
...Tapi, semakin ia berusaha tidak memikirkan Elise otaknya malah otomatis memikirkan perempuan itu yang membuatnya kalut sendiri....
...————...
Hari libur di Minggu pagi. Sebentar lagi pekerjaan Elise akan selesai di sana—mungkin karena itulah hormon *Dopamin dalam otaknya mengirimkan sensasi menyenangkan dengan sangat baik di pagi ini. *(Nama hormon yang menciptakan perasaan senang dalam otak)
"Pekerjaan ku juga sudah selesai, apa aku harus jalan-jalan ya?"
Tidak diduga ternyata Julian benar-benar menyelesaikan bagian Elise dengan baik kemarin malam, ia pikir Julian hanya iseng dan membiarkan pekerjaan Elise terbengkalai hingga pagi—namun, ternyata dia terlalu berprasangka buruk pada lelaki itu.
Sebenarnya jika bukan karena Julian adalah tunangan yang menyebalkan Elise tak akan menaruh rasa tak suka padanya—jujur, Julian itu memiliki sifat yang tegas selayaknya pemimpin suatu perusahaan. Ia berperan sebagai leader, membangun para karyawannya untuk lebih produktif dalam bekerja.
Selain itu ia juga memperhatikan para pekerjanya. Tak jarang melihat CEO seperti itu, jadi mau tak mau Elise harus mengakuinya bahwa Julian memiliki sisi yang mengagumkan.
'Tapi hanya itu yang menjadi poin plus darinya'
Elise kepalang kesal pada lelaki itu, karenanya ia hanya akan mengaguminya sedikit saja. Hanya sedikit tak apa-apa kan?
Elise berbalik menatap tubuh lelaki dewasa yang sedang berbaring di sofa. Tampaknya pekerjaan semalam membuat Julian tepar, terlihat dari wajah tidurnya yang pulas bak bayi.
Ia bahkan tak mendengar suara langkah kaki Elise yang membuka gorden kamar, ataupun terusik karena sensasi hangat cahaya matahari pagi. Elise merasakan perasaan asing saat melihat Julian yang begini, rasanya ia jadi agak kasihan karena membuat Julian ikut andil di pekerjaannya.
Julian menuliskan catatan di depan laptop Elise untuk tidak membangunkan dirinya atau mengganggunya, karena itulah Elise memutuskan untuk pergi dari hotel dan jalan-jalan. Kebetulan dia belum mengeksplor daerah itu, jadi sekalian saja dia mencari oleh-oleh untuk nanti.
'Aku pun harus membelikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih'
Tidak nyaman rasanya hanya mengatakan lewat ucapan, jadi Elise pun akan memberikan Julian sesuatu sebagai tanda terima kasih.
Tak memakan waktu lama untuk dirinya bersiap-siap. Baju yang Elise gunakan tidak terlalu tebal sebab musim sudah menghangat, jadi dia harus mengucapkan sampai jumpa lagi pada mantel kesayangannya.
Setelah dirasa cukup Elise pun beranjak keluar hotel. Ia melihat beberapa orang berlalu-lalang, rupanya mereka juga memutuskan untuk pergi jalan-jalan pagi saat itu.
Kemampuan berbicara bahasa Jepang milik Elise kurang, ia hanya bisa mengucapkan kata-kata sederhana dan dasar tapi saat ini dia bergantung pada kemampuan pas-pasan itu untuk pergi jalan-jalan sendirian.
"Elise tidak ada di sini kata mu?"
Nicolas berucap singkat di depan Julian yang mengangguk. Beberapa menit yang lalu Nicolas menekan bel pintu kamar Julian untuk bertemu dengan Elise, sesuai dengan janjinya ia ingin mengajak Elise melihat festival musim semi sambil menikmati pemandangan bunga sakura.
Tapi, bukannya wajah sang perempuan yang ia lihat di sana hanya ada Julian dengan wajah baru bangun tidur—dia ingin kembali tidur tapi ketika mengetahui Elise tak ada rasa kantuknya menguap begitu saja.
Sepertinya dia agak khawatir pada Elise yang pergi tanpa mengabari, tapi memangnya siapa dia sampai-sampai Elise harus mengabari Julian terlebih dahulu? Tunangan? Omong kosong.
Lagipula, dialah yang meminta pada Elise untuk tidak membangunkan dia saat tidur tadi. Jadi wajar kan Elise pergi begitu saja?
"Dia pergi saat aku tidur."
Ujar Julian. Ia menjawab singkat seperti tak niat, padahal dalam hatinya ia pun penasaran kemana perginya sang puan.
__ADS_1
"Mungkin dia jalan-jalan? Itu bisa jadi kan, lagipula ini hari Minggu"
Julian kembali melanjutkan ucapannya. Tebakannya mengatakan bahwa Elise pergi jalan-jalan dengan teman, ia tahu meskipun Elise jarang berinteraksi dengan karyawan lain tapi setidaknya ia pasti memiliki satu teman.
