
Happy ReadingπΏ
____________________________________________
Matahari telah berada di puncaknya, menciptakan suhu panas di kota itu. Setelah berjalan cukup lama, Mireu bersama Boeun akhirnya tiba di sebuah gedung besar.
Dilihat dari luarnya, Boeun sudah tak asing lagi dengan bangunan tersebut. Namun Hana, dirinya bahkan tampak melongo kebingungan.
"Ayo masuk, jika terus diluar saja kita bisa dilihat orang lain," ajak Mireu seraya berjalan masuk ke dalam gedung karaoke.
Karena masih mengenakan seragam sekolah, tentu harus bisa berhati-hati agar tidak ada siapapun yang melihat keberadaan mereka.
Begitu masuk, Mireu langsung memesan satu tempat untuk mereka bersenang-senang. Didalam ruangannya komplit dengan mic, salon, lampu berwarna-warni serta minuman beralkohol.
"Siapa yang pertama ingin menyanyi?" Hayoon mengacungkan mic di tangannya, menatap ke-empat anak yang tengah duduk.
"Hei! Tujuan awal aku kemari kan karena ingin mendapatkan Seohoon, kenapa jadi begini?" sela Boeun meninggikan nada bicaranya, sukses membuat tiga berandalan itu tercengang.
"Berani kau?" Mireu mengambil sebotol minuman beralkohol, meminumkan paksa pada gadis itu.
"Hmmppp!!!"
"Hai! Apa yang Kakak lakukan pada Boeun?" tanya Hana dengan berteriak, melihat si sahabatnya diperlakukan kejam oleh Mireu.
"Kau mau juga?" timpal Minha, menatap Hana dengan tersenyum lebar.
"Ti-- Tidak, aku harus pergi."
Hana bergegas mengambil tas ranselnya yang sempat ia letakan di atas sofa, kali ini dirinya tak perduli dengan Boeun. Yang terpenting adalah menyelamatkan dirinya sendiri.
"Mau kemana kau?" teriak Hayoon, lantas berlari menuju pintu keluar masuk ruangan tersebut.
Lelaki itu langsung mengunci pintu ruangan karaoke. Membuat Hana tak dapat kemana-mana lagi.
"Sial, Hana ingin meninggalkan ku disini?" geram Boeun dalam hati.
Kini ke-tiga anak berandalan itu menikmati segelas minuman beralkohol, serta meminumkan paksa pada dua gadis yang tengah bersama mereka.
***
Suasana kantin yang telah ramai dipenuhi oleh para murid lain membuat Suncha kebingungan untuk menikmati makanan.
Tangannya memegang nampan penuh berisi junkfood serta minuman bersoda. Tak jauh dari area kantin, Seohoon yang melihat Suncha lantas berlari menghampirinya.
"Kenapa berdiri saja?" tanya Seohoon setelah tiba di sebelah gadis itu, sontak mampu mengejutkannya.
"Kursinya sudah penuh, aku tidak tau harus duduk dimana," sahutnya dengan mata yang memandang setiap sudut ruangan kantin.
"Ikut denganku saja, kita makan di lapangan basket." Suncha termangap kaget, mendengar ajakan dari Seohoon yang dirasa cukup aneh menurutnya.
__ADS_1
"Yang benar saja, lapangan itu tempat berolahraga, bukan untuk makan," kesal Suncha.
Saat keduanya saling terdiam, Suncha tiba-tiba merasakan sakit pada perutnya. Membuat makanan yang berada di tangannya itu terjatuh ke lantai.
Crankk!!
Suara yang berbunyi cukup nyaring karena berada di dalam ruangan tertutup sukses memikat perhatian para pengunjung kantin. Mereka menatap kaget ke arah sepasang kekasih itu.
Karena hanya ada dua orang, beberapa dari mereka mengira kalau Seohoon baru saja menyakiti Suncha.
"Kenapa?" tanya Seohoon panik kalang kabut.
"Pe-- Perutku ... sakit," tuturnya lirih.
Tanpa berpikir panjang, Seohoon sebagai lelaki itu lekas menggendong Suncha. Membawanya ke sebuah ruangan dimana ia bisa beristirahat.
Kriett ...
Pintu ruang UKS terbuka, dilihatnya hanya ada beberapa peralatan penuh serta obat-obatan. Bahkan tidak ada siapapun di dalam sana.
Suncha berbaring di atas sebuah kasur. Menahan rasa sakit pada perutnya itu, membuka mata saja terasa berat baginya.
