
Happy ReadingπΏ
_____________________________________________
Ketika Suncha masih asyik dengan ponsel yang dimainkannya, Dowon tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarnya, membuat Suncha terkejut sekaligus heran.
Gadis itu membenarkan postur tubuhnya, duduk di tepi ranjang seraya menatap sang ayah yang tengah memandangnya dengan sorot mata yang tampak mengerikan.
"Ayah, kenapa?" tanya Suncha penasaran, lantas sang ayah dengan cepat langsung menunjukkan sebuah video yang sempat beredar di sekolahnya tadi siang.
Tentu, membuat Suncha panik dan gelisah. Mulutnya itu bergeming tak berani berbicara, terasa beku dan berat untuk digerakkan.
"Siapa lelaki itu?" tanya Dowon tegas.
"I-- Itu, dia senior. Ayah, percayalah ... ini hanya kejadian yang tak disengaja!" sanggah nya berusaha meyakinkan sang ayah.
"Ayah, aku yakin kalau Ayah tidak akan marah padaku. Ayah adalah orang yang paling mempercayai ku. Percayalah, kalau itu hanya masalah yang tak disengaja."
Dowon menghela nafasnya dengan kasar, memandang wajah Suncha yang dirasa menyedihkan.
"Jadi, itu alasan kenapa kau tampak sedih tadi?" tanya Dowon memastikan dengan hal sebelumnya, ketika Suncha tampak murung saat kembali dari sekolah.
"Itu lain lagi."
"Jika ada masalah, ceritakan saja pada Ayah. Ayah akan setia mendengar cerita dari anak Ayah yang cantik ini," tuturnya dengan senyum lebar yang terukir pada wajahnya yang masih tampak muda itu, lantas Suncha mengangguk dan menanggapinya dengan senyuman yang serupa.
***
Langit cerah menyambut hari berikutnya, serta cahaya mentari yang menerangi setiap sudut kamar Suncha yang masih belum tertata dengan rapih. Kicauan burung diatas pohon terdengar merdu di telinganya, sukses membuat Suncha terbangun dengan kedua bola mata yang masih terasa berat untuk terbuka.
"Hoam ...." Suncha menguap kantuk, ditatap nya sebuah jarum jam yang telah menunjukkan pukul 07.14.
Sontak Suncha menjadi terkaget panik, dia berlari menuju kamar mandi dan mulai menyiram tubuhnya dengan air hangat yang keluar dari shower.
Setelah beberapa waktu kemudian, Suncha akhirnya telah siap dengan seragam yang telah ia kenakan. Wajahnya yang telah cantik dirias oleh make up itu tampak bersinar, membuat siapa saja merasa nyaman ketika menatapnya.
Dua puluh menit ia gunakan untuk berjalan kaki menuju sekolah, dan kini ia pun akhirnya tiba di halaman sekolah dengan nafas yang cukup berantakan. Di hari keempatnya hadir ke sekolah, dia sudah terlambat dua kali. Suncha sendiri merasa kesal dengan dirinya yang selalu terlambat hadir.
"Permisi," ucapnya ketika memasuki ruang kelas yang terlihat penuh oleh orang-orang. Untung saja dia masih bisa selamat saat berada di gerbang, lantaran si satpam sedang tidak berada di area halaman sekolah.
"Kau masih aman, karena guru tidak hadir pagi ini. Dia hanya memberi tugas," kata Jiyeon seraya mendekati Suncha yang telah berada di bangkunya. Dia memberikan selembar kertas padanya, lalu menyuruhnya untuk segera mengerjakan tugas.
__ADS_1
"Maaf, aku kesiangan lagi."
"Hem ...."
"Dimana Bora?" tanya Suncha setelah menyadari bahwa sahabatnya itu tidak berada di dalam ruangan.
"Dia sedang sakit," jawabnya singkat seraya berjalan kembali menuju bangku miliknya.
Waktu pelajaran selesai dengan cepat. Setelah Bel istirahat pertama berbunyi, seluruh anak di ruangan kelas 10-2 langsung berlarian menuju kantin, mereka berebut tempat duduk untuk makan siang.
Kini hanya tersisa Suncha seorang di dalam ruang kelas, tak ada teman untuknya. Apalagi setelah kejadian kemarin, dia jadi merasa malu dan tidak ingin berhadapan langsung dengan anak-anak di sekolah.
