Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 9 : Pertandingan Basket Lusa


__ADS_3

Happy Reading🌿


_____________________________________________


Angin berhembus kencang, menyejukkan ruangan yang tertutup rapat dengan sedikit cahaya yang tersirat di dalamnya. Kini mereka saling terdiam, terutama Seohoon yang tidak tau harus berkata apa.


"Apa kau tidak ingin membantuku?" Seohoon menatap wajah Suncha dari dekat, tampaknya cairan bening mulai menetes dari kedua bola matanya.


"Apa kau menangis?" tanya Seohoon begitu melihat air mata yang keluar dari mata gadis di depannya. Masih memiliki rasa kasihan, Seohoon lantas mengusap air mata tersebut.


"Hentikan! Aku bisa mengusapnya sendiri!" tegas Suncha seraya menyingkirkan tangan Seohoon dari wajahnya.


"Aku sudah tidak tahan membantumu, aku yang selalu terkena masalah gara-gara dirimu! Kau mengerti?"


Suncha langsung angkat kaki dari toilet itu. Wajahnya memasang raut kesal hingga dirinya kembali ke ruang kelas. Namun, ia sangat terkejut ketika melihat sosok Mireu yang tampaknya sedang tertidur pulas di kursi miliknya.


"Bora bilang padaku, katanya tidak boleh macam-macam dengan kak Mireu. Baiklah, aku harus sopan untuk bisa mengusirnya," gumam Suncha seraya berpikir.


Telapak tangannya itu mendarat di bahu Mireu, membuatnya terbangun dan mengangkat kepalanya.


"Pe-- Permisi," sapa Suncha dengan lirih.


"Akhirnya datang juga."


Deg?!! Suncha terkejut panik, dia tidak menyangka kalau ternyata Mireu sudah menunggu kedatangannya yang entah sejak kapan.


"Ada apa, ya?" tanya Suncha sedikit ragu.


"Bukankah ini gantungan tas milikmu?" Mireu menunjukkan sebuah gantungan tas berbentuk kepala kucing dengan warna abu-abu, membuat Suncha langsung tersadar dan menoleh ke arah tas miliknya.


"Aiya, benar. Aku baru sadar kalau gantungan tas milikku hilang. Terima kasih sudah mengembalikannya ...," cakap nya sembari membungkukkan badannya beberapa kali.


"Kau pikir aku tidak akan mengembalikannya? Dan, apa kau tidak penasaran dimana aku menemukan gantungan itu?" tanya Mireu sedikit jengkel, lalu disadari olehnya.


"Bu-- Bukan begitu. Tapi, aku juga tidak terlalu ingin tau dimana kau menemukannya."


"Ah, bocah ini? Sepertinya dia bisa ku permainkan," batin Mireu.


Karena tak tahan dengan sikap konyol Suncha terhadapnya, ia pun jadi pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu.


***

__ADS_1


Beberapa hari telah berlalu. Awan yang begitu gelap tampak di langit, menandakan bahwa sebentar lagi hujan akan turun dengan lebat. Merasa dikejar oleh keadaan, Suncha yang belum sempat sarapan itu lantas berlari keluar dari rumah apartemennya.


"Suncha! Sarapan dulu!" teriak Dowon sembari berusaha mengejar Suncha yang telah pergi jauh.


"Huh, sepertinya dia lupa."


Setibanya Suncha di sekolah, dia langsung meletakkan tas punggungnya dan mulai membuka layar ponsel, melihat sebuah pesan yang baru saja masuk.


______________________________________________


Message_By Daddy :


Daddy : Kau belum sarapan!!


Me : Tidak apa, aku khawatir hujan akan segera turun.


Daddy : Baiklah, tapi jangan lupa untuk makan siang di sana.


Me : Siap!


______________________________________________


Setelah obrolan terakhir kalinya dengan Seohoon, ia sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya. Bahkan Boeun bersama dengan dua sejoli nya itu juga sudah mulai berhenti membuat ulah kepadanya.


Tetapi di sisi lain, Suncha juga merasa kehilangan sosok Seohoon yang dirasa cukup kasihan menurutnya. Apalagi dia juga merasa bersalah, karena telah berbicara yang mungkin menyakiti hati lelaki itu.


