
Happy Reading 🌿
____________________________________________
Setelah cukup lama Dohyun pergi, Yuri yang sebelumnya tertidur di atas ranjang itu terbangun, ia terkejut melihat Seohoon yang tengah tidur bersebelahan dengannya.
Reflek, gadis itu berteriak. Sukses membangunkan Seohoon.
"Aaaa!!! Ti-- tidak! Ke-- kenapa, kenapa kau??" Yuri histeris, tak menyangka bahwa dirinya bisa melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh gadis seusianya.
"Yuri? Kau?"
Gadis itu terdiam, menatap Seohoon dengan wajah ketakutan. Meskipun mereka tidak cukup dekat di sekolah, namun mereka adalah teman satu kelas. Hubungan keduanya sempat renggang karena perbedaan pendapat kala itu.
Dengan wajahnya yang syok, Yuri bangkit dari ranjang. Namun darah yang cukup banyak itu membekas pada ranjang dengan sprai berwarna putih.
"Maaf, sepertinya ... kita melakukannya?" ucap Seohoon tanpa memandang ke arah gadis itu.
"Kau jahat!! Kau lakukan ini padaku? Aku temanmu sendiri, kau benar-benar merugikan keperawanan ku!" rintih nya sembari menahan rasa sakit pada area selangkangannya.
"Aku tidak mau tau, kau harus bertanggung jawab!! Dan, jika aku sampai hamil ... tidak!! Tidak! Kau harus mempertanggung jawabkan semuanya! Dasar laki-laki jahat!"
Yuri yang terus melontarkan kata-kata itu membuat Seohoon merasa sedih. Bila ia yang berada di posisi Yuri dan juga sama dirugikan nya, pasti sudah stres tidak karuan.
Seohoon turun dari ranjang, berjalan menuju ke arah Yuri yang terus menangis histeris. Dia mengelus lembut pundaknya, lalu memeluknya dengan penuh rasa kasihan.
"Maaf, aku berjanji akan bertanggung jawab atas semua yang sudah ku lakukan padamu. Jika kau sampai hamil pun ... aku akan bertanggung jawab," ujar Seohoon, membuat gadis itu merasa sedikit tenang.
Setelah waktu menunjukkan pukul 09.00 tepat, Seohoon memutuskan untuk pergi dari tempat itu terlebih dahulu. Kemudian diikuti Yuri dalam waktu satu jam ke depan.
Yah, tujuannya agar tidak ada yang curiga dengan keberadaan mereka yang sama-sama berada di gedung bar.
Sementara itu, Dohyun yang telah hadir di sekolah merasa tidak tenang. Semua kesalahannya ia limpahkan pada Seohoon, sahabatnya sendiri.
Tapi bagaimanapun juga, jika diri nya yang harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukan nya bersama Yuri, pasti tidak akan sanggup. Apalagi dengan ekonomi keluarganya yang semakin lama semakin menurun.
Setelah kejadian hari itu, rumor bahwa Seohoon dan Yuri berpacaran langsung menyebar luas di kalangan sekolah.
Bahkan beberapa media sosial juga ramai dengan isu hubungan Seohoon dan Yuri.
Namun semua itu dilakukan secara terpaksa oleh Seohoon, dia sama sekali tidak pernah mencintai perempuan yang kini menjadi kekasihnya.
__ADS_1
"Tenang, ini hanya sementara sampai membuktikan kalau Yuri tidak hamil ...," gumamnya pelan dalam hati.
Satu bulan telah berlalu, Seohoon menjalani hari-hari di sekolahnya bersama seorang perempuan yang sama sekali tidak dicintai olehnya.
Bahkan dirinya juga sampai jarang bertemu dengan Dohyun, demi menjaga rahasia mengenai hal yang sebenarnya telah terjadi.
Begitu semesta membuktikan bahwa Yuri tidak hamil, Seohoon merasa sangat senang. Ia akhirnya bisa memutuskan hubungannya dengan perempuan itu setelah satu bulan menjadi pasangan.
Tetapi Yuri tidak terima dengan keputusan Seohoon, dia menganggap bahwa dirinya masih berpacaran dengan lelaki itu, meskipun sebenarnya hubungan mereka telah usai.
Seperti sebelumnya, berita tentang berakhirnya hubungan mereka pun langsung tersebar luas. Beberapa media sosial juga dihebohkan dengan kabar tersebut.
Alasan mengapa Seohoon memutuskan hubungannya, tidak ada yang pernah tau. Itu hanya rahasia antara dirinya dengan Dohyun serta Yuri.
