Terjerat Pacaran Kontrak

Terjerat Pacaran Kontrak
Episode 35 : Bertemu Boeun


__ADS_3

Happy Reading 🌿


___________________________________________


Seohoon terdiam bingung, lantaran gadis di depannya itu tiba-tiba marah. Sorot matanya ditunjukkan rasa tidak suka pada Seohoon.


"Tadi kau sendiri yang memaksaku untuk berbicara! Tapi setelah aku berbicara dan memberitahumu tentang Yuri, kau menampar ku?!" ucap Suncha dengan kasar, namun Seohoon justru malah tertawa kecil mendengar ucapannya barusan.


"Aku tidak menamparmu, aku hanya memukul nyamuk yang mendarat di pipimu barusan. Kalau saja aku tidak memukulnya, mungkin pipimu akan merah," ungkap Seohoon masih dengan tertawa kecil.


Sudah terlanjur malu, Suncha hanya bisa terdiam tak menggubris. Dia kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan dengan langkah kaki yang terburu-buru.


"Yuri ... hamil? Kenapa dia bisa hamil" gumamnya lelaki itu.


Awan gelap tampak di langit-langit angkasa, menandakan bahwa sebentar lagi akan datang hujan. Guntur sudah mulai menyambar hingga membuat suasana menjadi lebih tegang.


Suncha masuk ke dalam ruangan dimana ayahnya masih terbaring di ranjang. Dia meletakkan ponsel di atas lemari kecil, lalu mengusap kepala sang ayah.


Seohoon yang merasa kelelahan akhirnya memejamkan matanya, berbaring di sebuah sofa yang terletak di dekat pintu masuk ruangan.


Wajah tampannya itu terlihat berinar di cuaca gelap sekarang ini. Bahkan sesekali cahaya menyoroti kulitnya yang berwarna putih bersih.


"Ayah, kenapa Ayah tidak sadar juga? Apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah?" tanya Suncha pada Dowon yang masih belum sadar.


Tak lama berselang, air hujan mulai turun dari langit. Membasahi seluruh jalanan dan gedung-gedung di kota tersebut.


Seohoon terbangun, setelah mendengar suara gemuruh hujan. Dia menatap gadis yang tengah mengelus lembut kepala ayahnya.


Ia lantas menghampiri Suncha, tersenyum lebar dan meletakkan tangannya di pundak gadis itu.


"Jangan terlalu dipikirkan," papar Seohoon yang kemudian dibalas anggukan olehnya.


"Bagaimana jika kita ke suatu tempat saja?" ajaknya bersemangat, lalu disetujui oleh Suncha.


Keduanya pun berjalan keluar dari gedung rumah sakit. Tujuan akan kemana bahkan tidak Suncha ketahui, dirinya hanya mengikuti langkah kaki Seohoon yang berjalan di depannya.


Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya tiba di sebuah tempat yang sangat sepi, tidak ada siapapun kecuali dua orang tersebut.


Suncha memandang ke segala arah, menatap tiap benda yang terpajang di tempat itu.


Dilihatnya seperti taman lama yang sudah tidak terurus, bahkan dedaunan sudah mulai panjang serta permainan anak-anak yang kotor dengan debu.


"Kenapa kemari?" tanya Suncha heran.


"Karena tempat ini istimewa," ujarnya tanpa memandang ke arah gadis di sebelahnya.

__ADS_1


Plak!!! Tangannya itu mendarat pada bahu Seohoon, merasa geram dan akhirnya memukul tanpa sadar.


"Jangan asal pukul, dong!" kesal nya dengan raut wajah cemberut.


"Lagipula kau sendiri aneh, tempat seperti ini dibilang istimewa?!"


"Kalau kau tau, kau juga pasti akan menganggapnya sama seperti ku."


"Tapi ...."


"Tapi apa?" tanya Seohoon.


"Tapi maaf, aku tidak ingin tau sama sekali."


Seohoon terdiam, rasa emosi pada dirinya sudah hampir meluap. Jika saja yang berada di sebelahnya itu bukanlah Suncha, pasti dia sudah memukulnya habis-habisan.


Karena langit yang sudah semakin gelap dengan disertai gemuruh hujan dan badai angin, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.


Namun Seohoon meminta izin untuk kembali ke rumahnya, karena dia harus mempersiapkan beberapa materi yang nantinya akan dipelajari oleh Suncha.


