Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 36 : Chaeri Lee


__ADS_3

Happy Reading🌿


___________________________________________


Setelah hampir beberapa saat, Hana akhirnya terbangun. Tapi dengan wajah yang tampaknya lemas dan bibir yang pucat.


Masih setengah sadar, seseorang dari luar sana tiba-tiba mendobrak pintu gudang tersebut. Sukses mengejutkan dua gadis sekaligus.


Terlihat bayang-bayang sosok pria berjalan mendekati mereka, dengan sebuah benda yang terlihat di genggamannya.


Setelah menampakkan wajah, pria itu ternyata bukanlah siapa-siapa yang mereka kenal. Wajahnya asing, bahkan tampangnya saja terlihat mirip sekali dengan gengster.


"Siapa kalian?!!" tanya pria itu dengan lantang, mendekatkan wajahnya pada Hana.


"Wah, kau manis sekali ...."


Belum sempat membuka mulut, pria itu langsung menarik Hana, membawanya pergi dari gudang tersebut.


Karena badannya masih terasa lemas, gadis itu hanya terdiam tanpa berteriak meminta tolong.


Boeun yang masih duduk di tempatnya semula justru terdiam, tidak memiliki niatan untuk membantu Hana yang sebelumnya hendak mengkhianati dirinya.


Setelah hampir setengah jam berlalu, Mireu bersama Hayoon akhirnya datang. Membawa beberapa makanan di dalam kantong plastik berwarna hitam. Lelaki itu melemparkannya ke arah Boeun, jatuh tepat di wajahnya.


"Hei! Bisakah menghargaiku sedikit?!" seru Boeun memasang raut wajah kesal.


"Biar aku beritahu, kau hanyalah gadis rendahan. Tidak ada yang spesial dari mu. Jadi ... untuk apa aku menghargaimu?" sahut Mireu.


"Apa kau bi-- "


Buagh!!!


Lelaki itu memukul bagian perut Boeun, tanpa adanya ampun sedikitpun. Hingga tampak gadis itu mulai lemah tak berdaya, Mireu akhirnya berhenti memukul.


"Ternyata temanku ini cukup mengerikan," ucap Hayoon dalam hati.


Tanpa diduga, Boeun langsung membalas pukulannya barusan, menendangnya di bagian kelemahan pria.


Dengan cepat, ia meraih sebuah pisau yang sempat terjatuh dari saku celana Mireu, digunakannya untuk melepas tali yang terikat di tangannya.


Disaat keduanya lengah, Boeun menyempatkan diri untuk kabur dari gudang tersebut.


Flashback off


"Kak, tolong aku ... aku ... aku tidak tau harus bagaimana lagi," rintih nya menahan rasa sakit pada beberapa bagian anggota tubuh.


"Bagaimana caranya aku menolongmu?" tanya Seohoon. Di keadaan seperti ini, ia bahkan tidak terlihat panik sedikitpun.


"Putus dengan Suncha, dan biarkan Suncha berpacaran dengan kak Mireu."


Kini lelaki itu terdiam, wajahnya nampak kesal memandang Boeun yang berdiri di harapannya.


"Jika itu yang kau mau ... maaf, aku tidak bisa menolong mu," balas Seohoon dengan langkah kaki yang berjalan semakin menjauh dari tempat tersebut.

__ADS_1


Dia tak perduli dengan Boeun yang bahkan berteriak memanggil namanya berkali-kali. Hingga terlihat Mireu bersama Hayoon tengah berlari mendekati area itu.


Yah, untung saja Seohoon sudah tidak berada di sana saat Mireu datang.


Sementara itu, Suncha yang ingin menghirup udara segar lagi akhirnya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam ruangan ayahnya.


Dia justru berjalan mengelilingi tiap lantai rumah sakit, sebagai bahan penghilang rasa bosan karena terlalu lama menemani sang ayah.


Namun sesuatu yang tak diinginkan terjadi, seorang wanita berambut pirang itu menabraknya, karena terlalu fokus dengan obat-obatan di tangannya.


Kejadian singkat itu menyebabkan obat yang berada di genggaman si wanita jatuh berserakan di lantai, membuat Suncha merasa tidak enak karena telah menabraknya.


"Oh my gosh."


Dengan cepat, Suncha langsung ikut membantu meraih obat yang sempat terjatuh ke lantai.


"Thank you," ucapnya dengan senyum manis yang terukir pada bibirnya.


"Ah, sama sama."


Suncha yang hendak melangkahkan kakinya itu tiba-tiba dihentikan oleh wanita berambut pirang tadi, dia menarik lengan Suncha dan membuatnya menoleh.


"A-- ada apa?" tanya Suncha gelagapan, mengira kalau dirinya telah melakukan kesalahan.


"What is your name?"


"Nama?"


