
...Elise tak bisa menjawab apapun selain kata maaf, ia merutuki kelalaiannya sendiri. Seharusnya dia lebih hati-hati, seharusnya ia lebih teliti, seharusnya dia tidak menghilangkannya....
...————...
"Tidak ada"
Elise menggeledah isi tas miliknya untuk mencari benda kecil yang ia yakini sudah tersimpan di sana. Dua puluh menit lagi meeting akan dimulai, jadi Elise kembali mempersiapkan semuanya untuk kelancaran meeting—namun benda paling penting yang menjadi tanggung jawabnya malah menghilang saat ini.
"Bagaimana ini? Aku yakin menyimpannya di sana."
Dia kepalang panik. Waktu terus berjalan sedangkan flashdisk berisi materi untuk persentasi belum juga ditemukan, ia tidak bisa meminta tolong pada orang lain namun jika terus seperti ini maka sudah dipastikan meeting akan berjalan kacau.
"Elise? Ada apa?"
Elise berbalik, menatap sosok Nicolas yang mendekatinya.
"Maaf, aku langsung masuk karena pintunya tak di kunci. Apa yang kamu cari sampai panik begitu?"
"Aku—mencari lipstik yang baru aku beli, sepertinya itu hilang haha"
Bohong. Elise tidak sanggup mengatakan kelalaian dia pada Nicolas, dia takut membuat lelaki itu kecewa dan tak mau melihat reaksinya saat tahu bahwa ia menghilangkan flashdisk itu.
Nicolas yang tak menaruh curiga padanya langsung percaya, ia tidak menanyakan apapun lagi kemudian keluar dari kamar hotel Elise.
"Kita harus siap-siap. Meeting akan dimulai sebentar lagi, semangat"
Ia bahkan menyemangati Elise, membuat hatinya terasa tak nyaman sebab sudah berbohong pada Nicolas.
Elise kembali mencari setelah Nicolas pergi dari sana, namun seberapa keras ia mencari benda itu tak kunjung dia temukan. Aneh—padahal Elise yakin sudah menyimpannya dengan benar, tapi kenapa saat ini benda itu hilang?
"Aku tidak punya banyak waktu."
Hanya dua puluh menit lagi sebelum meeting di mulai, jika Elise tidak menemukannya maka ia harus jujur pada Julian dan Nicolas, meskipun itu akan membuatnya berada dalam masalah.
Menghilangkan hasil kerja keras semua orang adalah hal yang buruk, Elise mengutuk kelalaian dirinya sendiri—ia menyalahkan dirinya sebab menghilangkan benda penting itu.
Sekarang ia harus menanggung akibatnya, mengaku pada Julian yang artinya mengacaukan semuanya.
"Elise? Kamu belum pergi?"
Elise tegang. Baru kali ini dia merasa takut mendengar suara Julian, lelaki itu baru datang setelah berbicara dengan Fiona—dari ekspresi Fiona yang sudah agak ramah, sepertinya pembicaraan mereka berjalan lancar.
Fiona juga ikut masuk ke kamar dengan Julian, ia menatap Elise dengan tatapan tak acuh.
'Tidak apa-apa Elise, kamu bisa melakukannya'
Ia menghela nafas panjang sebelum menjawab ucapan Julian. Menenangkan dirinya sendiri dan menerima apapun reaksi yang Julian berikan, meski dia dimarahi habis-habisan atau ditampar sekalipun dia akan terima—toh ini memang salahnya karena lalai.
"Mr Julian, maaf, saya menghilangkannya"
Julian mengernyitkan dahinya heran, tak paham dengan ucapan Elise sedangkan Fiona menatapnya dengan tatapan marah.
"Jangan-jangan, kamu menghilangkan flashdisk berisi data untuk persentasi sekarang!?" Ujar Fiona. Menebak dengan tepat membuat Elise menegang ditempatnya.
Elise memalingkan wajahnya, menatap apapun asal bukan ekspresi Julian yang mengeras bersiap untuk meluapkan amarahnya.
"Benar, saya menghilangkannya. Maafkan saya—"
__ADS_1
Plak!
Fiona menampar Elise tepat di pipi. Memar bekas tamparannya pagi tadi pun belum sembuh, kini memar itu bertambah lagi menjadi lebih parah.
Rasa perih mulai ia rasakan, namun Elise tak bersuara apapun dan hanya menerimanya.
"Fiona, stop. Berhenti menamparnya"
Julian menahan tangan Fiona yang hendak melayangkan tamparan lagi.
"Tapi!—dia sudah menghilangkan benda penting itu! Meeting dengan calon investor akan gagal karena dia!"
Suaranya naik beberapa oktaf, terlampau marah sebab kelalaian Elise yang merugikan mereka.
Julian masih diam, tak mengatakan apapun seperti menghakimi Elise. Mungkin di luar dia terlihat tenang, namun sebenarnya saat ini ia sedang bergelut dengan hatinya sendiri.
Fiona berucap benar. Meeting dengan calon investor saat ini akan gagal sebab Elise menghilangkan flashdisk itu, dan Julian sama sekali tidak memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah ini.
Apalagi ini adalah projects yang diberikan oleh ayahnya, apa yang akan Benjamin katakan saat ia tahu calon menantu kesayangannya malah membuat kacau?
Elise menatap Julian dengan hati-hati, sejak tadi ia belum berbicara apapun membuat Elise semakin gelisah.
"Mr Julian, saya—"
"Berhenti. Jangan berbicara lagi."
