
Happy Reading 🌿
_____________________________________________
"Seohoon ...," Suncha memanggilnya, membuat Seohoon langsung menoleh dan seketika terpaku.
"Jadi, selama ini kau latihan, ya?" tanya Suncha seraya duduk di sebelahnya. Tetapi Seohoon hanya menanggapinya dengan mengangguk pelan.
"Maaf, aku tidak mencoba untuk menyinggung perasaanmu. Saat itu aku hanya terbawa emosi karena Boeun dan dua temannya."
Suncha mengelus lembut tangan Seohoon, dia kemudian menjulurkan jari kelingkingnya, seperti seseorang yang akan membuat janji dengan orang lain.
"Apa?" tanya Seohoon heran dengan perangainya.
"Aku berjanji, akan membantumu." Suncha kembali menjulurkan jari kelingkingnya, lalu dibalas serupa oleh. Seohoon.
"Pegang ucapanmu," tuturnya dengan mata yang memandang ke segala arah.
"Tentu! "
"Oh ya, bukankah kau akan bertanding melawan tim basket lainnya?" tanya Suncha memastikan bahwa poster yang kini tengah berada di genggamannya itu tidak sedang mengada-ngada.
"Iya, semoga saja begitu."
"Baiklah, aku akan mentraktir mu jika kau menang dalam pertandingan itu, dan kau juga bisa meminta apa saja yang kau mau dariku. Tapi jika kau kalah ... kau yang harus mentraktir ku!" ucapnya bersemangat.
"Aku terima tantangan darimu."
Waktu telah berlalu. Hari yang sudah lama ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Para murid disekolah ramai bersorak menyemangati idola mereka, terutama kepada Seohoon.
"Seohoon!! Tim Seohoon!!" sorak salah seorang gadis dengan surai hitam legam yang menempel di kepalanya. Dia tampak tersenyum lebar tak sabar ingin mengetahui siapa pemenang dalam pertandingan tersebut.
Di sisi lain, Suncha yang tengah bersiap menuju lapangan basket justru masih sibuk dengan benda ponsel miliknya. Dia mengutak-atik setiap keyboard di layar ponselnya itu.
"Ayolah, bukankah tadi kau sudah tidak sabar ingin menyaksikan pertandingannya?" lontar Bora dengan kaki yang sudah siap akan berlari menuju lapangan.
"Sebentar. Masih ada sesuatu yang harus ku urus," balasnya dengan gugup.
"Sedang apa, sih?" Bora yang merasa penasaran lantas menghampiri Suncha yang masih berada di tempat duduknya. Lalu Suncha tiba-tiba mematikan layar ponsel dan kini bangkit dari kursinya.
"Ayo!" ajaknya bersemangat.
Keduanya pun tiba di lapangan. Tempat yang sudah ramai dipenuhi oleh para murid dan guru itu membuat Suncha kesulitan dalam mencari keberadaan Seohoon.
Drrtt ...
__ADS_1
Ponselnya berdering, membuat Suncha langsung tergugah dan segera mengangkat panggilan yang baru saja masuk.
"Dia ada dimana?" tanya Suncha mengeraskan volume suaranya.
"Ada di ruang persiapan. Sebentar lagi Seohoon akan ke lapangan basket," jawab seseorang dari balik telepon tersebut.
"Tunggu di sana ya, aku akan segera datang."
Suncha pun mematikan panggilan secara sepihak, dia langsung berlari menuju tempat yang baru saja dibeberkan oleh orang misterius itu, tanpa memperdulikan Bora yang masih berdiri menatap kaum manusia.
Setibanya di ruang persiapan, Suncha yang baru saja tiba itu langsung menemukan keberadaan Seohoon. Lelaki itu tampaknya sedang duduk terdiam memandang ke segala arah.
"Seohoon!" teriak Suncha sukses memikat perhatian orang-orang disekitarnya. Namun karena ruangan yang tidak terlalu ramai, membuatnya tidak lagi ambil pusing dengan hal itu.
"Ini, semangatlah!" ucapnya seraya memberikan sebotol minuman kepada Seohoon.
"Benar untukku?" tanya Seohoon memastikan. Lalu di angguki oleh Suncha.
Setelah waktu menunjukkan pukul 08.30 tepat, pertandingan bola basket pertama pun dimulai. Dengan sorak-sorai para penonton yang heboh, mampu menambah semangat para pemain yang tengah bertanding melawan tim mereka.
"Kau dari mana saja?" tanya Bora setelah Suncha kembali.
