
...Seperti bongkahan es, perasaan yang dipendam akan mengeras dan mengganjal di hati, lalu air mata adalah bentuk lelehan semua perasaan itu. Karenanya, saat kita merasakan sedih yang teramat sangat menangis bisa menjadi salah satu pelepas emosi....
...————...
Julian menatap Elise di sebelahnya. Mereka ganti tempat karena di jalanan tadi, mereka menjadi pusat perhatian sebab berpelukan di tempat umum—Julian tidak sadar meskipun malam rupanya masih banyak orang yang berlalu-lalang, sehingga saat itu juga Julian menarik Elise untuk pergi ke kursi taman terdekat.
"Aku turut berduka atas meninggalnya ayahmu. Tuan Gio orang yang baik, aku tahu itu"
Elise melirik Julian dengan ujung matanya. Dia mengangguk singkat menjawab ucapan itu.
"Iya, ayah memang orang yang baik"
"Elise"
Perempuan itu menoleh, menatap Julian yang saat ini merentangkan kedua tangannya.
"*Want a Hug?" *(ingin pelukan?)
Elise tertawa atas tawaran dari Julian. Ekspresi agak kaku miliknya lucu, tidak seperti Julian yang dia kenal.
"Pftt, *and why?" *(Dan kenapa?)
"Yah—because, maybe kamu ingin menangis lagi? Sudah ku bilang kan, aku akan mendengarkan semua keluh kesah mu mulai sekarang"
Elise agak ragu untuk memeluk Julian dengan sadar begini. Tapi dia ingin menghargai usaha lelaki itu, karenanya Elise pun mendekatkan diri kemudian memeluk Julian dari samping.
Julian membalas pelukan itu, sesekali ia menepuk-nepuk punggung Elise lembut sambil berbisik padanya—sangat nyaman hingga tanpa sadar Elise kembali menangis karena mengingat ayahnya.
Julian yang menyadari itu hanya diam. Dia tidak mengucapkan apapun dan memeluk Elise dengan erat, seolah-olah berusaha menenangkan perempuan itu lewat suhu hangat tubuhnya sendiri—karena saat ini yang Elise perlukan bukanlah kata-kata penyemangat, melainkan hanya sebuah pelukan untuk melepaskan semua kesedihannya.
Seperti bongkahan es, perasaan yang dipendam akan mengeras dan mengganjal di hati, lalu air mata adalah bentuk lelehan semua perasaan itu. Karenanya, saat kita merasakan sedih yang teramat sangat menangis bisa menjadi salah satu pelepas emosi.
Tidak perlu malu untuk melakukannya. Menangis tidak menandakan bahwa kita lemah, namun menangis menandakan bahwa kita masih manusia yang memiliki perasaan.
Elise menangis cukup lama. Setelah hari semakin dingin, dia melepaskan pelukannya dari Julian.
Mata perempuan itu bengkak lagi, dia terlalu banyak menangis hari ini jadi sepertinya besok Elise akan merasakan pusing.
"Mau pulang sekarang? Sepertinya kamu harus tidur,"
Elise mengangguk singkat kemudian pergi bersama Julian ke rumahnya. Di perjalanan, Elise tidak melepaskan genggaman tangannya dengan Julian.
"Jadi, apa jawaban mu?"
"Jawaban apa?"
"Pernyataan cinta ku. Apa jawaban mu?"
Kaki Elise terdiam sejenak, dia menatap Julian kemudian tersenyum tipis.
"Tolong beri aku waktu. Saat ini aku belum bisa memberikan jawabannya"
Ada rasa kecewa dalam hatinya, namun sikap Elise ini wajar karena sekarang suasana hatinya sedang berkabung. Jadi Julian harus menerimanya, dia akan menunggu sampai Elise memberikan jawaban—apapun itu dia akan menerimanya.
Setelahnya mereka kembali berjalan, sampai akhirnya Elise dan Julian sampai di depan rumah itu—di sana sudah ada Lucas dan Benjamin yang menunggu.
Elise langsung masuk bersama salah satu tetangganya yang akrab, meninggalkan ketiga lelaki keluarga Eldegar di luar.
"Jadi kamu sudah memilih?"
Celetuk Benjamin pada Julian. Melihat dia yang kembali dengan bergandengan tangan bersama Elise membuatnya berpikir bahwa putra keduanya tersebut sudah memilih tambatan hatinya.
"Aku ingin menikah dengan Elise."
"Bagaimana dengan Fiona?"