Tak lama berselang, suara langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arahnya. Setelah menoleh, pintu kelas tiba-tiba terbuka, dan terlihat seseorang yang tak lain adalah Seohoon.
"Kau?" Suncha menunjuknya.
"Ayo, kita istirahat bersama," ajaknya dengan tangan yang diletakkan pada dada bidangnya.
"Apa tidak masalah?" tanya Suncha sedikit gelisah, namun hanya dibalas anggukan oleh Seohoon.
Keduanya pun akhrinya berjalan menuju kantin. Sepasang mata terus tertuju pada mereka, terutama pada Suncha. Mereka para anak perempuan tidak menyukai kedatangannya di sekolah tersebut, lantaran dianggap merebut hati Seohoon.
Tapi tiba-tiba ...
Grek! Suncha yang baru saja duduk itu merasakan sensasi yang aneh pada kursi yang tengah di duduki olehnya. Merasa ragu, Suncha pun akhirnya berdiri.
"Kenapa?" tanya Seohoon penasaran mengapa Suncha tiba-tiba bangkit dari kursinya.
"Ah, a-- apa ini?" tanya nya pada diri sendiri.
Seluruh anak lantas menatapnya, lagi-lagi ia menjadi pusat perhatian para murid lain. Dengan perasaan malu, Suncha berlari meninggalkan kantin dengan sebuah noda yang menempel pada rok seragamnya itu.
"Hahaha!!! Lihat, apa dia kedatangan tamu bulanan?" lontar salah seorang gadis seraya menunjuk kepergian Suncha.
Sebagai lelaki yang tidak peka, Seohoon hanya melongo dan tidak mengerti maksud dari perkataan gadis tersebut.
Merasa khawatir dengan Suncha, lelaki itu akhirnya berlari menyusulnya. Hingga akhirnya dia tiba di toilet khusus wanita.
"Suncha? Ada apa?" tanya Seohoon seraya mengetuk pintu toilet.
"Ka-- Kau, kau pergi saja. A-- Aku, aku baik," jawabnya dari balik pintu.
__ADS_1
"Tidak, aku akan menunggumu di sini."
Srekk ...
Suncha membuka pintu toiletnya, dia menggengam erat rok bagian belakang. Seohoon yang merasa penasaran pun mengintip dan kini melihat sebuah noda yang menempel.
"Kau ...." Suncha menggeleng, dia perlahan mundur dari lelaki di hadapannya itu.
"Sepertinya ada yang sengaja menyiram saus tomat di kursi yang ku duduki tadi," sambungnya.
"Sebentar."
Seohoon berlari pergi meninggalkan Suncha. Entah apa yang akan dilakukannya pun Suncha tidak tau.
Sementara itu, Boeun bersama dengan dua sejoli nya terlihat sedang melewati pintu toilet. Mereka tertawa lepas dengan obrolan yang menyertainya.
"Haha!! Bagaimana rasanya?" tanya Boeun seraya menghentikan langkah kakinya, membuat Hana dan Sojun ikut terhenti.
"Aku puas sekali!" balas Hana sedikit geram.
"Sayang sekali, aku tidak melihat bagaimana ekspresi wajahnya tadi," timpal Sojun.
"Itu tidak penting, yang terpenting dia pasti malu!! Haha!!" Ketiganya kembali terkekek tawa, membuat Suncha yang mendengar obrolan mereka menjadi kesal.
Saat hendak keluar dari toilet untuk memukul Boeun, namun ketiga orang tersebut telah berjalan pergi dan membuat Suncha menghentikan niat buruknya.
"Padahal sejak awal aku melakukan ini juga demi Seohoon. Apa aku harus melepaskannya saja? Jujur, aku sangat kesal karena dia!" gumam Suncha.
***
Setelah cukup lama terdiam di dalam toilet, Seohoon pun akhirnya kembali dengan tangan yang terlihat membawa hoodie. Dia langsung memakaikan hoodie miliknya pada Suncha.
"Aku ingin bicara," kata Suncha tiba-tiba.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Seohoon. Wajah dinginnya itu kembali di tampakkan pada Suncha.
"Ayo kita akhiri hubungan ini saja. Aku sudah tidak kuat lagi. Karenamu ... aku jadi sering terkena masalah."
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ
__ADS_1