
Happy ReadingπΏ
______________________________________________
Tibalah Suncha di dalam rumah apartemennya. Belum sempat mengganti pakaian, gadis itu langsung membuka layar ponsel. Menghubungi seseorang di dalam ponsel.
Drrrttt ...
"Ah, Seohoon?" sapa Suncha begitu Seohoon mengangkat panggilan darinya.
"Ada apa?" tanya Seohoon sibuk merapihkan pakaian yang tengah dipakainya.
"Apa kau mau pergi ke hiburan pasar malam nanti?" ajak Suncha bersemangat, namun orang dari balik telepon itu masih terdiam seraya berpikir.
"Baiklah. Jam berapa?"
"Wah, dia mau?" gumam Suncha.
"Jam delapan malam, bagaimana?"
"Oke."
Waktu yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Suncha bersiap-siap dengan mengenakan pakaian sederhana serta jaket tebal berbulu yang menempel pada tubuhnya.
Melangkah keluar dari pintu utama dengan perasaan senang. Tetapi seseorang tiba-tiba muncul dari hadapannya. Yah, kakak semua pasti sudah tau lah siapa orangnya.
"Rapih sekali, mau pergi kemana?" tanya lelaki itu seraya menunjukkan senyum lebar di wajahnya.
"Aku hanya ingin keluar sebentar," jawabnya berbohong.
"Oh, begitu? Hati-hati."
Suncha tersenyum, meninggalkan lelaki itu dengan langkah pelan. Semakin menjauh dari lantai tersebut setelah masuk ke dalam lift.
Begitu tiba di lantai dasar, Suncha melihat Seohoon yang tengah memandangnya dari area tempat parkir. Lantas Suncha pun berlari ke arahnya.
"Kau sudah lama berada di sini?" tanya Suncha tersipu malu, wajahnya yang cantik dengan make up itu sukses memikat hati lelaki di hadapannya.
"Cantik sekali," ucap Seohoon tanpa sadar, sontak membuat Suncha menjadi salah tingkah.
"Ayolah, aku tidak ingin lama-lama disini." Gadis itu menarik cepat lengan Seohoon, membawanya masuk ke dalam mobil yang sebelumnya dikemudi oleh lelaki itu.
Tidak menggunakan waktu lama, keduanya pun akhirnya tiba di sebuah hiburan pasar malam. Dimalam pembukaan ini, suasana di tempat tersebut menjadi penuh oleh para kaum manusia.
Mereka saling berdesakan hingga mengakibatkan salah satu dari mereka terjatuh.
__ADS_1
Suncha dan Seohoon keluar dari dalam mobil setelah menempatkan mobil di tempat parkir yang telah disediakan.
Tempat pertama yang ditatap Suncha adalah bagian wahana rumah hantu, dia cengar-cengir menatap Seohoon yang masih berdiri di sebelahnya. Membuat lelaki itu menjadi heran dan tidak paham dengan maksud Suncha.
"Kenapa?" Seohoon mendekatkan telinganya pada gadis itu, dirinya mengira kalau Suncha ingin membisikkan sesuatu padanya.
"Kenapa kau?" Suncha dengan keras mendorong kepala Seohoon, membuat kepalanya terlempar bersama tubuhnya.
"Ah, yang benar saja!" Seohoon berdecak kesal dalam hati.
"Aku ingin ke sana!!" Suncha menunjuk sebuah wahana rumah hantu yang sebelumnya ingin dicoba.
Lantas mereka langsung menuju ke wahana tersebut setelah Seohoon mengangguk setuju.
Sebelum mulai menantang dengan para hantu di dalamnya, sepasang kekasih itu terlebih dahulu membeli tiket masuk. Per tiketnya memiliki harga $4.
"Terima kasih, Paman," ucap Suncha setelah menerima tiket dari paman penjaga wahana rumah hantu itu.
Selang beberapa waktu kemudian, mereka pun masuk ke dalam tempat seram yang bisa membuat siapa saja jatuh pingsan.
Suncha menggenggam erat lengan Seohoon, menciptakan sensasi empuk yang mampu dirasakan oleh lelaki di sebelahnya.
Grrrr ...
Sosok makhluk menyeramkan tiba-tiba muncul dihadapan mereka. Membuat Suncha terkejut hampir pingsan di tempat.
"Kenapa kau ingin kemari? Kau sendiri bahkan takut," kesalnya seraya memandang wajah Suncha.
"Aku hanya ingin mencobanya saja, sudah lama aku ingin kemari. Tapi Ayahku tidak pernah memberi ku izin untuk mencoba wahana ini," ungkap Suncha dengan memasang raut wajah murung.