Kring!!! Bel masuk berbunyi nyaring hingga ke koridor sekolah, banyak anak yang langsung berlarian menuju kelas dan saling menabrak satu sama lain. Kini suasana di lorong mulai ramai dan bahkan sulit dikondisikan.


"Akhirnya tiba juga ..., aku sudah takut akan terlambat ...," lontar Bora yang baru saja tiba di ruangan kelas. Nafasnya yang berantakan membuatnya sedikit sulit untuk berbicara.


"Tumben sekali kau terlambat," sahut Suncha seraya menoleh ke arah sahabatnya itu.


"Aku kesiangan karena semalam begadang hanya untuk menonton serial drakor kesukaanku!" ungkap nya. Bora lantas duduk di kursi dan langsung meletakkan kepalanya di atas meja.


"Oh iya, belakangan ini aku tidak pernah melihatmu bertemu dengan senior Seohoon. Apa kau sedang ribut dengannya?" tanya Bora penasaran, sukses membuat Suncha kebingungan dan tidak dapat berpikir untuk mencari jawaban yang tepat.


"Sebenarnya hubungan ku dengan Seohoon sedang tidak jelas. Dan aku mohon agar kau tidak membicarakan dia denganku lagi, okey?"


"O-- Okey." Bora mengangguk paham.


****

__ADS_1


Waktu berjalan dengan cepat, ketika jam istirahat berlangsung, Suncha dan Bora pergi menuju lapangan sekolah untuk melihat pemandangan di sekitar sana.


Yah, sudah lama dirinya tidak pernah santai menatap halaman sekolah yang begitu luas. Apalagi di saat langit gelap seperti ini yang disertai dengan hembusan angin, tentu dirasakan hawa sejuk pada tubuhnya.


Belum lama keduanya bersantai, Bora tiba-tiba mendapat sebuah panggilan masuk dari Jiyeon. Dengan cepat ia langsung mengangkatnya dan memulai pembicaraan.


"Halo, kenapa?"


"Cepat kembali ke kelas. Ada anggota dari OSIS ingin menyampaikan sesuatu di kelas," jelas Jiyeon.


"Oke."


Panggilan pun diakhir olehnya.


"Apa yang dibicarakan oleh Jiyeon?" tanya Suncha penasaran.


"Ayo ke kelas!"


Belum menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, Bora langsung menarik lengannya dengan keras hingga membuat Suncha terseret ikut bersamanya.


Begitu tiba di ruang kelas, salah satu anggota OSIS itu menyampaikan bahwa akan ada pertandingan bola basket lusa. Ia juga memberikan selebaran poster pada satu-persatu anak di dalam kelas.


"Seohoon? Ternyata selama ini dia sibuk berlatih? Pantas saja tidak menemuiku. Aku kira dia marah karena aku sudah bicara kasar padanya," pikir Suncha dalam hati.


Terlihat sebuah gambar foto Seohoon bersama satu anggota tim basketnya pada selebaran poster tersebut. Kini Suncha baru sadar, bahwa Seohoon adalah salah satu senior dalam kelas basket di sekolahnya.


Berpindah ke Seohoon, dia tampak termenung diam duduk di sebuah balkon lapangan basket. Satu anggota tim nya bahkan terlihat serius dan bersemangat dalam berlatih, namun tidak dengannya.


"Hai, ada apa denganmu?" tanya Minha seraya berjalan mendekati Seohoon.


Apa kakak semua masih ingat dengan tokoh Minha? Di episode sebelumnya, Author pernah menceritakan bahwa Minha Jung adalah teman terdekat Mireu Han. Seorang berandalan sekolah yang banyak ditakuti.


"Aku sedang tidak mood berlatih. Kau berlatih saja dengan yang lain, aku ingin mencari udara segar sebentar," sahutnya.


Seohoon lantas pergi dengan sebuah bola basket di genggamannya. Selama berjalan melewati koridor sekolah, ia menjadi pusat perhatian banyak anak di sekelilingnya. Wajahnya yang tampan dan bersinar tentu memikat hati mereka.


"Huh, apa benar aku dan Suncha akan berakhir sampai di sini?" ucapnya pada diri sendiri. Seohoon duduk di sebuah kursi taman sekolah, dengan kepalanya yang mendongak ke atas serta matanya yang terus memandang awan gelap di langit.


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€

__ADS_1


__ADS_2