
Happy ReadingπΏ
_____________________________________________
"Dia bukan siapa-siapa, hanya senior saja."
Seohoon memandang Suncha dengan heran, namun dirinya juga tidak dapat berkata apa-apa lantaran khawatir akan membuat masalah bagi Suncha.
"Oh, begitu? Bagaimana jika ajak dia juga untuk ke rumah, kita bisa makan bertiga?" usul Dowon, namun sama-sama tidak disetujui oleh keduanya.
"Tidak, kami sudah makan terlalu banyak tadi," ucap mereka dengan serempak.
"Oh, begitu ya? Baiklah, Ayah pulang duluan. Kalian pulang berdua saja." Dowon mulai pergi dari tempat itu, tak ada dari mereka yang melarang kepergiannya.
"Maaf, tadi aku-- "
"Aku mengerti," potong Seohoon dengan suaranya yang dingin.
"Aku ada urusan mendadak. Kau pulanglah sendiri, maaf tidak bisa mengantarmu ke rumah," kata Seohoon seraya memalingkan pandangannya dari Suncha.
Lelaki itu perlahan mulai menghilang dari pandangannya, bahkan sampai tak terlihat sedikitpun batang hidungnya.
"Sepertinya dia kesal? Atau hanya perasaan ku saja?" gumam Suncha.
*****
Langit sudah tampak gelap, suasana dingin juga menguasai seluruh ruangan di rumah Suncha. Dia mengurung dirinya dengan sebuah selimut tebal, benaknya mengatakan akan segera datang musim salju meskipun belum saatnya.
"Suncha!! Suncha!!" teriak Dowon dari arah kamarnya yang terletak bersebelahan dengan kamar milik Suncha.
Lantas Suncha yang mendengarnya pun langsung bangkit dari ranjang dan menghampiri sang ayah yang tengah menikmati segelas coklat panas.
"Ada apa, Ayah?" tanya Suncha dengan tubuhnya yang telah dibalut tebal dengan sebuah jaket.
"Sebenarnya Ayah ingin memintamu untuk membeli cemilan di toko swalayan. Tapi sepertinya ... kondisimu sedang tidak baik?" ujar Dowon merasa khawatir. Dia juga meletakkan telapak tangannya pada dahi Suncha.
"Tidak panas?" lanjut ucapnya.
"Aku memang sedang tidak sakit. Tapi aku seperti ini karena cuacanya yang dingin," ungkap Suncha seraya menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang tubuhnya.
"Tapi tidak apa, aku akan membelikan cemilan untuk Ayah." Suncha berjalan menuju pintu keluar, dia tidak sadar bahwa Dowon belum memberinya uang untuk membeli cemilan di toko swalayan.
"Suncha, Ayah belum memberimu uang!" teriak Dowon dari balik pintu kamarnya. Sontak gadis itu yang mendengarnya pun bergegas kembali menuju ruang kamar.
"Ini." Dowon memberinya sebuah uang cash, memang tidak terlalu banyak, namun sepertinya akan cukup.
Selama berjalan menuju toko swalayan, Suncha terlihat santai memandang sekeliling jalanan. Tampaknya banyak orang tengah melakukan aktivitas mereka di malam hari yang sudah hampir larut seperti ini.
__ADS_1
Bahkan Suncha sendiri baru kali ini keluar larut malam hanya untuk membeli cemilan. Jika ayahnya tidak menyuruhnya pun mungkin dia sudah terlelap di ranjangnya.
Kriett ...
Perlahan Suncha membuka pintu toko tersebut. Suasana yang cukup ramai mampu menghangatkan atmosfer ruangan. Namun karena AC yang menyala, tentu membuat Suncha semakin kedinginan.
Cukup lama ia berkeliling toko hanya untuk memilih cemilan, hingga pada akhirnya ia pun menemukan sebuah snack cemilan yang dirasa nikmat menurutnya.
Srak ...
Seorang lelaki dengan tubuh tingginya itu meraih cemilan yang hanya tersisa satu dari balik tubuh Suncha, membuatnya kesal dan menoleh.
"Kau?!!" Gadis itu terkejut, melihat wajah sosok lelaki yang baru saja merebut cemilan itu darinya.
