Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 42 : Menyusul Hana


__ADS_3

Happy Reading🌿


___________________________________________


Suncha bersama Dowon masuk ke dalam rumah apartemen, mereka sempat terkejut ketika melihat seluruh ruangan yang gelap tanpa cahaya.


Padahal sebelumnya, Dowon masih melihat ruangan yang terang saat dirinya hendak memanggil Suncha.


Merasa bingung, pria itupun mencoba untuk menyalakan lampunya, namun steker lampu memang sudah menyala, sudah tentu ada masalah dibagian listrik.


"Kenapa listriknya bisa padam?" tanya Dowon heran seraya menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


Merasa ada kesempatan, Suncha akhirnya memutuskan untuk memberitahu pada pengurus apartemen, dengan itu dirinya bisa menuju lantai dasar dan kembali menemui Mireu.


"Biar aku tanyakan pada pengurus apartemen," ucap Suncha dengan berlari meninggalkan sang ayah.


Karena sosoknya yang hilang dalam sekejap, membuat Dowon tak bisa menghentikan gadis itu.


Setelah tiba di lantai dasar, Suncha bukannya langsung menemui si pengurus apartemen, dirinya justru keluar dari gedung apartemen tersebut.


Ia menoleh ke segala arah, berusaha mencari keberadaan Mireu bersama dua teman berandalan nya itu.


Karena tidak bisa melihat dari arah yang cukup jauh, dirinya lantas memutuskan untuk mencarinya di taman tadi.


"Dimana mereka?" gumamnya heran, lantaran tidak menemukan sosok Mireu yang sebelumnya berada di taman.


"Apa mungkin sudah pergi?"


Suncha tidak menyerah untuk mencari keberadaan ke-tiga berandalan itu. Yah, mau bagaimana lagi? Rasa penasaran terus menghantuinya.


Cukup lama ia berada di area sekitar taman, namun sama sekali tidak menemukan hasil. Sampai akhirnya ponsel di dalam saku rok miliknya berbunyi. Dan terlihat Dowon yang tengah menghubunginya.


"Ha-- halo?" sapa Suncha dengan gugup.


Karena terlalu fokus mencari Mireu, membuatnya lupa dengan tujuan awal.


"Kenapa masih saja padam? Kau sudah bilang pada pak Jung, kan?" tanya nya heran.


Pak Jung adalah salah seorang pengurus apartemen, yang biasanya membantu menangani beberapa masalah yang dialami oleh pemilik masing-masing rumah apartemen tersebut.


"Belum, aku tidak tau harus mencarinya dimana," balas Suncha berbohong.


"Kenapa tidak bilang dari tadi jika kau tidak tau diamana dia. Kalau begitu kan biar Ayah saja yang bicara dengan pak Jung."


"Baiklah, aku akan kembali."


Suncha mengakhiri panggilannya secara sepihak. Sebelum angkat kaki dari taman itu, dirinya sempat menoleh ke arah kanan dan kiri nya, memastikan kalau Mireu memang sudah tidak berada di sana.

__ADS_1


Tak lama berselang, Suncha pun kembali masuk ke dalam gedung apartemen. Dilihatnya lantai dasar yang ramai dipenuhi oleh orang-orang, atau tepatnya para penghuni.


Rasa penasarannya itu membawa Suncha berjalan mendekati keramaian, dan terlihat bahwa Dohyun yang tengah menjadi pusat perhatian.


"Ke-- kenapa?" tanya Suncha bingung sekaligus terkejut, melihat temannya itu dikerumuni oleh banyak orang.


"Dia mencuri dompet ku!" balas seorang wanita yang terlihat sedikit lebih tua darinya.


"Apa maksudmu?" tanya Suncha kembalii, ia benar-benar tidak mengerti apa maksud dari ucapan wanita itu.


"Ah, kau temannya, kan? Katakan padanya untuk tidak mencuri lagi! Atau tidak, dia akan diusir dari apartemen ini!" ucapnya dengan kesal.


Kemudian beberapa orang mulai pergi meninggalkan tempat dimana Dohyun yang masih terdiam duduk.


"Kau mencuri?" Suncha duduk di sebelahnya, lalu Dohyun mengangguk sebagai jawaban..


"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi ... aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau mencuri," papar Suncha seraya memalingkan pandangannya dari Dohyun.


"Aku tidak punya uang. Dan aku belum makan."


"A-- apa?!!" Gadis itu terkejut, mendengar ungkapan yang baru saja terlontar dari mulutnya.


