Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 2 : Ditembak?!!


__ADS_3

Happy Reading🌿


_____________________________________________


Ramai riuh orang-orang terdengar di sepanjang koridor sekolah. Seakan mereka tengah menyambut kedatangan Suncha yang sedang berkeliling sekolah bersama Bora dan Jiyeon.


"Ini adalah ruang laboratorium sains. Dan yang itu adalah perpustakaan," cakap Jiyeon sembari menunjuk sebuah ruangan yang tepat berada di sebelah mereka.


Ruangan dengan cat tembok berwarna cream, mengingatkan Suncha pada sebuah rumah yang dulu ditinggalinya bersama sang ayah. Tanpa sadar, Suncha terdiam bengong dan membuat kedua gadis di sebelahnya itu menjadi heran.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bora sembari mengibaskan tangannya di depan wajah Suncha, sontak gadis itupun terbuyar dari lamunannya.


"Ah, maaf."


Tak lama berselang, ketiganya pun berjalan menuju sebuah ruangan musik yang terletak cukup jauh dari area kelas mereka, letaknya berada di lantai paling ujung.


"Ini adalah ruang kelas musik. Ngomong- ngomong, kau harus berhati-hati jika sedang diterangkan oleh guru musik di kelas," terang Jiyeon dengan raut wajahnya yang serius.


"Kenapa?"


"Bu Cha sangat galak, dia tidak akan mengampuni siapa saja yang membuat ulah saat pelajaran sedang berlangsung," lanjutnya.


Setelah hampir seluruh ruangan di dalam gedung sekolah diperlihatkan pada Suncha, Jiyeon dan Bora pun memutuskan untuk memperkenalkan tempat di luar gedung sekolah. Namun karena bel masuk yang berbunyi tiba-tiba, membuat ketiga anak tersebut harus kembali ke kelas.


"Kita lanjut saat istirahat ke dua, ya!" lontar Bora bersemangat.


Mata pelajaran Bahasa Korea pun dimulai, dengan seorang guru wanita muda yang tengah fokus menerangkan materinya di depan. Yah, tentu guru itu menjadi pusat perhatian para kaum lelaki di dalam ruangan. Bagaimana tidak? Parasnya yang cantik dengan lekukan badan yang sempurna, mampu memikat hawa nafsu mereka.


"Bu!" Sojun mengangkat tangannya, membuat guru wanita itu beralih menatap Sojun.


"Saya ingin pergi ke belakang."


"Baik, tapi jangan terlalu lama!" tegas sang guru. Sojun lantas bangkit dari tempat duduknya, langkah kakinya itu berjalan semakin menjauh dari ruang kelas.


"Buka halaman 12 dan kerjakan soalnya," ucap itu guru dan diikuti oleh para muridnya.


Kring!!!


Bel istirahat kedua akhirnya berbunyi, tanpa berpikir panjang Bora langsung menarik lengan sahabat barunya itu untuk keluar dari kelas.


"Huh, kau sangat tidak sabaran sekali, ya ... " cakap Suncha pelan.


"Begitulah, sepertinya aku terlalu bersemangat karena mendapat teman baru," ungkap Bora kegirangan.


Tak lama setelah itu, Jiyeon keluar dari kelas dengan sebuah alat tulis yang berada di genggamannya.

__ADS_1


"Ayo."


Suncha berjalan menuju sebuah lapangan basket yang terletak bersebelahan dengan gedung sekolah. Banyak anak lelaki yang menatapnya lantaran merasa bahwa Suncha adalah penghuni baru yang duduk untuk menyaksikan latihan para pemain basket.


Namun memang kenyataannya, bahwa Suncha adalah anak baru di sekolah tersebut.


Duk!!


Seohoon menangkis sebuah bola yang hampir mengenai Suncha. Kejadian itu sukses memikat perhatian orang-orang di sekitar lapangan. Yah, tidak hanya di situ saja. Bahkan beberapa anak yang tengah menyaksikan latihan basket dari dalam gedung itu dibuat kagum oleh Seohoon.


"Te-- Terima kasih!" ucapnya gugup.


"Hai, apa aku tidak salah lihat?" bisik Bora pada Jiyeon yang sama dibuat kagum oleh. kejadian tersebut.


"Tidak."


