
Happy Reading 🌿
___________________________________________
Bintang ber gemerlap tampak menghiasi langit malam, suhu udara di kota itu semakin dingin setara dengan angin berhembus. Beberapa kendaraan masih terlihat padat memenuhi jalanan.
Suncha membuka pintu rumah apartemennya setelah menghabiskan waktu bermain di tempat game. Yah, hobinya sekarang mungkin adalah bermain video game.
Ia merebahkan kepalanya di sofa ruang tengah, perlahan menutup matanya dan merasakan sensasi nyaman di tempat itu.
Namun baru beberapa saat dirinya bersantai, Dowon tiba-tiba pulang dan sukses membuatnya terkejut setengah mati.
Apalagi ayahnya itu membuka pintu rumah dengan keras, hingga menciptakan suara berisik.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Dowon bersemangat, kemudian meletakkan tas miliknya di atas meja.
"Huh, aku mendapat peringkat dua dengan selisih lima puluh poin. Jiyeon yang mengalahkan ku," balasnya cemberut.
"Baiklah, tidak apa. Lagipula kau juga sudah berusaha dalam menyiapkan ujian kemarin, dan hasilnya sangat memuaskan," tutur Dowon pelan.
Karena perut Suncha yang tiba-tiba berbunyi menandakan lapar, Dowon lekas bangkit dari sofa tersebut. Langkah kakinya itu berjalan menuju ruangan dapur untuk membuat makanan.
"Kau mau makan malam dengan apa?" tanya nya sedikit berteriak.
"Ayah tidak perlu masak. Aku ingin makan di luar saja," ucap Suncha, lantas ia langsung pergi meninggalkan rumah apartemennya.
"Huh dasar gadis itu!"
***
Suncha berjalan melewati beberapa toko makanan di seberang jalan. Namun diantara banyaknya toko di sana, Suncha sama sekali tidak tertarik dengan makanannya.
Hingga akhirnya, gadis itu tak sengaja melihat Chaeri yang tampaknya sedang makan malam bersama seorang pria.
Meskipun merasa penasaran untuk mendekatinya, tetapi Suncha tidak berani jika harus mendekat hanya karena rasa penasaran dalam dirinya.
Iapun membalikkan badan, dan kini melihat sebuah toko kue di seberang jalan.
Dengan perlahan, Suncha mencoba untuk menyeberangi jalanan yang ramai oleh kendaraan itu. Namun usahanya gagal lantaran tidak ada celah baginya untuk bisa menyeberang.
Setelah cukup lama berdiri di sana, seseorang tiba-tiba meraih tangannya. Seketika gadis itu dibuat terkejut dengan sosok Seohoon yang kini sudah berada di sebelahnya.
"Biar ku bantu," ucapnya tanpa menoleh ke arah Suncha.
"Sejak kapan kau di sini?"
"Sudah hampir satu jam yang lalu."
__ADS_1
Keduanya perlahan mulai menyeberangi jalan, melewati beberapa kendaraan yang menggunakan kecepatan sedang.
"Terima kasih," ucap Suncha seraya tersenyum lebar.
"Kau ingin kemana?" tanya Seohoon penasaran.
"Aku lapar, tapi aku lihat tidak ada makanan yang enak di sana." Suncha menunjuk beberapa toko yang berada di seberang jalan.
"Kenapa tidak ikut makan denganku saja?" tanya Seohoon, lantas membuat Suncha menjadi keheranan.
"Kau makan dimana?"
Seohoon menunjuk tempat dimana dirinya tengah makan bersama Chaeri. Tentu saja, membuat gadis di hadapannya jadi tambah bingung.
"Sendirian?"
"Tidak, aku bersama kakakku."
Terlihat, bahwa Chaeri mengangkat sebelah tangannya dan melambai ke arah Suncha.
Masih dengan rasa bingung, Suncha bersama Seohoon kembali menyeberangi jalanan. Setelah berhasil melewati lalu lintas yang padat itu, keduanya pun mendekati sebuah toko makanan daging babi.
"Hai, kita bertemu lagi," sapa Chaeri, membuat Suncha terdiam bengong.
"Kau pasti kaget mengetahui kalau kami adalah kakak adik," ucapnya sambil tersenyum lebar.
Kini ke-tiga orang tersebut duduk berhadapan. Seohoon memesan satu porsi daging babi lagi untuk di berikannya pada Suncha.
