
Happy ReadingπΏ
______________________________________________
Suncha membuka kedua bola matanya, setelah mendengar seseorang tengah mengetuk pintu rumah apartemennya.
Dengan langkah berat, ia bangkit dari ranjang dan berjalan pelan menuju pintu.
Cek lek ...
Suncha terkejut, ketika melihat dua lelaki tengah berdiri di depan pintu masuk. Tampaknya beberapa buah makanan berada di tangan mereka.
"Kalian? A-- Ah, silahkan masuk," ucap Suncha mempersilahkan keduanya untuk masuk.
Seohoon bersama Dohyun lantas duduk di sofa ruang tamu. Ketika Suncha hendak mengambilkan minuman dari dapur, Seohoon meraih lengannya, membuat langkah kakinya terhenti.
"Duduk saja, kau sedang sakit," tuturnya, lalu diangguki oleh Suncha.
Tak lama berselang, pintu rumahnya tiba-tiba terbuka. Muncul sosok sang ayah seraya menatap ketiga anak tersebut dengan heran.
"Wah, kalian datang menjenguk anakku?" tanya Dohyun sembari bergabung ikut duduk bersama mereka.
"Iya, aku khawatir dengannya," balas Dohyun tersenyum lebar.
"Biar ku ambilkan minum terlebih dahulu."
"Ah, paman. Saya ingin pulang saja, saya kemari hanya ingin mengantar teman saya saja," ungkap Dohyun dengan berjalan pelan menuju pintu keluar.
"Baiklah, biar ku ambilkan saja untuk Seohoon," cakap Dowon.
Langkah kakinya itu berjalan menuju dapur, mengambil sebuah gelas dari dalam rak, kemudian menuangkan minuman kedalam gelas tersebut.
"Minumlah ...."
"Terima kasih," balas Seohoon.
"Ngobrol saja dengannya, Paman tidak akan mengganggu."
"Baik."
Setelah beberapa saat hanya saling terdiam, kini Seohoon pun memberanikan diri untuk memulai obrolan. Tujuan awalnya menjenguk Suncha juga karena ingin mengobrol dengannya.
"Kenapa kau bisa sakit?" tanya Seohoon memandang pada gadis di sebelahnya dengan wajah iba.
"Aku manusia, jadi bisa sakit kapan saja."
"Bukan begitu maksudku. Tapi ... aku jadi merasa bersalah karena kemarin kau sempat datang ke rumahku larut malam. Mungkin kau jadi sakit karena itu?" cakap Seohoon.
"Tidak mungkin juga kan, aku jujur padanya kalau kemarin aku sempat bermain game sampai larut malam bersama Mireu," batin Suncha.
__ADS_1
Karena melamun, Seohoon pun mengibaskan tangannya di depan wajah Suncha, sukses membuyarkan lamunannya.
"Ah, mungkin aku hanya masuk angin," jawabnya dengan asal.
"Sudah periksa?" tanya Seohoon kembali, lalu hanya dibalas gelengan kepala oleh Suncha.
"Apa perlu untuk ku panggilkan dokter agar kemari?" tawar nya.
"Tidak, aku bisa pergi ke dokter lain waktu saja ...."
Karena waktu yang telah menunjukkan pukul 18.00 tepat, Seohoon lantas memutuskan untuk pulang. Lagipula dengan keadaan Suncha yang sedang sakit, tentu juga membutuhkan waktu untuk beristirahat.
"Istirahatlah, agar bisa berangkat besok," kata Seohoon seraya menunjukkan senyuman lebarnya.
"Siap, bos!"
Begitu keluar dari dalam rumah apartemen Suncha, Seohoon dikagetkan dengan sosok Dohyun yang mungkin sejak tadi berdiri di depan pintu.
"Sedang apa?" tanya Seohoon dingin.
"Ini rumahku, memangnya kenapa?" Dohyun membalasnya dengan tatapan kesal pada Seohoon, tentu membuatnya semakin heran dengan sikapnya yang telah berubah akhir-akhir ini.
"Oh, ku kira sedang apa." Lelaki itu berjalan semakin menjauh, masuk ke dalam lift dan akhirnya tiba di lantai dasar.
***
Pagi cerah itu mengiringi langkahnya menuju ruang kelas. Dimana seluruh siswanya tengah heboh membicarakan isu tentang seseorang.
Karena tidak ada teman obrolan, Suncha akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang kelas. Namun ketika dirinya hendak membuka pintu, Jiyeon masuk secara tiba-tiba. Membuat keduanya saling bertabrakan jidat.
"Auh, astaga!" lontar mereka dengan kompak, mampu menciptakan perhatian anak di dalam ruangan kelas.
