
Happy ReadingπΏ
______________________________________________
Terik yang begitu panas tanpa adanya hembusan angin, membuat mereka menjadi kesulitan untuk beraktivitas di luar ruangan. Silauan cahaya itu mampu menyoroti mata, menjadikan mata sulit memandang.
Minha jalan beriringan dengan teman basket lainnya, mendekati Seohoon dengan tatapan wajah heran lantaran melihat sekotak susu rasa strawberry berada di genggaman senior itu.
"Untuk Suncha?" tanya Minha tersenyum lebar, lantas diangguki olehnya.
"Apa kami tidak dibelikan minuman kaleng?" timpal salah seorang dari mereka.
"Tidak. Ah, kita sudahi saja latihan pagi ini. Lanjut nanti setelah pulang sekolah," usul Seohoon, langsung disetujui oleh lima anak yang tengah berada bersamanya di lapangan basket.
Waktu berputar dengan cepat, hingga jam menunjukkan waktu istirahat dan bel berbunyi dengan nyaring. Para murid berlarian menuju kantin, tak ingin kehabisan tempat untuk mereka makan siang.
Tapi tidak dengan Seohoon, dirinya justru berjalan dengan arah yang berbeda dari murid lain. Langkah kakinya itu mendekati sebuah ruangan, hingga akhirnya tiba di depan ruang kelas 10-2.
Lelaki itu perlahan membuka pintu, tampak beberapa orang saja didalamnya, termasuk Suncha, orang yang ingin ia temui.
"Lihat! Senior!" seru Jiwoo seraya menunjuk ke arah Seohoon, dia adalah salah satu anggota kelas 10-2.
Suncha yang mendengarnya berteriak reflek menoleh ke arah pintu masuk. Dan jelas, terlihat Seohoon yang sedang menatapnya dari pintu kelas.
"Ah, kau?" Suncha meletakkan bukunya di atas meja, lalu berjalan mendekat ke arah lelaki itu.
"Untukmu," ucap Seohoon secara tiba-tiba. Dia memberikan sekotak susu strawberry yang sebelumnya dibeli dari kantin.
Suncha yang merasa tidak yakin itu lantas menunjuk dirinya sendiri, dan dibalas anggukan pelan oleh lelaki di hadapannya.
"Ah, kalau begitu terima kasih," ucapnya seraya menunjukkan senyum manis pada bibirnya.
"Apa kau sudah makan?" tanya Suncha.
"Aku sedang tidak lapar."
"Aku ingin berbicara sedikit denganmu. Bisakah kita pergi ke atap sekolah?" pinta Suncha, dia menarik lengan Seohoon dengan asal.
"Haish, ayo."
Setelah keduanya pergi meninggalkan area kelas, Mireu bersama dua temannya itu justru datang ke kelas tersebut, mencari keberadaan Suncha seperti sebelumnya.
"Dia pergi keluar bersama senior," balas Jiyeon dingin dari arah tempat duduknya.
__ADS_1
Yah, mau bagaimana lagi? Jika gadis itu sudah pergi bersama sang kekasih, tentu Mireu tidak bisa ikut campur apalagi menghentikannya.
Sementara itu, Suncha yang baru saja tiba di atap sekolah bersama Seohoon duduk di sebuah kursi yang tersedia.
Suncha memandang lelaki di sebelahnya itu, merasa sedikit ragu untuk mulai berbicara.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Seohoon sukses membuat Suncha kaget dan seketika menjadi panik. Keringat dinginnya mengalir deras di sekujur tubuh.
"A-- Anu, sebenarnya ... aku ingin meminta nomor telepon mu."
Seohoon terdiam, tak menggubris ucapan gadis di sebelahnya. Sikap Seohoon tentu membuat Suncha malu setengah mati.
"Aneh kan, jika kita berpacaran tapi tidak menyimpan nomor telepon kekasihnya?" lanjut ucapnya dengan menahan rasa malu.
Lantas Seohoon pun langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku kemeja, membuka layar ponsel dan menunjukkan nomor telepon miliknya.
"Ah, terima kasih," ucap Suncha setelah dirinya mendapat nomor telepon dari sang kekasih.
"Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu ya. Aku tidak sabar ingin meminum susu ini," ujarnya seraya berlari meninggalkan Seohoon. Dia berjalan menuruni tingga, hingga tiba di lantai ruang kelas miliknya.
