Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 7 : Masa Lalu Suncha


__ADS_3

Happy Reading🌿


_____________________________________________


Flasback off


Satu tahun yang lalu, ketika Suncha masih duduk di bangku kelas dua SMP, Seoul. Dia adalah satu-satunya gadis tercantik di sekolah, sekaligus menjadi gadis yang paling populer.


Suatu ketika, Suncha terlihat tengah duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu lama di area danau. Matanya menatap langit sore yang tampak indah, batu-batu di lempar nya ke danau seraya beteriak keras.


"Ibu!!! Aku rindu padamu!!!"


Setiap sepulang sekolah, Suncha selalu melakukan hal yang serupa dengan sore itu. Dia tidak bisa melupakan sosok ibu yang telah tiada beberapa tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan pesawat.


"Hiks … hiks …, aku ingin sekali bertemu dengan ibu."


"Ada apa dengan ibumu?" tanya seseorang secara tiba-tiba. Suaranya begitu asing di telinga Suncha, membuatnya menoleh. Dan kini ia melihat wajah siapa yang baru saja berbicara.


"Apa ibumu sudah pergi?" tanya anak lelaki itu lagi. Yah, dia mengenakan seragam yang berbeda dengan Suncha, namun wajahnya tampak seumuran dengannya.


"Kenapa diam? Apa kau takut?"


Anak itu duduk di sebelahnya, lalu menggenggam tangan Suncha dengan erat.


"Namaku Dohyun Kim. Aku bersekolah di SMP Inseo Worae," ucapnya memperkenalkan diri. Lantas Suncha membalasnya dengan tersenyum.


"Suncha Choe. Itu namaku."


"Apa aku boleh bertanya?" Suncha menggangguk.


"Dimana ibumu?" tanya Dohyun.


"Dia … sudah tidak ada. Aku benar-benar merindukannya," ungkap Suncha, air matanya kembali menetes dan membuat Dohyun jadi merasa bersalah.


"Kalau begitu, biar aku yang selalu menemanimu agar kau tidak merasa sedih lagi."


"Hiks … hiks … a– aku, aku sangat sedih. Aku tidak bisa melupakan ibu … hiks …," ucapnya dengan terisak tangis.


"Kalau begitu, tenanglah. Jika kau merasa sedih, kau bisa berteriak dan melempar batu kapan saja ke dalam air itu."


"I– iya, aku selalu melakukannya.Tapi sama sekali tidak ada yang berubah. Bahkan ibuku saja tidak bisa kembali lagi."


"Siapa yang mengajari anak ini?" batin Dohyun seraya menahan tawanya.


Sejak pertemuan pertamanya saat itu, mereka jadi sering bertemu di danau setelah pulang sekolah. Hingga pada suatu hari, Dohyun menjemput Suncha di sekolahnya. Beberapa murid di buat heboh dengan kedatangan siswa dari sekolah lain hanya untuk menjemput Suncha seorang.


"Dia tampan sekali, apa dia dari sekolah lain?"


"Wah gila! Dia siapa?"

__ADS_1


"Kenapa ada anak setampan itu di sekolah kita? Tapi seragamnya bukan dari sini."


Berbagai kaguman terlontar dari para murid, terutama para kaum wanita yang suka mengidamkan lelaki tampan menjadi pendamping hidup mereka.


"Suncha, ayo pulang!" teriak Dohyun dengan tangan yang melambai ke atas.


Suncha yang melihatnya juga dibuat kaget dengan kedatangan Dohyun yang tiba-tiba. Bahkan dia sendiri tidak menyangka kalau lelaki itu akan menjemputnya pulang sekolah.


Selama diperjalanan pulang, mereka saling mengobrol panjang. Benda atau bahkan pemandangan yang baru saja mereka lihat pun dibuat obrolan.


"Suncha."


"Ya??"


"Aku ingin bicara serius denganmu," kata Dohyun seraya menatap wajah Suncha. Langkah kaki mereka lantas terhenti karena perkataan Dohyun.


"Apa?"


"Aku menyukaimu. Ayo kita berpacaran," ucapnya mampu mengejutkan Suncha. Pipinya itu memerah dan membuatnya jadi salah tingkah.


"Ke– Kenapa? Aku kan jelek!" sanggah nya.


"Kau sangat cantik, bahkan melebihi apapun di dunia ini."


"Apa kau serius?" tanya Suncha, lalu Dohyun mengangguk sebagai jawaban.


"Terima kasih …."


