
Happy ReadingπΏ
____________________________________________
Ketika senja mulai tampak di langit, anak-anak berlarian menuju gerbang sekolah. Mereka tak sabar untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
Namun seorang guru tiba-tiba menghampiri sepasang kekasih itu. Mereka diperintah untuk ikut bersamanya menuju ruang bimbingan.
Tidak tau apa yang akan terjadi, merekapun mengikuti langkah kaki guru tersebut dari belakang. Hingga akhirnya tiba di dalam sebuah ruangan yang cukup sepi.
Keduanya duduk secara berdampingan, lalu berhadapan dengan pak Lim, seorang guru pembimbing di SMA JoHang.
"Ada apa, Pak?" tanya Suncha dengan heran melihat pak Lim yang tampaknya kesal.
"Ini kalian?" Ia menunjukkan sebuah foto saat mereka saling bermesraan tangan, sontak membuat keduanya terkejut secara bersamaan.
"Jawab saya jika tidak ingin masalahnya bertambah panjang," lanjut ucapnya, kemudian menutup layar ponsel.
"Kalau boleh tau ..., siapa yang mengirim foto itu pada Pak Lim?" tanya Seohoon panik.
"Ini privasi, kalian hanya perlu menjelaskan alasan kenapa bisa bermesraan di saat waktu yang cukup penting. Seharusnya Suncha gunakan kesempatan kali ini untuk belajar, dan Seohoon menjadi mentornya!" tegur nya.
"Maaf, saya memang bersalah," balas Seohoon tanpa memandang guru itu. Dia justru malah menggenggam tangan Suncha dari bawah meja.
"Satu minggu, saya skors kalian! Lanjutkan saja belajarnya di rumah," perintah pak Lim seraya membukakan pintu ruangan tersebut, dengan tujuan menyuruh keduanya agar segera pergi.
***
Setelah mengalami hal itu, Suncha terus murung dengan memandang ke segala arah. Bahkan selama diperjalanan pulang, dirinya sama sekali tidak mengobrol dengan Seohoon.
Hingga ia tak sengaja menabrak sebuah besi pembatas jalan, membuatnya malu setengah mati. Beberapa orang menatap ke arahnya, tentu menjadi pusat perhatian.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Seohoon merasa cemas, tapi gadis itu hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Pergilah, aku akan pulang sendiri," pintanya.
Suncha lantas berjalan dengan langkah kaki cepat meninggalkan Seohoon yang masih diam berdiri. Sampai sosoknya itu tak terlihat di matanya.
Setelah dua puluh menit berlalu, kini iapun tiba di sebuah gedung rumah sakit, dimana ayahnya tengah di rawat.
Begitu masuk ke dalam ruangan sang ayah, betapa terkejutnya ia melihat sosok Dowon yang sudah sudah tidak ada di atas ranjang.
Dengan panik, Suncha berlari keluar dari ruangan tersebut, menanyakan pada beberapa suster yang sempat lewat mengenai keberadaan ayahnya.
"Ayahmu ... yang dirawat di tempat itu?" tanya si suster seraya menunjuk sebuah ruangan di depannya.
"Benar," balasnya dengan mengangguk.
__ADS_1
"Oh, tadi saya melihat beliau keluar bersama anak lelaki yang memiliki tinggi badan segini."
"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Suncha semakin panik.
"Dia tampan, rambutnya berwarna hitam dan mengenakan seragam sekolah. Tas yang di bawa nya berwarna hitam juga," jelas si suster.
Seketika Suncha terdiam, mencoba mengingat siapa anak lelaki dengan ciri-ciri yang baru saja diberitahu oleh seorang suster di depannya.
"Maaf, saya sedang sibuk. Saya permisi," ucapnya berjalan pergi meninggalkan Suncha.
Setelah cukup lama mencoba untuk mengingatnya, kini ia sadar bahwa anak lelaki dengan ciri-ciri itu adalah Dohyun.
Tanpa berpikir panjang, Suncha langsung bergegas membuka layar ponselnya. Berusaha menghubungi Dohyun, namun sama sekali tidak ada jawaban.
Gadis itu kemudian keluar dari bangunan rumah sakit sambil berlari, berharap ada kendaraan yang segera lewat.
Beberapa waktu kemudian, sebuah mobil berwarna abu-abu mendadak berhenti di depan gadis itu, di bukanya kaca mobil dan kini terlihat siapa sosok pengemudinya.
"Kak Chaeri?" Suncha terkejut, melihat Chaeri yang tengah membawa mobil mewah, yang bahkan hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kelas atas.
"Sedang apa?" tanya Chaeri seraya turun dari mobil, dan berjalan menghampiri Suncha yang masih berdiri.
