Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 40 : Peringkat Kelas


__ADS_3

Happy Reading🌿


___________________________________________


Beberapa minggu telah berlalu, sejak terakhir kali heboh dengan mayat Hana, kini semuanya sudah menjadi sedikit lebih tenang.


Bahkan Suncha yang sebelumnya selalu memikirkan gadis itu, dirinya sudah bisa melupakan kepergian Hana, teman satu kelas yang bersikap jahat padanya.


Yah, meskipun sebab kematiannya saat itu tidak diselidiki oleh aparat kepolisian tanpa alasan yang cukup jelas.


***


Suncha duduk di ruang makan dengan matanya yang terus fokus menatap layar ponsel, menanti pengumuman mengenai tingkat peringkat di kelasnya, setelah beberapa minggu yang lalu mengikuti ujian.


Dowon yang melihat si anak gadisnya cukup serius dengan benda pipih itu lantas mendekatinya, ia melihat beberapa link yang tercantum di ponsel Suncha.


"Kau sedang apa?" tanya Dowon penasaran.


"Menunggu pengumuman peringkat, katanya akan diumumkan hari ini juga," balasnya menyeringai.


"Wah, kau pasti akan mendapat peringkat pertama!" lontar sang ayah dengan girang.


Sebelumnya Suncha adalah seorang gadis yang paling populer di kalangan sekolah, ia memiliki bakat prestasi yang cukup tinggi, jauh di bawah anak-anak lain pada umumnya.


Itulah alasan mengapa Dowon sangat berharap dengan hasil yang akan didapatkan oleh Suncha.


Setelah ditunggu selama beberapa saat, pengumuman itu masih belum diumumkan, yang akhirnya membuat Dowon terpaksa harus pergi untuk bekerja.


"Beritahu Ayah kalau hasilnya sudah keluar, Ayah akan berangkat kerja dulu," tutur nya.


"Baiklah, aku pasti akan mendapatkan peringkat pertama!"


Perlahan langkah kaki pria itu mulai berjalan menuju pintu keluar rumah apartemen, dan semakin menghilang dari pandangan Suncha.


Waktu yang telah menunjukkan pukul 09.33 membuat terik matahari semakin panas, memancarkan sinarnya melalui kaca jendela.


Suncha yang sudah habis kesabaran menunggu pengumuman itu akhirnya memutuskan untuk pergi mencari udara segar.


Sistem si sekolahnya memang meliburkan seluruh siswa setelah usai mengikuti ujian yang diadakan oleh sekolah, mereka diberi waktu selama dua minggu untuk bersantai.


Maka dari itu, di hari libur pertamanya setelah bersekolah di Gangnam, Suncha tidak ingin menyia-nyiakan waktunya hanya untuk menunggu pengumuman.


Memang, pengumuman soal peringkat bisa ia lihat nanti setelah pulang dari bepergian nya.


Gadis itu mengenakan hoodie berwarna merah muda dengan rok mini, serta sepatu jogging di kakinya. Penampilannya yang tampak imut sukses memikat perhatian orang-orang di sekitar.


Saat tengah berjalan di area jembatan, Suncha tak sengaja melihat Seohoon yang tampaknya sedang berkelahi dengan Dohyun.


Tanpa berpikir panjang, ia lantas berlari menghampiri keduanya, dimana mereka sedang melakukan aksi baku hantam.


"Hentikan!! Hentikan semuanya!!" teriak Suncha, membuat ke-dua lelaki itu memandang ke arahnya.

__ADS_1


"Suncha? Sedang apa kau?" tanya Dohyun panik melihat gadis di depannya.


"Kenapa kalian berkelahi? Ini bahkan masih pagi!" ucapnya dengan kesal.


"Dia duluan yang mulai," ungkap Seohoon dengan tangannya yang menunjuk pada Dohyun.


"Ini tidak seperti yang kau lihat...."


"Tidak perlu dijelaskan, aku sudah menduga kalau ini ulahmu! Aku membencimu, Dohyun! Aku benci sekali padamu!"


Tanpa berpamitan, Suncha langsung pergi meninggalkan ke-dua lelaki itu. Yah, sebagai sang kekasih Seohoon pun mengejarnya dan membiarkan Dohyun yang masih terdiam mematung.


"Tunggu! Tunggu!" teriaknya berusaha menghentikan langkah kaki Suncha.


"Huh, ada apa?" Gadis itu menoleh ke arahnya.


"Kenapa kau meninggalkan ku?" tanya Seohoon sedikit kesal.


"Karena kau juga menjengkelkan! Lagipula, sampai kapan kita harus berpacaran seperti ini? Aku sudah lelah."


