Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 19 : Kesambet Apa Dia?


__ADS_3

Happy Reading🍁


_____________________________________________


Sunyi tempat membawa kenyamanan pada dua orang di area taman. Tampak saling memandang namun tidak menciptakan rasa canggung setelah Seohoon membuka pembicaraan antara keduanya.


"Apa kau dekat sekali dengan Dohyun?" tanya Seohoon, matanya itu serius menatap gadis yang tengah duduk di sebelahnya.


Sayup-sayup angin yang menyertai membawa mereka dalam damai. Tidak terperangkap dalam emosi dan tetap fokus membicarakan satu hal.


"Mungkin?" jawab Suncha singkat, tentu jawabannya itu tidak memuaskan bagi Seohoon.


"Apa bisa kau ceritakan?"


Suncha terdiam, memikirkan hal yang dapat terjadi jika ia memberitahu pada Seohoon soal masa lalunya. Apalagi setelah tau bahwa Seohoon dan Dohyun adalah teman satu kelas, tentu membuatnya berpikir panjang.


"Kenapa diam?" Seohoon melambaikan tangannya tepat dihadapan wajah Suncha, sukses membuyarkan lamunannya.


"Mmm, maaf. Tapi ini privasi. Sepertinya aku tidak bisa menceritakan soal Dohyun padamu," tutur Suncha dengan senyum manis yang menyertainya.


"Bagaimana jika kita bahas yang lain saja?" lanjut ucapnya memberi saran.


"Sepertinya bel masuk akan berbunyi sebentar lagi. Kau kembali saja ke kelas."


Seohoon bangkit dari kursi taman, berjalan dengan langkah pelan yang kemudian diikuti oleh Suncha dari belakang.


Setelah tiba di kelas masing-masing, Seohoon merasa terkejut lantaran Dohyun menghilang dari dalam ruangan kelas. Dia berpikir kalau teman dekatnya itu akan menemui Suncha.


Namun di lain sisi, Dohyun yang tak sengaja bertemu dengan Yuri, mantan kekasih dari Seohoon Lee satu tahun yang lalu itu tampak sedang membicarakan hal yang cukup serius.


"Aku tidak tau kenapa Seohoon tiba-tiba jadi dingin. Apa karena kami sudah putus?" ucap Yuri dengan wajah murung.


"Apa aku boleh memberitahu padamu sesuatu?" Yuri terdiam, lalu menanggapinya dengan mengangguk pelan.


"Dia berpacaran dengan Suncha, anak kelas 10-2," ungkap Dohyun mampu mengejutkan gadis yang berdiri berhadapan dengannya.


"Yang benar saja, padahal dulu kita masih saling menyukai," beber Yuri. Tanpa disadari, cairan bening tampak keluar dari kedua bola matanya itu.


"Jangan menangis, kau tidak perlu sedih hanya karena hal sekecil ini," pesan Dohyun.


*****

__ADS_1


Waktu telah menunjukkan jam pulang sekolah. Seluruh murid berlarian dengan sebuah tas yang menempel pada punggung mereka.


Tampak beberapa anak yang masih bergerombol membicarakan gosip, entah siapa orangnya author juga tidak tau.


Seohoon berlari menuju ruang kelas 10-2, dilihatnya ruang kelas yang sudah kosong dari para murid tak terkecuali dengan Suncha. Gadis yang biasanya lambat saat sekolah berakhir itu bahkan sudah pergi hanya dalam waktu beberapa menit.


"Kemana dia?" pikir Seohoon.


Tidak ingin mengulur waktu, ia lantas kembali berlari. Kini tujuannya adalah gerbang sekolah. Langkah kakinya yang terbilang cepat dapat membuatnya bisa tiba di gerbang sekolah hanya dalam waktu empat menit saja.


"Ah, lihat! Senior Seohoon!!" lontar seorang gadis dengan wajahnya yang berubah memerah. Yah, meskipun Seohoon sadar bahwa banyak anak yang menyoraki nya, namun dia tetap santai dan berpura-pura tidak mendengar.


Selang beberapa waktu kemudian, Suncha yang telah lama ditunggu akhirnya tiba di area gerbang sekolah. Tampak gadis itu yang tengah jalan beriringan dengan Yuri, mantan pacarnya.


"Suncha!" teriak Seohoon seraya mendekatinya. Membuat Suncha dan Yuri menoleh ke arahnya secara bersamaan.


"Seohoon? Kau belum pulang?" tanya Suncha heran.