Seohoon yang mendengarnya itu lantas merasa bersalah karena telah menyalahkan Suncha.
"Peganglah tanganku," kata Seohoon. Dia mengikat tangannya erat-erat dengan tangan gadis di sebelahnya.
Setelahnya, mereka pun melanjutkan berjalan hingga menuju sebuah tempat yang cukup mirip dengan taman dan rumah tua. Tapi bedanya, tempat itu tampak suram, gelap dan bahkan mengerikan.
"Tutup matamu, jangan membukanya sampai kita menemukan jalan keluar dari sini." Suncha mengangguk.
Tempat itu memiliki fitur cara menantang, yaitu dengan cara menemukan sebuah jalan keluar dari dalam rumah hantu tersebut. Namun tidak semudah itu, karena pintu jalan untuk bisa keluar dari sana sangat tersembunyi.
Setelah hampir setengah jam belum bisa lolos dari tempat itu, Seohoon pun memiliki ide yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
Sebelumnya, seorang paman penjaga tempat wahana telah memberikan nomor teleponnya pada Seohoon hanya untuk jaga-jaga apabila mereka tidak dapat lolos.
"Duduk sebentar," ucap Seohoon menyuruh gadis di sebelahnya untuk duduk di sebuah kursi yang tampak kosong.
__ADS_1
Dia kemudian mengeluarkan ponsel dalam saku nya, menelepon seseorang untuk meminta bantuan.
Selang beberapa menit kemudian, terlihat kawanan orang lelaki muncul secara tiba-tiba dari balik pintu yang terletak di depan mata mereka.
Yah, pintu yang dibuat benar-benar mirip seperti tembok itu sukses menipu kedua orang tersebut.
"Huh, menjengkelkan!" Seohoon menghembuskan nafasnya dengan kasar, merasa jengkel karena telah menyerah, sedangkan jalan keluar sudah ada di depan mata.
"Sayang sekali sudah sampai di sini," cakap seorang pria seraya tersenyum lebar.
"Hmmm, begitulah."
Sementara dengan Dowon, ia yang baru saja tiba di rumahnya merasa terkejut lantaran pintu rumah apartemen yang terbuka lebar. Begitu masuk, ternyata tak ada satupun orang di dalamnya. Membuatnya semakin khawatir akan adanya pencuri.
"Kemana anak itu?" ucapnya pada diri sendiri sembari berjalan ke sana kemari di depan pintu.
"Paman?" Sosok anak lelaki muncul secara tiba-tiba di hadapannya, sukses mengejutkan Dowon yang tengah melamun memikirkan si anak gadisnya.
"Dohyun? Sedang apa kau?" tanya Dowon tersenyum menatap Dohyun.
"Aku baru saja keluar dari rumahku. Tapi, aku melihat Paman yang sepertinya sedang kebingungan? Ada apa?"
"Suncha tidak ada di rumah, dan pintu rumahnya ditinggal dengan terbuka lebar seperti ini."
"Oh, Suncha? Dia bilang ingin keluar sebentar. Tapi sepertinya ... sudah hampir satu jam berlalu setelah dia pergi," ungkap Dohyun, membuat ayah dari Suncha itu semakin panik.
"Apa dia akan baik-baik saja?" gumamnya pelan, namun sepertinya didengar oleh Dohyun yang sejak tadi berdiri di sebelah badannya.
"Kenapa tidak Paman coba telfon dulu?" usul Dohyun, lalu disetujui dengan mudah olehnya.
Beberapa satu kemudian, Suncha pun mengangkat panggilan dari sang ayah tercintanya. Pergi jauh-jauh dari keramaian dan menuju tempat yang dikiranya sudah cukup sepi.
"Halo, Ayah?" Suncha membuka pembicaraan dalam telepon itu.
"Kau ada dimana? Ayah khawatir! Lain kali jika ingin keluar malam, izin dulu pada Ayah!" jelas Dowon panjang lebar.
Yah, begitulah. Belum saja menjawab, tapi ayahnya sudah menceramahi nya panjang kali lebar kali tinggi. Tentu membuat Suncha menjadi sedikit jengkel terhadapnya.
"Tenang Paman, Suncha bersama saya," sahut Seohoon, sukses mengagetkan tiga orang sekaligus.
"Siapa kau?" tanya Dowon tegas, mulai panik dan hendak berlari menuju lift bersama Dohyun.
"Saya Seohoon, Paman tenang saja ... Suncha dan saya hanya pergi ke pasar malam. Tidak lebih."
π±πππππππππ....
__ADS_1
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