Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 16 : Comeback


__ADS_3

Happy Reading🌿


______________________________________________


Seluruh koridor ramai dipenuhi oleh para murid, menyaksikan hal yang sedang terjadi antara senior terpopuler dengan Boeun dan dua sejoli nya itu. Yah, siapa lagi kalau bukan Seohoon?


"Tidak! Ini bukan jebakan!" sanggah Boeun dengan suara yang lantang. Wajahnya tampak panik setelah guru pembimbing membawanya ke koridor sekolah.


"Senior, apa maksudmu?" tanya Boeun seraya menggenggam telapak tangan Seohoon, namun langsung ditangkis dan membuat Boeun malu setengah mati.


"Jangan menyanggah lagi, di sini memang sudah ada saksi."


Jiyeon datang dengan wajahnya yang tampak dingin, melangkah dan semakin mendekati keramaian bersama Suncha.


"Tidak, Suncha yang mengajakku melakukan hal itu," ucap Sojun tiba-tiba, sontak mampu mengejutkan para murid lainnya.


"Melakukan? Melakukan apa? Justru kau yang memojokkan ku!" serang nya dengan matanya yang memandang sinis pada kawanan Boeun.


"Sudah-sudah, aku tidak membawa kalian ke sini untuk ribut. Sekarang Boeun, Hana dan Sojun ikut ke ruangan saya!" tegas pak Lim seraya membalikkan badannya.


Guru lelaki itu berjalan menjauhi keramaian, dengan diikuti oleh Boeun serta dua teman yang lainnya.


Sementara itu, beberapa anak yang sebelumnya berkerumun menyaksikan kejadian itu seketika buyar, mereka kembali ke tempat masing-masing.


"Terima kasih," ucap Suncha tersenyum memandang Seohoon.


"Yah, aku hanya membela kebenaran saja," jawabnya dingin.


"Aku tidak ingin jadi nyamuk, minyak dan apalah itu. Jadi, aku harus pergi dulu," timpal Jiyeon. Ia kemudian langsung pergi dan kini hanya tersisa dua orang saja di koridor.


"Apa kau meminum susu pemberian ku tadi pagi?" tanya Suncha sedikit malu. Lalu dibalas anggukan oleh lelaki di hadapannya itu.


"Itu sebagai permintaan maaf, apa kau paham?" Suncha membalikkan tubuhnya, merasa jengkel dan pergi meninggalkan Seohoon yang masih berdiri memandangnya.


"Aku tau. Lagipula, aku juga tidak marah!"


Gadis itu menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Seohoon dan tercengang heran.


"Lalu, kenapa kau dingin sejak kemarin?"


"Aku juga tidak tau. Tapi kuharap kau melupakannya saja."


"Oke." Suncha tersenyum.


*****


Matahari tampak tenggelem, memendam keindahan warna pada langit. Suara burung berkicau digantikan dengan suara burung hantu yang sebagian orang menganggapnya mengerikan.


Suncha masuk ke dalam gedung apartemen. Memasuki lift, dan akhirnya tiba di lantai tempat rumahnya. Ketika melewati sebuah rumah yang berhadapan dengan rumah apartemennya, ia melihat sesuatu yang berbeda.

__ADS_1


Sebelumnya rumah nomor 14 itu kosong dari penghuni. Namun sekarang, beberapa benda serta kardus tampak tergeletak berantakan di depan pintu hingga menghalangi jalannya menuju rumah apartemen miliknya.


"Ah, mungkin penghuni baru?" gumamnya seraya membuka pintu rumah.


"Aku pulang!" Suncha melangkah masuk ke dalam rumah apartemennya.


Ruangan yang gelap tanpa lampu itu membuatnya sulit mencari jalan. Tanpa tau, gadis itu tak sengaja menabrak sebuah meja, membuat kakinya terluka kesakitan.


"Auh!!! Sakit sekali!!! Aduh, apa sih? Kenapa meja ini ada di sini?!!" lontar nya dengan kesal.


Suara keras yang diciptakannya itu sukses membuat seseorang datang masuk ke dalam rumahnya. Tentu, dia adalah tetangga rumah di apartemennya.


"Permisi," ucap seseorang yang terdengar cukup familiar di telinganya.


Orang itu lantas menyalakan steker lampu, menerangi seluruh ruangan dan kini Suncha tau siapa yang orang yang sedang berdiri di tengah-tengah pintu masuk.


"Dohyun?!! Kau?" Suncha terkejut, membulatkan kedua bola matanya dan berkali-kali mengucak matanya yang tak terasa gatal.


