Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 33 : Kabar Menyedihkan


__ADS_3

Happy Reading 🌿


____________________________________________


"Lepaskan dia!" teriak Dohyun yang baru saja tiba di hadapan mereka.


"Kau lagi? Padahal ... Suncha bukan milikmu. Tapi kau selalu ikut campur ketika aku sedang bersamanya. Selesaikan urusanmu saja, jangan ikut campur dengan urusanku," cakap Mireu sedikit jengkel.


Lantas Minha dan Hayoon langsung mendorong Dohyun hingga terjatuh ke lantai, membuat Suncha terkejut dengan perlakukan kedua lelaki itu.


Tapi karena sudah terlanjur benci, Suncha akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut. Membiarkan Dohyun yang baru saja terjatuh.


Suncha berjalan, dan akhirnya tiba di depan sebuah cafe. Ia memutuskan untuk menenangkan diri sebentar dengan memesan minuman di cafe itu.


Dia duduk di sebuah kursi yang terletak di sebelah pintu masuk cafe, membuka buku menu dan menemukan minuman yang dirasa cukup enak.


"Saya pesan ini saja," ucapnya seraya menunjuk sebuah gambar minuman di dalam buku menu.


Si pelayan cafe itu mengangguk, lalu mencatat minuman yang dipesan oleh Suncha barusan.


Sembari menunggu pesanannya tiba, gadis itu mengobati rasa bosannya dengan membuka layar ponsel. Baru saja membukanya, dia mendapat pesan yang sangat mengejutkan.


Karena hal itu, Suncha akhirnya langsung membayar minuman yang di pesannya barusan, meskipun belum menerima pesanannya.


Suncha berlari mencari sebuah kendaraan umum yang lewat. Tetapi sudah beberapa kali melihat kendaraan, tampaknya kendaraan itu tidak ada satupun yang kosong.


Hingga pada akhirnya, ia pun memutuskan untuk pergi menuju rumah sakit dengan berjalan kaki.


Saat tengah melewati sebuah toko kue, Suncha berinisiatif untuk membeli kue kesukaan sang ayah sebelum tiba di rumah sakit.


Dirinya masuk ke dalam toko tersebut, memilih beberapa kue yang tampilannya cukup bagus meskipun dengan harga yang tidak terlalu mahal.


"Berapa totalnya?"


"$6."


Suncha mengeluarkan uang dari dalam saku pakaian, kemudian menyerahkan uang tersebut pada si wanita penjual kue.


Dua puluh menit lamanya berjalan, Suncha akhirnya tiba di sebuah gedung rumah sakit, tempat tujuannya. Dia menanyakan pada seorang suster mengenai ruang sang ayah.


"Atas nama siapa, ya?" tanya suster itu, tangannya fokus mengetik pada keyboard komputer.


"Dowon Choe."


"Oh, ada di ruangan sebelas lantai tujuh," jawabnya tanpa memandang wajah Suncha.


Yah, gadis itu masuk ke dalam lift. Hingga akhirnya tiba di lantai tujuan. Dia mencari sebuah ruangan dengan angka sebelas. Namun yang ditemukan nya hanyalah ruang mayat dan ruang khusus operasi.


"Masa iya?" ucapnya bertanya dalam hati.

__ADS_1


Saat tengah jalan berkeliling, Suncha tak sengaja menabrak seseorang hingga membuat mereka saling terjatuh ke lantai.


Brughh!!


"Astaga, kepala ku ...," ucap seorang gadis di depannya.


"Yu-- Yuri? Sedang apa kau di sini?" tanya Suncha terkejut heran setelah melihat gadis di depannya itu ternyata adalah Yuri.


"Ah, kau? Diamlah! Jangan ikut campur urusan pribadiku!" sahut nya dengan jengkel.


Keduanya bangkit secara bersamaan. Kini Suncha menatapnya dengan tatapan mata curiga.


"Itu apa?"


Ia merebut secarik kertas dari tangan Yuri, dilihatnya sebuah tulisan kandungan pada kertas tersebut.


"Kau hamil??!!" tanya Suncha kalang kabut. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa temannya itu sampai hamil di usianya yang masih terbilang sangat muda.


"Hei, jangan bicara sembarangan!" sela Yuri menaikkan nada bicaranya.


Gadis itu kemudian merebut kembali kertasnya, dan bergegas pergi meninggalkan Suncha yang masih melongo kebingungan.


