Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 27 : Bersenang Satu Malam


__ADS_3

Happy Reading 🌿


_____________________________________________


Berberapa menit telah berlalu, setelah Seohoon memberitahu bahwa dirinya tidak akan macam-macam dengan Suncha, Dowon pun mengizinkannya agar pergi sama sang anak.


"Ayahmu baik juga," cakap Seohoon dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Ayahku memang baik!" sahut Suncha.


Keduanya pun jalan mengelilingi pasar malam, melihat indahnya wahana yang dihiasi oleh lampu berwarna-warni.


Begitu melihat sebuah bianglala yang cukup besar, Suncha dan Seohoon sama-sama tertarik untuk mencobanya. Mereka membeli tiket pada seorang wanita yang tengah bejaga di wahana tersebut.


"Dua tiket," ucap Seohoon, lalu wanita itu memberinya dua buah tiket sesuai permintaan Seohoon.


Karena bianglala yang telah penuh terisi oleh para kaum manusia, mereka akhirnya terpaksa untuk menunggu hingga salah satu dari pengunjung wahana turun dari bianglala.


Bukan hanya Suncha dan Seohoon saja yang menunggu, tetapi beberapa orang juga tengah mengantri di belakang mereka.


Hampir setengah jam lamanya menunggu, keduanya lantas menaiki wahana tersebut. Tangan yang ber gemetar dirasakan oleh Suncha, ketika hendak memasuki bianglala.


Setelah wahana terisi penuh kembali, bianglala itupun mulai berjalan memutar. Lampu warna-warni yang menghiasi tiap sudut mampu meninggalkan kesan romantis.


Ditambah dengan makanan yang telah disediakan untuk para pengunjung, tentu tidak akan membuat pengunjung itu merasa bosan selama bianglala berputar yang bahkan hingga mencapai tiga puluh menit lamanya.


"Sandwich nya enak juga," lontar Suncha seraya menikmati pemandangan malam dari atas.


"Kau suka?" tanya Seohoon, lalu gadis itu mengangguk sebagai tanda jawaban.


Tak jarang juga keduanya saling mengobrol, menciptakan suasana hangat tanpa rasa canggung.


Beberapa saat kemudian, Suncha dan Seohoon akhirnya bisa turun setelah hampir setengah jam menikmati pemandangan indah dari atas sana.


Canda tawa masih menyelimuti keduanya selama berjalan kembali mengelilingi pasar malam. Hingga akhirnya, mereka menemukan sebuah wahana lagi yang kali ini diminati oleh Seohoon.


"Ka-- Kau, serius?" tanya Suncha dengan matanya yang terbelalak lebar, serta mulut yang termangap kaget.


"Ya, aku ingin mencobanya."


Mau bagaimana lagi? Suncha hanya bisa mengikuti langkah kaki lelaki itu dari belakang. Berjalan beberapa langkah, dan akhirnya berhadapan langsung dengan sebuah wahana mengerikan.

__ADS_1


"Mau coba?" tawar Seohoon, namun Suncha hanya menggeleng kepalanya. Dia menolak untuk ikut bermain wahana yang dirasa cukup mengerikan baginya.


Lelaki itu mengambil sebuah pistol yang telah disediakan, lalu melepas peluru yang diarahkan pada sebuah patung berbentuk manusia.


Dorr!!! Suara yang keluar dengan keras sukses mengejutkan Suncha, membuatnya semakin merinding. Langkah kakinya itu mundur secara perlahan.


"Ini hanya pistol biasa, tidak perlu heboh," cibir Seohoon, membuat gadis itu tersinggung.


"Baiklah, kita ke wahana yang lain saja." Lelaki itu menarik lengan Suncha setelah ia selesai membayar permainan yang sempat dimainkannya tadi.


Mereka berjalan mengarah pada sebuah bangunan tertutup yang cukup besar, tempat itu adalah wahana sirkus. Didalamnya terdapat banyak sekali orang, saling bersorak dengan diiringi tepuk tangan meriah.


"Ayo duduk," ajak Seohoon seraya membawa Suncha pada sebuah kursi yang masih kosong.


Keduanya duduk dengan menikmati sirkus yang tengah ditampilkan. Didampingi oleh makanan ringan serta minuman soda layaknya seperti menonton bioskop.


"Hahaha!!!" Semua orang tertawa riang, ketika si pemain sirkus melancarkan aksinya.


