Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Alasan sebenarnya.


__ADS_3

...Rasanya sakit saat mencintai seseorang yang tidak bisa kau miliki. Dia ingin mundur, tapi sekali lagi hatinya mengalahkan ego yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa bersama....


...————...


Elise terdiam begitu Benjamin selesai berbicara. Dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan tersebut, hatinya dilanda bimbang, memilih untuk melanjutkan pertunangannya dengan Julian atau berhenti seperti tujuan awalnya.


Jika dia adalah Elise yang dulu pasti perempuan berambut kemerahan itu tidak akan ragu untuk mengatakan kalau dia ingin membatalkan pertunangannya, tapi perasaannya sudah berubah.


Sekarang Elise sudah jatuh hati pada Julian, dia tidak ingin mengakuinya tapi sikapnya selama ini sudah berubah—sejujurnya dia tidak ingin membatalkan pertunangan ini.


'Tapi, apa Julian juga begitu?'


Menyedihkan jika hanya Elise yang memiliki rasa. Dia pun ingin di cintai oleh Julian, tapi Elise tahu cinta Julian hanya milik Fiona dan begitu pula sebaliknya.


Rasanya sakit saat mencintai seseorang yang tidak bisa kau miliki. Dia ingin mundur, tapi sekali lagi hatinya mengalahkan ego yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa bersama.


"Saya, tidak tahu."


Pada akhirnya Elise menjawab demikian. Jawaban tidak jelas dan abu-abu, hanya itu yang bisa dia ucapkan sebagai jawaban dari pertanyaan Benjamin.


Lelaki berusia akhir empat puluhan itu tertawa kecil. Berpikir rupanya putra keduanya yang keras kepala itu berhasil merebut hati Elise hingga membuatnya bimbang begini.


"Tidak apa-apa jika kamu belum menemukan jawabannya. Tapi, asal kamu tahu saja aku tidak membebani mu dan memaksa kamu untuk bertunangan dengan Julian." Benjamin menjeda ucapannya sejenak. Elise menatapnya lurus, memperhatikan sorot mata teduh dan lembut milik Benjamin.


"Siapapun dari putraku tidak masalah, aku hanya ingin menjadikan mu menantu di keluarga ini. Jika kamu tidak suka pada Julian, mungkin Lucas bisa jadi pilihan kan? Noise terlalu muda untuk menikah sekarang, jadi aku sarankan kamu jangan dulu memilih putra bungsu ku"


Sontak wajah Elise merona merah. Bisa-bisanya Benjamin mengatakan itu, dia sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikah dengan Lucas.


Lelaki itu memang tipenya, tapi sekarang hatinya tertuju pada Julian.


"Saya tidak berpikir begitu."


Ucap Elise pelan. Benjamin tertawa mendengar jawaban darinya, lucu melihat reaksi Elise yang seperti ini—tanpa mereka sadari seseorang ikut mendengarkan percakapan mereka.


Di balik rak dekat pintu, Lucas berdiri diam tak bersuara. Dia datang ke sana dan bermaksud untuk berbicara pada ayahnya, tapi tak dia sangka dirinya malah berakhir mendengarkan percakapan mereka yang membahas tentang pertunangan Elise.


Mungkin Lucas juga bisa menjadi pilihan. Kata-kata itu tertanam di benaknya, membuat Lucas tersenyum sendiri.


"Mungkin aku memiliki kesempatan"


Dia bergumam pelan. Harapannya bertambah menjadi lebih banyak, tadinya Lucas mau langsung memyerah pada cintanya ketika dia tahu Elise sudah menyukai Julian saat ini.

__ADS_1


Tapi, dari percakapan Benjamin dan Elise dia bisa mendapatkan sedikit kesempatan untuk dirinya maju menjadi pendamping hidup perempuan itu.


Lucas berjalan pergi, memutuskan untuk berbicara pada ayahnya lain kali saja karena sekarang dia tidak mau tertangkap basah sedang menguping pembicaraan ayahnya dan Elise.


"Kamu menyukai Julian?"


Benjamin kembali bertanya pada Elise. Apapun keputusannya yang terpenting adalah perasaan Elise.


Elise agak malu untuk menjawab jujur, tapi rasanya jika dia berbohong sekarang maka dia tidak akan bisa berucap jujur tentang perasaannya nanti.


Elise mengangguk singkat kemudian bergumam mengucapkan 'iya' dengan nada yang amat pelan, beruntung hanya ada mereka berdua di sana—jadi suara Elise dapat di dengar oleh Benjamin yang duduk di seberangnya.