"Elise jalan-jalan tanpa pemandu. Dia tidak bisa berbicara bahasa Jepang, menurutmu apa dia akan baik-baik saja?"
Kejahatan mungkin tak akan terjadi, tapi Nicolas khawatir Elise tersesat. Berada di negara orang lain yang tak ia kenal, bahkan Elise belum pernah liburan ke Osaka sebelumnya.
Memang, Elise sudah dewasa tapi tetap saja Nicolas khawatir perempuan itu terjebak dalam masalah.
Julian mengangkat bahu tak acuh. Dia tidak peduli dengan Elise, benar-benar tidak peduli—
"*Why should i care? Lagipula dia sudah dewasa, tak mungkin Elise Anderson tidak bisa meminta bantuan saat terjadi masalah padanya" *(Mengapa aku harus peduli?)
Tapi, apa iya dia tidak peduli? Semestinya jika itu benar maka hatinya tak akan gelisah begini, ia cukup pandai menyembunyikan ekspresi karena itu Nicolas hanya melihat wajah tak acuh Julian seperti biasanya.
"Aku akan pergi mencarinya."
"Silahkan, aku mau lanjut tidur lagi"
Nicolas menatap Julian dengan tatapan kecewa, setelah itu ia pun pergi dari kamar Julian dan mencari Elise di luar sana.
Julian menatap kepergian Nicolas sebelum ia berbalik kembali ke kasurnya. Kasur tempat Elise tidur tadi malam sudah rapi, perempuan itu yang merapihkan nya.
Tubuhnya dibaringkan, matanya memperhatikan lampu kamar dan langit-langit yang berwarna putih gading. Kantuknya hilang, tapi Julian memaksakan dirinya untuk tidur.
Tapi, semakin ia berusaha tidak memikirkan Elise otaknya malah otomatis memikirkan perempuan itu yang membuatnya kalut sendiri.
"****! Aku akan menyesali keputusan ini!"
Segera, Julian menyambar gawai dan memakai baju termudah yang bisa ia pakai. Langkahnya terburu-buru, Julian pergi dari hotel untuk ikut mencari Elise.
Sementara itu Nicolas berusaha menghubungi Elise lewat gawai miliknya, Elise tak kunjung membalas pesan yang dia kirim karena itu dirinya semakin khawatir pada sang puan.
Nicolas hanya bisa berharap semoga saja Elise tidak terjebak dalam masalah apapun. Pucuk dicinta ulam pun tiba, setelah berkeliling agak jauh Julian menemukan Elise yang sedang menjadi fotografer dadakan.
Rupanya ia dimintai tolong oleh pengunjung yang sedang menikmati bunga sakura, Elise tanpa sungkan langsung membantunya dan kini ia sedang mengambil gambar orang-orang itu.
"Terima kasih banyak!"
Para pengunjung itu membungkukkan badannya pada Elise sopan, setelah mengucapkan terima kasih padanya mereka pun pergi.
Nicolas mendekati Elise. Menepuk pundak perempuan itu membuat Elise terkejut karenanya.
"Kamu membuatku khawatir"
Nicolas berujar singkat dengan wajah yang memiliki keringat. Ia merasa lelah sebab mencari Elise tanpa menaiki transportasi apapun, untungnya tempat Elise jalan-jalan tak jauh dari hotel.
__ADS_1
"Aku hanya jalan-jalan sebentar."
"Setidaknya kabari aku agar aku bisa menemanimu. Kita teman kan?"
Elise tersenyum simpul kemudian mengangguk. Nicolas teman yang baik, kalau tahu ia tak keberatan menemaninya jalan-jalan Elise pasti mengajaknya tadi.
"Sebagai permintaan maaf ayo kita jalan-jalan berdua"
Tangannya terulur pada Elise, menatap perempuan itu sambil tersenyum lembut.
"*Holding hand? *(Mau gandengan tangan?)
Elise terkekeh geli mendengar ucapan Nicolas. Ia menempelkan tangannya dengan tangan Nicolas, terlihat sekali perbedaan ukuran tangan mereka.
"Of course. Aku ingin membeli oleh-oleh untuk teman, ayo kita ke sana!"
Nicolas menuruti apa yang Elise mau. Mereka segera pergi menuju tempat membeli suvenir.
"Apa-apaan? Ternyata dia baik-baik saja."
Julian yang berdiri tak jauh dari dua sejoli itu terdiam saat melihat mereka. Kekhawatirannya terasa sia-sia, tidak seharusnya ia pergi buru-buru mencari Elise padahal perempuan itu kini sedang bersenang-senang dengan sahabatnya.
'Sejak kapan mereka begitu dekat?'
.
.
.
.
.
.
.
Julian: "Sejak kapan mereka dekat?"
Sejak dulu mas, kamu sih pacaran Mulu jadi kudet kan(. ❛ ᴗ ❛.)
Terima kasih sudah mampir dan baca
。:゚(;´∩`;)゚:。
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen (◕ᴗ◕✿).
__ADS_1
maaf kalau ada kata yang typo.