"Jika tidak punya uang, kenapa kau masih tinggal di tempat ini?!" tanya Suncha sedikit jengkel, seketika Dohyun menatapnya dengan serius.


"Benar juga. Untuk apa aku tinggal di sini, kan?"


Meskipun merasa kasihan dengannya, namun Suncha sama sekali tidak ingin mengejar Dohyun yang kini sudah menghilang setelah masuk ke dalam lift.


Suncha yang tidak ingin ambil pusing dengan hal itu, lantas berjalan menaiki tangga untuk bisa tiba di lantai rumah apartemennya.


*****


Waktu berlalu dengan cepat, dua minggu telah berlalu dan kini para murid di SMA JoHang kembali masuk.


Meskipun seluruh anak kelas sepuluh telah usai mengikuti pelajaran semester, namun mereka tetap diperintah untuk hadir di sekolah.


Suncha berjalan memasuki halaman sekolah, ia menghirup udara segar yang sudah lama tidak pernah dihirup nya.


Hanya dalam waktu dua minggu, beberapa tempat di sana sudah tampak berbeda. Bahkan bunga yang sebelumnya berwarna kuning kini telah berubah menjadi warna merah muda seutuhnya.


Dedaunan mulai rontok dari ranting, dan mengotori seluruh lantai halaman sekolah.


Para murid berlarian tak sabar untuk bisa bertemu dengan teman mereka lagi, namun tidak dengan Suncha. Gadis sepertinya yang tidak memiliki teman, tentu tidak merindukan apa-apa.


Selama berjalan melewati koridor, Suncha dibuat heran dengan tatapan beberapa anak yang memandangnya dengan sinis.


Begitu tiba di ruang kelas, Suncha langsung dikejutkan dengan karangan bunga yang diletakkan di atas meja milik Boeun.

__ADS_1


Sebelumnya, saat kepergian Hana, mereka juga menata karangan bunga di atas meja miliknya. Dan kini, Suncha melihat karangan bunga yang diletakkan di atas meja Boeun.


Tangannya mulai ber gemetar, tidak ingin mengetahui kebenaran bahwa Boeun telah tiada.


"Kenapa diam di sana?" tanya Jiyeon, saat melihat Suncha masih diam berdiri di tengah-tengah pintu masuk ruang kelas.


"Kenapa ada karangan bunga di atas meja Boeun?"


Ia perlahan berjalan mendekati meja si ketua kelas, lalu menatap wajah gadis itu dari dekat.


"Boeun menyusul Hana," ungkapnya seraya menunduk.


"Ada apa dengannya? Apa dia bunuh diri karena mengetahui sahabatnya tiada?"


"Jangan bicara sembarangan!" tegasnya, reflek membuat Suncha terkejut.


Meskipun selama ini Boeun dan Hana selalu mengusiknya, namun Suncha sama sekali tidak pernah membenci mereka. Justru ia merasa begitu kehilangan saat keduanya pergi untuk selama-lamanya.


***


"Hiks ... hiks ... apa yang harus kulakukan?"


Suncha terus menangis, kepalanya disandarkan pada pundak Seohoon yang sejak tadi duduk bersamanya.


"Ini takdir, jangan salahkan dirimu," ujar Seohoon, ia mengelus lembut kepala gadis itu.


"Tapi aku merasa ini semua adalah salah ku," tutur Suncha pelan.


"Dengarkan aku, ini semua sudah diatur oleh Tuhan. Takdir memang tidak bisa diubah."


"Tapi aku yakin, kalau takdir bisa diubah."


"Jangan konyol ...."


Di tengah-tengah kesedihannya, Mireu bersama Minha dan Hayoon tiba-tiba datang menghampiri mereka yang tengah duduk berdua di kursi taman sekolah.


Terlihat senyum yang terukir di wajah Mireu, serta sebuah rokok yang menempel pada bibirnya itu.


"Pergilah, jangan mengganggu," tegur Seohoon.


Lantas Suncha pun mengangkat kepalanya, setelah menyadari bahwa ada orang selain mereka di sana.


"Aku ingin bicara dengamu," kata Mireu dengan tangannya yang menunjuk pada Suncha.


Namun gadis itu tampaknya hanya terdiam, ia mengira kalau Mireu ingin berbicara dengan orang di sebelahnya, yang tak lain adalah Seohoon.


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....

__ADS_1


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€


__ADS_2