
Happy ReadingπΏ
________________________________________
"Bukan dia, tapi kau," ujar Mireu seraya menepuk jidatnya.
"Ada urusan apa?" tanya Seohoon berusaha menghentikan berandalan itu untuk berbicara dengan Suncha.
"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengannya."
Suncha terdiam, ia mulai mengingat soal pertemuannya dua minggu yang lalu dengan Mireu. Memang ada sesuatu yang belum sempat dibicarakan oleh lelaki itu.
Saat Seohoon hendak meraih lengan Suncha untuk melarangnya, namun ia malah mengelak. Menyetujui ajakan Mireu untuk berbicara mengenai suatu hal.
Kini Suncha bersama tiga berandalan sekolah mulai itu berjalan menuju sebelah gedung sekolah. Mereka sengaja pergi ke sana karena tempatnya yang sepi dari para murid lain.
Mireu duduk di sebuah kursi, kemudian diikuti oleh Suncha yang ikut duduk di sebelahnya.
"Bisa tolong buang rokokmu itu?" tanya Suncha, ia menunjuk sebuah rokok yang masih menempel pada bibir Mireu.
"Baiklah ...." Lelaki itu membuang rokok dengan asal, hingga tanpa sadar mengenai sebuah tanaman yang berjajar di sekelilingnya.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan? Apa ini menyangkut hal yang ingin kau beritahu padaku waktu itu?" Suncha mendekatkan wajahnya pada Mireu, membuat jantung lelaki itu berdebar kencang menahan rasa gugupnya.
"Menjauhlah!"
Mireu mendorong tubuh Suncha, namun tak sengaja menyentuh bagian gunung kembar miliknya. Sontak, gadis itu langsung berdiri dan menyingkir.
Wajahnya seketika berubah memerah, tapi tampaknya Minha dan Hayoon justru melongo karena kejadian tadi.
Di tengah-tengah rasa tegangnya, Seohoon tiba-tiba datang dari balik dinding gedung sekolah. Ia menarik kerah Mireu, hingga membuat kakinya tidak dapat menginjak tanah.
Kini suasana semakin menegangkan, tak ada satupun dari mereka yang berani membuka mulut, termasuk Suncha.
"Apa kau sengaja melakukannya?" tanya Seohoon, wajahnya terlihat menahan amarah besar.
"Santai dulu, lepaskan."
Perlahan Seohoon mulai melepas kerah Mireu, dan kini kakinya sudah bisa kembali menapak ke tanah.
__ADS_1
Buaghh!!! Seohoon memukul perut Mireu, hingga membuatnya mengeluarkan darah dari bagian mulut dan hidung.
Lekas Minha sebagai teman dekat sekaligus satu geng berandalan nya itu lagsung menghampiri Mireu, membantu nya berdiri yang sebelumnya sempat tersungkur di lantai.
"Aku hanya ingin bicara baik-baik pada Suncha. Kenapa kau harus ikut campur dan tiba-tiba datang?" ungkap Mireu dengan kesal, ia menahan darah yang terus keluar dari hidungnya.
"Aku tidak datang secara tiba-tiba. Justru aku sudah berada di sini sejak kalian juga ke sini."
Yah, mereka hanya tidak sadar bahwa Seohoon sempat mengikutinya hingga tiba di tempat itu. Bahkan dia bersusah payah bersembunyi demi tidak terlihat oleh salah satu dari mereka.
Namun karena Mireu yang dengan asal menyentuh dua gunung kembar milik kekasihnya, membuat Seohoon terpaksa harus menampakkan diri daripada menahan emosi.
"Sudahlah! Aku hanya ingin bicara empat mata saja dengan Suncha. Kalian berdua, jangan biarkan Seohoon untuk mengikutiku!" perintahnya dengan tegas, langsung dilaksanakan oleh Minha dan Hayoon.
"Jika hanya berbicara, aku sih tidak masalah. Lagipula Mireu tidak sengaja menyentuhnya tadi," papar Suncha dengan menahan rasa malu.
Tangannya itu terlihat mendekap ke dada, berusaha untuk menjaga diri agar tidak ada lagi yang menyentuhnya.
Kini keduanya berjalan meninggalkan tempat itu. Tujuan Mireu ingin membawanya kemana bahkan tidak ada yang tau selain dirinya.
