
Happy Reading🌿
__________________________________
Semalaman ia gunakan waktunya untuk merancang ide agar bisa menggagalkan rencana Boeun.
Karena otaknya yang cukup sulit untuk berpikir, Mireu pun mencoba menghubungi dua temannya agar datang ke rumahnya malam ini juga.
Tak lama berselang, Minha bersama Hayoon akhirnya tiba di kediaman Mireu. Mereka hanya menggunakan hoodei serta celana pendek berwarna hitam.
Setelah bertemu langsung dengan Mireu, lelaki itu menceritakan tujuan mengapa memanggil keduanya untuk datang.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berpikir, rencana langsung muncul dibenak Minha.
"Bagaimana jika kau menjebaknya?" usulnya.
"Maksudmu?" tanya Mireu bersamaan dengan Hayoon.
"Boeun sangat menyukai Seohoon. Kau buat kesepakatan saja, jika mereka mau bolos bersama kita besok, maka kau akan memberitahu cara agar dia bisa mendapatkan Seohoon. Tapi syaratnya kau juga harus bisa mendapatkan Suncha," terang Minha.
"Bolos kemana?"
"Kita akan mengajaknya bolos ke gedung karaoke, dan di sana kita jebak saja mereka dengan minuman beralkohol. Setelah itu ... kau bawa keduanya ke gudang. Dan meminta agar Ayahmu menghabisinya."
"Hai, tapi apa aku benar-benar akan mendapatkan Suncha?" tanya Mireu sedikit ragu.
"Tidak, itu hanya jebakan saja. Kan sudah kubilang tadi."
"Bagus juga idemu. Aku setuju!" lontar keduanya secara bersamaan.
Flashback off
Hari-hari telah berlalu, Suncha menggunakan waktunya untuk belajar di sekolah dan membantu pekerjaan ayahnya di rumah.
Pagi ini ia tampak berjalan menuju ke sekolah dengan seragam serta tas yang menempel pada punggungnya.
Tak lama berselang, ia akhirnya tiba di halaman sekoleh. Setelah mengetahui fakta soal kematian Boeun dan Hana, dia mulai bisa menerima kepergian mereka, dan justru berterima kasih atas kebaikan Mireu.
Langkah kakinya terseret menuju ruang kelas 11-6 yang terletak di lantai atas dari ruang kelas miliknya. Sudah tentu, tujuannya adalah untuk menemui Seohoon.
"Selamat pagi!" sapa Suncha setelah dirinya tiba di pintu masuk kelas.
Sontak beberapa anak tampak menahan tawa lantaran melihat perangainya yang masih terbilang seperti anak kecil.
Seohoon yang mendengar suara sang kekasih lantas berjalan keluar, menghampirinya yang masih berdiri di tengah-tengah pintu masuk.
"Pagi sekali, ada apa?" tanya Seohoon dengan matanya yang memandang ke segala arah.
"Ngomong-ngomong ... apa sepulang sekolah kau bisa datang ke rumahku? Ada pesta kecil-kecilan yang ingin ku adakan," ucapnya seraya tersenyum kecil.
"Tentu saja." Seohoon mengangguk.
__ADS_1
"Eh, apa aku boleh menitipkan undangan ini untuk Dohyun? Aku mencoba untuk datang ke rumahnya kemarin, tapi dia sama sekali tidak membukakan pintu untukku."
Seohoon yang hanya terdiam dengan wajah bengong itu membuat Suncha menjadi heran. Dia berpikir kalau lelaki di depannya tidak setuju jika dirinya mengundang Dohyun, yang statusnya adalah sang mantan pacar.
"Jika kau tidak mau, tidak perlu deh."
Suncha menarik kembali sebuah undangan yang sebelumnya sudah ia berikan pada Seohoon.
"Bukan begitu, tapi-- "
"Eh? Lalu kenapa?" tanya nya dengan heran.
"Sudah lama dia tidak pernah hadir. Dan ... alasannya karena Dohyun sudah mengundurkan diri dari sekolah."
Sontak gadis itu menjadi terdiam, tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja terlontar dari mulut Seohoon.
Karena tidak tau harus melakukan apa, Suncha pun hanya meminta si pacarnya itu untuk datang nanti malam bersama teman satu kelasnya. Yah, meskipun keputusan Suncha dirasa cukup berlebihan oleh Seohoon.
***
Awan yang semakin terlihat gelap, menandakan bahwa akan datangnya waktu malam. Suncha berjalan menuju arah jalan pulangnya, ia terus memikirkan alasan mengapa Dohyun bisa keluar dari sekolah.
Sampai akhirnya iapun tiba di halaman apartemen. Memasuki gedung apartemen tersebut dan tibalah di lantai rumahnya.
Saat hendak masuk, Suncha sempat menoleh ke arah pintu di sebelahnya. Benar, itu adalah pintu mantan rumah Dohyun.
Setelah di ingat-ingat, Suncha memang pernah berkata kalau Dohyun lebih baik tidak tinggal di apartemen itu.
