
...Jadi dia mengambil jalan lain. Seperti anak sekolah yang bolos kelas, Elise pun akan melakukan itu dan ia memutuskan untuk bolos kerja lalu pergi ke tempat Noise tampil tanpa izin dari bosnya, Julian....
[Ayah aku sudah mentransfer uang untukmu, apa ayah tidak mau bertemu denganku? Aku merindukan ayah, jika ayah membaca pesan ini tolong balaslah]
Jarinya menekan kirim setelah mengetik pesan singkat itu. Helaan nafas panjang ia keluarkan untuk mengurangi rasa lelahnya. Elise menatap langit sore. Begitu indah saat sang matahari hendak kembali ke ufuk timur menciptakan guratan warna di langit senja, tapi waktu itu langit sore tak terlihat indah di mata perempuan berusia dua puluh enam tahun itu.
Rasanya pemandangan langit yang indah tak dapat membuat suasana hatinya membaik karena kabar dari sang ayah yang tidak kunjung datang.
Elise Anderson masih menunggu ayahnya menghubungi dia. Elise hanya ingin tahu kebenaran tentang mengapa dirinya ditinggalkan begini, padahal Elise sudah melakukan hal yang ayahnya inginkan yaitu menjadi tunangan Julian. Bagi Elise ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki selain ibunya. Sang ibu meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas, setelah itu ia pun hanya berdua saja dengan sang ayah.
Ayah Elise, Gio Anderson berjuang untuk menghidupi Elise dan menyekolahkan dia hingga lulus sarjana. Waktu itu perusahaan mereka belum terlalu berkembang, namun suatu hari perusahaan Gio mendapatkan keuntungan besar dan membuat kehidupan keluarga Anderson menjadi lebih baik lagi.
Penurunan saham terjadi akibat pengeluaran perusahaan yang terlalu banyak. Mereka merugi, karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Para pekerja yang curang adalah penyebabnya, setelah itu perusahaan Gio terlilit utang dan akhirnya Elise pun menjadi jaminan untuk utang itu.
Meskipun begitu Elise tidak bisa benar-benar membenci ayahnya, Elise membenci para pekerja yang curang itu karena mereka lah penyebab perusahaan ayahnya bangkrut. Jadi Elise harap ayahnya bisa menghubunginya lagi, setidaknya dia ingin tahu apakah ayahnya hidup dengan baik atau tidak.
“Kak Elise—“
“Kak!—“
Elise tersentak saat mendengar suara Noise dari dekat. Noise menatap Elise, tatapannya terlihat sangat khawatir.
“Apa kak Elise baik-baik saja?” Tanya Noise singkat. Dia perhatikan sejak Elise pulang dari kantor tadi sepertinya Elise kelelahan sampai-sampai selalu melamun.
“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya,” Elise tersenyum simpul untuk meyakinkan kondisinya tapi melihat senyuman itu malah meyakinkan Noise kalau sekarang Elise sedang berbohong.
“Apa Kak Julian memperkerjakan Kak Elise dengan berlebihan?”
Noise berbicara pelan, tatapannya terlihat sungkan saat menatap Elise. Jika itu masalahnya maka Noise sebagai adik Julian pastilah merasa tidak enak.
Elise menggelengkan kepalanya cepat. Mendengar Noise berpikir begitu membuat Julian terlihat seperti sosok bos yang semena-mena dengan karyawannya. Meskipun menurut Elise Julian itu bukan bos yang baik, tapi setidaknya dia tidak menyalahgunakan kekuasaannya di kantor.
"Dia tidak seperti itu. Maafkan aku, apa sejak tadi aku terus melamun?"
"Iya. Ku pikir kak Elise mungkin kelelahan karena bekerja seharian,"
"Tenang saja. Aku baik dan sehat, lagipula bekerja adalah hal yang aku sukai jadi kamu tak perlu khawatir" Elise mengakhiri ucapannya dengan senyuman kecil, melihat senyuman itu membuat Noise merasa lebih baik.
__ADS_1
"Syukurlah"
Elise terkekeh. Noise begitu baik dan perhatian, sangat berbeda dengan kakak keduanya yang tak acuh dan menyebalkan. Kok bisa mereka memiliki darah yang sama?
"Oh iya. Besok acaranya kan? aku akan datang, jadi kamu harus semangat untuk besok ya!"
Tangannya mengepal guna memberikan semangat pada Noise yang membuat lelaki itu tertawa kecil. Tingkah Elise lucu, dia berbeda dengan orang dewasa yang Noise tahu.
"Wah, kalau kak Elise yang memberiku semangat sih aku akan langsung semangat. Terima kasih kak Elise, aku menunggumu nanti"
Senyuman di wajah Elise tak kunjung luntur. Sangat menyenangkan berbicara dengan Noise setelah lelah bekerja. Sejak pertemuan pertama mereka, loteng adalah tempat kedua insan beda usia itu bertemu.
Elise kadang membicarakan hal yang dia alami di kantor, begitu pula dengan Noise yang bercerita tentang kegiatannya di universitas. Mereka saling mengobrol dan mendengar, dalam waktu yang singkat itu kedekatan mereka semakin erat dan akrab.
Elise harus mengerjakan tugasnya dengan cepat besok supaya ia bisa datang tepat waktu. Meminta pulang setengah hari pada Julian bisa saja kan?
