
"Ka-kak Ka-kak Ka-kak" Kirana terus menyebut itu di tidurnya. Ada perasaan takut disana, tergambar jelas dari raut-raut wajahnya.
Syam yang baru masuk dan berniat untuk menyapa Kirana terdiam mematung. Ada rasa cemburu dalam dirinya saat mendengar dan mengetahui Kirana memimpikan orang lain.------
"Siapa yang kau mimpikan huh?" Kata Syam kemudian bergerak ke samping tempat tidur Kirana untuk membangunkannya. Dia menemuk pelan pipi Kirana yang membuat Kirana terdiam, namun dia masih terlelap dalam tidurnya.
"Hey bangunlah, ini sudah siang" Kata Syam sambil menepuk pipi Kirana namun Kirana tidak kunjung bangun.
"Gadis kecil, kau nakal juga, ayo bangun" kata Syam sambil menepuk pipi Kirana lagi. Namun Kirana malah memegang tangan Syam dan memba-wanya ke dalam pelukannya.
"Kakak, ini masih pagi, jangan per-gi lagi" Kata Kirana sambil memeluk lengan Syam. Syam hanya terdiam, namun rasa bahagianya pada posisi seperti ini membuatnya mau tidak mau meninggalkan sebuah senyuman di wajahnya.
"Baiklah, aku mengerti, Jadi yang kamu impikan adalah aku" Kata Syam kemudian berbaring di samping Kirana dan memeluknya erat. Dia bahkan melupakan dirinya yang seharusnya pergi kerja pagi ini.
Berada sedekat ini membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Beberapa kali dia harus berusaha mengambil nafas dengan berat agar bisa menyesuaikan diri dengan kondisi jantungnya saat ini.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan padaku" Bisik Syam sambil mengelus pipi Kirana.
***
"Aaaa" teriakan Kirana menggema memenuhi ruangan. Kirana begitu terkejut melihat sebuah lengan sedang melingkar di perutnya. Lebih terkejut lagi melihat laki-laki pemilik tangan itu yang sedang terpulas di sampingnya.
Syam memegang telinganya, kemudian kembali memeluk Kirana tanpa merasa terusik sama sekali.
"Hey apa yang kau lakukan disini, lepaskan aku" Kata Kirana sambil meronta-ronta dalam dekapan Syam.
"Diam atau ku cium kau" Kata Syam tanpa berniat melepaskan pelukannya.
"Hey, lepaskan aku om-om mesum" Kata Kirana sambil terus meronta-ronta.
"Baiklah sana" Kata Syam kemudian mendorong tubuh Kirana yang membuat Kirana langsung terjatuh tersungkur ke bawah.
"Heyyyyyy, kurang ajar kau ini" Teriak Kirana sambil berkacak pinggang. Namun Syam mengabaikannya dan lebih memilih pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Heyy, mau kemana kau?" Teriak Kirana kesal karena merasa diabaikan.
"Aku mau ke kantor. Atau kau ingin aku belama-lama disini berduaan denganmu. Atau kau mau aku peluk lagi?" Kata Syam sambil tersenyum mengejek.
"Ish, pergi sana pergi. Jauh-jauh, bila perlu ke planet mars sana. Supaya aku tidak melihatmu lagi" Kata Kirana.
"Ya sudah, awas saja jika kau merindukanku nanti. Aku tidak akan bertanggung jawab. Tadi saja kau yang tidak mau melepaskan tanganku. Tapi sekarang kau malah bersikap sok jual mahal. Gadis ABG labil, aku mau ke kantor dulu. Kau jangan kemana-mana atau macam-macam. Bye" Kata Syam kemudian berlalu pergi meninggalkan Kirana.
"Dasar Om tua mesum" Kata Kirana saat Syam sudah tidak terlihat lagi.
"Hmmmm, bisa-bisa aku menjadi gila jika menghadapi om mesum itu terus" Kata Kirana kemudian berbaring kembali di ranjangnya. Dia mengamati langit-langit kamar itu. Sekelabak bayangan Rian tiba-tiba melintas di benaknya. Ya, dia merindukan Rian. Tapi mengingat kebersamaan Alya dan Rian terakhir kali, membuatnya menolak untuk merindukannya.
"Kruukkk kruukk" Perut Kirana tiba-tiba berbunyi yang membuat pemiliknya langsung duduk dan memegang perutnya. Dia melihat ke sekeliling dan menemukan sebuah nampan di meja belajarnya.
"Kapan itu disana?" Pikirnya, namun dia tersenyum. Kemudian langsung menyambar nampan itu dan memakan roti dan susu disana secara lahap.
5 menit berlalu dia berhasil menghabiskan makanan di piring tersebut tanpa sisa. Setelah selesai makan dia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia memilih berendam air hangat untuk menenangkan dirinya karena setelah ini dia akan berusaha kabur lagi. Prinsipnya "lebih baik mati dari pada hidup disini tapi seperti mati".