Elise bungkam. Dia menundukkan kepalanya menatap tembok, hatinya sudah tak karuan ia ingin menangis saat itu juga sebab mengacaukan situasi.
"Apa kamu sudah mencarinya?" Julian bertanya singkat. Tangannya memijat pelipisnya yang terasa pening, sedangkan Fiona menatap Elise dengan tatapan menghakimi.
Elise menjawab cepat dengan suara yang gemetar.
"Saya akan bertanggung jawab."
"Caranya? Kamu sudah menghilangkan hasil kerja keras orang lain Elise, kau tahu itu sama saja dengan mengacaukan semuanya kan!?"
Suara Julian naik beberapa oktaf, tampaknya ia benar-benar marah sekarang. Bahkan urat-urat dileher nya pun terlihat.
Elise tak bisa menjawab apapun selain kata maaf, ia merutuki kelalaiannya sendiri. Seharusnya dia lebih hati-hati, seharusnya ia lebih teliti, seharusnya dia tidak menghilangkannya.
Fiona menghela nafas jengah. Ia melipatkan kedua tangannya di dada, tatapan intimidasi masih belum luput di matanya—menatap Elise seolah-olah ia adalah orang paling salah di dunia.
"Aku tahu ini akan terjadi."
Ucapan singkat Fiona membuat Elise tersentak. Kenapa Fiona berbicara begitu?
"Apa maksudmu?" Julian bertanya.
Fiona menggandeng tangan Julian, wajahnya tampak ragu namun ia memaksakan diri untuk berbicara sambil menyembunyikan wajahnya pada lengan Julian.
"Kamu ingat saat desain itu? Elise tidak melakukannya dengan baik dan malah mengklaim desain milik departemen design kan?"
Fiona kembali mengungkit masalah masa lalu. Saat Elise diperlakukan tak adil, padahal bukan dia yang meniru.
"Tapi bukan saya yang—"
"Itu kamu. Terlihat jelas bahwa saat itu kamulah yang menirunya!" Ia menjeda ucapannya sejenak "Kamu memang ingin mengacaukan ini agar citra perusahaan tercoreng kan?"
__ADS_1
"Saya tidak mengerti maksud ucapan anda"
Elise menjawab tegas. Dulu dia memang ingin melakukannya, tapi saat ini dia sama sekali sudah melupakan niat buruknya itu.
Fiona tertawa, mencemooh jawaban Elise.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Aku punya bukti kamu memang ingin mengacaukan perusahaan Julian!"
Fiona merogoh gawai yang ada di dalam tasnya. Sementara itu Julian memperhatikan apa yang akan Fiona lakukan, sedangkan Elise menatapnya dengan tatapan gemetar. Apa yang akan dia lakukan? Pikirnya, ia tak tahu bukti apa yang dimaksud oleh Fiona.
Tapi, dari ekspresi Fiona yang yakin malah membuatnya khawatir.
Fiona memutar sebuah rekaman suara, meskipun samar namun suara itu terdengar seperti Elise yang sedang menelpon dengan seseorang.
Julian belum menemukan letak kejanggalan dari rekaman itu dan Elise membulatkan matanya sebab rekaman yang Fiona miliki adalah saat dia berbicara dengan sahabatnya, Hana.
["Menghancurkan perusahaan Eldi Group dari dalam, ya? Itu memang tujuanku"]
Saat rekaman itu berakhir Fiona kembali menatap Elise. Ia tersenyum menyeringai, kemudian berbicara tanpa suara padanya.
"Rasakan itu Elise Anderson"
deg.
"Haaa—ternyata begini." Ini Julian. Dia mengusap kepalanya kasar, sedangkan amarahnya kembali meluap seperti tadi.
padahal dia ingin mulai mempercayai Elise, tapi rekaman yang Fiona putar tadi terdengar sangat nyata dan berhasil menusuk hatinya. Seharusnya ia tidak menaruh kepercayaan pada Elise sejak awal, sekarang Julian merasa kecewa sekaligus marah secara bersamaan.
Elise tidak bermaksud mengucapkan itu. Menghancurkan perusahaan hanyalah gertakan, aslinya Elise selalu berusaha keras untuk perusahaan selama ia kerja di sana.
"Mr Julian, saya bisa jelaskan—"
"Apa yang akan kau jelaskan hah? KAMU MENGHANCURKAN MIMPI ORANG LAIN SEKARANG! tidak sadarkah kau kecerobohan bodoh mu itu mengacaukan semuanya!?"
Elise pikir Julian akan mendengarkannya, setidaknya setelah ia mengerjakan semua tugas perusahaan bersama-sama selama satu Minggu, dia pikir Julian sedikit berubah terhadapnya namun ternyata Elise salah.
Julian masih percaya dengan buta pada Fiona, dia tidak ingin mencari tahu lebih lanjut tentang masalah ini dan menyalahkan Elise sepenuhnya.
Tangan Elise mengepal dengan gemetar. Ia mengigit bibir bawahnya, berusaha supaya tidak menangis saat itu juga.
"Mulai saat ini kau aku pecat. Pergi, aku tidak membutuhkan seseorang yang ceroboh dan tidak kompeten sepertimu"
.
.
.
.
.
Ya kalau saya jadi Julian pun pasti kesal sih, tapi itu tetap tidak membenarkan sikap Julian yang kasar pada Elise.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (灬º‿º灬)♡
Terima kasih sudah mampir dan baca(。•̀ᴗ-)✧
__ADS_1