Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 22 : Bermain Game


__ADS_3

Happy Reading 🌿


______________________________________________


"Suncha, terima kasih," ucap Seohoon, air matanya mulai menetes karena rasa bahagia.


"Tapi, bagaimana kau bisa menemukan tempat tinggalku?" tanya Seohoon merasa heran.


"Itu sih, karena Yuri. Anak kelas 11-1," jawab Suncha, lantas membuat lelaki di sebelahnya terkejut kalang kabut.


"Sudahlah, lagipula itu tidak penting sekarang. Yang terpenting, tiup lah lilin ini dan membuat permohonan." Seohoon mengangguk.


Suasana malam dengan dihiasi sepi membuat keduanya merasa nyaman. Dengan beberapa bungkus kado yang telah disiapkan oleh Suncha, tak sabar ia berikan pada Seohoon ketika mereka kembali nanti.


"Aku berharap, Suncha tidak akan mengenal Yuri," ucap Seohoon dalam hatinya, sebagai permohonan yang ia inginkan pada lilin yang baru saja ditiup nya.


Setelah menghabiskan waktu cukup lama di tempat itu, mereka lantas memutuskan untuk kembali ke rumah apartemen Seohoon. Hanya dengan beberapa langkah, mereka pun akhirnya tiba.


"Ada satu lagi untukmu," ucap Suncha seraya tersenyum dan memberikan sesuatu pada Seohoon.


"Buka setelah aku pulang, ya!" lanjut ucapnya.


Karena malam yang sudah cukup larut, Suncha akhirnya memutuskan untuk pulang. Dirinya diantar oleh Seohoon sampai halte bus saja, lantaran Suncha menolak untuk diantar sampai ke rumahnya.


"Hati-hati ...." Seohoon melambaikan tangan ke arahnya, sukses mengukir senyum di wajah gadis itu.


Selama berada di dalam bus, Suncha hanya fokus pada layar ponselnya, hingga tak sadar bahwa ada seseorang yang mengenakan masker sejak tadi mengamatinya.


Dug!! Bus yang berhenti secara mendadak sukses membuat ponselnya itu terjatuh ke lantai. Menoleh ke arah penumpang di sebelahnya, dan terlihat penumpang tersebut yang menatap aneh p


wajahnya.


"Suncha?" Lelaki dengan sebuah masker di wajahnya, berjalan mendekati Suncha, membuatnya takut dan tidak tau harus berbuat apa.


"Maaf, anda siapa?" tanya Suncha. Tangannya terlihat gemeteran, serta keringat dingin yang terus keluar, menyebabkan tubuhnya menjadi basah.


Lelaki itu perlahan membuka masker, menunjukkan wajah aslinya dan sontak mengagetkan Suncha.


"Ah, Kak Mireu?"


Yah, lelaki yang sedari tadi mengamati dirinya adalah Mireu Han. Ia mengenakan sebuah pakaian yang serba hitam, dengan topi serta masker yang juga berwarna hitam.


"Hai, baru bertemu Seohoon, ya?" pertanyaan yang terlontar dari mulutnya itu sontak membuat Suncha panik. Apalagi, dia tidak berani jika berhadapan dengan berandalan seperti Mireu.


"T-- Tidak!" sanggah nya berbohong.

__ADS_1


"Aduh, jangan berbohong. Aku melihatnya tadi."


Gadis itu hanya terdiam, tak menggubris ucapannya dan langsung bangkit dari kursi bus.


"Pak, berhenti di sini," pinta nya seraya meletakkan tangan di atas bahu sang sopir.


"Jangan," sela Mireu. Membuat pengemudi bus itu merasa bingung.


"Jadi, bagaimana?" tanya nya dengan ragu.


"Jalan saja," balas Mireu singkat.


"Huh, ayolah ... kenapa Kakak menggangguku?" Suncha berjalan kembali menuju kursi tempat duduknya di dalam bus tersebut.


Kejadian singkat tadi sempat menarik perhatian para penumpang lainnya.


"Aku hanya ingin mengajakmu ke tempat game, mau coba?" tawar Mireu sembari menunjukkan sebuah video game yang seru pada gadis itu.


"Apa dia tidak berniat menggangguku?" gumam nya.


"Baiklah, aku ikut."


Cukup lama berada diperjalanan, mereka pun akhirnya tiba di sebuah tempat bermain game. Bangunan yang cukup besar nan luas menunjukkan banyak para pengunjung lain.