"Aku menemui Seohoon," jawabnya singkat dengan pandangan yang terus fokus menatap sosok Seohoon. Lelaki itu bermain dengan sangat baik, mampu mencetak angka hanya dalam waktu hitungan menit.
"Wahhh ..., kalian sudah baikan, ya?" ledek nya dengan terkikik tawa.
"Dasar, awas saja kau!"
"Nye!"
Waktu tiga puluh menit yang dihabiskan, akhirnya dimenangkan oleh tim Seohoon. Sorak dukungan dari para penonton membuat lelaki itu sedikit kesal, dan memilih untuk pergi menuju ruang istirahat.
"Dia pergi?" tanya Suncha dalam benaknya.
Seharian penuh SMA JoHang mengadakan pertandingan bola basket yang menggugah semangat para penonton. Dan hasilnya, tim Seohoon lah yang memenangkan semua babak setelah empat kali masuk final.
Suncha yang melihat dengan kepalan matanya sendiri, menjadikannya kagum setengah mati. Dia bahkan merasa takut dengan janjinya, yang akan memberikan semua kemauan Seohoon jika ia benar menang dalam pertandingan.
Seusai pengumuman pemenang diumumkan pada seluruh murid di sekolah, mereka langsung semangat berlarian menuju ke arah Seohoon, dimana terlihat ia yang sedang kelelahan dengan meminum sebotol air dingin pemberian dari Suncha.
"Aku pergi dulu," ucapnya tiba-tiba. Sontak membuat semua para gadis itu menjadi kecewa terhadapnya.
"Oke," balas Minha dengan menahan tawa kecil di bibirnya.
***
__ADS_1
Di tempat lain, Seohoon yang tidak mengetahui keberadaan Suncha lalu mencoba mencarinya di ruang kelas 10-2. Namun hasilnya nihil, karena Suncha sedang tidak berada di dalam kelas.
Setelah cukup lama berjalan menyusuri setiap ruangan di sekolah, dia akhirnya tak sengaja melihat Suncha yang tengah fokus mendengarkan musik di dalam ruang perpustakaan.
Seohoon sendiri dibuat heran dengan sosok Suncha yang berada di dalam sana. Apalagi terlihat sebuah headset kecil yang menempel di telinganya itu.
"Kau sedang mendengarkan apa?" tanya Seohoon, dia lekas duduk di sebelahnya. Namun kedatangannya yang tiba-tiba itu sungguh membuat Suncha merasa kaget, seperti jantungnya hampir lepas.
"Kenapa datang tiba-tiba?" bukannya menjawab, dia justru bertanya dengan hal yang lain.
"Aku menang."
"Iya iya, aku sudah tau soal itu," jawabnya acuh tak memandang wajah lelaki yang tengah duduk di sebelahn itu.
"Sedang mendengarkan apa?"
"Ti-- Tidak, kok!"
"Apakah itu lagu kesukaan mu?" tanya Seohoon kembali.
"Tidak juga."
"Aku ingin mendengarnya." Seohoon langsung menarik sebelah headset yang tengah menempel di telinga Suncha, membuat gadis itu merasa sedikit terkejut heran.
Kiss me kiss me ...
Deg?!! Keduanya saling terdiam, lagu yang baru saja mereka dengar sontak membuat Seohoon menjadi fokus pada satu tempat, begitu juga dengan Suncha. Mereka saling menatap bagian bibir, kini wajah mereka tampak lebih dekat dari sebelumnya.
"Ah, baterainya habis," ucap Suncha dengan melepas headset dari ponselnya itu.
Setelahnya, suasana canggung lantas menyelimuti kedua orang tersebut. Bahkan Seohoon yang awalnya berniat ingin menagih janji malah lupa dengan tujuan awalnya.
Setelah hampir lima belas menit saling terdiam, Suncha akhirnya mencairkan suasana dengan mengajak Seohoon pergi menuju cafe. Yah, tanpa ditagih ternyata ia pun bisa menepati janjinya.
"Ayo ke cafe!" Dia menarik lengan Seohoon, lalu menyeretnya keluar dari dalam perpustakaan.
"Cafe mana?" tanya Seohoon dengan langkah kaki yang masih berjalan bersebelahan dengan Suncha.
"Cafe mana saja, aku akan membelikan semua yang kau inginkan."
"Baiklah, aku ingin langsung membeli cafe nya saja."
Suncha terdiam, sepertinya ucapannya barusan itu telah memakan dirinya sendiri.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
__ADS_1
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