Terjerat Cinta Berantai

Terjerat Cinta Berantai
Kabar buruknya.


__ADS_3

...kehilangan adalah hal terburuk yang tak mau aku alami, apalagi harus kehilangan satu-satunya keluarga yang aku miliki....


...-Elise Anderson...


Elise bekerja dengan baik di kantor seperti biasa. Sejak Julian tidak menjadi CEO di cabang Eldi group Benjamin menugaskan orang lain yang menjadi CEO di sana dan sudah mulai bekerja dua hari yang lalu.


Elise baru tahu lelaki itu di-PHK oleh ayahnya sendiri dan dia pun tidak tahu alasannya kenapa. Yang jelas saat ini suasana kantor terasa berbeda, sejak dia jadi sekretaris resmi Elise kembali sibuk di kantornya.


Sama seperti Julian, Fiona juga tidak ada di kantor. Dari kabar angin yang berlalu, Elise menangkap kabar bahwa Fiona berhenti tiba-tiba. Tentu saja beberapa karyawan ada yang terkejut—beberapa diantaranya bersikap tak acuh sebab mereka sudah tahu tentang kelakuan buruk Fiona tentang masalah desain yang menyebabkan desainer mereka dipecat dari perusahaan.


Sejauh ini Elise tidak mempedulikan kabar buruk tentangnya, dia hanya akan fokus bekerja dan akhir pekan ini dia berencana untuk pergi mengunjungi ayahnya di Boston. Dengan senyuman tipis Elise berjalan keluar dari kantornya, menuju ruangan rapat yang akan segera dimulai beberapa menit lagi.


Kaki Elise otomatis terdiam saat dia melihat ruangan kosong di sebelahnya—sebelum ruangan itu kosong, di sana adalah tempat Nicolas bekerja. Kemarin dia membereskan barang-barang dan berhenti, rupanya dia sudah mengurus semuanya sehingga Nicolas mudah untuk keluar dari perusahaan itu.


Mereka sudah berpamitan. Nicolas bilang dia tidak akan segera pergi dari New York saat ini, dia masih akan tinggal di sana selama beberapa hari sebelum pergi ke luar negeri. Elise merasa sayang karena dia akan ditinggalkan oleh teman baiknya, tapi karena itu keputusan Nicolas jadi dia tidak bisa melarangnya.


"Aku harus kembali bekerja"


Setelah mengucapkan itu Elise pun pergi. Semua orang sudah hadir begitu dia datang, syukurlah dia tepat waktu.


Saat dia duduk dan akan memulai persentasi tiba-tiba saja gawainya berdering, menampilkan telpon dari sahabatnya Hana. Tumben, biasanya Hana tidak akan pernah menelpon dia pada saat jam kerja begini—sahabatnya itu tahu kapan harus menelpon, jadi saat dia melakukan hal diluar kebiasaannya itu membuat Elise khawatir.


"Angkat saja dulu. Aku akan menggantikan bagian mu,"


Elise mengangguk dan menerima tawaran asisten CEO baru itu. Dia menginterupsi untuk meminta izin lalu keluar dari ruangan rapat—agak jauh dari sana, dia mengangkat panggilan itu lalu jantungnya pun berdegup kencang.


"Apa? Ayah, kecelakaan?"


Bak tersambar petir di siang bolong, kabar dari sahabatnya membuat Elise terdiam di tempat.


"Ini tiba-tiba sekali. Aku—aku juga baru mengetahuinya dari asisten ku, saat ini paman sedang di rumah sakit. Kecelakaan itu terjadi tiba-tiba, Elise, jangan menyalahkan dirimu sendiri"


Jelas Hana dengan suara lirih dan bergetar.


Nafas Elise tersengal. Dia tidak bisa menahan air matanya yang menerobos keluar dari kelopak matanya, membiarkan perasaan sedih dan penyesalan menguasai diri.


Elise terduduk di lantai dengan tangan yang masih menggenggam gawai. Hana belum mengakhiri panggilan itu, dia tidak bisa meninggalkan sahabatnya berduka sendirian karena itulah dia pun dengan buru-buru datang ke kantor Elise menggunakan mobilnya.


"Tetap di sana. Aku akan menjemputmu, ayo kita ke rumah sakit bersama oke?"


Meskipun tak akan dilihat oleh sahabatnya Elise mengangguk lemah. Dia segera berdiri, pergi ke kantornya dan meminta izin untuk pulang lebih awal—dia juga mengatakan alasannya dan atasan Elise mengizinkan dia untuk pulang.