"Lain kali perhatikan tempat sekitar. Kau hampir saja terkena bola nya!" celoteh Seohoon. Tatapan matanya itu menunjukkan kekhawatiran besar pada Suncha.


"Yah, aku tidak tau jika akan terjadi hal seperti ini!" geram Suncha berusaha membela dirinya sendiri.


"Ayolah, kita pergi saja." Suncha menarik lengan dua gadis itu, namun dihentikan oleh Seohoon.


"Apa kau tidak tertarik untuk masuk ke kelas basket?"


"Sepertinya, aku harus memikirkannya lagi untuk ini," tolak Suncha dengan menunjukkan senyuman manis di wajah cantiknya itu.


"Baiklah."


***


Waktu telah berlalu. Suasana langit berubah menjadi gelap saat menginjak di jam terakhir. Beberapa dari mereka yang berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki, mulai dibuat resah lantaran tidak membawa payung. Dan Suncha adalah satu satu dari mereka.


Matanya itu terus fokus menatap ke luar jendela, dan terlihat rintik-rintik air yang mulai berjatuhan dari langit.


"Heuh, aku pasti akan pulang terlambat ... "


"Suncha, apa kau tidak mendengarkan penjelasan saya?" seorang guru yang tengah mengajar menyadari bahwa Suncha hanya bengong menatap hujan sejak tadi.


"Maaf, Pak."


Selang beberapa waktu, bel pulang akhirnya berbunyi nyaring hingga terdengar ke setiap lorong sekolah. Bersamaan dengan itu, hujan pun turun semakin deras.


Anak-anak yang tidak sabar untuk segera pulang lantas buyar dan meninggalkan ruangan kelas.


Namun beberapa dari mereka juga tengah mengamati kondisi, yang artinya harus menunggu hingga hujan mulai reda.

__ADS_1


"Suncha, aku pulang dulu ya. Orang tuaku sudah menunggu di halaman sekolah," pamit Bora seraya melambaikan tangannya.


"Hati-hati, ya!" sahut Suncha, kemudian Bora membalasnya dengan menggunakan gerakan pada jari.


Waktu telah menunjukkan pukul 16.59. Hujan yang masih cukup deras membuat Suncha terjebak di dalam kelas. Yah, sepertinya hanya tersisa ia seorang yang masih berada di sekolah.


Lantaran merasa takut, Suncha pun akhirnya memutuskan untuk menuju lantai dasar. Setibanya ia di sana, tampak beberapa anak yang masih tersisa. Salah satunya adalah Seohoon, dia tampak sedang bermain ponsel dengan sebuah headphone yang menempel di kepalanya.


"Suncha?" Seohoon yang menyadari bahwa Suncha tengah memperhatikannya dari jauh, membuatnya berinisiatif untuk menghampiri gadis itu.


"Kau, belum pulang?" tanya Seohoon tiba-tiba, sontak membuat Suncha terkejut panik.


"Aku tidak membawa payung," jawabnya singkat.


"Aku ingin berbicara sesuatu padamu, apa bisa?" tanya nya kembali, kemudian di balas anggukan oleh Suncha.


"Ayo kita pacaran kontrak."


Deg?!!!


Suncha terdiam, kini kedua bola matanya mulai menatap anak lelaki di sebelahnya itu. Tentu, menurutnya ini terlalu tiba-tiba. Bahkan mereka sendiri baru bertemu tadi pagi.


"Aku tau ini tiba-tiba, tapi ... ini hanya sebuah hubungan di atas kertas."


"Benar, berarti dia tidak sungguh-sungguh," geram Suncha dalam hati.


"Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa."


"Jika tidak bisa, aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku berikutnya," tutur Seohoon pelan.


"Memangnya, ada masalah apa?"


"Aku bosan dengan anak perempuan yang suka mengejar ku. Jujur, aku dibuat pusing oleh mereka."


"Ta-- tapi, bukankah mereka jauh lebih baik dari aku?"


"Tidak, justru kau yang lebih baik dari mereka. Sejak awal, aku melihat kepribadian mu yang berbeda dari anak perempuan lain, aku salut dengan sikapmu," ungkap Seohoon dengan senyuman kecil.


Suncha yang sebelumnya berpikir keras, kini mengambil keputusan dengan begitu mudahnya, setelah melihat senyum maut di wajah lelaki itu.


"Baiklah!" balasnya yang juga tersenyum.


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€

__ADS_1


__ADS_2