"Hanya itu saja? Dia sampai mengajakku ke atap?" gumam Seohoon merasa sedikit jengkel.
Setelah langit tampak mulai gelap, seluruh siswa di SMA JoHang langsung berkemas, berlari tanpa aturan menuju gerbang sekolah.
Selama berjalan menuju arah pulang, gadis itu hanya fokus menatap layar ponsel. Hingga tak sadar bahwa ada seseorang yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya.
Karena hal itu, mereka pun saling bertabrakan dan keduanya terjatuh ke lantai jalanan dengan suara yang cukup keras.
"Ah, maaf. Aku tidak sengaja!" lontar Suncha seraya berdiri dan mengulurkan tangannya pada seseorang yang masih terduduk di lantai.
Lalu gadis tersebut membalas uluran tangan dari Suncha, menutup wajahnya dengan sebuah masker berwarna abu.
Rambutnya yang panjang dengan warna abu itu mengingatkan Suncha pada Yuri. Namun gadis yang kini tengah berhadapan dengannya itu tak ia ketahui identitasnya, lantaran wajah yang tertutup dengan sebuah masker.
"Terima kasih," ucapnya tanpa memandang Suncha.
Begitu mendengar suara yang keluar dari mulut orang itu, Suncha pun terkejut. Langsung mengejarnya menuju arah yang dilewati oleh gadis tadi.
"Tunggu sebentar!!" teriak Suncha, membuat gadis itu berhenti berlari.
"Ah, ada apa?"
"Kau ... Yuri?" tebak Suncha, lalu membuka masker yang tengah dipakai oleh gadis di depannya tanpa izin.
__ADS_1
"Eh? Benar, kan?"
Tepat sekali, gadis itu memang benar Yuri. Ia memakai atasan tanktop dengan bawahan rok mini, membuat Suncha merasa terkejut karena penampilannya.
"Apa maksudmu membuka masker ku tanpa izin?" bentak Yuri lantaran dirinya merasa kesal.
"Maaf, aku tidak sadar sampai membuka masker mu seperti itu," jawab Suncha tanpa memasang ekspresi apapun pada wajahnya.
"Yang kau lihat hari ini, anggap saja tidak pernah terjadi! Dan aku minta padamu agar tidak menyebarkannya pada anak disekolah!" tegas nya, lalu beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Apa dia bekerja dengan menjual dirinya sendiri?" gumam Suncha.
Karena penasaran, Suncha akhirnya nekat mengikuti Yuri dari arah belakang. Hingga akhirnya tiba di depan sebuah hotel terbesar di Gangnam.
Suncha termangap kaget, mengetahui Yuri yang baru saja masuk ke dalam gedung hotel besar, tepat berada di depan matanya.
"Apa aku harus mencegahnya?" ucap Suncha berusaha memikirkan jalan keluar.
"Tapi jika aku ikut campur dalam urusannya, aku juga akan kena."
Pada akhirnya, gadis itupun mengurungkan niatnya untuk mengejar Yuri hingga ke dalam gedung hotel.
Lantaran tempat yang sudah cukup jauh dari area rumah apartemennya, Suncha akhirnya memilih untuk menaiki taxi. Menghentikan sebuah taxi yang baru saja lewat di depannya.
"Ke apartemen Gonsang," kata Suncha memberi tahu pada si pengemudi.
"Baik."
Setelah melakukan perjalanan singkat, gadis itu akhirnya tiba di halaman apartemen Gonsang. Membayar si sopir taxi dan kemudian masuk ke dalam gedung apartemen.
Saat hendak msmasuki lift, ia tak sengaja mendengar obrolan penghuni apartemen. Mereka membicarakan soal wahana pasar malam yang baru dibuka hari ini, letaknya berada di pusat kota.
Pembukaan pasar malam di malam pertama tentu menarik orang-orang untuk menjadi pengunjung. Sudah pasti tempat itu akan ramai dipenuhi oleh para manusia, serta wahana dan juga jajanan.
Tanpa angin tanpa badai, Suncha yang tengah terdiam melamun itu tiba-tiba tersenyum. Membuat beberapa orang di dalam lift menjadi heran dan merinding.
"Nak, apa kau baik-baik saja?" tanya seorang pria setengah baya, memandang Suncha dari dekat.
"Aiya, saya baik," jawabnya cengengesan.
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ
__ADS_1