__ADS_1
Julian terdiam. Fiona, dia sudah tidak mau berhubungan dengan perempuan itu lagi—bahkan jika dia memaksa, Julian tidak mau bertemu dengannya.
"Aku salah ayah. Fiona tidak sebaik yang aku kira."
Benjamin tersenyum. Akhirnya putra bulol nya ini menyadari pilihannya yang salah, dia senang karena akhirnya Benjamin tidak perlu membatalkan pertunangan mereka.
"Bagaimana dengan mu?"
Kini Benjamin bertanya pada Lucas. Lelaki itu mengangkat bahu tak acuh, dia tersenyum tipis kemudian merangkul bahu Julian tiba-tiba.
"Yah, aku terlalu sombong karena berpikir bahwa diriku memiliki kesempatan. Tapi, rupanya kamu memang orang yang dia cinta."
"Kakak tidak akan merebut Elise dariku kan?"
"Siapa tahu? Aku bisa saja melakukan itu."
"Kakak!?"
Lucas tertawa melihat ekspresi Julian yang marah padanya. Dia melepaskan rangkulannya itu, lalu mengacak-acak rambut Julian kasar.
"Aku tidak akan melakukan itu. Jika Elise memilih mu, aku bisa apa? Jaga dia bocah. Kamu terlalu banyak menyakitinya tau"
Julian mendengus sebal. Padahal usia mereka bukan anak-anak lagi, tapi kadang Lucas selalu memperlakukan dia seperti anak berusia belasan tahun.
"Aku akan masuk sekarang. Kalau kalian masih ingin mengobrol, lakukan itu di luar"
Setelah dirasa cukup Benjamin pun pergi meninggalkan dua saudara tersebut di sana. Menyisakan suasana malam dingin yang sunyi, dengan perasaan berkabung di rumah itu.
Kedua lelaki itu berdiri. Tak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka, sebelum Julian membuka mulutnya untuk berbicara.
"Kakak,"
"Iya?"
"Mengapa kakak memilih jalan sendiri? Bukannya kak Lucas bisa menjadi penerus perusahaan seperti yang aku lakukan?"
Julian menatap kakaknya ragu.
"Itu terdengar seperti kutipan dalam drama"
Lucas tertawa garing. Dia menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Itu memang kutipan dalam drama"
"Pantas saja. Kak Lucas bukan tipe puitis seperti itu, aneh mendengar kakak mengatakan hal-hal puitis"
Ucapnya, mengutarakan isi kepalanya pada Lucas membuat lelaki tersebut tertawa karenanya.
"Begitu kah? Tidak apa-apa kan kalau aku seperti ini sesekali? Sudahlah, kita harus masuk ke dalam."
Lucas melengos pergi begitu dia selesai berbicara. Sementara itu Julian mengikuti langkah sang kakak, mereka berjalan menuju rumah Elise. Di dalam sana sudah ada Elise bersama Benjamin dan beberapa orang lagi, mereka tampak membicarakan sesuatu lalu malam itu pun berlalu begitu saja.
Sudah satu bulan berlalu sejak kematian Gio. Saat ini Elise tinggal di rumah keluarga Eldegar karena statusnya sebagai tunangan Julian masih melekat padanya.
Julian melakukan semua yang terbaik dan memberikan perhatiannya pada Elise, dia sudah bekerja di perusahaan ayahnya lagi namun berada di cabang yang berbeda.
Lucas kembali bekerja seperti biasa. Kadang-kadang saat dia pulang ke rumah, lelaki berusia tiga puluhan itu selalu menjahili Elise untuk membuat Julian cemburu—menurutnya ekspresi sang adik saat cemburu lucu dan dia menyukainya.
Si bungsu Eldegar sedang bersiap untuk pindah jurusan. Dia memutuskan untuk pergi ke universitas musik dan mendalami bakatnya di bidang tersebut, setelah Madam Julia mendukungnya dia jadi bisa melakukan hal-hal yang dia sukai tanpa bersembunyi lagi.
"Kamu harus pulang saat liburan nanti, oke?"
Elise berkali-kali menyampaikan pesan pada Noise untuk pulang saat liburan tiba dan Noise pun menjawabnya dengan senyuman manis nan tulus. Dia senang dikhawatirkan oleh Elise, meskipun dia sudah ditolak secara tidak langsung tapi Noise tidak keberatan menjadikan Elise sebagai kakak iparnya.
Jika Julian menyakitinya lagi mungkin Noise pun akan turun tangan nanti.
