Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 29 : Karaoke


__ADS_3

Happy Reading 🌿


_____________________________________________


Ketika malam telah menghiasi sepi, serta matahari tergantikan oleh padangnya rembulan, sayup-sayup angin mulai berhembus mendinginkan atmosfer kota.


Suncha berjalan melewati beberapa toko di seberang jalan raya bersama Seohoon. Baru kali ini dirinya memutuskan untuk pulang larut sebelum kembali ke rumah.


Dilihatnya jalanan kota yang padat oleh beberapa kendaraan tertutup.


Asap yang dikeluarkan bahkan tak sedikit, merasakan hawa sesak di dadanya.


"Seohoon, aku ingin bertanya sesuatu ... apa boleh?" Suncha menghentikan langkah kakinya, membuat Seohoon ikut berhenti.


"Katakan saja, aku akan menjawabnya selagi masih bisa menjawab," kata Seohoon.


"Apa kau benar mantan pacar Yuri?" tanya Suncha, membuat Seohoon terkejut oleh pertanyaannya.


"Kenapa tiba-tiba bertanya hal aneh?"


Gadis itu menghela nafasnya dengan kasar, lalu tanpa sadar dirinya memegang kedua pipi si lelaki di hadapannya.


"Jawablah dengan jujur."


"Ya, dia mantan pacarku," balas Seohoon tanpa memasang ekspresi apapun pada wajahnya.


Setelahnya, mereka hanya saling terdiam. Melanjutkan berjalan dan akhirnya tiba di depan sebuah gedung karaoke.


Suncha menarik lengan Seohoon, membawanya masuk menuju gedung karaoke tersebut. Suara lagu dari dalam bangunan besar itu bahkan tak sampai terdengar keluar.


"Pesan satu tempat," ucap Suncha pada seorang wanita yang menerima pesanan tempat dari pengunjung.


Kemudian si wanita itupun memberinya kunci ruangan sesuai permintaan Suncha barusan.


Setelah cukup lama menaiki tangga, keduanya akhirnya tiba di depan sebuah ruangan kosong. Membuka pintu itu dan melihat isi ruangan yang tampak mewah serba lengkap.


"Aku ingin menyanyikan sesuatu untukmu," tutur Suncha seraya meraih sebuah mic yang tergeletak di atas meja.


"Baiklah, aku akan mendengarkan ...."


"Buih-buih ombak melaju deras ... membawamu padaku ... tak akan ada yang bisa ... menandingi cinta kita ... hilangkan rasa bencimu ... mari ciptakan lagu ... dan mulai saling jujur ... tanpa harus ada rahasia lagi ... oh ... oh ... oh ...."


"Hebat juga kau bernyanyi, tapi ngomong-ngomong ... aku baru pernah dengar lagu itu. Kau dapat darimana?" tanya Seohoon dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


"Ah, sebenarnya aku hanya mengarang saja ...," jawabnya cengengesan.


"Hmmm, karena lagi itu, aku jadi ingin jujur dengan kehidupanku," ucap Seohoon dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, mereka saling menikmati minuman beralkohol yang disediakan khusus untuk para pengunjung karaoke di sana.


Seohoon yang sudah terlalu banyak minum lantas menjadi pusing, hampir tak sadar seutuhnya.


"Jika tidak kuat berhentilah," tegur Suncha sedikit khawatir.


Namun lelaki itu tak menggubris ucapannya, dia justru semakin banyak menuangkan minuman dari botol ke dalam gelasnya.

__ADS_1


"Ya sudah, kubiarkan malam ini. Mungkin kau sedang stres ...."


Satu jam telah berlalu. Suasana di kota itu semakin sepi dari kendaraan. Tetapi gedung karaoke yang sebelumnya tidak begitu ramai kini justru semakin ramai oleh para pengunjung.


Suncha yang merasa lelah akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Tapi dengan keadaan Seohoon yang tengah mabuk, ia jadi kewalahan membawanya pulang.


Ketika hendak menaiki taxi, Suncha tak sengaja melihat Mireu bersama dua teman berandalan nya itu keluar dari dalam gedung karaoke yang sama seperti dirinya.


Tetapi, tampak dua sosok gadis yang cukup familiar dimatanya tengah bersama dengan Mireu. Karena tak ingin bersangkutan dengan anak itu, Suncha dengan cepat menaiki taxi untuk menghindar dari mereka.


"Ayo Pak, jalan."


Taxi yang dikemudi oleh seorang pria setengah baya itu pun mulai melaju. Meninggalkan area gedung karaoke, dan semakin jauh dari kumpulan tiga anak berandal.


"Nak, kau masih pelajar, kan?" tanya sang sopir tiba-tiba.


"Iya, ada apa?" tanya Suncha sedikit heran.


"Jangan sering pulang larut begini, apalagi dengan anak laki-laki di sebelahmu. Kelakukan mu sangat tidak baik," terang nya.