"Apa kau baik-baik saja?" Dohyun langsung berlari ke arahnya, membantu Suncha untuk berdiri. Suncha merangkul pada pundak Dohyun, hingga dirinya bisa duduk di sofa dengan nyaman.


"Terima kasih ...," ucapnya pelan.


"Oh ya, sejak kapan kau tinggal di sini?" tanya Suncha mencoba mencairkan suasana yang hampir canggung.


"Orang tuaku baru saja pindahan."


"Oh, yang di depan itu, ya?" tebak nya.


"Jika kau baik-baik saja, aku harus membantu orang tuaku membereskan rumah terlebih dahulu. Apa tidak masalah?" tanya Dohyun seraya menatap bola mata Suncha dengan dalam.


"Ah, iya. Tidak masalah."


-


-


Awan bersiul memanjakan mentari yang baru saja terbit. Alarm berbunyi nyaring hingga membangunkan Suncha yang masih tertidur lelap di atas ranjangnya.


"Ayo sarapan!" teriak Dowon dari arah ruang makan.


"Sebentar, aku belum mandi!!" jawab Suncha dengan berteriak.


Tak lama berselang, ia pun akhirnya rapih dengan seragam yang di kenakan. Melahap sarapan dengan waktu singkat, kemudian berjalan keluar dari dalam rumah apartemennya.


"Apa Dohyun sudah berangkat?" pikirnya. Langkah kakinya itu berhenti tepat di depan pintu rumah milik Dohyun, merasa ragu untuk mengetuk pintu.


Karena bingung dengan pilihannya, Suncha lantas memutuskan untuk berangkat saja. Dia tidak perduli dengan Dohyun yang mungkin saja sudah tiba di sekolah.


Begitu memasuki halaman sekolah, dia melihat sosok Seohoon yang tengah berdiri di loker. Dengan cepat ia pun menghampirinya.

__ADS_1


"Seohoon!"


Namun hal yang tak diinginkannya itu terjadi, Suncha terjatuh setelah tak sengaja menginjak sebuah batu yang cukup besar.


Bak!!!


Seohoon menangkap tubuhnya yang hampir saja terjatuh ke lantai. Kini wajah mereka saling memandang dari dekat, memikat perhatian para murid lainnya.


Mereka yang melihatnya jadi berteriak iri dan salah tingkah, kejadian singkat itu tentu tak dilewatkan oleh para kaum wanita pada umumnya.


"Lihat-lihat, gih." Seohoon melepaskan tangannya dari tubuh Suncha.


"Ah, oke-oke. Lain kali aku akan lihat-lihat," tukas Suncha dengan menahan rasa malu.


Setelah sibuk dengan loker, Suncha dan Seohoon lantas berjalan menaiki tangga secara bersamaan. Menghebohkan beberapa murid lainnya.


"Sana, masuklah."


Seohoon mendorong Suncha masuk ke dalam ruang kelas 10-2. Bora yang sempat melihat Seohoon mengantar Suncha ke kelasnya lantas menjadi salah tingkah, ingin merasakan hal yang sama juga seperti sahabatnya itu.


"Ehem ..., Tuan Putri diantar oleh Pangeran," papar Bora dengan tersenyum tipis.


"Apaan sih, jangan bicara yang macam-macam!" kelit Suncha dengan kesal.


"Aku pergi dulu."


Sosok Seohoon mulai hilang dari pandangan matanya, bahkan sampai tak terlihat sebatang hidung pun.


Kring!!!


Bel masuk berbunyi nyaring hingga ke koridor sekolah. Seluruh murid berlarian menuju kelas mereka masing-masing.


"Ah, lihat ini!" lontar Bora seraya menunjukkan ponselnya pada Suncha.


"Apa?"


"Ish, lihat dulu!"


Sebuah video yang beredar, ternyata adalah kejadian tadi pagi ketika Suncha sempat terjatuh dan mampu ditangkap oleh Seohoon.


Video itu populer di kalangan sekolah, hingga tersebar ke beberapa grup kelas lainnya.


"Aduh, begini saja di buat video!"


Sementara itu, seorang gadis dengan rambut panjang berwarna abu dengan sebuah tas di punggung nya sempat menghebohkan para murid. Sosoknya yang sudah hampir setengah tahun tidak terlihat, tentu menjadikan banyak orang pangling dengan wajahnya.


Gadis itu melangkah masuk ke dalam ruang kelas 11-1, mengagetkan seluruh anak di dalam ruangan.


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....

__ADS_1


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€


__ADS_2