"Ayo, kita duduk di sana."


Seohoon menarik lengan Suncha, dan membawanya duduk di sebuah kursi yang terletak di seberang jalan. Kursi itu memang dibuat khusus untuk seseorang yang lelah dalam perjalanan.


"Bukankah sudah jelas, sejak awal kita sudah membuat kontrak," ucap Seohoon, ia menatap wajah Suncha dari dekat.


"Iya, tapi mau sampai kapan?!"


"Apa maksudmu? Bicara yang jelas, dong!" geram Suncha.


Saat keduanya saling terdiam, Jiyeon tiba-tiba datang, yang kebetulan dirinya sempat lewat di jalan tersebut.


Kedatangannya membuat Suncha dan Seohoon terkejut, namun untungnya ketua kelas jutek itu tidak sempat mendengar obrolan mereka mengenai hubungan yang hanya sebatas kontrak.


"Sedang apa kalian?" tanya Jiyeon dengan tangannya yang terlihat menggenggam ponsel.


"Kami hanya jalan-jalan. Ah, i--iya, jalan-jalan," balas Suncha gugup.


"Kau sendiri?"


"Aku hanya lewat, tapi aku tak sengaja bertemu dengan kalian. Oh ya, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu. Sebaiknya lihat pengumuman mengenai peringkat kelas," tuturnya, kemudian berlalu pergi dari tempat itu.


"Benar! Aku sudah menunggunya sejak pagi."


Dengan rasa semangat yang membara, Suncha langsung merogoh saku roknya untuk mengambil ponsel. Namun, gadis itu seketika bingung setelah mengetahui bahwa ponselnya tidak ada di dalam saku rok.


"Kenapa?" tanya Seohoon saat melihat wajah Suncha yang terlihat panik.


"Ponselku sepertinya tertinggal di rumah," balasnya masih sibuk mencari ponsel yang entah berada dimana.


"Pakai ponselku saja."

__ADS_1


Seohoon menodongkan ponsel miliknya, kemudian di raih oleh gadis itu.


Jari tangannya bergerak cepat mencatat link, lalu menemukan sebuah web mengenai pengumuman peringkat di SMA JoHang.


Ujian yang diadakan beberapa minggu lalu hanya dilaksanakan oleh anak kelas sepuluh, dan untuk anak kelas sebelas akan melaksanakan tes ujiannya ketika akhir musim panas.


Begitu melihat sebuah nama yang tercatat di papan peringkat pertama, Suncha langsung terkejut. Memang dirinya tidak menyangka akan kalah saing dengan Jiyeon, si ketua kelas jutek yang ternyata lebih pandai darinya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Seohoon penasaran.


"Aku berada di urutan dua," balasnya tanpa berekspresi.


"Jiyeon yang menduduki peringkat pertama?"


Suncha mengangguk, menanggapi pertanyaan Seohoon meskipun hanya menebak dengan asal.


"Kenapa kau tau?"


"Karena ... Jiyeon adalah anak dari mantan guru di SMA JoHang. Tetapi ibunya itu meninggal karena mengalami kecelakaan kereta. Yah, bu Yong adalah guru yang terkenal sangat pandai, mungkin Jiyeon mewarisi kepribadiannya," terang Seohoon.


"Hmm, jadi begitu?"


"Ya, kau sama saja sudah hebat karena bisa menduduki peringkat dua."


"Terima kasih, ini semua juga berkat mu. Karena kau sudah menjadi mentoring ku yang keren!"


"Itu bukan apa-apa."


***


Ruangan yang gelap tanpa cahaya, semua barang tertata dengan rapih di tempatnya. Beberapa benda mahal dipamerkan di tiap dinding rumah apartemen.


Seohoon melangkah masuk dengan wajah senang. Dia mendapati sosok kakaknya yang tengah asyik menonton siaran televisi dengan camilan sebagai pendamping.


Lantas Seohoon melompat ke atas sofa, dan kini duduk bersebelahan dengan wanita itu.


"Bagaiamana? Apa kau bertemu dengannya?" tanya Chaeri seraya memandang ke arah sang adik.


"Ya, dia menduduki peringkat dua. Aku sudah berusaha agar bisa membuatnya menjadi peringkat pertama. Tapi sayang, semua usaha ku gagal karena Jiyeon," balas Seohoon.


"Siapa Jiyeon?"


"Jiyeon, anak bu Yong."


"Ah, tentu saja. Dia tidak mungkin bisa dikalahkan! Kecerdasannya benar-benar diwariskan pada anaknya, ya ...."


"Begitulah."


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€

__ADS_1


__ADS_2