"Biar ku panggilkan guru kesehatan," ujar Seohoon seraya berjalan menuju pintu masuk.
Tapi Suncha yang tiba-tiba memanggil namanya itu membuat langkah kakinya terhenti, dan ia kembali ke sisi kasur.
"Kenapa?" tanya Seohoon cemas. Nampaknya gadis itu hanya menggeleng, tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya.
Tak lama berselang, pintu ruang UKS tiba-tiba terbuka, seorang guru kesehatan masuk dan melihat posisi kedua murid di hadapannya, membuat sang guru terkejut heran.
"Sedang apa kalian?!!" tanya nya dengan tegas, sontak membuat mereka saling berjauhan.
"Ti-- Tidak, saya hanya-- "
"Huh, padahal aku kemari karena ada murid yang memberitahu kalau Suncha sakit. Tapi setelah aku lihat, sepertinya kau tidak sakit?" jelas si guru, dia menunjuk ke arah Suncha.
"Ya-- Yah, saya hanya sakit perut. Sepertinya sedang datang tamu," ungkapnya dengan suara lirih, ia tak ingin lelaki di sebelahnya itu mendengar ucapannya barusan.
"Oh, ternyata begitu?"
Seohoon tampak terdiam bingung, berdiri di sebelah Suncha yang masih terbaring di atas kasur.
"Datang tamu?" gumam Seohoon kebingungan.
"Kau keluar dulu, ini masalah perempuan," perintah guru kesehatan, menyuruh Seohoon untuk keluar dari dalam ruang UKS.
"Baik."
***
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, Suncha akhirnya keluar dari dalam ruangan. Wajahnya tampak manahan rasa malu pada Seohoon yang sejak tadi menunggunya di lorong UKS.
"Tadi, kenapa?" tanya lelaki itu.
Langkah kaki keduanya berjalan tanpa arah. Dipandang sinis oleh beberapa murid yang menyukai Seohoon, lantaran iri dengan posisi Suncha saat ini.
"Tidak apa-apa," balas Suncha tanpa memandang wajah lelaki di sebelahnya.
"Tidak apa-apa apanya?!!"
"Inikan urusan perempuan, kenapa kau penasaran sekali?" cibir Suncha sedikit kesal.
Kini mereka akhirnya tiba di lapangan basket. Cahaya matahari terasa panas menempel di kulit mereka.
"Tadi belum sempat makan, ingin kubelikan makanan?" tawar Seohoon.
"Mmm, baiklah."
Seohoon menuju kantin, tampak beberapa anak yang memandangnya dengan pandangan mesum. Membuatnya merasa jijik dan lekas berlari menuju kantin.
Setibanya di tempat tujuan, lelaki itu membeli beberapa makanan. Namun tidak seperti yang sebelumnya di beli oleh Suncha. Dirinya hanya membeli sandwich berisi daging dan saus pedas, serta susu sebagai pendamping.
Begitu usai membeli makanan, Seohoon pun kembali ke lapangan basket. Menghampiri Suncha yang tengah duduk dengan wajah cantiknya yang terkena pancaran sinar matahari.
"Ini."
Seohoon memberikan sebagian makanannya pada Suncha, lalu dirinya memakan yang sebagiannya lagi.
Siang itu mereka habiskan dengan menyantap menu makanan yang sama. Saling bercanda gurau sampai tak sadar bahwa bel masuk sudah berbunyi cukup lama.
"Jam berapa ini?" tanya Suncha menatap pada jam tangannya.
Dilihatnya waktu yang telah menunjukkan pukul 13.22, sukses mengejutkan kedua anak tersebut.
"Memangnya bel masuk sudah berbunyi?" tanya Seohoon kaget.
"Ayolah, kembali ke kelas."
***
Sementara itu, Boeun tengah duduk di sofa tempat karaoke bersama Hana dan tiga berandalan sekolah.
Kepalanya merasakan pusing yang berat, bahkan sesekali dia tidak sadar. Tubuhnya juga dirasa lemas, sulit menyeimbangkan badan ketika berdiri.
"Hai, ayo minum lagi!" ajak Mireu, dia memeberikan sebotol minuman pada dua temannya.
"Apa tidak masalah dengan mereka?" tanya Minha sedikit khawatir dengan kondisi Boeun dan Hana saat ini.
"Biarkan saja. Lagipula mereka yang setuju untuk datang kemari," jawabnya tanpa merasa takut sedikitpun.
__ADS_1
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