Membuat Suncha terdiam dan berpikir sejenak, "Memang, sejak pindah ke Gangnam ... sepertinya aku jadi anak yang cukup nakal?"


"Nak, yang tadi tertawa di luar itu, teman-teman mu juga? Soalnya saya melihat mereka memakai seragam yang sama denganmu," tanya si pengemudi taxi kembali.


"Ah, i-- iya. Tapi saya tidak terlalu dekat dengan mereka."


"Oh, begitu?"


Setelah cukup lama berada diperjalanan, mereka pun akhirnya tiba di depan sebuah apartemen besar. Yah, itu adalah apartemen dimana Seohoon tinggal, apartemen Danhan.


Suncha turun dengan Seohoon yang berdiri bertumpu pada pundaknya. Orang mabuk tidak pernah tidak menyusahkan. Atau yang lebih jelas, mereka selalu menyusahkan.


Suncha melangkah masuk ke dalam gedung apartemen, menaiki lift yang di dalamnya terdapat banyak orang hendak menuju ke lantai yang sama.


Tatapan orang-orang itu tertuju pada Suncha yang tengah membawa Seohoon. Apalagi dengan bau alkohol yang menyengat di tubuh mereka.


"Kau itu perempuan, jaga dirimu baik-baik," sosor seorang wanita yang berada di balik tubuh Suncha, membuatnya menoleh ke belakang.


"I-- Iya, maaf."


"Kau sekolah di SMA JoHang?" tanya wanita itu. Lalu dibalas anggukan pelan olehnya.


Setibanya di lantai tujuan, Suncha dengan langkah kaki yang tergesa-gesa itu menuju rumah apartemen nomor dua puluh dua.


"Sial, pintunya saja pakai kode?" kesal Suncha. Dia beberapa kali mencoba menekan tombol pintu dengan asal, tapi hasilnya nihil karena pintu itu masih tidak dapat terbuka.


"Seohoon, berada kodenya?" tanya Suncha.


"09800760054003201."


"Apa?!! Jangan bercanda! Panjang sekali?!!"


"Aku tidak bercanda, cobalah dulu," ungkap nya dengan suara yang hampir tenggelam.


"Bacakan ulang, aku akan menekannya kembali."

__ADS_1


Kemudian Seohoon pun membacakan kode pintu rumahnya dengan perlahan, dengan diikuti Suncha.


Setelah berhasil, Suncha lekas masuk ke dalam rumah tersebut. Aroma wangi dihirup nya ketika baru menginjakkan kaki di bagian ruang tamu. Desain mewah juga tampak terlihat di setiap sudut ruangan.


"Pasti mahal ...."


"Seohoon, dimana kamarmu? Kenapa ada lima buah kamar di sini? Banyak sekali ...," tanya Suncha kebingungan.


"Itu," balasnya dengan menunjuk sebuah pintu yang tertutup rapat.


Begitu membuka pintu ruang kamar, Suncha terkejut lantaran tempat yang dilihatnya di depan mata sangatlah luas. Disertai benda pendingin ruangan dan beberapa perlengkapan yang selalu dibutuhkan sehari-harinya.


Dia membaringkan tubuh Seohoon ke atas ranjang. Lalu membaluti nya dengan sebuah selimut yang cukup tebal.


"Suncha, jangan pergi ...." Lelaki itu dengan erat menggenggam tangan Suncha, tidak memperbolehkannya untuk pergi.


"Tapi ini sudah malam, aku harus pulang. Atau ayahku akan mencariku lagi."


"Aku senang karena kita akhirnya bisa bertemu lagi ...."


Suncha terdiam, tak mengerti apa maksud perkataan lelaki yang tengah mabuk itu.


"Apa maksudmu?" tanya Suncha heran.


"Sudah lama sejak sebelas tahun lalu, aku menunggumu. Akhirnya aku bisa melihatmu yang kini sudah dewasa ... Suncha, jangan pergi."


"Ini bocah ngomong apa?" pikir Suncha dalam hatinya.


"Huh, kau kebanyakan mengigau. Tidurlah," ucap Suncha dengan tenang. Tetapi Seohoon masih saja menggenggam erat tangan kanannya itu.


"Mungkin aku hubungi ayah saja, bilang kalau hari ini menginap dirumah teman?" gumamnya seraya meraih ponsel dari dalam tas.


_______________________________


Message*


By : Me


To : Daddy


Me : Ayah, hari ini aku menginap dirumah teman, ya?


Daddy : Dimana?


Me : Dirumah teman.


Daddy : Maksud Ayah lokasinya.


Me : Apartemen Danhan.


Daddy : Baik, jaga dirimu ya. Besok libur, tapi kau harus pulang ke rumah agak pagi.


Me : Oke, aku mengerti.


______________________________

__ADS_1


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2