Tidak menggunakan waktu lama, keduanya lantas masuk ke dalam bangunan tersebut. Terlihat ribuan laptop yang disediakan untuk para pengguna, ruangan yang dilengkapi dengan AC, serta CCTV itu sudah tak lagi asing bagi Mireu.


"A-- Aku tidak tau bagaimana cara memainkannya," ungkap Suncha sedikit malu, membuat lelaki di sebelahnya tersenyum lebar.


"Biar kuberi tahu."


Yah, tidak meminta diajari pun Suncha langsung diajari oleh Mireu cara bermain game di tempat itu. Gadis yang hanya aktif di kalangan sekolah seperti dirinya tentu tidak tertarik ataupun mencoba bermain game.


Tetapi kali ini, karena ajakan si bocah berandalan sekolah membuatnya mencoba bermain game untuk yang pertama kalinya.


"Bagaimana, apa sekarang sudah paham?" tanya Mireu setelah cukup lama mengajari bagaimana cara bermain game yang sesungguhnya.


Namun, jawaban Suncha tidak sesuai dengan keinginannya. Di sekolah, ia adalah anak yang cukup rajin dan bahkan bisa disebut sebagai bocah connect.


Tapi Lain halnya dengan bermain game, Suncha bodoh dalam memahami cara bermainnya. Mungkin ia membutuhkan waktu beberapa minggu hingga benar-benar bisa menguasai game tersebut.


"Huh, aku paham. Sepertinya kau harus banyak berlatih," ucap Mireu dengan cemberut.


"Tenang, Kak! Aku pasti akan bisa menguasainya. Aku akan sering-sering datang ke sini," balas Suncha seadanya lantaran tidak ingin bertengkar dengan Mireu.


"Mulai sekarang, berhentilah memanggilku dengan sebutan kak."

__ADS_1


"Apa tidak apa-apa?" tanya Suncha memastikan, menunjukkan wajah imutnya dan sukses membuat lelaki di sebalah nya itu jadi salah tingkah.


"Ya ... ya ... Mireu saja, atau apalah. Tapi hilangkan kata kak dari mulutmu," sahutnya.


Waktu menunjukkan pukul 01.45. Suncha yang terlalu fokus bermain bersama Mireu tak sadar dengan malam yang bahkan sudah semakin larut.


"Jam berapa ini?" tanya Suncha menatap sebuah jam pada dinding ruangan.


"Hah? Sudah jam segini?!!!" kejut nya.


"Mau pulang?" Mireu mendekatkan wajahnya pada Suncha, lalu dibalas anggukan oleh gadis itu.


"Ayo, biar ku antar kau pulang." Mireu menarik lengan Suncha, namun dihentikan olehnya.


"Kenapa?" tanya Mireu dengan heran.


"Aku takut ada kesalahpahaman." Lelaki itu mengangguk paham.


Lantas Suncha berlari keluar dari dalam gedung tersebut, menghentikan sebuah taxi yang sempat lewat di depannya.


"Ke apartemen Gonsang," ucap Suncha pada si pengemudi taxi.


"Baik."


"Ternyata, bermain game lumayan menyenangkan juga. Tapi skill ku masih kurang," gumamnya seraya tersenyum, membuat pria pengemudi taxi yang melihatnya menjadi heran.


***


Sementara itu, Seohoon yang penasaran dengan sebuah kado pemberian dari Suncha pun membukanya.


Tampak sebuah benda, yang tak lain adalah benda kesukaannya. Sebuah headphone yang sebelumnya dirusak oleh Suncha kini dikembalikannya sebagai sebuah kado.


Senyum lebar ditunjukkan pada wajahnya, menatap headphone di dalam kotak kado tersebut.


Karena merasa lapar setelah usai belajar, Seohoon pun menuju dapurnya untuk membuat makanan sederhana. Mengambil wortel dari dalam lemari kulkas, lalu memotongnya dan dilanjutkan dengan menuangkan bumbu.


Setelah cukup lama sibuk di ruang dapur, makanan yang telah dibuatnya sesimpel mungkin akhirnya selesai. Ia membawanya menuju ruang makan, melahap nya tanpa seorang pun yang menemani dirinya.


"Andai, hari ini orang tuaku datang merayakan hari istimewa ku," ucapnya dalam hati.


Jarum jam terus berputar, hingga menunjukkan waktu pukul 02.00 tepat. Perutnya yang sudah terisi penuh oleh makanan membuatnya bisa tidur dengan nyenyak.


Ia meletakkan headphone pemberian dari Suncha pada lemarinya. Menyimpan dalam-dalam dengan dibalut kain, tujuannya agar tidak merusak warna serta keindahan benda itu.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2