"Wah, Suncha sudah sembuh?" tanya Hana seraya berjalan mendekat ke arahnya.
"Kau sakit apa kemarin?" lanjut tanya Hana.
"Hanya demam biasa, lagipula aku sudah terlihat baik-baik saja, kan?" jawabnya dengan ketus.
"Aku ingin bicara berdua denganmu sebentar." Jiyeon menarik lengan Suncha, membawanya hingga ke lorong kelas.
"Apa kau tau? Tiga anak lelaki mencarimu kemarin, gosipnya bahkan sudah menyebar. Kau kan tau sendiri, bagaimana sikap anak-anak disekolah ini. Isu kecil saja sudah terbesar luas hanya dalam hitungan menit," terang Jiyeon.
"Siapa tiga lelaki itu?" Suncha yang merasa penasaran lantas bertanya.
"Senior Seohoon, senior Dohyun dan kak Mireu Han."
Yah, gadis itu seketika terdiam setelah mendengar jawaban dari si ketua kelas jutek.
"Aku kembali ke kelas dulu untuk menaruh tas ku," ucapnya berjalan pergi meninggalkan Suncha yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
Sebelum bel masuk berbunyi, Suncha berpikir untuk pergi menemui Yuri di kelasnya. Dia melewati beberapa lorong, yang disana terdapat banyak sekali murid tengah saling berbincang.
Setibanya di ruang kelas 11-1, bukannya bertemu Yuri, dirinya malah bertemu dengan para berandalan sekolah. Yap, siapa lagi kalau bukan Mireu Han serta dua teman yang sama berandalan.
Wajah anak lelaki itu menatap tajam ke arah Suncha, mengukir senyum manis di wajahnya. Kemudian tanpa disadari, Mireu melangkah mendekati Suncha yang masih berdiri diam di tengah pintu masuk ruang kelas.
"Ada apa? Apa kau ingin menemuiku?" tanya Mireu dengan percaya diri.
"Maaf, tapi aku kemari ingin bertemu dengan Yuri," jawabnya.
"Ah, dia tidak masuk hari ini. Ngomong-ngomong, apa kau dekat dengannya?" Suncha mengangguk, seketika kedua bola matanya membulat, tak percaya dengan anggukan gadis di hadapannya.
"Kau kenapa?" tanya Suncha pringas pringis.
"Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan mantan pacar kekasihmu itu. Yah, aku sih hanya sedikit memberi saran saja padamu, tapi jika kau tidak ingin mendengarkanku juga tidak masalah," paparnya dengan wajah yang didekatkan pada Suncha.
"Mantan pacar katamu?"
"Yup!" balasnya dengan mengangguk.
Suncha berjalan pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Mireu. Membuatnya kesal dan lupa dengan tujuan awalnya.
"Oh iya, padahal aku ingin mengembalikan jepit rambut miliknya," ucapnya pada dua orang yang tengah berdiri bersebelahan dengannya.
"Sudah kuduga," sahut Hayoon sedikit jengkel.
"Tapi kenapa dia seperti terkejut begitu? Apa dia tidak tau kalau Yuri adalah mantan pacar Seohoon?" timpal Minha dengan heran.
"Benar juga!" lontar keduanya setelah menyadari.
Sementara dengan Suncha, dirinya berlari menuju taman sekolah. Berjalan kesana-kemari memikirkan sesuatu.
"Jika Yuri memang mantan Seohoon, berarti ... apa dia merencakan sesuatu yang jahat padaku?" gumamnya penuh dengan rasa cemas.
"Tapi kenapa Seohoon tidak jujur padaku? Bahkan kemarin aku sempat membeberkan bahwa aku dekat dengan Yuri."
Begitu bel masuk berbunyi, mau tidak mau gadis itu harus kembali menuju kelasnya untuk mengikuti pelajaran. Apalagi setelah sehari tidak hadir disekolah, membuat otaknya itu seperti hampir padat.
Di lain sisi, Seohoon justru tidak mengikuti pelajaran dan memilih untuk mengikuti kelas basket. Mau bagaimanapun juga, Seohoon adalah senior di sekolahnya sekaligus menjadi ketua tim basket.
Karena merasa haus, lelaki itu lantas berjalan menuju kantin sekolah untuk membeli minuman dingin. Tak sengaja melihat susu kota dengan rasa strawberry, ia pun membelinya untuk diberikannya pada Suncha.
Seohoon memasukkan sebuah koin pada mesin pendingin minuman, lalu meraihnya dan langsung di minum habis.
Begitu mendinginkan tenggorokannya yang sempat merasa haus, lelaki itupun berjalan kembali menuju lapangan basket. Mengambil sebuah bola yang baru saja dilempar oleh Minha.
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ
__ADS_1