Setelah cukup lama terdiam di tempat, Suncha akhirnya kembali mencari letak ruangan ayahnya yang dirawat di rumah sakit itu.


Tak sengaja bertemu dengan seorang suster lain, ia lantas menghampirinya dan bertanya, "Maaf, apa saya boleh tau dimana letak ruang pasien nomor sebelas?"


Suncha heran, dia menolehkan kepalanya ke sana kemari menatap sekeliling.


"Bukannya ini lantai tujuh?" tanya Suncha memastikan, namun suster yang berada di depannya itu tiba-tiba tertawa kecil.


"Ini lantai lima. Nona salah?"


Sudah terlanjur malu, dia pun hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu kembali menaiki lift dan kini dipastikan agar tidak salah lantai.


Kling!


Suncha tiba di lantai tujuh, baru beberapa langkah keluar dari dalam lift, dirinya sudah dapat melihat papan yang menunjukkan nomor ruangan.


Dengan perlahan ia masuk. Dan menemukan sang ayah yang tengah terbaring di ranjang kamar rumah sakit.


"Ah, ayah? Kenapa kau sampai seperti ini?" gumamnya menatap Dowon.


Ayahnya itu terlihat memejamkan mata karena tak sadarkan diri. Suncha bahkan tidak tau alasan mengapa ayahnya tiba-tiba bisa dirawat di rumah sakit.


Ketika matahari telah tergantikan oleh rembulan, Suncha yang baru saja ketiduran itu mendadak bangun karena nada dering pada ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.


Membuat gadis itu meraih ponselnya yang diletakkan di atas meja sebelah ranjang.


"Suncha," sapa seorang lelaki dari balik telepon. Siapa lagi kalau bukan sang kekasih kontraknya?

__ADS_1


"Ah, iya? Ada apa?" tanya Suncha sedikit lemas lantaran baru saja terbangun.


"Kau dimana? Aku ke rumahmu, tapi tidak ada siapapun di rumah?"


"Sebenarnya, aku sedang berada di rumah sakit karena menemani ayahku," ungkap nya, sontak mengejutkan Seohoon.


"Ada apa dengan ayahmu?" tanya Seohoon mendadak panik.


"Aku belum tau. Tapi ... apa kau bisa kemari untuk menemaniku?"


"Tunggu, aku akan segera ke sana!"


Belum sempat menjawab, Seohoon dengan cepat langsung mengakhiri panggilannya secara sepihak.


Lima belas menit telah berlalu. Sosok yang sudah cukup lama dinanti akhirnya tiba. Tampak ia yang membawa beberapa makanan hingga memenuhi isi tangannya.


"Sudah datang?" tanya Suncha seraya berjalan menghampiri lelaki itu.


"Tadi aku sempat membeli ini saat menuju ke rumah sakit," kata Seohoon. Dia memberikan seluruh makanan itu pada Suncha.


"Lain kali tidak perlu repot-repot."


"Ah, tidak kok."


Waktu telah menunjukkan pukul 22.00 tepat, suasana di rumah sakit itu mulai sepi. Beberapa pasien bahkan sudah beristirahat di ruangan mereka masing-masing.


Namun Suncha dan Seohoon malah sedang menanti kesadaran Dowon. Pria selaku ayah dari kekasihnya itu belum siuman sejak sore tadi.


"Tidurlah, biar aku yang menjaga ayahmu," tutur Seohoon pelan.


"Tidak. Aku ingin melihat ayahku bangun," balasnya tanpa menoleh sedikitpun.


"Jangan ngeyel. Kau bisa sakit, apalagi lusa ada ujian, kau mau sakit?"


"Kenapa bicara seperti itu? Menyebalkan!" lontar Suncha merasa kesal.


***


Sementara itu, Dohyun tampak sedang merenung di sebuah taman. Dia fokus menatap layar ponselnya, melihat foto seorang gadis, yang tak lain adalah Suncha.


"Kenapa kau pergi seperti itu? Bahkan aku membelamu, tapi kau malah pergi tanpa alasan," ucapnya masih dengan memandang foto Suncha pada ponselnya.


Tanpa ia sadari, ternyata ada seseorang yang sejak tadi mengamatinya dari balik semak-semak.


Dua orang dengan pakaian serba hitam itu tampak memegang sebuah kamera di tangannya. Memotret diam-diam Dohyun yang tengah duduk di kursi taman tersebut.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

__ADS_1


__ADS_2