Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 23 : Tiba-tiba Sakit


__ADS_3

Happy Reading🌿


____________________________________________


Cek lek ...


Pintu rumah apartemen terbuka, Suncha menyelinap masuk secara diam-diam agar ayahnya tidak mendengar langkah kakinya itu.


Yah, Suncha berhasil masuk hingga ke dalam kamar tanpa diketahui oleh Dowon. Dia membaringkan tubuhnya dengan keras ke ranjang, merasakan sensasi empuk pada ranjang tempat tidurnya.


"Ah, akhirnya bisa istirahat juga ...," ucapnya dengan keras. Suncha tidak sadar kalau suara kerasnya itu mampu membangunkan Dowon.


"Suncha?" teriak Dowon dari balik dinding kamarnya.


Suncha yang mendengar teriakan ayahnya lantas berpura-pura tidur, melempar tas kecilnya ke atas lemari, dan membalut dirinya dengan selimut tebal.


Tak lama berselang, Dowon masuk ke dalam kamar anak gadisnya itu. Membuka selimutnya dan melihat Suncha yang tampaknya tengah tertidur pulas.


"Sepertinya aku hanya salah dengar tadi. Ngomong-ngomong, kapan dia pulang?" pikir Dowon.


Lantaran mengantuk, pria itupun kembali menuju kamarnya. Menutup pintu kamar rapat-rapat dan kembali berbaring.


Kring!!! Alarm berbunyi nyaring tepat di telinganya, sukses membangunkan Suncha dengan mata yang masih berat untuk terbuka.


"Sial, gara-gara kemarin malam, aku jadi ngantuk berat!" ucapnya kesal seraya menghembuskan nafas dengan kasar.


Selang beberapa waktu kemudian, Suncha akhirnya bisa duduk di ruang makan dengan santapan enak pagi ini. Roti bakar dengan selai kacang, serta susu sebagai pendamping makanannya. Tentu saja menjadi makanan favorit bagi Suncha.


"Darimana saja kemarin malam?" tanya Dowon yang datang dari balik pintu secara tiba-tiba.


"Ayah? Ke-- Kemarin aku pergi kerja kelompok. Tapi karena tugasnya yang cukup berat, jadi aku baru bisa pulang larut," jawabnya berbohong, namun sepertinya ayahnya itu percaya begitu saja dengan jawabannya barusan.


"Baiklah, lanjutkan sarapannya. Besok-besok jika akan kerja kelompok, bilang dulu pada Ayah," tutur Dowon sembari duduk di kursi ruang makan.


"Iya."


Ketika hendak berjalan keluar dari rumahnya, Suncha mendadak pusing, membuatnya hampir terjatuh karena tidak kuat menahan tubuhnya.


"Huh, kepalaku ...," hembus nya dengan berpegangan pada tembok.


Gadis itu kembali melangkah masuk ke dalam rumah, duduk di sofa ruang tamu seraya memejamkan kedua bola matanya.


"Tidak berangkat?" tanya Dowon ketika dirinya melihat sang anak tengah terduduk.


"Kepalaku pusing, apa aku boleh izin sekolah?"


"Ah, baiklah. Istirahat saja di rumah, Ayah akan berusaha pulang lebih awal untuk bisa merawatmu," tutur Dowon.

__ADS_1


Lantas Suncha masuk ke dalam ruang kamarnya. Membaringkan tubuh di ranjang dengan kondisi badan yang masih terbalut dengan seragam sekolah.


***


Sementara itu, suasana sekolah telah ramai dipenuhi oleh para murid. Memenuhi setiap lorong koridor, hingga menciptakan suara bising.


Kring!!! Bel masuk berbunyi, membuyarkan seluruh siswa yang tengah bersantai menikmati obrolan mereka.


Seorang guru masuk ke dalam ruang kelas 10-2. Wajahnya yang cantik namun terlihat galak itu menakuti seluruh anak di dalam ruangan. Yah, siapa lagi kalau bukan bu Cha? Guru dengan wajah muda yang terkenal sebagai seorang guru tegas.


"Siapa yang tidak hadir?" tanya bu Cha dengan pandangan mata yang mengarah ke setiap tempat duduk siswa, berhasil menemukan dua bangku yang kosong.


"Suncha Choe, dia sakit," ungkap Jiyeon sembari mengangkat tangannya.


"Lalu Bora Kim, dia sudah sejak beberapa hari lalu tidak hadir," lanjutnya.


"Baiklah."


Pelajaran seni musik akhirnya dimulai, seluruh anak dipindahkan untuk menuju ke ruang musik. Mereka akan diajari cara bernyanyi dengan suara serta intonasi yang tepat.


Seusai jam pelajaran berakhir, seluruh anak di kelas 10-2 pun kembali ke ruang kelas mereka. Tak lama setelah itu, Seohoon tiba-tiba datang, ia menanyakan keberadaan Suncha.