Gawai miliknya kembali bergetar, kini nama yang terlihat di sana adalah Lucas.

__ADS_1


Karena suaranya yang serak Lucas langsung tahu kalau Elise sedang menangis.


"Kamu di kantor kan? Aku akan menjemputmu"


Elise segera menolaknya.


"Tidak apa-apa. Hana mau menjemput ku, Kak Lucas tidak perlu ke sini"


"Apa yang terjadi? Bisa kamu ceritakan padaku?"


Elise agak ragu untuk menceritakan tentang ayahnya. Namun dia lebih tidak nyaman kalau harus berbohong, apalagi Lucas sudah banyak membantunya selama ini.


Karenanya dia pun menjawab jujur.


"Ayah kecelakaan dan sekarang beliau dirawat di rumah sakit, aku tidak tahu kondisinya seperti apa sekarang tapi aku takut, bagaimana kalau ayah tidak bangun lagi? Seharusnya aku pulang waktu itu—aku, aku takut ayah pergi seperti ibu."


Elise meracau sambil menangis. Lucas yang mendengarnya terdiam, baru kali ini dia mendengar Elise menangis—dia tahu Elise sangat menyayangi ayahnya, karena itu dia merasa sangat khawatir.


"Beliau pasti baik-baik saja. Di rumah sakit mana beliau dirawat? Aku akan ke sana dan menemanimu,"


"Rumah sakit XX"


"Sekarang kamu pergi dengan sahabatmu. Aku akan menunggu di rumah sakit itu, semuanya pasti baik-baik saja"


Lucas juga sudah pergi. Dengan cepat dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dia tidak mau membiarkan Elise sendirian—apalagi disaat dirinya terpuruk begini.


Yang sampai lebih dulu adalah Lucas. Namun ternyata di ruangan tempat ayah Elise dirawat pun sudah ada sosok Benjamin.


"Ayah di sini?"


Lucas bertanya singkat. Agak terkejut melihat sosok sang ayah yang duduk diam di kursi tunggu depan ruangan rawat ayah Elise.


"Kamu cepat datang ke sini ya. Di mana July?"


Kaki Lucas melangkah untuk duduk di samping ayahnya, dia menjawab pertanyaan itu singkat sambil menatap ke depan.


"Dia, masih bekerja"


"Padamu? Sebagai apa dia bekerja?"


"Pegawai toko. Para pelanggan menyukai wajahnya karena tampan, dia menerima banyak tip meskipun bekerja belum lama ini"


Benjamin mengangguk puas. Dia senang mendengar anaknya berusaha sendiri, tanpa meminta bantuan padanya sebagai dukungan rupanya Julian bisa bekerja seperti itu.

__ADS_1


"Itu bagus. Dia harus belajar bekerja dari bawah dengan usahanya sendiri, terima kasih karena sudah mengajari adikmu"


Tangannya menepuk pundak Lucas pelan, sebagai apresiasi karena bersikap baik sebagai kakak Julian.


Lucas tersenyum tipis kemudian Elise pun muncul bersama temannya Hana.


"Tuan Benjamin"


Benjamin berdiri begitu mendengar suara Elise. Dia menatapnya, kemudian mendekati Elise yang berjalan ke arah mereka.


"Gio pasti baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir,"


Ucapan singkat itu sukses membuat hati Elise runtuh. Dia kembali menangis, di depan Benjamin dan Lucas yang kini menatapnya khawatir.


Tangannya mengusap air matanya sendiri. Elise yakin ayahnya akan baik-baik saja, dia harus yakin.


"Terima kasih tuan Benjamin"


Benjamin segera memeluk perempuan yang dia anggap sebagai anaknya itu, tangan Elise bergetar ketika dia membalas pelukannya.


"Sudah ku bilang panggilan saja aku ayah. Aku akan melakukan yang terbaik untuk sahabatku, yakinlah bahwa semuanya pasti baik-baik saja"


Elise mengangguk dalam pelukannya. Dia tidak bisa menahannya lagi, rasa takut kehilangan dan ditinggalkan yang dia rasakan begitu kuat—Elise tidak mau ayahnya pergi menyusul sang ibu, dia masih belum siap untuk itu.


.


.


.


.


.


.


.


Yah, karena beberapa masalah saya jadi enggak upload cerita ini. Maafkan saya.


Terima kasih sudah mampir dan baca, jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like dan komen.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2