Kata-katanya terus terlintas dibenak Suncha, membuatnya menjadi sedih jika mengingat hari itu.
****
Waktu menunjukkan pukul 20.00 tepat, Suncha telah menghias seluruh ruangan untuk diadakannya pesta nanti.
Mungkin tidak ada diantara teman-temannya yang tau alasan mengapa Suncha membuka acara pesta, tentu hanya gadis itu saja yang boleh tau.
Tak lama berselang, beberapa teman satu kelasnya mulai datang dengan pakaian mewah yang mereka kenakan.
Bahkan tampak wajah yang bahagia ketika mereka mulai menginjakkan kakinya di lantai rumah Suncha.
Seohoon juga tidak ingin terlambat, dia sudah datang ke acara pesta kekasihnya paling awal. Dia juga yang sudah membantu Suncha dalam menghias ruangan.
Setelah semua tamu undangan telah hadir, seseorang tiba-tiba membuka pintu rumah Suncha. Dan langsung dibuat terkejut lah pria itu, yang tak lain adalah Dowon.
"Selamat ulang tahun, Paman!" lontar nya secara bersamaan.
Yah, malam itu adalah malam dimana Suncha merayakan hari ulang tahun sang ayah bersama teman satu sekolahnya.
Mereka menikmati hidangan kue dan cemilan yang telah dipesan oleh Suncha sejak beberapa hari yang lalu.
"Wah ... ternyata kau ingat?" Dowon melangkahkan kakinya menghampiri si anak gadis, reflek langsung memeluknya.
__ADS_1
"Terima kasih ...."
"Sama-sama. Selamat ulang tahun untuk Ayah, ya."
Semuanya pun merayakan acara pesta dengan sangat riang gembira. Bahkan Suncha juga tak lupa untuk memberi sesuap kue pada Dowon, begitu juga dengan Seohoon.
Meskipun selama ini Dowon tidak pernah diberitahu oleh Suncha mengenai hubungannya bersama Seohoon, namun Dohyun pernah memberitahunya.
Tanpa mereka sadari, ternyata Dohyun sedang berada di depan pintu rumah Suncha. Tampak senyum yang terukir di wajah lelaki itu, ketika melihat kebahagiaan mantan pacarnya.
Malam yang semakin larut membawa mereka pada rasa lelah. Kini satu persatu tamu undangan mulai berjalan keluar, mereka akan pulang ke rumah masing-masing.
Saat yang tersisa hanya Seohoon di sana, dirinya membantu Suncha membereskan seluruh kekacauan akibat acara pesta.
Namun Dowon justru sudah tertidur di ranjangnya karena merasa lelah, setelah seharian bekerja menjadi seorang Jaksa.
"Suncha, apa kau ingin tau sesuatu?" tanya Seohoon di tengah-tengah kesibukan mereka membereskan ruangan.
"Apa itu?" Suncha menatap lelaki di depannya dengan wajah yang amat penasaran.
"Apa kau ingin tau alasan kenapa aku ingin menjadi pacar kontrak mu?"
Kini keduanya duduk di sofa, saling bersebelahan dan menatap satu sama lain.
"Bukankah kau ingin membuat semuanya menjauh darimu?"
Seohoon menggeleng, lalu meraih telapak tangan Suncha dan membuka telapak tangan kecilnya itu.
Dia menunjuk sebuah tanda yang berada di tangan Suncha, tentu itu adalah sebuah tanda lahir.
"Ada apa dengan tanda ini?" tanya Suncha heran.
"Kau adalah anak kecil yang pernah menyelamatkan kakakku saat dia akan tertabrak."
"Maksudmu?"
"Kau adalah malaikat kecil, yang dulu pernah menyelamatkan kakakku saat dia hendak tertabrak oleh sebuah mobil. Aku yakin ... kau tidak akan percaya dengan hal ini. Tapi memang itu kenyataannya."
"Be-- benarkah?"
"Ya. Jadi, aku juga benar-benar menyukaimu. Bahkan mencintaimu. Aku tidak hanya ingin sekedar berpacaran kontrak. Tapi berpacaran yang sesungguhnya."
Tak terasa, ternyata cairan bening telah membasahi pipi mulusnya. Dia menangis karena tak menyangka akan bertemu dengan adik dari orang yang pernah di selamatkan olehnya dulu.
Suncha kemudian langsung memeluk erat tubuh Seohoon, dan menangis di atas pundaknya.
"Mulai sekarang ... kita harus bersungguh-sungguh pacaran, ya?" ucapnya masih dengan diiringi isak tangis bahagia.
"Aku akan menikahimu saat kita sudah lulus."
Tamat***
__ADS_1
Terima kasih untuk kakak semua yang telah setia membaca karya ini. Karena karyanya sudah tamat, kakak bisa kunjungi karya aku yang lainnya ya^^
(*ˊᗜˋ*)ᵗᑋᵃᐢᵏ ᵞᵒᵘ