah rumahnya dulu, mungkin Elise akan melihat beberapa orang yang sedang melakukan joging pagi bersama keluarga ataupun peliharaan mereka, namun sayangnya ia tidak bisa melihat pemandangan itu sebab daerah tempat tinggalnya sekarang adalah wilayah pribadi sehingga yang bisa ia lihat hanyalah para pekerja mansion.


Hari baru, masalah baru. Mungkin itulah selogan yang Elise miliki saat ini sebab tanpa dia ketahui Julian sudah pergi ke kantor tanpa mengajak dia, padahal kemarin ayah Julian sudah berpesan untuk pergi bersama karena hari ini adalah pertama kalinya Elise bekerja di perusahaan Eldi group.


Namun tahu-tahu Julian sudah pergi saja meninggalkan Elise saat pagi buta begini.


"Aku tahu dia tidak suka padaku, tapi tindakannya ini sangat kekanak-kanakan"


Menghela nafas panjang Elise mencari cara lain untuk pergi ke kantor. Dia tidak bisa menggunakan mobil miliknya karena kendaraan itu tidak ia bawa ke New York, ia pun tidak bisa meminta bantuan pada madam Julia untuk meminjamkannya mobil—lebih tepatnya tidak mau.


Minta tolong pada Lucas? Itu juga tidak. Elise merasa enggak nyaman karena merepotkan satu-satunya orang yang bersikap baik padanya di sana, karena itu Elise pun memilih pergi naik taxi.


Ia harus berjalan kaki terlebih dahulu menuju gerbang mansion sebelum menemukan jalanan dan memesan taxi. Meskipun melelahkan namun ia harus melakukannya, semua ini demi keberhasilan rencana awalnya untuk mengacaukan perusahaan Eldi Group dan Julian, jadi rasa lelahnya sekarang bukan apa-apa.


Beruntung Elise langsung mendapatkan taxi begitu ia sampai di jalan raya. Dia pun duduk di kursi penumpang, mengatakan tujuannya pada supir taxi lalu melaju membelah jalanan New York menuju cabang perusahaan Eldi Group yang Julian kelola di sana.


"Kita sudah sampai."


"Terima kasih"


Elise segera turun dari taxi setelah membayar biaya transportasi tersebut. Tepat saat ia turun, matanya melihat mobil lain yang sudah terparkir di depan taxi nya, menampilkan sosok Julian yang sedang membukakan pintu mobil untuk seorang perempuan cantik dengan blazer merah maroon.


Tatapannya sangat lembut ketika ia menggandeng tangan perempuan itu, sangat berbeda dengan tatapan Julian yang selalu tak acuh saat menatap Elise. Tidak, Elise tidak iri ketika melihat pemandangan itu—ia pun tahu pasti siapa sosok yang sedang bersama Julian saat ini.


Siapa lagi perempuan yang Julian cintai selain Fiona? Sudah jelas identitas perempuan itu pastilah dia.


Ternyata Julian itu orang yang romantis. Meninggalkan tunangannya untuk menjemput kekasihnya.


Menyadari kehadiran Elise yang sejak tadi melihat mereka, Julian mendelik ke arahnya kemudian senyuman manisnya tadi langsung luntur seketika.


'Apaan sih? Harusnya aku yang kesal di sini.'


Perubahan ekspresi Julian sangat jelas, itu membuat suasana hati Elise yang buruk menjadi semakin buruk. Harusnya dia bisa mengendalikan ekspresinya, tidak harus menyinggung Elise seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Honey, siapa itu? Kamu punya karyawan baru?"


Perempuan itu, Fiona dia bertanya pada Julian sambil menatap Elise dengan tatapan penasaran. Tangannya masih setia bergelayut manja pada Julian, memperlihatkan kemesraan mereka secara terang-terangan.


"Iya. Aku baru merekrut dia kemarin,"


Jawaban singkat dari Julian membuat Elise terdiam. Yah—apa yang dia harapkan? Julian jelas tidak akan mengenalkan dia sebagai tunangannya di depan sang kekasih tercinta. Meskipun sesaat, Elise menyesali otaknya yang berpikir Julian akan menganggapnya sebagai tunangan di sini.


Lagipula dia sudah jelas menarik garis pembatas untuk itu, jadi harusnya dikenalkan sebagai karyawan tidak masalah baginya.


Mengikuti alur skenario yang Julian buat, Elise tersenyum tipis pada Fiona sebelum memperkenalkan dirinya.


"Selamat pagi Ms Fiona. Saya Elise Anderson, karyawan baru di perusahaan ini"


Elise mengulurkan tangannya kemudian disambut oleh Fiona dengan senyuman yang sama.


