
Happy ReadingπΏ
Terlihat halaman rumah sakit yang ramai dengan kendaraan serta orang-orang. Mereka berbondong-bondong bersama keluarganya untuk mengantar salah satu anggota yang sedang sakit.
Bahkan gedung itu tampak sudah tidak kuat lagi menampung para pasien. Dokter dan suster berlarian untuk menangani mereka yang sakit.
Dohyun turun dari taxi setelah dirinya tiba di halaman rumah sakit. Sebelum pergi, lelaki itu sempat meminta si sopir untuk menunggunya hingga ia kembali.
Setelah itu Dohyun langsung berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit, menanyakan dimana ruangan Dowon pada seorang suster yang berjaga di lantai dasar.
Begitu mendapat informasi mengenai ruangan dimana Dowon dirawat, iapun bergegas menuju lantai tersebut, hingga akhirnya berhadapan langsung dengan sosok ayah dari Suncha.
"Paman? Paman sudah sembuh?" tanya Dohyun dengan perasaan senang sekaligus sedih.
Perlahan dirinya mendekati Dowon, lalu melihat keadaan pria itu dari dekat.
"Apa yang terjadi pada Paman?" lanjut tanya nya.
"Paman sudah sembuh. Apa ... kau bisa membantu Paman agar segera pulang hari ini?" Dowon mengenggam erat tangan anak lelaki itu, berharap dia akan menerima permintaannya.
"Jika Paman yang memintanya, aku pasti mau."
Tanpa berlama-lama, Dohyun langsung membantu Dowon untuk berkemas barang. Kemudian ia membawa pria itu menuju lantai dasar untuk meminta surat izin kepulangan.
Setelah mendapat setuju dari suster, keduanya lantas menuju sebuah mobil taxi yang sebelumnya ditumpangi oleh Dohyun.
"Pak, ke apartemen Gonsang," ucap nya pada si pengemudi taxi.
"Baik."
Cukup lama berada diperjalanan, merekapun akhirnya tiba di sebuah gedung apartemen Gonsang. Dohyun membantu Dowon keluar dari dalam taxi, lalu keduanya berjalan memasuki apartemen tersebut.
Setibanya di rumah, Dowon langsung berbaring di ranjang lantaran tak kuasa menahan rasa lemas di tubuhnya.
"Biar ku ambilkan minuman untuk Paman," ujar Dohyun seraya berjalan menuju arah dapur.
Karena setiap ruangan di apartemen tersebut dibuat sama, Dohyun pun jadi tidak perlu bingung dalam mencari ruangan di setiap tempat.
"Ini Paman." Dohyun memeberikan gelas berisi air putih itu pada Dowon.
"Terima kasih."
Saat mendengar suara pintu yang terbuka dengan keras, Dohyun yang penasaran lantas mengeceknya, ia keluar dari rumah apartemen Dowon, dan melihat Suncha tengah berada di depan pintu rumah miliknya.
Flashback off
"Ah, apa Ayah tidak berbohong?" tanya Suncha sedikit ragu, namun pria di hadapannya itu menggeleng dengan serius.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan tidur sekarang."
Suncha berjalan memasuki ruang kamarnya. Merasa lelah, iapun langsung melompat ke atas ranjang, dan kini menikmati sensasi empuk pada kasurnya.
"Apa aku sudah bersalah dengan Dohyun? Aku benar-benar merasa tidak enak padanya," gumam Suncha dengan kepalanya yang diletakkan di atas bantal.
Mungkin karena terlanjur membenci lelaki itu, Suncha jadi berbuat seenaknya tanpa memikirkan perasaan Dohyun. Orang yang dibencinya.
***
Matahari terbit menyambut hari baru, memancarkan sinar cahaya yang mampu menyilaukan mata. Suncha terbangun dari tidur lelapnya, setelah mendengar suara bising yang terjadi di lantai bawah.
Yah, waktu satu minggu skors memang dirasa cukup lama baginya. Membuat Suncha benar-benar rindu menghirup udara segar sekolah.
Tiga puluh menit telah berlalu, dan kini sosoknya telah rapih dengan pakaian serta tas yang menempel pada punggungnya.
Suncha keluar setelah berpamitan pada sang ayah untuk pergi ke sekolah. Yah, mungkin untuk sementara waktu Dowon masih belum bisa bekerja, karena masih belum pulih seutuhnya.
Saat hendak keluar dari gedung apartemen, Suncha dikejutkan oleh Seohoon yang tiba-tiba berada di halaman apartemen tersebut.
Dia pun berlari menghampiri nya yang tampak bengong memandang sekeliling.