Yah, Seohoon bisa saja memukul Minha dan Hayoon agar bisa mengikuti mereka lagi. Namun karena Suncha sudah bilang tidak masalah, mungkin itu juga tidak akan masalah baginya.
Setelah tiba di sebuah tempat yang cukup jauh dari tempat sebelumnya, kini Mireu menghadapkan tubuhnya pada Suncha untuk bisa memulai obrolan penting.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Suncha masih dengan rasa penasaran.
"Soal Boeun dan Hana. Kau pasti penasaran mengapa keduanya bisa mati secara tiba-tiba," balas Mireu dengan menundukkan kepalanya.
"Jangan bicara seperti itu!" tegur gadis itu.
"Bicara apa?"
"Mati, kau menyebutnya mati dan bukan tiada!"
"Astaga ... ku kira apa."
Setelahnya, Suncha mulai terdiam. Dia tidak ingin obrolannya kali ini menjadi lama hanya karena candaan.
"Jadi, mereka tiada karena ayahku," ungkap Mireu, sukses membuat kedua bola mata gadis itu terbelalak lebar, tak percaya dengan kebenaran yang baru saja terdengar di telinganya.
__ADS_1
"Kenapa, kenapa ayahmu tega melakukan itu? Apalagi mereka adalah gadis dan-- "
"Tidak penting apakah mereka masih gadis atau bukan. Karena keselamatan mu lebih penting," sela nya.
"Apa maksudnya keselamatan ku? Memangnya apa yang akan terjadi padaku jika Boeun dan Hana masih hidup?!!" tanya Suncha menaikkan nada bicaranya.
"Diam! Dengarkan aku dulu!"
Suncha terdiam setelah mendengar lelaki di hadapannya itu berbicara dengan suara keras dan tegas. Memang, dirinya tidak pernah mendapat perkataan buruk dari seorang lelaki, termasuk ayahnya.
"Mereka hampir saja membunuhmu! Aku tau apa yang mereka rencanakan, dan sebelum terlambat ... aku yang akan duluan membunuh mereka dengan bantuan ayahku," jelas Mireu.
Kini Suncha masih terdiam, ingin mendengarkan lebih jelas mengenai kebenaran soal kematian Boeun dan Hana, yang ternyata adalah sebuah kasus pembunuhan.
**Flashback on**
Di saat senja mulai terlihat di langit, Mireu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ingin menghabiskan waktu di hari libur ini.
Ia didampingi oleh salah seorang asisten kepercayaan ayahnya demi keamanan berkendara, pria itu duduk di mobil bagian belakang.
Ketika diperjalanan hendak menuju sebuah jembatan, Mireu yang tak sengaja melihat Boeun dan Hana tengah berbicara dengan beberapa preman lantas menghentikan mobilnya.
Yang ia ketahui, Boeun adalah seorang gadis yang tidak menyukai preman, tentu menjadi pertanyaan dalam benaknya jika melihat Boeun berbicara dengan para preman.
Merasa penasaran, Mireu akhirnya perlahan mendekati mereka, meskipun si asisten pribadi ayahnya telah melarang.
"Habisi gadis ini, jangan biarkan dia hidup!" perintah Boeun pada salah seorang preman, yang sepertinya adalah ketua.
"Kapan aku harus menghabisinya?" tanya pria itu seraya menatap sebuah foto dengan cermat.
Tidak lain, foto yang kini berada di genggaman Boeun adalah Suncha, Mireu melihat sendiri dengan jelas sosok wajahnya di dalam foto itu.
"Setelah aku menghubungi mu. Yang pasti waktu kira-kira nya adalah minggu depan. Tapi ingat, jangan pernah habisi dia sebelum aku menyuruhmu," terangnya, kemudian pria itu mengangguk paham.
Begitu mendengar pembicaraan Boeun dengan sekumpulan para preman, Mireu lekas berlari dari tempat tersebut. Ia sendiri tidak ingin ketahuan telah menguping pembicaraan mereka.
Setelah dirasa tidak ada lagi percakapan diantara orang-orang itu, Mireu lantas masuk ke dalam mobilnya. Dirinya meminta agar si asisten pribadi ayahnya untuk mengemudi.
π±πππππππππ....
__ADS_1
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