
Happy ReadingπΏ
____________________________________________
Suncha terdiam, lalu mematikan panggilannya secara sepihak, membuat Jiyeon menjadi sedikit heran. Namun ia tak ambil pusing dengan hal itu. Kembali meletakkan ponselnya ke atas ranjang dan melanjutkan belajar.
Sementara dengan Suncha, dirinya masih merasa khawatir dengan keadaan si sahabatnya yang sudah tidak ada kabar. Ingin sekali datang ke kediamannya, namun Suncha sendiri tidak tau dimana alamat rumah Bora.
Selang beberapa waktu kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah apartemennya. Membuat Suncha lekas bangkit dari ranjang.
Suncha membukakan pintu, melihat siapa yang tadi sempat mengutuknya.
"Dohyun? Ada apa?" tanya Suncha dengan tersenyum lebar. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang tak kuasa menahan rasa senang ketika berhadapan dengan seseorang yang sudah lama di nantinya.
"Aku membawakan sedikit makanan untukmu," papar nya seraya memberikan sekotak wadah berisi makanan.
"Junkfood?" Suncha tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sebuah makanan junkfood dengan aroma yang mampu menggugah selera.
"Iya. Aku membuatnya terlalu banyak, jadi kupikir untuk memberikan sebagian makanannya padamu," ungkap Dohyun.
"Wah, terima kasih banyak. Bagaimana kalau kita makan bersama di dalam?" ajak Suncha dengan tangannya yang mempersilahkan lelaki itu untuk ikut masuk ke dalam rumah apartemennya.
"Maaf, tapi tidak baik jika laki-laki datang ke rumah teman perempuannya di malam yang larut seperti ini."
Kata-kata itu membuat Suncha terharu, sikapnya sejak dulu tidak pernah berubah sepersen pun di matanya.
"Baiklah kalau begitu, emm-- "
"Ah, Dohyun? Sejak kapan kau ada di sini?" Dowon tiba-tiba datang, sukses mengejutkan anak dan teman anaknya itu.
"Ayolah, Ayah selalu saja mengagetkan ku!!" kesal Suncha menunjukkan wajah murung pada ayahnya.
"Maaf, tapi kenapa Dohyun tidak ikut masuk juga?"
Dowon membuka pintu rumah, mempersilahkan dua orang yang kini berada di depan pintu untuk ikut masuk bersamanya. Tetapi jawaban Dohyun tetap sama, dia tidak menerima tawaran untuk masuk.
"Maaf, tapi sepertinya saya harus beristirahat."
Suncha mengangguk paham, lantas dirinya mengajak sang ayah untuk tidak memaksa Dohyun.
"Ya sudah, kalau begitu kembalilah," cakap Dowon.
"Iya, saya permisi." Lelaki itu berjalan memasuki rumah apartemennya sendiri.
***
"Ayo kita makan malam bersama, Ayah. Dohyun yang memberikannya padaku," kata Suncha seraya duduk di meja makan.
__ADS_1
"Dia yang memberikan itu padamu?" tanya sang ayah senang. Lalu dibalas anggukan oleh Suncha.
"Baguslah, Ayah jadi tidak perlu repot untuk masak."
Sepasang ayah dan anak itu akhirnya menikmati makan malam pemberian Dohyun secara bersama-sama. Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling berperang, menyantap junkfood dengan santai.
Awan cerah dengan mentari yang datang dari arah timur memanjakan mata Suncha yang baru saja terbuka. Menguap kantuk lantaran begadang semalaman hanya karena tidak ingin tertinggal dengan serial drakor kesukaannya.
Tidak menggunakan waktu lama, Suncha akhirnya telah rapih dengan seragam yang ia kenakan. Pagi itu Dowon menyempatkan diri untuk sesekali mengantar anaknya hadir ke sekolah.
"Sepertinya terlalu berlebihan, aku kan sudah besar," ucap Suncha dengan tertawa kecil.
Langkah kaki yang berjalan menuju sekolah itu didampingi oleh Dowon, tak pernah sekalipun ia merasakan kebahagiaan ini setelah tumbuh dewasa.
Hanya dalam waktu belasan menit, sepasang ayah dan anak itu akhirnya tiba di halaman sekolah. Banyak sepasang mata menatap keduanya, terutama pada Suncha.
"Ayah pergi dulu, semoga kau bersenang-senang!" lontar sang ayah dengan langkah kaki yang semakin menjauh dari area sekolah.