"Dia tidak hadir," balas Jiyeon, wajahnya yang jutek itu membuat lelaki di hadapannya merasa sedikit kesal.


"Apa alasannya?" tanya Seohoon.


"Sakit? Kenapa bisa dia sakit? Apa karena pulang terlalu malam? Huh, aku jadi merasa bersalah," gumam Seohoon dengan langkah kaki yang berjalan semakin menjauh dari area kelas.


Belum lama setelah kepergian Seohoon, Mireu dengan dua teman dekatnya itu datang ke ruang kelas 10-2. Sukses memikat perhatian para gadis di dalam ruang kelas.


Apalagi dengan tampangnya yang begitu mengerikan, membuat beberapa diantara mereka kabur dan memilih untuk pergi ke tempat lain.


"Dimana Suncha?" tanya Mireu tiba-tiba.


Boeun yang sebelumnya sibuk mengenakan riasan wajah lantas menoleh, memandang si berandalan sekolah itu dengan tatapan sinis.


"Ah, dia sakit," balasnya sedikit kesal.


"Sakit? Apa dia hanya pura-pura?" ucap Mireu dengan asal.


"Aku tidak tau kenapa disaat Suncha tidak hadir, tapi banyak anak mencarinya," cibir Hana.


"Siapa yang mencarinya?" timpal Minha bertanya.


"Siapa lagi kalau bukan si senior itu, pacarnya loh ...."


Setelah mendapat jawaban dari Boeun dan Hana, Mireu bersama dua temannya berjalan menuju pintu keluar. Hendak meninggalkan ruang kelas, namun dihentikan oleh pertanyaan dari Boeun.

__ADS_1


"Ada apa Kakak mencarinya?"


"Untuk mengembalikan jepit rambut dia yang tertinggal."


Tentu, jawabannya itu sukses membuat seluruh anak di dalam ruangan kelas terdiam membisu.


"Kalian tidur berasama?" tanya Jiyeon tiba-tiba.


"Jangan asal bicara. Kalau dia tidur bersamaku, kenapa aku tidak tau dia sakit hari ini?" sahutnya pringas pringis.


Ketika Mireu mulai tidak terlihat, beberapa anak pun bergerombol heboh membicarakan isu tentang Mireu yang katanya ingin mengembalikan jepit rambut milik Suncha.


Siapa sih yang tidak heran jika seorang lelaki tiba-tiba ingin mengembalikan jepit rambut yang tertinggal? Tentu mereka mengira bahwa keduanya pernah tidur dalam satu tempat yang sama.


Gosip perihal jepit rambut itu tersebar hebat hingga ke seluruh anak di SMA JoHang hanya dalam waktu hitungan menit. Beberapa grup-grup kelas bahkan sudah penuh dengan pesan mengenai gosip tersebut.


Namun karena Suncha yang merasakan pusing pada kepalanya, dia jadi tidak sempat membaca pesan grup. Bahkan membuka layar ponsel juga tidak ia lakukan.


*****


Suasana kantin yang ramai penuh dengan antrian, terlihat Dohyun yang sedang memandang ke setiap sudut kantin, mencari keberadaan seseorang.


"Hai Kak Dohyun," sapa Boeun dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Ah, kau? Apa kau melihat Suncha?" tanya Dohyun tanpa membalas sapaan dari gadis yang tengah duduk menikmati makanan kantin.


"Dia sakit," balasnya tanpa berekspresi.


"Sakit? Kenapa aku tidak tau kalau dia sakit?" pikirnya dalam hati.


"Apa ada yang ingin disampaikan?" Boeun berdiri, mendekatkan tubuhnya pada Dohyun, reflek lelaki itu langsung menyingkir.


"Tidak perlu. Aku bisa datang sendiri menengok nya." Dohyun pergi meninggalkan kantin dengan sebuah kotak makan di genggamannya.


"Kau gagal menggodanya, ya?" ledek Hana.


"Diamlah kau! Dasar Suncha menyebalkan! Bisa-bisanya dia mencuri hati para senior sekolah."


Langit semakin gelap, menampakkan rembulan yang hampir jatuh pada tempatnya. Seohoon yang tengah berdiri di tengah-tengah gerbang sekolah itu tak sengaja bertemu Dohyun, ketika dirinya melewati tempat tersebut.


"Tunggu sebentar!" teriak Seohoon mampu menghentikan langkah kakinya. Membuatnya menoleh dengan pandangan sinis.


"Bukankah kau tau dimana rumah Suncha? Beritahu aku," ucap Seohoon tanpa basa basi.


"Apa dia benar meminta padaku?" gumam Dohyun.


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....

__ADS_1


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€


__ADS_2