"Hebat, ya. Andai aku bisa seperti itu," gumam Suncha. Beberapa kali gadis itu menampakkan senyum tanpa sebab, membuat Seohoon yang berada di sebelahnya menjadi heran.


"Kenapa kau? Kesurupan?" tanya nya mampu membuyarkan senyum di wajah Suncha.


"Ah, tidak kok. Aku hanya merasa senang saja."


***


"Masuklah," ucap Seohoon.


Lantas gadis itu berjalan masuk ke dalam gedung apartemen. Melambaikan tangan disertai senyum bahagia.


"Kau hati-hati dijalan, ya!" lontar nya setelah tiba di dalam gedung.


"Ya, tentu saja."


Begitu Suncha menginjakkan kakinya ke dalam rumah, dia melihat sang ayah yang masih menonton televisi dengan cemilan penuh di atas kursi.


"Pulang juga akhirnya." Dowon berjalan mendekati si anak gadisnya itu, mengelus lembut kepalanya.


"Sana tidur," perintahnya. Lalu dibalas anggukan oleh Suncha.


***

__ADS_1


Matahari tampak berada di puncaknya, meluncurkan cahaya terang, menyinari tiap sudut ruangan.


Suncha terbangun setelah mencium aroma sedap dari arah dapur. Begitu menengok nya, ternyata Dowon tengah memasak tteokbokki. Makanan yang bahkan belum pernah dibuat olehnya seumur hidup.


"Ayah benar memasak tteokbokki?" tanya Suncha terkejut sembari duduk di kursi ruang makan.


"Tentu saja. Makanlah, Ayah ingin coba membuatnya sendiri," balasnya.


Dowon meletakkan dua buah mangkok berisi tteokbokki penuh ke atas meja. Suncha yang sejak tadi menanti makanan itupun langsung melahap nya dengan cepat. Ia habiskan hanya dalam waktu hitungan menit.


"Ah, kenyang sekali ...," hembus Suncha seraya mengusap perutnya yang telah terisi penuh oleh makanan.


"Sana mandi, kau harus berangkat ke sekolah!" tutur Dowon, membuat Suncha langsung berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Selang beberapa menit kemudian, gadis itupun telah rapih dengan seragam yang menempel pada tubuhnya. Tidak lupa juga dirinya untuk merias wajah dengan make up.


Setelah berjalan cukup lama, Suncha akhirnya tiba di halaman sekolah. Hawa segar dirasakannya begitu menginjakkan kakinya di dalam gedung sekolah. Melewati beberapa lorong yang masih tampak sepi, hingga akhirnya tiba di ruang kelas.


"Kenapa sepi sekali, ya?" gumamnya terkejut heran, lantaran isi ruangan kelas yang masih kosong tanpa penghuni.


Tetapi setelah beberapa menit berlalu, beberapa anak mulai berdatangan hadir. Mereka menyapa Suncha saat masuk ke dalam ruang kelas. Namun Suncha merasa aneh dengan sikap mereka yang tiba-tiba menyapanya.


"Ada apa dengan mereka? Apa mereka merencanakan sesuatu?" Suncha berkata dalam hatinya.


Mulai sekarang, dia bahkan tidak percaya pada siapapun lagi. Selain dirinya, dan sang ayah tercinta. Bahkan Seohoon pun masih dirasa mencurigakan baginya.


Kring!!! Bel masuk yang berbunyi secara tiba-tiba itu membuat para murid menjadi kewalahan untuk mencari ruang kelas masing-masing.


Bahkan Boeun bersama dua sejoli nya yang tengah menikmati makanan dikantin, dibuat kaget oleh bel masuk yang berbunyi nyaring.


Ketika hendak berlari menuju ruang kelas, Boeun tak sengaja bertemu dengan tiga anak berandalan sekolah. Kini mereka saling berhadapan dengan tatapan mata sinis.


"Kenapa tidak bolos saja?" ajak Mireu dengan senyum yang terukir di wajah tampannya itu.


"Maaf, aku tidak se berandal itu," sahut Hana tanpa merasa takut sedikitpun.


Sojun yang tidak ingin terlibat dengan Mireu bersama dua temannya itu lantas berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut. Kini hanya tersisa Boeun dan Hana yang saling berhadapan dengan para berandal.


"Kau ingin mendapatkan Seohoon, kan?" ucapnya tiba-tiba. Mampu membulatkan kedua bola mata gadis di depannya.


"Boleh juga, ingin bolos kemana?"

__ADS_1


Bersambung...


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2