__ADS_1
Sementara itu, seolah orang-orang pergi menjauh diwaktu bersamaan Elise harus melepas kepergian Nicolas untuk pergi ke negara asing. Lelaki itu sudah mendapatkan pekerjaan baru lebih cepat dari yang dia duga, saat ini Elise sedang mengantar dia di bandara.
"Jangan menangis. Aku akan datang ke sini saat liburan nanti."
Nicolas berucap lembut sambil mengusap air mata Elise yang mengalir. Dia tidak tahan dengan perpisahan, apalagi harus berpisah jauh dengan sahabatnya.
"Itu harus. Kamu harus selalu sehat di sana, negara asing terkadang memiliki banyak perbedaan dengan kita. Aku harap kamu bisa beradaptasi dengan baik"
Senyuman tipis terpatri di wajahnya. Nicolas memeluk Elise meskipun saat itu ada Julian yang juga ikut bersamanya.
"Hei!"
Julian berucap pelan namun dengan penuh penekanan. Nicolas tersenyum menyeringai, dia bergumam tanpa suara yang hanya dimengerti oleh Julian.
"Kalau kamu menyakitinya lagi, aku akan mengambil Elise darimu"
Perempatan imajiner terlihat di dahinya. Jika ini bukan bandara, mungkin Julian sudah menggaplok wajah menyebalkan milik sahabatnya saat ini.
Mereka mengakhiri perpisahan itu di sana. Nicolas berbicara sebentar dengan Julian sebelum dia menaiki pesawat, setelah itu mereka benar-benar berpisah.
"Kamu merasa sedih karena Nicolas pergi?"
Julian tau-tau bertanya begitu pada Elise yang memiliki raut wajah sedih dengan jelas. Dia menyikut lengannya kasar, membuat Julian sedikit mengaduh sebab Elise memberikan tenaga pada serangan itu.
"Jangan bercanda. Dia itu teman kita, sudah pasti aku sedih karena perpisahan ini!"
Elise mengucapkannya dengan tegas sementara Julian tertawa garing. Dia juga tahu pertanyaannya konyol, tapi dia bertanya begitu karena cemburu sebenarnya.
"Aku ingin bicara padamu"
"Apa?"
Tiba-tiba saja beberapa orang yang berlalu lalang memperhatikan Elise dan Julian di sana, itu karena Julian sedang berlutut dengan satu kaki di depan Elise—pose nya persis seperti seseorang yang hendak melamar.
Julian mengeluarkan sebuah kotak beludru dengan cincin di dalamnya. Dia menatap Elise lurus, sambil tersenyum lembut dia berbicara padanya.
"Aku belum menerima jawaban waktu itu. Jadi, apa kamu mau menikah denganku?"
Di bandara yang lebih banyak menyaksikan pelukan itu Julian melakukan lamarannya pada Elise, dengan percaya diri dia sudah menyiapkannya beberapa hari yang lalu.
Beberapa orang yang ada di sana memotret mereka, ada yang bertepuk tangan pada Julian dan Elise lalu ada pula yang memvideokan mereka berdua.
Elise terdiam tak bergeming. Bukan karena tidak suka, hanya saja dia merasa malu sekaligus kesal pada Julian yang lagi-lagi melakukan momen penting saat waktu tak tepat.
Padahal mereka baru berpisah dengan sosok sahabatnya, tapi sekarang Julian malah melamar Elise.
Jawaban sudah ada di ujung kerongkongan. Elise menjawabnya dengan kata singkat namun tegas, dia sudah memutuskan untuk menerimanya.
"Iya. Aku mau."
Sorak Sorai terdengar dari beberapa orang yang lewat. Mengetahui ada acara lamaran di sana membuat mereka jadi pusat perhatian.
Julian tersenyum sumringah kemudian memasangkan cincin di jari manis Elise, lalu setelahnya dia pun memeluk Elise erat dan berbisik padanya.
"Terima kasih sudah menerima ku. Aku mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu"
Lamaran tiba-tiba yang tak akan Elise lupakan. Dari seorang tunangan di atas kertas yang hampir hancur kini berubah menjadi pasangan yang serasi, Elise tidak menyangka hidupnya akan berubah seperti ini.
Mereka menikah dua bulan kemudian. Sesuai dengan pesan terakhir dari Gio, Elise memberikan kesempatan pada Julian dan saat ini dia sudah resmi menjadi istrinya.
Kita tak pernah tahu takdir yang kita lalui seperti apa. Perasaan manusia itu mudah berubah. Bisa jadi hari ini kita benci, namun hari berikutnya mungkin perasaan benci itu akan berubah menjadi cinta yang manis.
Masa depan tidak ada yang tahu kan?
__ADS_1
End.