"Aku sedang menunggu taxi," balasnya.
"Ah, memangnya kau ingin pergi kemana? Biar aku antar saja," ajak Chaeri, membuatnya terdiam untuk berpikir sejenak.
Karena langit yang semakin gelap, Suncha akhirnya menyetujui ajakan Chaeri untuk naik ke mobilnya.
Wanita itu perlahan menginjak gas mobil, dan kini mobil pun mulai melaju dengan kecepatan tinggi.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu diperjalanan, keduanya akhirnya tiba di apartemen Gonsang. Suncha turun setelah pintu mobil dibukakan oleh Chaeri.
"Terima kasih banyak untuk tumpangannya, aku akan berutang budi padamu!" lontar Suncha.
Langkah kakinya berlari masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Lantas Chaeri pun dibuat heran dengan perangainya.
Begitu tiba di lantai rumah miliknya, Suncha langsung membuka pintu rumah Dohyun dengan keras, hingga menciptakan bunyi nyaring di lantai tersebut.
Namun dilihatnya ruangan dasar yang kosong tanpa penghuni, membuat Suncha terdiam bengong.
"Sedang apa di rumahku?" tanya Dohyun secara tiba-tiba, sukses mengejutkan si gadis.
"Dimana ayahku?!!" Bukannya menjawab, ia justru malah bertanya balik.
"Ayahmu sudah berada di kamar, dia baik-baik saja," balasnya dengan nada santai, membuat Suncha menjadi semakin geram.
"Siapa yang menyuruhmu membawa pulang ayahku?! Dasar tidak waras!"
__ADS_1
Gadis itu dengan keras mendorong Dohyun hingga terjatuh, kepalanya terbentur keras ke lantai.
Sempat terkejut, Suncha yang sebelumnya meluapkan emosi kini malah terdiam. Dirinya tidak tau harus berbuat apa jika terjadi sesuatu pada lelaki di hadapannya.
"Jika marah-marah, jangan berlebihan ...," tutur Dohyun pelan seraya bangkit. Wajahnya menunjukkan senyum lebar, namun mengandung makna sedih.
"Ma-- maaf, maafkan aku. Aku tidak bermak-- "
Belum sempat melanjutkan ucapannya, lelaki itu langsung pergi. Ia berjalan masuk ke dalam rumah apartemennya, yang memang terletak berhadapan dengan rumah apartemen milik Dowon.
Suncha kemudian bergegas menemui ayahnya di dalam kamar. Terlihat jelas bahwa Dowon sedang melamun duduk di atas ranjang.
"Ayah, Ayah sudah sembuh?" tanya Suncha, reflek langsung memeluk sosok sang ayah.
"Tentu saja Ayah sudah sembuh. Jika Ayah tidak sembuh, lantas siapa yang akan menjagamu hingga lulus sekolah nanti?" cakap nya dengan cairan bening yang telah membasahi pipi.
"Sebenarnya Ayah sakit apa? Bahkan dokter saja tidak memberitahu ku tentang penyakit Ayah!"
"Mungkin hanya kelelahan. Ini sudah hampir malam, kau tidurlah lebih awal," perintah Dohyun.
"Sebentar, ada yang ingin aku tanyakan satu hal lagi."
"Apa?"
"Kenapa Dohyun tiba-tiba membawa Ayah pulang? Bagimana ceritanya?"
Flasback on
Saat gerbang sekolah ramai dipenuhi oleh para murid yang saling berdesakan mencari celah, Dohyun justru memilih gerbang belakang. Dia keluar melalui pintu gerbang tersebut tanpa harus berebut dengan siapapun.
Ketika hendak berjalan kaki menuju arah jalan ke apartemen Gonsang, dirinya tak sengaja mendengar obrolan seseorang mengenai Dowon yang katanya dirawat di rumah sakit.
Yah, tentu tidak sedikit dari mereka yang mengenal Dowon. Pria itu adalah tokoh penting dalam masalah politik, yang selalu berhubungan dengan hukuman seseorang.
Merasa rindu dengan sosoknya, ia lantas memutuskan untuk mengunjungi gedung rumah sakit dimana Dowon tengah dirawat.
"Permisi, ngomong-ngomong ... pak Dowon dirawat dimana?" tanya Dohyun pada orang yang sebelumnya membicarakan tentang Dowon.
"Di rumah sakit X."
"Ah, terima kasih."
Dohyun yang buru-buru itu langsung masuk ke mobil taxi yang sempat berhenti di depannya. Lekas ia memberitahu si sopir taxi untuk menuju rumah sakit tersebut.
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ
__ADS_1