Hari demi hari mereka lalui dengan baik. Hampir menginjak satu tahun hubungan mereka, Dohyun dengan wajah lemas itu tiba-tiba datang menghampiri Suncha di rumahnya.


Kala itu sekolah sedang libur musim panas. Mereka sebagai seorang kekasih memang seharusnya menghabiskan waktu bersama. Apalagi Dowon yang sudah lama tidak menghabiskan banyak waktu untuk anaknya, membuat Suncha menjadi kesepian.


"Ayo masuk," ajak Suncha mempersilahkan Dohyun untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Tidak, aku di sini saja."


"Kenapa?"


"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu…."


Tampak senyuman kecil yang terukir di wajah cantik Suncha, dia sudah memikirkan hal yang akan dibicarakan oleh kekasihnya.


"Kita berhenti sampai di sini saja," tutur Dohyun, sontak benar saja apa yang ada di dalam benaknya itu.


"Ke– Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Suncha merasa bingung. Dia tak habis pikir dengan keputusan Dohyun yang dirasa cukup aneh, karena selama ini menjalin hubungan, mereka tidak pernah sekalipun bertengkar atau ada kesalahpahaman.


"Kehadiranmu dalam hidupku. Itu salahmu!" jawab Dohyun tanpa memandang wajah Suncha sedikitpun.


"Apa maksudmu?" tanya Suncha masih tidak mengerti.

__ADS_1


"Sudahlah! Aku membencimu!! Seharusnya kita tidak berpacaran sejak awal, kau seharusnya tidak menerimaku!!!"


Belum sempat menjawab, Dohyun langsung pergi dari hadapan Suncha. Bahkan sosoknya tampak tenggelam di mata gadis itu. Air mata langsung menetes, membasahi seluruh pipinya.


"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?!! Padahal aku sudah merasa nyaman denganmu. Kau telah merubah hidupku menjadi pribadi yang lebih baik … Dohyun … kau hanya bercanda, kan? Dohyun!!!!"


Sejak saat itu, Suncha bahkan tidak pernah melihat sosok mantan kekasihnya. Beberapa kali dia mencoba datang ke rumah Dohyun, namun tidak ada seorang pun di rumahnya itu.


Datang ke sekolahnya juga sudah ia lakukan, namun jawaban yang ia terima dari salah seorang teman Dohyun membuatnya menjadi lebih sedih.


"Dia pindah karena ekonomi keluarganya yang sulit. Minggu lalu juga dengar-dengar ayahnya di rawat."


"Jadi … apa karena itu kau memutuskan ku? Dohyun?"


Flashback off


Langit senja menampakkan keindahannya pada mata Suncha. Dia berbalik badan, memasuki gedung apartemen yang cukup tinggi. Dilewatinya sebuah tangga dan masuk ke dalam lift yang ramai orang berada di dalamnya.


"Aku pulang," ucap Suncha sembari meletakkan sepatunya pada sebuah rak di sebelah pintu masuk.


"Makanlah, kau pasti lapar," kata Dowon, sontak membuat Suncha terkejut heran. Tidak biasanya sang ayah pulang sore hari.


"Kapan Ayah pulang?" tanya Suncha dengan langkah kaki yang berjalan semakin mendekat ke arah Dowon.


"Itu tidak penting. Yang terpenting, kau makanlah dulu. Pasti lapar, kan?"


Dowon meletakkan dua buah piring berisi makanan penuh ke atas meja. Santapan sore itu mampu menggugah selera makan Suncha, apalagi dengan keadaan perut yang sedang kosong.


"Ayah yang terbaik!" lontar Suncha kegirangan. Ia lantas memakan makanannya dengan sangat lahap, hingga membuat si ayah jadi geleng kepala.


Namun di lain sisi, raut wajah Suncha yang tampak sedih itu disadari oleh Dowon.


"Kau ada masalah di sekolah?" tanya nya tiba-tiba. Suncha langsung meletakkan garpu nya, dia menatap Dowon seraya tersenyum tipis.


"Tidak. Aku baik-baik saja."


"Tapi wajahmu– "


"Aku hanya lelah …," sela Suncha dengan lirih.


Ia bangkit dari kursinya sebelum menghabiskan isi dalam piring. Tentu membuat Dowon semakin curiga dan merasa penasaran.


Waktu menunjukkan pukul 20.19. Suncha terbaring di ranjangnya dengan mata yang terus fokus menatap layar ponsel. Nampaknya gadis itu sedang menahan kesedihannya.


"Dohyun, kenapa aku baru melihatmu setelah tiga hari masuk sekolah?" tanya nya pada diri sendiri.


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€

__ADS_1


__ADS_2