"Aku menunggumu," jawabnya singkat tanpa memandang gadis yang berdiri di sebalah Suncha.


"Hai, Seohoon," sapa Yuri, namun tak ditanggapi oleh lelaki itu.


"Seohoon, dia menyapamu!" tegur Suncha dengan menepuk sebelah bahu Seohoon.


"Begitu cara mainmu?" gumam Yuri seraya tersenyum sinis memandang kepergian sepasang kekasih itu.


Diperjalanan pulang, Suncha masih terbayang dengan sosok Seohoon yang tidak tau kesambet apa. Sikapnya yang berubah secara tiba-tiba tentu membuatnya tak habis pikir.


"Kau baik, kan?" tanya Suncha, ia. menghentikan langkah kakinya, membuat Seohoon ikut berhenti.


"Aku baik. Memangnya ada apa?" Suncha hanya tersenyum bingung, tak menggubris pertanyaannya.


Tibalah keduanya di sebuah apartemen tertinggi di Gangnam. Tidak lain itu adalah apartemen yang ditinggali oleh Suncha bersama Dowon, sang ayah.


"Tinggal di sini?" Seohoon tercengang tidak percaya begitu melihat sebuah apartemen besar di depan matanya.


"Iya," jawabnya singkat.


"Mau mampir?" lanjut ucapnya.


"Ah, tidak perlu. Ngomong-ngomong, kau tinggal bersama orang tuamu?"

__ADS_1


"Aku hanya tinggal dengan ayahku saja. Ibuku sudah meninggal saat aku masih SMP," ungkap Suncha, wajahnya menunduk ke lantai membuat Seohoon merasa bersalah.


"Maaf membuatmu jadi mengingat masa lalu," kata Seohoon. Ia mengelus lembut kepala Suncha, lalu menatap wajah gadis itu dari dekat.


"Tidak kok."


"Baiklah, sepertinya aku harus pulang sekarang. Langit sudah hampir gelap," pamit nya dengan senyum lebar yang terukir di wajah tampannya itu.


"Hati-hati, ya!" lontar Suncha.


Kemudian sosok Seohoon tampak semakin jauh dimatanya, ketika lelaki itu sudah berjalan meninggalkan area apartemen.


"Huh, kenapa aku tidak tanya soal keluarganya juga ya? Aku jadi penasaran."


Suncha masuk ke dalam gedung apartemen, menaiki lift dan akhirnya tiba di depan rumah apartemennya. Dia masuk setelah membuka pintu, meletakkan sepatu di sebuah rak yang terletak di sebelah pintu.


Baru saja meletakkan tas punggungnya itu di atas meja, Suncha lekas berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang dirasa terlalu lengket, setelah seharian beraktivitas di sekolah.


Seusai membersihkan tubuhnya itu, Suncha berjalan menuju kamarnya, meraih sebuah benda yang tak lain adalah ponsel genggam miliknya.


Perlahan gadis itu membuka layar ponsel, merasa kesal lantaran pesan dari grup kelas ramai dengan gosip baru. Karena tidak minat bergosip, ia lantas menghapus seluruh pesan yang menumpuk pada grup tanpa membacanya terlebih dahulu.


"Ngomong-ngomong, sudah beberapa kali Bora lagi-lagi tidak hadir. Aku jadi penasaran, apa aku hubungi saja dia?" gumamnya.


Yah, Suncha memutuskan untuk menelepon sahabat dekatnya, tidak perduli disaat waktu yang sedang tanggung.


Meskipun sudah beberapa kali ia berusaha menghubungi Bora, namun hasilnya tetap tidak ada jawaban. Bora sama sekali tidak mengangkat panggilannya, dan hanya ada suara wanita yang terus muncul.


Telepon beberapa saat lagi.


Merasa khawatir dengan keadaan Bora, Suncha pun nekat untuk menanyakan kabar sahabatnya itu pada Jiyeon, mungkin ada sedikit informasi yang bisa ia dapat dari si ketua kelas jutek itu.


Drrrttt ...


Jiyeon meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang, mengangkat panggilan dari Suncha.


"Ada apa?" tanya Jiyeon setelah berhubungan di telepon.


"Apa kau tau Bora tidak hadir dengan alasan apa?" balasnya dengan bertanya.


"Kupikir kau yang lebih mengerti tentangnya, bukankah kau adalah teman dekat Bora?"

__ADS_1


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€


__ADS_2