
Happy Reading 🌿
_____________________________________________
Cuaca panas dengan disertai hembusan angin menyejukkan seisi ruangan. Beberapa anak yang fokus dengan ponsel masing-masing membuat ruangan kelas menjadi sunyi, jarang dari mereka yang berbicara.
"Padahal semalam dingin sekali, tapi kenapa cuacanya berubah dengan cepat seperti ini, ya?" batin Suncha merasa heran.
Karena masih ada sedikit waktu istirahat, Suncha pun memutuskan untuk pergi bersama Bora ke kantin sekolah. Tujuannya adalah ingin membeli minuman dingin dengan perisa kecut.
"Hanya beli satu?" tanya Bora sedikit kesal saat Suncha mengambil satu minuman yang hanya untuknya.
"Kalau kau mau bisa ambil, tapi jangan lupa untuk bayar sendiri." Suncha tersenyum lalu berjalan menuju tempat duduk yang tak jauh dari tempatnya membeli minuman.
"Tidak ingin traktir, nih?" cakap Bora meledek, tetapi gadis itu hanya terdiam tak menggubris ucapan sahabatnya barusan.
"Baiklah, aku beli sendiri saja!" lontar Bora dengan kesal seraya memasukkan uang koinnya ke dalam box lemari minuman.
Tak lama berselang, keduanya pun berjalan menuju lapangan basket. Di sana Bora merasa sedikit penasaran dengan tujuan Suncha pergi ke tempat itu.
Di waktu yang bersamaan, Seohoon dengan anak yang lainnya juga tengah berlatih memainkan bola basket. Sudah menang pun masih ingin berusaha lebih baik lagi.
"Jadi, minuman itu untuk senior?" Bora mencoba menebaknya. Dan ternyataa tebakannya itu benar. Yah, tepat sekali.
"Aku harus menuliskannya kalau ini dari ku, sebagai penyemangat!" lontar Suncha kegirangan.
Ia menempelkan sebuah kertas pada kaleng minuman tersebut, dengan bertuliskan bahwa itu adalah minuman pemberian dari Suncha.
Setelah usai dengan misi utamanya, Suncha dan Bora lekas pergi meninggalkan area lapangan basket. Keduanya tampak mengumpat dari balik tembok agar tidak ada siapapun yang melihatnya.
"Seohoon, apa ini minuman untukmu?" tanya salah seorang teman satu tim-nya. Seohoon yang tidak mengerti apa-apa lantas mendekati temannya itu.
"Mungkin dari Suncha?" pikirnya dalam hati.
"Itu bukan milikku. Jika kau ingin, minum saja," ucapnya dengan nada suara yang dingin.
Tetapi teman lelakinya itu hanya mengangguk heran, padahal sudah jelas kaleng berisi minuman itu bertulisan nama untuk Seohoon dan dari seseorang yang pasti penting bagi Seohoon.
"Aku minum apa tidak masalah?" tanya nya memastikan.
"Sepertinya tidak. Untuk apa mempermasalahkannya?"
__ADS_1
Si lelaki itu dengan cepat menghabiskan seluruh isi minuman dalam kaleng. Suncha dan Bora yang melihatnya dari kejauhan lantas merasa heran. Karena jaraknya yang cukup jauh juga menjadikan keduanya tidak bisa mendengarkan percakapan Seohoon dengan temannya barusan.
"Apa dia tidak lihat tulisannya?" tanya Bora dengan bingung.
"Mungkin seperti itu ...," balas nya murung.
"Jika dipikir-pikir, sikap Seohoon berubah sejak kemarin sore."
"Suncha, apa kau baik-baik saja?" tanya Bora merasa cemas, dia mengibaskan tangannya di depan wajah Suncha, berhasil membuyarkan lamunannya.
"Aku baik."
Kring!!! Waktu istirahat berlalu dengan cepat, membuat kedua gadis itu langsung berlari menuju kelas. Namun selama mengikuti pelajaran, Suncha hanya termenung sambil memandang ke arah luar jendela. Tentu sikapnya yang berubah itu dicurigai oleh sahabatnya sendiri.
"Suncha, kenapa kau bengong terus sejak tadi?" tanya Bora lirih, dia tak ingin guru yang tengah mengajar di depan itu tau bahwa ia sedang mengobrol.
"Aku tidak bengong, aku hanya bingung."
"Karena senior?" Suncha mengangguk, kemudian meletakkan kepalanya ke atas meja.