Hingga pada akhir semester satu, orang tua Yuri datang ke sekolah. Beliau memberitahu bahwa anaknya akan pindah ke Melbourne, Australia. Untuk bersekolah di sana sekaligus menjalankan bisnis orang tuanya.
Mau tidak mau, Yuri yang sudah terlanjur mencintai Seohoon itu akhirnya harus pergi. Melihat wajah lelaki yang dicintainya untuk yang terakhir kali.
Flasback off
"Aku, sedih." Suncha menunduk, tanpa disadari ternyata cairan bening keluar dari kedua bola matanya.
"Jangan menangis," pinta Seohoon seraya mengusap air mata gadis di sebelahnya itu.
"Itu sudah berlalu. Jadi, tidak perlu kau pikirkan."
"Berarti ... tidak ada lagi harapan bagiku untuk mengejar cinta Dohyun. Padahal aku berniat akan mengejar cintanya lagi setelah hubungan kontrak ku dengan Seohoon berakhir," Suncha bergumam dalam hatinya.
Kring!!! Bel masuk berbunyi nyaring, membuat sepasang kekasih itu harus berpisah di momen yang cukup menyedihkan ini.
Seohoon berjalan menuju ruang kelas 10-2 untuk mengantar Suncha. Setelahnya, dia baru kembali menuju kelasnya yang terletak di lantai atas.
Begitu Suncha masuk ke dalam ruang kelas, Jiyeon yang sebelumnya duduk di bangku tiba-tiba berlari menghampirinya.
"Ah, kenapa?" tanya Suncha sedikit penasaran.
"Aku baru mendapat kabar, kalau Bora pindah ke Jerman. Sekarang dia menjadi warga asing di negara itu," ungkapnya memberitahu.
Sontak ucapannya barusan membuat Suncha terdiam kaget, dia tidak menyangka sahabat satu-satunya itu pergi meninggalkannya ke negara lain.
"Kenapa diam?" Jiyeon mengibaskan tangannya di depan wajah gadis itu, sukses membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"A-- aku hanya sedih," balasnya sembari melangkah dan duduk di bangku nya.
"Aku tau, kau pasti sedih. Apalagi dia tidak meninggalkan surat untuk mu," batin Jiyeon.
Tak terasa hari sudah mulai gelap. Rembulan samar-samar tampak dilangit. Sayup-sayup angin berhembus, menyejukkan tubuh hingga ke tulang.
Suncha berlari menuju gerbang. Tanpa ia sadari, ternyata Mireu bersama dua teman dekatnya itu tengah berdiri di sebelah pintu gerbang sekolah. Ketiganya menghalangi Suncha untuk lewat.
"Ada apa?" tanya Suncha sedikit jengkel.
"Ini, aku baru sempat mengembalikannya setelah hari itu tertinggal," ujar Mireu seraya memberikan sebuah jepit rambut miliknya.
"Oh iya, kenapa aku bisa lupa?" Suncha menerimanya, lalu memakai jepit rambut itu pada kepalanya.
"Karena kau sudah tua!" ledek Mireu dengan terkikik tawa.
"Oh ya, apa aku tanyakan saja soal kejadian yang aku lihat malam itu? Karena sejak saat itu ... Boeun dan Hana juga tidak pernah hadir," ucapnya berpikir dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Mireu setelah menyadari bahwa gadis di depannya itu tengah melamun.
"Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu."
"Apa?"
"Apakah beberapa hari yang lalu ... kau berada di gedung karaoke?"
Mireu, Minha serta Hayoon terdiam. Mereka heran kenapa Suncha bisa tau soal kejadian hari itu.
"Darimana kau tau?" tanya Mireu dengan wajahnya yang tampak serius. Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Suncha, membuatnya merasa risih.
"Aku hanya bertanya, kau tinggal menjawabnya saja!"
"Itukan tempat favorit kami. Tentu kami sering ke sana. Bahkan hampir setiap hari," timpal Hayoon dengan matanya yang melirik pada dua teman di sebelahnya.
"Huh, bukan itu maksudku."
"Lalu?" Mireu langsung meraih dagu Suncha, membuatnya panik hingga menelan ludah.
Dari arah yang berlawanan, Dohyun tak sengaja melihat Suncha tengah dipermainkan oleh tiga berandalan sekolah itu. Tanpa pikir panjang, Dohyun langsung berlari menghampiri ke-empat sekumpulan anak itu.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
__ADS_1
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