"Senangnya. Syarat masuk ke perusahaan kami terkenal sangat sulit karena kami hanya mencari orang-orang terpilih dan berbakat," Fiona menjeda ucapannya. Senyuman berubah menjadi sebuah seringai kecil, membuat Elise merasa seperti menerima ejekan.


"karena kamu dipilih langsung oleh Julian jadi kualitas mu sudah terjamin ya?"


Elise masih diam di tempatnya, dengan senyuman yang sama sejak tadi. Sebenarnya dia pikir kekasih Julian akan lebih baik darinya, tapi ternyata mereka sama saja.


"Tentu saja, saya bisa menjamin itu Ms Fiona"


Jawaban yang amat percaya diri dia lontarkan pada Fiona, membuat sang perempuan dengan blazer merah maroon itu merasa malu sebab Elise tidak menciut oleh ejekan yang tersirat dalam ucapannya tadi.


Sempat ingin membalas ucapan Elise namun Julian menginterupsi mereka, membuat Fiona harus mengurungkan niatnya untuk mempermalukan Elise di depan Julian.


"Sudah cukup basa-basinya. Honey, kamu pergi duluan ke kantor. Ada yang harus aku katakan pada Elise,"


Fiona menatap Julian kesal. Dahinya berkerut dan menampilkan wajah cemberut, khas orang yang ngambek sebab sebenarnya Fiona memang ngambek karena Julian menyuruhnya untuk pergi sendiri ke kantor.


"Bicara apa? Di sini saja bicaranya, kamu mau bikin aku cemburu gitu?"


Kedua tangannya menggenggam tangan Julian erat. Tak ingin membiarkan lelakinya berduaan dengan Elise yang Fiona tahu berstatus sebagai tunangannya. Fiona memang tidak yakin Julian akan macam-macam dengan Elise, karena yang ia takutkan adalah Elise yang menggoda Julian.


'Siapa tahu kan dia tebar pesona pada Julian?'

__ADS_1


Hanya memikirkannya saja sudah membuat Fiona marah. Tidak ada perempuan yang suka saat lelakinya berduaan dengan perempuan lain, kata Fiona.


Julian yang melihat tingkah kekasihnya itu terkekeh geli, menurutnya ekspresi marah Fiona tidak menakutkan tapi malah imut.


Melepaskan genggaman tangan Fiona dengan lembut, Julian mencubit pipi sang kekasih membuat Fiona semakin cemberut dibuatnya.


"You so cute babe, jangan pasang muka kayak gitu dong. Aku jadi makin cinta sama kamu nanti,"


"Kiss me"


"Sure"


"Di sini"


Jari Fiona menunjukkan letak bibirnya yang mungil, lalu Julian pun melakukan apa yang Fiona mau.


"Puas enggak nih?"


Fiona menyentuh bibirnya, merasakan kembali ciuman singkat yang mereka lakukan di depan Elise tadi. Senyuman manis terlihat di wajahnya, ia mengangguk singkat kemudian berjinjit untuk mencium pipi kanan Julian.


"Hehe, terima kasih honey. Sayang banget sama kamu"


Melepaskan tangannya yang melingkar di leher sang kekasih, Fiona berjalan pelan menuju kantor seperti yang Julian minta padanya tadi. Dari jauh terlihat Fiona melambaikan tangannya pada Julian, dengan senyuman yang masih setia hadir di wajahnya.


Julian balas tersenyum, namun sesaat kemudian senyumannya langsung luntur begitu ia berbalik menatap Elise.


"Masuk"


Ucapnya singkat. Tanpa menunggu jawaban dari Elise Julian masuk ke dalam mobilnya, tentu saja Elise pun mengikuti apa yang Julian katakan tadi.


Dia duduk di kursi depan bersebelahan dengan Julian yang melajukan mobilnya menuju bestmen.


Hening tanpa percakapan apapun. Elise terlalu malas memulai pembicaraan atau sekedar bertanya sedangkan Julian terlalu fokus pada jalanan, sepenuhnya mengabaikan entitas Elise yang duduk di sebelahnya.


"Aku akan mengenalkan kamu sebagai karyawan di sini, tidak boleh ada yang tahu kalau kita itu tunangan paham?"


Mengangguk adalah jawaban yang Elise berikan pada Julian.

__ADS_1


Tanpa percakapan apapun lagi Elise berjalan mengikuti Julian menuju kantor, dia tidak mempedulikan sikap Julian yang tidak acuh padanya ataupun aksi Fiona yang mungkin berniat untuk membuatnya cemburu.


Dia hanya perlu meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak ambil hati dengan sikap orang-orang itu, meskipun jauh dalam lubuk hatinya Elise merasa sakit hati karena diperlakukan seperti itu oleh Julian.


__ADS_2