Cara bicaranya yang menggunakan bahasa Inggris tentu membuat Suncha sedikit kebingungan, apalagi ia sangat tidak pandai dalam mata pelajaran bahasa Inggris di sekolahnya.


"Ah, namaku Suncha Choe," balasnya seraya tersenyum lebar.


"Terima kasih karena sudah membantuku tadi, ngomong-ngomong ... namaku Carry Lincoy, atau nama Korea ku adalah Chaeri Lee," ungkap sosok wanita yang memiliki nama Chaeri.


Karena ingin mengakrabkan diri, Chaeri akhirnya mengajak Suncha untuk mengobrol di sekitar taman rumah sakit.


Tanpa banyak berpikir, ia lantas setuju dan kini keduanya berjalan menuju taman yang terletak di sebelah gedung rumah sakit tersebut.


Setibanya di taman, mereka duduk di sebuah kursi panjang yang tampak terbuat dari kayu. Duduk saling berhadapan tanpa camilan pendamping.


"Ngomong-ngomong ... aku ingin dekat denganmu. Sepertinya kau orang baik?" ujar Chaeri.


"Ah, aku tidak sebaik itu. Aku hanya bocah biasa," sahutnya cengengesan.


"Kalau boleh tau, kau sekolah dimana?" tanya Suncha, sempat membuat wanita itu tertawa kecil.


"Aku sudah lulus, umurku saja dua puluh empat tahun."


Suncha terdiam, menahan rasa malu lantaran salah dalam menebak. Memang, jika dilihat dari wajahnya, Chaeri seperti masih berusia belasan tahun.


"Aku tinggal di Amerika sudah hampir enam tahun, karena harus membantu menjalankan bisnis orangtua ku," ungkapnya dengan wajah yang terlihat murung.


"Lalu, sekarang Kakak kembali ke Korea?" tanya Suncha penasaran, lantas di angguki olehnya.

__ADS_1


"Aku kembali karena ingin melihat adikku yang sepertinya sudah dewasa sekarang."


"Hmmm, pasti Kakak sangat merindukannya, ya?"


"Iya, begitulah."


"Oh ya, kira-kira ... kau sedang apa di rumah sakit ini?" tanya Chaeri dengan mendekatkan wajahnya pada Suncha.


"Aku sedang menemani ayahku yang sedang dirawat. Sudah sejak kemarin beliau belum sadar," balasnya tertunduk sedih.


"Kasihan sekali, semoga ayahmu cepat sadar ...."


"He'em."


Setelah cukup lama mengobrol, Chaeri akhirnya memutuskan untuk pergi karena langit sore yang semakin gelap.


Wanita itu juga sempat memberikan dua buah permen pada Suncha, sebagai rasa terima kasihnya sekali lagi.


"Hati-hati!" lontar Suncha seraya melambaikan tangannya, kemudian dibalas serupa oleh Chaeri.


Karena tidak ada lagi yang harus dilakukan oleh Suncha, iapun berinisiatif untuk kembali ke apartemennya sebentar.


Suncha memutuskan akan berangkat ke sekolah besok pagi, meskipun dalam keadaan ayahnya yang masih dirawat.


Dirinya berdiri di depan gedung rumah sakit, menunggu kendaraan yang akan lewat.


Lima menit telah berlalu, dan sebuah kendaraan taxi akhirnya lewat. Dia masuk ke dalam mobil taxi tersebut, kemudian meminta si sopir untuk mengantarnya menuju apartemen Gonsang.


Selama diperjalanan, Suncha menikmati sejuknya udara sore. Apalagi setelah hujan sempat turun, menambah kesejukan pada tubuhnya.


"Nona sepertinya sedih, ada apa?" tanya sang sopir, begitu melihat wajah Suncha yang tampak murung dari kaca depan.


"Ayah saya dirawat," jawabnya singkat tanpa memasang ekspresi apapun pada wajahnya.


"Apa Nona tau? Dulu ... ayah saya juga sempat dirawat. Kebetulan saya juga masih sekolah," ucap pria itu.


"Lalu?"


"Lalu, akhirnya saya berhenti sekolah, karena tidak ada biaya untuk bayar sekolah. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk bekerja paruh waktu, dan sebagian waktunya saya gunakan untuk menemani ayah saya" lanjut ucapannya.


Tak terasa selama diperjalanan mengobrol, kini merekapun akhirnya tiba di depan sebuah apartemen terbesar di Gangnam, yaitu apartemen Gonsang.


Suncha turun seraya memberikan uang untuk membayar dirinya menaiki taxi tersebut.


"Tidak perlu, tabung saja."


"Ah, baiklah. Terima kasih banyak."


***


Langit yang akhirnya telah petang membawa Seohoon tiba di apartemen Danhan. Namun, sesuatu yang muncul di hadapannya itu sukses membuat Seohoon terdiam kaku, memandang sosok wanita yang terlihat lebih tua darinya.


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....

__ADS_1


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€


__ADS_2