"Bora, Suncha, kalian sedang mengobrol apa?" tanya sang guru menatap kedua gadis tersebut dari depan, lalu langkah kakinya mulai berjalan mendekati keduanya.
"Aku ingin meminjam pulpen, tapi Suncha sangat pelit!" ungkap Bora berbohong.
"Ah, Suncha. Dia bahkan terlalu bodoh untuk bisa berakting."
"Kalian berdua ikut saya ke ruang guru saat jam istirahat nanti," ucap nya seraya berjalan kembali menuju ke depan.
Di lain sisi, Dohyun yang lupa tak membawa alat melukisnya lantas meminjam pada salah seorang teman di kelas. Namun dari mereka tidak ada yang memiliki alat melukis lebih, membuat Dohyun harus meminjamnya pada kelas lain.
"Kau mau kemana?" tanya pak Xin, guru yang tengah mengajar di kelasnya.
"Ingin meminjam alat lukis," jawabnya dengan tersenyum lebar. Pak Xin pun mengijinkannya keluar dari dalam ruang kelas jika memang akan meminjam alat lukis.
"Oh ya, Seohoon Kim? Dia ada dimana?" tanya pak Xin kembali, membuat seluruh anak dikelas menatapnya.
"Dia sedang berlatih basket," papar salah seorang gadis sembari mengangkat tangannya.
"Dia terlalu rajin bermain basket sampai jarang mengikuti kelas pelajaran. Untung saja dia pintar, jika saja dia bodoh maka saya akan memarahinya habis-habisan," ujar nya dengan ketus.
Yah, Seohoon bukan hanya populer karena wajah tampannya saja. Namun karena kelebihannya dalam pelajaran serta aktif di kalangan sekolah tentu membuatnya semakin populer. Bahkan pengikutnya di media instagram pun sudah meluap hingga 2 juta followers.
__ADS_1
***
Kriet ...
Pintu ruang kelas 11-1 terbuka, setelah Dohyun membukanya dengan perlahan.
"Permisi, aku ingin meminjam sesuatu," ucapnya pada seluruh penghuni kelas. Untung saja kelas itu sedang jam kosong pelajaran, jadi Dohyun tidak perlu bertemu dengan guru yang tengah mengajar.
"Meminjam apa?" tanya Mireu seraya bangkit dari tempat duduknya. Kerah yang berantakan dengan kancing seragam yang terbuka lebar itu sukses memancing pandangan Dohyun.
"Rapih kan lah seragam mu. Ini sekolah, bukan tempat nongkrong," tutur Dohyun tanpa merasa takut sedikitpun.
"Sudahlah, apa kau guruku?" Mireu mengangkat kepalanya dengan tatapan sinis yang tertuju pada lelaki di hadapannya itu.
"Aku bukan gurumu, tapi aku hanya ingin memberimu peringatan!" tegur nya dengan tegas.
Belum sempat meminjam alat lukis, Dohyun lantas berjalan keluar dari dalam ruangan. Dirinya sudah dibuat pusing oleh Mireu Han.
"Dohyun idamanku," kata seorang gadis yang duduk berada di dekat pintu masuk. Ia bisa melihat wajahnya dari dekat tadi.
***
Seusai jam pelajaran berakhir, Suncha dan Bora langsung di panggil menuju ruang guru. Keduanya berhadapan langsung dengan pak Jihoon Choi. Seorang kepala sekolah di SMA JoHang.
"Apa benar kalian mengobrol saat jam pelajaran tadi?" tanya pak Jihoon menunjukkan wajah kejamnya. Membuat kedua gadis itu merasa takut dan gemetaran.
"Aku hanya meminjam pulpen, berapa kali aku harus bilang??" balas Bora dengan jengkel.
"I-- Iya, tadi dia hanya ingin meminjam pulpen padaku."
"Giliran sudah dipanggil saja baru mau berakting. Dasar bodoh kau Suncha!" geram Bora dalam hatinya.
"Kenapa tidak bicara sejak awal? Kalau begitu kan kalian tidak perlu berhadapan denganku," kata pak Jihoon. Dia lantas mengizinkan Suncha dan Bora keluar dari ruangannya.
-
-
"Suncha, kau itu tidak bisa berakting atau bagaimana, sih?" tanya Bora. Kini langkah kaki mereka tengah berjalan menuju kantin sekolah.
"Maaf, aku tidak tau kalau kau sedang mengajakku akting tadi."
__ADS_1
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