
Happy ReadingπΏ
______________________________________________
Suasana cafe terlihat ramai. Dedaunan kertas tampak mengelilingi setiap sudut ruangan, suhu dingin mulai terasa setelah masuk ke dalam cafe, serta aroma harum dari makanan juga di hirupnya.
Banyak sepasang mata menatap keduanya, mereka merasa bahwa Suncha dan Seohoon adalah pasangan yang cocok. Seorang gadis dengan wajah cantik seperti bule, serta lelaki tampan bak ala Korea tersebut.
Suncha duduk berhadapan dengan Seohoon di sebuah kursi cafe yang begitu dekat dengan pintu masuk.
"Pesan apa saja," ucap Suncha seraya memberikan sebuah buku menu pada lelaki itu.
"Jangan tanya, aku pasti akan pesan semuanya."
Suncha membulatkan kedua bola matanya, ia mengira bahwa kata-kata Seohoon tadi itu hanya sebagai candaan. Namun ternyata tidak, Seohoon benar-benar memeras uang Suncha dengan memesan seluruh makanan yang ada di cafe tersebut.
"Apa kau bisa menghabiskan semuanya?" tanya Suncha berusaha menghentikan keinginan Seohoon.
"Jika tidak habis, aku juga bisa membungkusnya dan membawa pulang. Atau, kau yang akan membantuku menghabiskan semuanya," ujar Seohoon dengan tenang.
Ia lantas memanggil seorang pelayan cafe yang bertugas mencatat pesanan para pelanggan. Lantas si wanita pelayan cafe itu berjalan menghampiri tempat mereka.
"Ingin pesan apa?" tanya nya dengan sebuah pulpen serta buku catatan yang telah siap di tangannya.
"Saya pesan semua menu, masing-masing satu saja."
Wanita itu sempat terdiam. Awalnya dia merasa ragu kalau Seohoon akan membohonginya, namun karena Suncha juga ikut meyakinkan, si wanita pelayan akhirnya mencatat seluruh pesanan mereka dan langsung membawanya ke dapur.
Selama menunggu pesanan datang, Suncha terus melamun memikirkan uang yang akan ia keluarkan nantinya. Dia berharap, kalau uang tagihan seluruh makanan itu tidak akan kurang.
Setelah hampir dua puluh menit, pesanan yaang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya di hidangkan di atas meja. Dengan dua orang lelaki dan satu orang perempuan yang membawakan seluruh makanan itu.
"Terima kasih," ucap Seohoon dengan senyuman yang tampak terukir pada wajahnya.
Yah, makanan yang di letakkan berlebihan di atas meja tentu sempat mengambil perhatian para pengunjung cafe lainnya. Mereka merasa heran dengan semua makanan itu.
"Makanlah," ucap Seohoon mempersilahkan Suncha untuk ikut makan bersamanya.
"Kau makan dulu saja. Aku ingin ke belakang sebentar," jawab Suncha dengan raut wajah yang tampak khawatir.
Gadis itu berjalan semakin menjauh dari arah tempat duduknya. Meninggalkan Seohoon yang tengah santai melahap makanan itu.
***
Sementara itu, Suncha yang baru saja tiba di toilet cafe memandang wajahnya pada sebuah cermin. Dia berpikir keras untuk membawanya keluar dari masalah yang sedang di hadapinya. Tentu saja masalah persoalan makanan yang dirasa terlalu berlebihan.
"Aku tidak tau kalau dia bisa makan sebanyak itu," gumamnya seraya membuka sebuah dompet miliknya.
Yah, hanya terlihat beberapa lembar uang di dalam dompet itu. Karena cemas, dia langsung melihat saldo pada rekeningnya melalui aplikasi pada ponsel.
__ADS_1
Setelah melihat saldo di dalamnya, ternyata masih ada beberapa jumlah uang yang cukup banyak. Namun Suncha sendiri tidak bisa mengira-ngira apakah uang itu akan cukup atau tidak.
Cukup lama berada di toilet, Suncha akhirnya kembali dengan raut wajah yang tampaknya panik. Seohoon yang menyadari akan hal itu lalu berhenti melahap makanannya. Dia beralih memandang Suncha.
"Tidak makan?" tanya Seohoon basa-basi. Tetapi Suncha hanya menggeleng pelan seraya tersenyum tipis.
Brrr ... brrr ...