"Aku harus cepat mengerjakan ini"
Jarinya tak henti-henti menekan keyboard komputer untuk mengerjakan pekerjaan milik Fiona yang lagi-lagi tidak dikerjakan dengan baik. Elise harus merevisi semuanya sebelum memberikan itu pada Julian, karena jika tidak maka dialah yang disalahkan.
"Ukh, banyak banget!!"
Matanya melirik jam yang menampilkan pukul dua belas siang dan satu jam lagi acara Noise akan dimulai. Meskipun Noise mengisi acara terakhir tapi Elise ingin datang lebih awal, dia tidak mau membuat adik iparnya itu menunggu lama dan dia harus membeli sesuatu untuk hadiah nanti.
'Aku akan menyelesaikan semuanya sekarang!'
Semangat Elise mulai membara. Ia mengerjakan semua tugasnya dalam waktu satu jam tepat. Setelah semuanya selesai dia pun pergi ke ruangan Julian.
Sekarang yang Elise harapkan adalah Julian tak bertanya banyak padanya, dia harus segera pergi namun jika ia harus meladeni Julian lebih dulu maka waktunya akan terbuang sia-sia.
Elise menyerahkan pekerjaannya pada Julian lalu diterima oleh lelaki itu. Dia menunggu sejenak, biasanya setelah sepuluh menit berlalu Julian akan mengomentari sedikit tentang hasil kerja Elise setelah itu membiarkannya pergi.
Tapi sekarang sudah lebih dari sepuluh menit berlalu namun Julian masih berkutat seperti membaca proposal yang Elise berikan tadi. Elise bisa telat kalau begini!
"Permisi, apakah saya sudah boleh pergi?"
Katakanlah kalau Elise itu berani. Dia meminta keluar dari ruangan bos sebelum sang bos mengizinkannya, tapi sepertinya daripada berani Elise itu nekad sih.
__ADS_1
Julian mendelik, menatap Elise sejenak. Tumben sekali perempuan berambut kemerahan itu meminta pergi lebih awal, biasanya dia akan diam tak berbicara sampai Julian membiarkannya pergi. Begitulah pikir lelaki berusia dua puluh tujuh tahun itu.
"Kamu boleh pergi" Katanya singkat. Ketus sekali, tapi Elise sudah terbiasa sekarang.
Lagipula hubungan tunangan mereka hanya di omongan saja, tingkah laku mereka tak mencerminkan sepasang tunangan bahkan Elise tidak pernah mengobrol santai bersama Julian ataupun sekedar basa-basi.
Jika mereka bertemu di jalan maka mereka seperti orang asing, di kantor mereka memainkan peran sebagai karyawan dan bos tanpa status lain. Elise menerima itu, lagipula dia pun tidak mau dekat dengan Julian.
"Saya mohon izin untuk pulang lebih awal, apakah bisa?" Elise bertanya, dalam hatinya berharap Julian tak memperdebatkan alasan ia ingin pulang lebih awal. Lagipula tugasnya sudah selesai, apa lagi yang harus dia lakukan di kantor?
"Buat apa? Kau sehat-sehat saja tuh. Keluar dan kembali ke pekerjaanmu"
Tuh kan, sudah Elise duga ini tak akan mudah. Tapi dia sudah berjanji, jadi Elise harus bisa pulang jam ini juga dan pergi melihat penampilan Noise.
"Saya memiliki urusan di luar yang mengharuskan saya untuk pulang sekarang,"
Tadinya Elise mau berbohong kalau dirinya sakit, tapi Julian pasti gak akan percaya.
"Itu tak penting kan?"
"Itu penting"
Julian tertawa remeh. Dia menatap Elise, meletakan proposal yang dia baca tadi kemudian berbicara.
"Jangan sok, kamu kan tidak memiliki mitra bisnis sekelas presiden atau pejabat negara. Itu berarti urusanmu tidak penting,"
Jika boleh jujur Elise ingin memaki Julian saat ini juga. Biarkan dia pulang sekarang apa susahnya sih? Toh dia tidak punya pekerjaan lain di kantor, terus Julian maunya Elise itu diam di sana? mana mau!
"Ini penting untuk saya Mr Julian. Saya sudah mengerjakan semua tugas saya, jadi saya meminta izin untuk pulang lebih awal."
"Dan aku tidak mengizinkannya, paham?"
Tangan Elise mengepal berusaha menahan emosi yang meluap-luap dalam dirinya. Selain menyebalkan Julian juga keras kepala, dia selalu semena-mena jika itu menyangkut tentang Elise seperti sekarang dia membuatnya susah.
'Aku tarik pendapatku kemarin. Noise, kakakmu ini sangat semena-mena!'
"Baik, terima kasih Mr Julian. Saya permisi dulu"
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Elise pergi meninggalkan ruangan Julian. Dia tidak mendapatkan izin untuk pulang lebih awal, jika menunggu jam pulang normal maka Elise tidak akan bisa hadir melihat Noise tampil.
Jadi dia mengambil jalan lain. Seperti anak sekolah yang bolos kelas Elise pun akan melakukan itu dan ia memutuskan untuk bolos kerja lalu pergi ke tempat Noise tampil tanpa izin dari bosnya Julian.