Senyuman Benjamin tak pernah luput. Sejak tadi dia selalu menampilkan wajah ramah dan teduh miliknya, membuat Elise tidak merasa canggung untuk berbicara.


"Syukurlah. Perasaan mu adalah yang paling penting. Aku tidak akan memaksa jika kamu tidak suka,"


"Elise"


"Iya?"


"Apa kamu tahu alasan pertunangan mu dengan Julian karena apa?"


Elise tersentak. Mengapa Benjamin membahas hal ini? Tentu saja Elise tahu.


Dia tidak suka membahas alasan pertunangan mereka.


Diamnya Elise membuat Benjamin paham. Ah—Gio tidak mengatakan hal lainnya pada Elise.


Dari sifatnya Benjamin tahu teman lamanya itu tidak akan mengatakan alasan sebenarnya pada Elise, karenanya Benjamin pun mengatakan hal itu pada Elise saat ini.


"Alasan pertunangan kalian adalah janji di masa lalu"


Ucapan Benjamin membuat Elise tersentak. Bukan itu yang diucapkan oleh ayahnya.


"Tapi, ayah saya tidak mengatakan apapun tentang itu"


"Aku tahu. Gio pasti mengatakan padamu kalau pertunangan kalian karena utang dia kan?"


Elise mengangguk pelan. Memang itu yang ayahnya katakan pada dia. Masalahnya adalah utang, tidak ada hal lain apalagi tentang perjanjian di masa lalu.


Benjamin menyenderkan tubuhnya di sofa. Karena pesan tidak lengkap dari Gio dia jadi harus menjelaskan semuanya pada Elise.

__ADS_1


"Utang juga memang jadi alasannya. Para pekerja yang Gio miliki mengambil banyak keuntungan sehingga perusahaannya mengalami kerugian besar, aku membantunya melunasi utang itu. Tapi sebenarnya alasan utama terjadinya pertunangan kamu dengan Julian adalah balas budi ku pada Gio karena bantuannya di masa lalu.


Kami mengalami banyak hal. Aku berjanji padanya untuk menjadikan mu menantu dan menjagamu dengan baik, Gio setuju dengan itu. Karenanya kamu ada di sini sekarang"


Benjamin mengakhiri ucapannya di sana. Elise terkejut mendengar kebenaran lain dari alasan mengapa dia bertunangan dengan Julian.


"Jadi, soal saya yang dijadikan jaminan utang, apa itu benar?"


Elise hanya ingin tahu kebenarannya. Apa iya dia sudah dijual oleh ayahnya, atau itu hanya kebohongan yang dilakukan Gio supaya Elise mau bertunangan.


Benjamin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Itu artinya Elise tidak dijadikan jaminan oleh sang ayah.


"Itu hanya kebohongan yang Gio lakukan saja. Kamu sama sekali tidak dijadikan jaminan untuk utang yang dia miliki, Gio terlalu menyayangimu jadi itu adalah hal mustahil dia lakukan pada putri kesayangannya"


Jantung Elise berdegup kencang. Perasaan bahagianya meluap-luap, dia tidak di jual oleh ayahnya, ayahnya masih mencintainya.


Jika saja di sana tidak ada Benjamin mungkin saat ini Elise akan menangis bahagia dan pergi menemui ayahnya. Elise senang dengan kenyataan itu, dia menyesal karena sudah berpikiran buruk tentang ayahnya.


"Terima kasih, terima kasih karena sudah memberitahukan ini pada saya"


Elise mengucapkan terima kasihnya dengan tulus. Dia jadi merindukan ayahnya.


.


.


.


.


.


Alhamdulillah akhirnya cerita ini sudah sampe eps 40an yang artinya sebentar lagi kita akan berpisah dengan Elise dan para pangeran(terkecuali Julian karena saya tidak menganggap dia sebagai pangeran juga)


Sebenarnya ini bukan cerita milik saya. Ide cerita ini murni milik kakak saya, jadi saya hanya menuliskannya menjadi sebuah kisah sedangkan ide dan para tokohnya dari pemikiran kakak saya.


Jadi, mohon maaf jika couple kalian kandas di sini dan Elise berakhir dengan couple yang tidak kalian sukai。:゚(;´∩`;)゚:。


Couple Nicolas X Elise saya saja kandas hiks.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like dan komen (◕ᴗ◕✿)

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir dan baca, maaf kalau ada kata typo.


__ADS_2