Seohoon terdiam, setelah mendengar suara bunyi perut keroncongan. Entah datang darimana dan siapa, ia hanya menebak satu orang. Siapa lagi jika bukan gadis yang duduk di depannya itu.
"Astaga, kenapa disaat yang tidak tepat begini?" ucapnya kesal dalam hati.
"Buka mulutmu." Seohoon menodongkan sesendok kue brownies rasa coklat pada Suncha. Membuatnya membuka mulut tanpa sadar.
"Jika lapar bilang saja, kau tidak perlu ragu," tutur Seohoon dengan menahan tawanya.
"Bukannya ragu, tapi-- "
"Tidak usah pikirkan biayanya," sela Seohoon cepat. Suncha yang tadinya cemas itu seketika berubah heran. Dia merasa bahwa Seohoon hanya bercanda.
"Apa maksudmu?" tanya Suncha dengan rasa penasaran tinggi.
"Makan saja, lupakan yang tadi."
"Ayolah, aku penasaran!" kesal Suncha, dia menggoyang-goyangkan lengan Seohoon, membuat gelas yang berada di tangannya itu terlepas jatuh ke lantai dengan suara yang cukup keras.
Crakk!!!
"Ah, berhati-hatilah ...," cakap si pelayan wanita itu seraya membersihkan serpihan beling di lantai. Setelah usai membersihkannya, wanita itu langsung pergi.
"Apa aku harus ganti rugi?" tanya Suncha, ia kembali cemas seperti sebelumnya.
"Mungkin."
"Astaga, biaya tagihannya akan bertambah!"
Waktu telah menunjukkan pukul 16.33. Langit sore terlihat indah dengan warna jingga yang menyertainya.
"Ayo kita pulang," ajak Seohoon. Dia bangkit dari kursi lalu berjalan menuju kasir.
"Berapa biayanya?" tanya Seohoon. Dia memberikan sebuah black card pada pelayan kasir, membuatnya kaget sekaligus heran.
"Kau yang bayar?" tanya Suncha tidak percaya setelah melihat sebuah kartu yang dikeluarkan oleh Seohoon dari dalam saku celananya.
"Tentu."
Setelah membayar semua tagihannya, keduanya lantas kembali menuju sekolah. Dilihatnya halaman sekolah yang sudah cukup sepi dari para manusia.
"Sudah waktunya pulang, ya?" tanya Suncha.
__ADS_1
"Waktu pulang sudah sejak kita pergi ke cafe tadi siang," balasnya dingin dengan langkah kaki yang mulai menaiki anak tangga.
"Ambillah tas mu, kita pulang bersama."
Suncha mengangguk, kemudian berlari pergi menuju ruang kelasnya yang terletak di lantai dua.
***
"Hai, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Seohoon dengan mata yang memandang tajam wajah gadis di sebelahnya itu.
"Selagi aku masih bisa menjawabnya, aku akan menjawab."
"Kita bertukar identitas, ya?"
"Kenapa?" tanya Suncha.
"Bukankah kau mau memberiku apa saja jika aku menang?" ungkap Seohoon berusaha mengingatkan Suncha.
"Benar juga. Tapi jangan yang aneh-aneh, okey?"
"Mmm ... dimana kau tinggal?"
"A-- Aku, aku tinggal di ...."
"Suncha!!!"
Seseorang memanggil namanya, membuat keduanya berhenti sejenak. Mereka menoleh ke arah belakang secara bersamaan.
"Ayah? Kenapa Ayah ada di sini?" Suncha merasa terkejut ketika melihat sosok sang ayah yang tiba-tiba saja berada di balik tubuh mereka.
"Ayah baru saja membeli makanan di sana, ayo kita pulang bersama." Dowon menunjukkan se plastik makanan pada Suncha.
"Makanan lagi? Tapi aku sudah kenyang ...," keluh Suncha dalam hati.
"Hai paman," sapa Seohoon sembari membungkukkan badannya. Dia juga tampak tersenyum lebar.
"Ah, kau? Maaf, Paman tidak melihatmu tadi."
"Aku kan di sini sejak tadi, seharusnya Paman bisa melihatku," kata Seohoon bercanda.
"Benar juga. Kenapa aku baru sadar, ya?"
"Oh ya, dia siapa?" tanya Dowon dengan menunjuk Seohoon yang tengah berdiri bersebelahan dengan anaknya.
"Dia ...."
~Akankah Suncha mengaku kalau ia berpacaran dengan Seohoon? Atau tidak?~
π±πππππππππ....
__ADS_1
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