"Dadah!!" Gadis itu melambaikan tangannya, dan dibalas serupa oleh Dowon.
"Itu Ayahmu?" tanya seseorang yang baru saja tiba di hadapannya, membuat terkejut hingga jantungnya hampir copot.
"Yuri? Sejak kapan ada di sini?" tanya Suncha merasa heran.
Keduanya berjalan secara beriringan menuju loker, lalu sibuk dengan loker milik masing-masing dari mereka.
"Tinggal dimana?" tanya Yuri.
"Di apartemen Gonsang."
"Wah, apartemen besar itu?" Matanya terbelalak lebar, terkejut dengan jawaban dari Suncha barusan.
"Memangnya kenapa?"
"Oh, tidak. Aku hanya ingin memastikan saja."
Kring!!!!
Bel masuk berbunyi, membuat keduanya harus berpisah di obrolan yang dirasa cukup menyenangkan bagi Yuri.
Tibalah Suncha di dalam ruang kelas, beberapa anak bergosip heboh mengenai ulang tahun seseorang, itulah yang sempat didengar oleh Suncha.
"Siapa yang ulang tahun?" Suncha bergumam heran.
"Suncha! Apa kau tidak ingin memberi surprise pada pacarmu itu?" lontar Boeun dari arah tempat duduknya. Yah, kata-kata nya barusan sempat membuat Suncha terkejut sekaligus bingung.
"Wah wah ... sepertinya Suncha tidak membawa apa-apa untuk pacarnya yang hari ini ulang tahun," lanjut ucapnya, membuat Suncha menjadi jengkel.
__ADS_1
"A-- Aku lupa."
"Lupa? Atau tidak tau?" timpal Hana terkikik tawa.
Karena kesal dengan dua pasangan sejoli itu, Suncha akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam ruang kelas. Dia berjalan menuju toilet untuk memikirkan suatu hal.
"Seohoon ulang tahun hari ini? Berarti semalam di grup itu, pasti heboh karena ulang tahunnya?" ucap Suncha seraya menatap dirinya pada sebuah cermin di depannya.
"Huh, aku harus memberi surprise apa, ya? Bahkan aku saja tidak menyimpan nomor teleponnya. Apa aku pantas disebut sebagai pacar Seohoon?"
Beberapa kali Suncha menepuk kedua pipinya, berusaha memikirkan sesuatu yang harus ia berikan pada Seohoon. Tetapi selama apapun dia memikirkan, hasilnya tetaplah nihil.
Benaknya hanya dipenuhi oleh Dohyun, Dohyun dan Dohyun. Lelaki yang bahkan belum sempat hilang dari dalam hatinya.
Tak lama setelah itu, Suncha lantas kembali ke dalam ruangan kelas. Dilihatnya seorang guru yang tengah mengajar di depan. Membuatnya ragu untuk masuk. Tapi pada akhirnya, Suncha memutuskan untuk masuk.
"Permisi ...," ucapnya lirih membuka pintu masuk ruang kelas.
"Masuklah," balas sang guru.
"Terima kasih."
-
-
-
Mireu membuka layar ponselnya, melihat postingan yang sedang tren hari ini. Beberapa kali ia melihat sebuah postingan mengenai ulang tahun Seohoon, si senior sekolah yang begitu populer.
"Haduh, kenapa dia begitu populer?" ucapnya kesal pada dua temannya yang tengah duduk bersamanya di suatu tempat.
"Jika kau ingin populer juga, makanya berhentilah bolos. Dan jadi anak yang rajin!" cakap Hayoon dengan sebuah rokok di tangannya.
Ketiga anak itu tampak sedang merokok di tempat yang jauh dari area sekolah. Mengenakan seragam, dan bolos tanpa keterangan.
"Kau saja yang berubah, sana!" sahut Minha sedikit jengkel.
"Toh, aku hanya bercanda. Kenapa kalian terlihat serius sekali?" kata Hayoon, dia membuang sisa putung rokok secara asal. Tak perduli jika terjadi sebuah kebakaran sekalipun.
"Hai, apa kau punya nomor Suncha?" tanya Mireu tiba-tiba, sukses mengejutkan dua teman disebelahnya itu.
"Ayolah, jika ada bagi saja denganku. Dia terlalu spesial untuk kalian."
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ
__ADS_1