Setelah makanan itu dihidangkan, mereka jadi bisa menikmati makan malam yang sebelumnya belum pernah dilakukan bersama.
Mungkin malam itu adalah malam paling mengejutkan bagi Suncha, lantaran dirinya baru mengetahui sosok kakak dari sang kekasih, yang ternyata sebelumnya sudah pernah ia temui.
Waktu yang terus berjalan membawa keduanya kembali ke rumah masing-masing. Namun sayang, Suncha harus pulang seorang diri karena Seohoon sedang ada urusan yang harus diselesaikan bersama kakaknya.
Ketika masuk ke dalam gedung apartemen, gadis itu dikejutkan oleh Mireu bersama Muinha dan Hayoon yang tengah berdiri di lantai dasar.
Dengan langkahnya yang pelan, ia berusaha masuk ke dalam lift tanpa harus ketahuan oleh mereka.
Tetapi ditengah-tengah dirinya hendak masuk ke dalam lift, seorang pria setengah baya memanggilnya dari arah pintu masuk apartemen.
Tentu membuat Mireu dan dua temannya itu reflek menoleh ke arah Suncha.
"Nak, tolong bantu saya membawa ini," ucapnya pada Suncha yang masih berdiri di depan pintu lift.
"Ah, i-- iya."
Dirinya berjalan menghampiri si pria, dan membawakan beberapa barang yang cukup berat.
__ADS_1
Melihat hal itu, Mireu yang sebelumnya hanya tersenyum lantas ikut membantu membawakan barangnya, hingga membuat Suncha menjadi heran.
"Biarkan ku bantu," papar Mireu.
"Hemm ...."
"Ternyata anak jaman sekarang masih ada yang baik juga," kata pria itu seraya menampakkan senyum di wajahnya.
"Aku membantumu juga karena Suncha, dasar pria tua!" kesal Mireu dalam hati.
Merekapun masuk ke dalam lift yang tampak kosong, dan akhirnya tiba di lantai tujuan. Pria setengah baya dengan beberapa barangnya masuk ke dalam rumah apartemen.
Dan kini hanya tersisa Suncha bersama Mireu yang masih berdiri di depan pintu rumah. Keduanya saling terdiam karena canggung.
Hingga terlihat Minha bersama Hayoon yang tiba-tiba datang ke lantai yang sama dengan mereka.
Tampaknya dua lelaki itu sedang merahasiakan sesuatu, karena terlihat dari ekspresi wajah yang sejak tadi menahan tawa kecil.
"Ada apa?" tanya Suncha berusaha mencairkan suasana.
"Aku ingin bicara dengamu," jawab Mireu singkat.
"Tapi aku harus segera pulang," ungkapnya sedikit merasa tidak enak.
"Aku sudah menunggumu sejak empat puluh menit yang lalu. Dan sekarang ... kau malah tidak mau berbicara denganku. Sungguh mengecewakan."
Suncha terdiam, ingin rasanya menolak sekali lagi dengan ajakan lelaki itu, namun hatinya terasa berat untuk meninggalkannya.
"Baiklah, mau bicara dimana?" tanya Suncha, lantas lelaki itu langsung menarik lengannya, membawanya masuk ke dalam lift dan meninggalkan Minha bersama Hayoon.
"Hah, dia meninggalkan kita ya?" ucap Hayoon dengan jengkel, lalu dibalas anggukan oleh Minha.
Selama berada di dalam lift, hati Suncha rasanya berdebar begitu kencang, mungkin karena sudah lama dirinya tidak pernah bertemu dengan sosok si berandalan sekolah.
Tibalah keduanya di lantai dasar apartemen tersebut. Tempat yang cukup sepi membuat gadis itu sedikit khawatir, karena posisinya sekarang dirasa kurang aman.
Mireu membawa Suncha ke sebuah taman yang tak jauh dari area apartemen. Terlihat beberapa lampu yang menyala terang, bisa dibilang cukup romantis.
Tetapi Suncha masih cukup penasaran dengan sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Mireu, hingga membawanya ke tempat ini.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Ini cukup penting, dan menyangkut nyawa temanmu."
Suncha terdiam bengong, memikirkan siapa nyawa teman yang dimaksud oleh Mireu.
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Dowon tiba-tiba memanggil Suncha dari dalam gedung apartemen, membuat gadis itu terpaksa harus meninggalkan Mireu di obrolan yang cukup penting.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
__ADS_1
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🌿