"Sedang apa malam-malam di sini?" tanya Seohoon, lelaki dengan tubuh tinggi di hadapannya.
"Aku ingin membeli cemilan. Dan, itu milikku!" lontar nya dengan nada kesal, tetapi Seohoon hanya terdiam tak menggubris ucapannya.
"Aku yang dapat duluan," sela Seohoon, dia mulai berjalan pergi meninggalkan Suncha yang masih berbicara dengannya empat mata.
"Benar-benar menyebalkan! Itu milikku, aku yang menemukannya duluan!!" teriak Suncha seraya berlari mengejar lelaki itu.
Namun akhirnya ...
Brugh!!
Suncha yang sudah terlanjur malu hanya bisa menunduk dan menutupi kepalanya dengan jaket tebal yang tengah ia kenakan.
"Bangunlah," ucap Seohoon tiba-tiba. Lelaki itu menodongkan tangannya, ingin membantu Suncha untuk berdiri.
"Hai, kau harus menggantinya!" lontar salah seorang pegawai toko swalayan.
"Biar aku yang menggantinya, berapa biayanya?" tanya Seohoon seraya mengeluarkan sebuah uang cash dari dalam saku celananya. Jumlah yang tidak sedikit sudah pasti mengejutkan beberapa orang yang melihatnya.
"$100."
Dengan mudah, Seohoon memberikan uang sebanyak itu pada pegawai tersebut. Suncha yang merasa bersalah lantas hanya terdiam, kini tidak dapat mengomel pada lelaki didepannya itu.
"Ini." Seohoon memberikan cemilan yang sebelumnya ia rebut dari Suncha.
"Te-- Terima kasih," sahut Suncha dengan gugup.
Keduanya lalu pergi menuju kasir bersama-sama, lalu membayar belanjaan yang telah mereka beli.
"Seohoon."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Jika kau ingin cemilan ini, ambillah saja. Aku bisa membelinya lain waktu," ujar Suncha.
"Untukmu saja. Aku tidak butuh makanan itu."
Tanpa berpamitan terlebih dahulu, Seohoon langsung pergi meninggalkan Suncha. Tak biasanya ia bersikap dingin seperti saat ini. Apalagi setelah sebelumnya Suncha menyakiti hati Seohoon dengan kata-kata, Seohoon tampaknya ingin lebih dekat dengan Suncha.
Tak lama berselang, Suncha akhirnya tiba di rumah dengan sebuah snack cemilan di dalam kantung plastik. Ia meletakkan cemilan itu di atas meja kerja sang ayah, lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Terima kasih!" lontar Dowon bersemangat.
"Sama-sama."
"Kau tidak membeli yang lainnya?" tanya Dowon sedikit berteriak, lantaran Suncha sudah cukup jauh dari tempat bersantai nya.
"Tidak. Aku sudah kenyang."
-
-
Selamat pagi, bangunlah dan cepat sarapan! Waktu terus mengejar mu, sayang ...
Alarm yang dibuat khusus itu berbunyi bagai alunan musik, yang akhirnya sukses membangunkan Suncha dari tidur lelapnya setelah semalaman.
"Hoam ... kenapa rasanya masih mengantuk?" ucap Suncha dengan menatap sebuah jam pada dinding kamarnya.
Setelah tampak waktu yang sudah menunjukkan pukul 05.40, ia langsung bergegas membersihkan diri. Setelahnya bersiap-siap mengenakan seragam sekolah.
"Makanlah yang lahap," ucap Dowon pada Suncha yang kini tengah duduk di meja makan bersamanya.
"Tentu saja."
"Bagaimana dengan sekolahmu? Apa kau bahagia sekolah di Gangnam?" tanya Dowon penasaran, namun hanya dibalas senyuman tipis oleh anaknya itu.
"Kenapa?" Dowon yang merasa tidak yakin pun kembali bertanya.
"Menyenangkan, kok! Aku senang sekali bersekolah di sini. Apalagi ... anak-anaknya sangat ramah."
"Baguslah."
Setelah waktu menunjukkan jam berangkat sekolah, Suncha lantas berpamitan dengan sang ayah. Dia sempat membawa bekal hasil sisa sarapan paginya.
"Aku pergi," ucapnya sembari mengenakan sepatu.
"Okey."
π±πππππππππ....
__ADS_1
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