***
"Aku ingin bertemu dengan Syam. Aku tidak diizinkan naik ke atas. Jadi aku akan menunggunya disini" Kata Jenny. Ardi menghela nafasnya berat, dia melihat ke sekeliling kemudian beranjak pergi meninggalkan jenny. Dia sungguh malas berurusan dengan sikap keras kepala sepupunya itu. Daripada dia harus menanggung malu disana, lebih baik dia pergi saja dan mengurus pekerjaannya. Beberapa kali dia sudah memberitahu Jenny untuk melupakan Syam, karena dia sungguh tidak ingin sepupunya sakit hati nantinya mengingat sikap Syam yang begitu semena-mena pada perempuan. Tapi. Jenny selalu menolak dan berambisi untuk mendapatkan Syam bagaimanapun caranya.
"Ishh, bukannya bantuin malah pergi begitu saja, dasar sepupu lucknut" Kata Jenny sambil memandang sinis punggung Ardy yang sudah menjauh.
Beberapa jam berlalu, Syam terlihat berjalan bersama Leon dan Ardy di belakangnya. Jenny tersenyum dari kejauhan dan berjalan mendekati mereka
"Kamu urus saja semuanya, ingat aku tidak ingin ada kesalahan lagi" Kata Syam.
"Siap Bos" Kata Ardy.
"Hmmmm" Jenny mencoba menarik perhatian. Syam yang mendengar itu langsung melirik Jenny bingung, melihat dari atas ke bawah dengan tatapan tidak suka.
"Siapa dia?" Tanya Syam.
__ADS_1
"Dia Jenny Tuan, yang dulu...." Kata Leon namun terpotong karena Syam menyuruhnya diam.
"Bukannya aku sudah bilang untuk mengurusnya Leon" Kata Syam dengan nada bicara marah. Bukan apa-apa, baju Jenny yang terlihat sangat minim, belahan dada yang terekspos jelas, dan dengan riasan yang sungguh membuat kaum Adam mungkin akan luluh dihadapannya, tapi malah membuat Syam jijik dan tidak suka. Syam sangat tidak suka gaya berpakaian seperti itu di kantornya, mungkin jika ini di bioskop atau tempat hiburan dia akan memakluminya. Tapi ini dikantornya dimana dia menjunjung tinggi rasa hormat dan sopan santun.
"Usir dia, aku tidak ingin melihat jalang seperti dia mengotori kantorku" Kata Syam kemudian berlalu pergi meninggalkan Jenny menuju mobilnya. Jenny terlihat begitu syok saat mendengar kata-kata hinaan dari Syam tadi. Amarah diwajahnya terlihat jelas, dia mengepalkan tangan nya kuat-kuat berharap bisa menstabilkan amarahnya, namun apa boleh buat wajahnya sudah memerah sekarang bercampur aduk antara malu dan amarah yang dia tahan.
"Pak Adri, bukannya dia sepupu anda?" Tanya Leon yang membuat Ardi langsung Mengangguk.
"Saya serahkan dia pada anda, jika saya lihat dia disini lagi, anda tahu kan apa hukuman yang bisa anda dapatkan" Kata Leon kemudian menyusul Syam. Ardi hanya bisa menunduk dan menarik nafasnya dalam-dalam. Sepertinya kesabarannya kali ini sudah habis. Dia memang tidak suka sikap Jenny, namun dia juga tidak terima jika sepupunya direndahkan seperti ini.
"Jen, ayo keluar, aku sudah bilang, jangan pernah berurusan dengan dia" Kata Ardy kemudian menarik Jenny menuju mobilnya.
"Lepaskan, aku bisa jalan sendiri, hiks" Kata Jenny sambil menghapus air matanya. Dia berjalan dengan cepat menuju mobil bahkan hampir berlari, Ardi dengan sabar mengikutinya dari belakang. Mata-mata lelaki yang manatap tubuh Jenny takjub saat Jenny melintasi mereka. Ardi yang melihat itu langsung menyerahkan jaketnya pada Jenny.
"Terima kasih" Kata Jenny kemudian masuk ke mobil.
"Aku sudah bilang, jangan berpakaian seperti ini. Apalagi hanya untuk memikat laki-laki" Kata Ardi.
"Aku hanya ingin mendapatkan perhatian dia, apa salah huh?" Teriak Jenny sambil terus menangis.
Perasaan Jenny campur aduk saat ini. Dia sangat marah, rasanya ingin sekali dia mencabik-cabik mulut Syam. Namun perasaan cintanya melebihi segalanya, sehingga membuatnya hanya bisa menangis sekarang.
"Sudahlah, jangan menangis Jen, air matamu sungguh tidak pantas untuk laki-laki seperti dia" Kata Ardy mencoba menenangkan sepupunya itu.
"Tapi aku mencintai dia, aku menginginkan dia Ar, aku tidak akan menyerah Ar, aku harus mendapatkan dia, apapun yang terjadi, tapi aku sungguh malu, hiks, mau ditaruh dimana wajahku" Kata Jenny sambil terus menangis.
"Sudah, jangan menangis lagi, yang berlalu, biarkan berlalu. Tenang saja, nanti aku akan membantumu menaklukan dia" Kata Ardi.
"Kamu beneran Ar?" Tanya Jenny antusias.
"Hmmm" Kata Ardi sambil menghapus air mata Jenny.
-Bersambung-
__ADS_1