"Seohoon!" teriak Suncha, membuat lelaki itu menoleh dan menunjukkan senyum manis di wajahnya.
"Tumben sekali kau datang kemari?" tanya Suncha setelah dirinya berada di hadapan Seohoon.
"Ingin apa?" tanya Suncha heran.
"Ingin datang kemari."
Keduanya perlahan mulai berjalan meninggalkan halaman apartemen tersebut. Kini tujuan mereka adalah gedung sekolah.
Begitu tiba di sekolah, Suncha bersama Seohoon dikejutkan dengan keramaian yang terjadi di area lapangan basket. Merasa penasaran, keduanya lantas berlari menghampiri kerumunan tersebut.
Saat mendekat, Suncha sama sekali tidak percaya dengan apa yang di lihatnya di depan mata. Penampakan sosok mayat seorang siswi SMA JoHang yang berlumuran dengan darah.
Tak lama berselang, seorang guru wanita yang baru saja berangkat langsung menghampiri kerumunan itu. Begitu melihatnya, si guru juga ikut terkejut.
"Kenapa ada mayat di sini?!!" teriaknya dengan histeris.
"Ah, kemari Bu." Seohoon menarik lengan guru itu, membawanya jauh dari tempat kerumunan.
Selang beberapa waktu kemudian, waktu yang telah menunjukkan pukul 07.00 tepat membuat bel sekolah berbunyi.
Para murid sama sekali tidak berlarian menuju kelas mereka seperti biasanya, justru mereka malah heboh melihat mayat siswi yang tergeletak.
Namun karena Suncha adalah anak yang rajin, ia mengajak Seohoon untuk menuju kelas, daripada nantinya mereka akan dihukum karena terlambat masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
"Apa kau melihat wajahnya tadi?" tanya Suncha, ia cukup penasaran dengan sosok mayat itu. Namun lelaki di sebelahnya hanya menggeleng sebagai jawaban.
Suncha duduk di kursinya setelah tiba di ruang kelas. Namun di lihatnya seisi ruangan yang kosong, hanya terdapat beberapa anak saja, termasuk Jiyeon.
"Yang lain kemana?" tanya Suncha seraya berjalan mendekati si ketua kelas.
"Mereka heboh melihat mayat Hana."
Deg?!!!
Seketika Suncha terdiam, begitu mendengar nama seseorang yang terlontar dari mulut gadis di depannya.
Tubuhnya langsung merasa lemas, dan tanpa sadar dirinya pingsan lalu terjatuh ke lantai.
***
Suncha membuka kedua bola matanya, setelah terakhir kali dirinya tak sadar karena mengetahui sosok mayat yang sempat heboh pagi ini.
Di lihatnya, Seohoon yang sedang duduk merenung di sebelah ranjang. Kepalanya tertunduk ke bawah, dan hanya menatap lantai ruang UKS.
"Dimana aku?" tanya Suncha dengan suaranya yang masih terdengar lemas.
"Kau sudah bangun? Syukurlah ... kau ada di UKS karena pingsan tadi pagi," balas Seohoon merasa senang, melihat kekasihnya telah sadar.
"Ini jam berapa?" tanya nya lagi.
"Jam dua siang."
Matanya terbelalak lebar, terkejut dengan ucapan Seohoon barusan. Suncha bahkan tak menyangka kalau dirinya bisa pingsan dalam waktu yang sangat lama.
"Makanlah dulu, kau juga perlu energi," ucap Seohoon seraya memberikan beberapa bungkus makanan pada Suncha.
Namun gadis itu hanya terdiam, menandakan bahwa dirinya tidak ingin makan untuk sementara waktu.
Melihat wajah Suncha yang tampaknya sedih, Seohoon pun mencoba untuk membuat sedikit lelucon, yang mungkin akan disukai olehnya.
"Apa kau tau? Tadi pagi aku tidak sarapan karena makanannya masih mentah."
Yah, sama sekali tidak ada reaksi. Lelucon yang sengaja dibuat dengan asal tidak berhasil membuat Suncha tersenyum, justru dia semakin sedih karena memikirkan Hana.
"Bukankah dia tidak menyukaimu? Kenapa kau harus memikirkannya?" tanya Seohoon dengan jengkel.
"Bagaimanapun juga, Hana adalah temanku. Aku masih merasa bersalah padanya karena sudah membuatnya malu beberapa kali," ungkap Suncha.
"Justru ... aku-lah yang bersalah, karena aku tidak menyelamatkan ia saat itu," ucapnya dalam hati.
π±πππππππππ....
__ADS_1
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