"Baiklah, kau hati-hati dijalan!" lontar Suncha seraya melambaikan tangannya, melihat kepergian orang yang sukses membuatnya tersenyum.


Ketika diperjalanan menuju apartemen Danhan, Seohoon yang berjalan kaki itu tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis yang berlari dari arah yang berlawanan.


Dengan cepat, Seohoon kembali berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada gadis yang masih terduduk itu.


"Maaf," ucap Seohoon tanpa memasang ekspresi pada wajahnya, bahkan merasa bersalah pun tidak.


"Se-- senior?"


Mereka saling terkejut, ketika melihat wajah orang yang baru saja ditabrak. Yah, gadis itu adalah Boeun. Entah apa yang membuatnya bisa berlari dengan cepat.


"To-- tolong aku, aku tidak ingin tertangkap!" pinta nya dengan nafas yang berantakan.


"Kenapa?" tanya Seohoon, dirinya yang tidak tau apapun sudah tentu menjadi kebingungan.


"Cepat pergi!! Bawa aku pergi!" seru nya lagi.


Meskipun penasaran dengan alasan Boeun meminta tolong padanya, namun Seohoon tetap sportif. Dia menarik lengan gadis itu, dan segera membawanya berlari tanpa arah tujuan.


Hingga mereka tiba di balik bangunan besar, Boeun akhirnya bisa menghela nafas dengan pelan. Berusaha menenangkan diri yang sempat jatuh panik.


"Terima kasih sudah membantuku," ucapnya diselingi senyum lega.


Setelah dirasa cukup aman, Seohoon pun mulai membuka mulutnya.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya nya.


"Sebenarnya ...."


Flashback on


Hari dimana Boeun dan Hana bolos sekolah bersama tiga berandalan sekolah, mereka pergi menuju sebuah gedung karaoke.


Tak terpikirkan oleh dua gadis itu, ternyata mereka dipaksa meminum alkohol oleh Mireu. Sampai langit gelap karena waktu yang sudah larut.


Boeun dan Hana berjalan keluar dari gedung tersebut, diikuti oleh Mireu bersama dua temannya dari belakang.


"Bisakah kami pulang?" tanya Boeun dengan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya. Bahkan tangannya tampak gemetaran menahan rasa takut.


"Terima dulu permintaan ku, bukankah kau juga ingin dekat dengan Seohoon?" sahutnya seraya tertawa lepas.


"Hai! Tapi bukan begini cara-- "


Plak!! Mireu menampar Boeun, meninggalkan bekas merah di pipi putihnya itu.


"Masih berani kasar denganku?" Lelaki itu mendekati wajah Boeun, mencium bibirnya dengan puas. Bahkan berada didepan dua teman laki-lakinya.


"Boeun, Boeun!!" teriak Hana.


Mireu melepas ciuman mautnya, kini gadis itu akhirnya bisa bernafas dengan lega.


Saat keadaan dua gadis yang masih lemas, Hayoon mengusulkan agar keduanya di kurung di sebuah gudang kosong yang letaknya tak jauh dari area rumah Hayoon.


Begitu setuju dengan usulnya, ketiga berandal sekolah itu lantas membawa Boeun bersama Hana ke tempat yang sebelumnya dibicarakan oleh Hayoon.


Mereka mengurung dan mengikat tangan dengan sebuah tali. Memukuli keduanya tanpa ampun, hingga membuat Hana yang benar-benar sudah lemas itu pingsan.


"Kau ingin lepas?" tanya Mireu dengan senyum di wajahnya, namun Boeun hanya mengangguk, lantaran tak kuat membuka mulut.


"Terima tawaran ku. Dengan itu, kau bisa lepas. Dan kau juga akan mendapatkan Seohoon, setelah Suncha berhasil menjadi pacarku," jawabnya.


Belum sempat berbicara, gadis itu langsung tergeletak tak sadarkan diri. Karena tidak mau terlibat masalah, ketiganya pun memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.


Di esok kemudian, Boeun yang sudah sadar itu membangunkan Hana yang masih tampak memejamkan matanya.


Namun karena kedua tangan masih terikat oleh tali, membuat Boeun hanya mengeluarkan suara saja. Membangunkan Hana dengan susah payah.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

__ADS_1


__ADS_2